<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Novel</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/novel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 18:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Tembang Kampung Halaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/GG-Denpra.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3743" title="GG-Denpra" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/GG-Denpra.jpg" alt="" width="518" height="691" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu orang-orang yang berkumpul di stasiun. Buat mereka, kedatangan kereta adalah rezki; sesuatu yang harus disambut dengan sukacita.</p>
<p>Pedagang asongan yang mengais rezki dari setiap gerbong dan harus turun–naik di stasiun, yang sudah berjaga-jaga sejak bunyi kereta dibunyikan, mulai mengeliat-geliat bagai ular terjaga dari tidurnya. <em>Ada</em><em> gula ada semut</em>. Sebagian pedagang asongan yang datang dari stasiun sebelumnya dengan tubuh berkeringat turun dari gerbong dan diganti dengan yang baru. Orang-orang kecil itu tak pernah rakus dalam memburu rezki. Mereka saling berbagi; memberi kesempatan yang sama untuk sesuap nasi. Begitu terus silih berganti di setiap stasiun. Mereka meneriakan jenis dagangan dan mimpi serta harapan-harapan yang sama. Hidup bagi mereka memangnyata. Apa yang mereka dapatkan hari ini, keuntungan dari dagangannya, itulah hidup.</p>
<p>Beberapa penumpang berlompatan turun. Walaupun tubuh kotor dan bau segala rupa, tapi mereka tampak gembira karena sudah sampai di tempat tujuan, kampung halaman tercinta. Tempat merka lahir, menangis, besar, gembira, dan bermimpi. Mereka saling melemparkan tawa dan senyum. Lalu beberapa penumpang baru naik, tapi tidak untuk kota yang jauh. Mereka cuma menumpang ke beberapa stasiun kecil sambil bersahabat dengan kondektur plus salam tempel ala kadarnya.</p>
<p>Seorang pemuda memisahkan diri. Dia berusaha untuk tidak menarik perhatian atau beramah-ramah dengan orang-orang. Paling-paling dia tersenyum, atau menganguk kepada yang menyapanya. Itu sekedar tradisi penduduk pada kaum pendatang yang dianggap sebagi tamu.</p>
<p>Dia menyeret ransel hijaunya seperti sedang berusaha menyeret kembali sepenggal hidupnya yang tertinggal di sini. Dia melihat sekeliling stasiun seperti melihat sesuatu yang sudah teramat lama di diam-diamkan. <em>Tak ada yang berubah dengan tempa ini, </em>bisiknya gembira. Bangku-bangku dari kayu jati, yang kini sudah kehitam-hitaman, masih tetap jadi bagian stasiun. <em>Aku sering tidur di bangku itu jika hari sedang panas,</em> dia tertawa mengingatnya. Tiang-tiang penyangga masih kokoh. Tapi kios kecil di ujung barat stasiun itu kini jadi sebuah toko kecil. Dagangannya bertambah banyak. Koran dan majalahnya pun berjejer dan bergantungan.</p>
<p>Dia berjalan ke toko kecil itu. Berusaha melihat penjaganya dengan hati-hati. Tampaknya, dia tak ingin kehadirannya diketahui. Seorang lelaki bertopi sedang melayani pembeli. Dia tak mengenalnya. Dia membeli tisu penyegar badan.</p>
<p>“Ke mana Pak kumis, Mas?” tanyanya, merasa harus tahu nasib orang tua pemilik kios kecil ini dulu, yang tak pernah berhasil memergokinya jika mencuri roti. Pak Kumis yang selalu mengusirnya tiap kali ia mondar-mandir di depan kiosnya, daripada nanti ada roti atau kuenya yang hilang.</p>
<p>“Pak Kumis sudah mati,” si penjual enteng saja bicara.</p>
<p>“Kapan, Mas?” Pemuda ini tersentak.</p>
<p>Sambil membereskan tumpukan rokok, si penjual meneliti pemuda yang ada di depannya. “lima tahun yang lalu,” katanya.</p>
<p>Tadinya dia berharap bisa bernostalgia dengan Pak Kumis, sambil meminta maaf atas kelakuannya sepuluh tahun yang lewat. <em>Beliau pasti akan pangling melihatku</em>, pikirnya. Tapi keinginannya cuma tinggal di hatinya. <em>Selamat jalan, Pak Kumis,</em> batinnya penuh sesal.</p>
<p>“meninggal karena apa Pak Kumis, Mas? Sakit tua?”</p>
<p>“Mati karena duit!” pemilik kios itu tertawa.</p>
<p>Pemuda ini mengerutkan keningnya. “Jangan main-main dengan orang yang sudah meninggal, Mas,” katanya mengingatkan.</p>
<p>Tawa si pemilik baru terhenti. “Dia memang mati karena duit. Kiosnya ludes buat main judi.” Mimiknya berubah serius. “Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu siapa?” pengganti Pak Kumis ini menyelidik.</p>
<p>“Oh, nggak apa-apa,” jawab pemuda ini agak gugup. “Saya hanya pembeli setianya.” Dia tersenyum kikuk dan balik meninggalkan toko kecil itu.</p>
<p>Dia membawa kenangannya tentang Pak Kumis, yang kue-kue dagangannya sering dicurinya untuk mengganjal lapar dengan perasaan berduka. <em>Pak Kumis mati karena duit. Karena judi.</em> Kalimat itu membekas di pikirannya. Sepengetahuannya, Pak Kumis tidak pernah berjudi.</p>
<p>Dia mengitari stasiun lagi. Pengemis buta itu masih menadahkan tangannya ke setiap gerbong dengan doa-doa. Wajahnya semakin berkeriput dan jalannya mulai tertatih-tatih dimakan waktu. Malah ada dua pengemis baru, dengan kondisi yang sebetulnya masih sehat. Mungkin cuma manusia pemalas. Juga anak kecil tanpa pendidikan, yang semakin berkeliaran tanpa arah hidup yang jelas, membawa kotak semir yang cuma jadi hiasan kalung raksasa saja daripada berpungsi sebagai penjaring rezki. <em>Tak berbeda dengan aku dulu, </em>hatinya mengenang.</p>
<p>Menurut penilaiannya, stasiun ini tak berubah. Kehidupan yang sederhana sejak dulu tak tampak lebih maju; walupun roda ekonomi menggelinding dengan cepat dengan pabrik-pabrik yang melahap tanah produktif di timur-barat kota dan menyerap banyak tenaga kerja. Kota kecil yang cuma disinggahi kereta ekonomi. Kota yang berpanorama indah dan pernah jaya dengan pabrik gulanya dalam buku sejarah. Kota yang lebih banyak ditinggalkan pemudanya ke kota lain untuk mencari penghidupan yang lebih layak.</p>
<p>Cuma warna tembok stasiun ini saja yang agak bersinar menyegarkan sepasang matanya yang cerdik. Mungkin baru dicat. Dia ingat, setiap hari peringatan kemerdekaan, tembok dan pagar stasiun ini dipercantik lagi dengan cat baru. Bahkan dihiasi dengan umbul-umbul dan dihiasi dengan kertas warna merah dan putih, lambang kebanggaan tanah air bumi kita.</p>
<p>Padahal keadaan kota kecil ini dua tahun terakhir berubah drastis, begitu yang sering dibacanya di koran-koran. Tadi saja di gerbong kereta api, sebelum memasuki kota, dia bisa melihat di tanah-tanah subur di luar kota, pabrik-pabrik yang menggantikan batang-batang padi dan tebu yang dulu pada musim panen seperti lukisan surgawi dan menyebarkan aroma wewangian. Juga nasib generasi mudanya, yang praktis saja memilih jadi buruh di pabrik selepas sekolah rendah dan lanjutan, karena sebagian orang tua mereka pun berpikiran sama, lebih enak menjual tanah garapannya daripada berkubang lumpur. Berpeluh keringat menanaminya dengan padi atau tebu!</p>
<p>Yang lebih tragis lagi dia baca tentang kota ini, adalah munculnya orang kaya baru pergeseran nilai dari pola pikir agraris ke industri. Pola pikir tradisional kaum mudanya ke kejutan budaya baru. Kini gaya hidup kota-kota besar, yang notabene diimpor dari Barat, dilahap habis oleh mereka. <strong><em>3F</em></strong> <strong><em>Revolutions</em></strong><em>—Film, Food, </em>dan<em> Fashion </em>bagai musim penghujan terjadi di sini.</p>
<p>Mereka merengek-rengek meminta dibelikan ini-itu pada orangtuanya, selama persediaan uang dari hasil penjualan tanah itu masih ada. Dan mereka tidak segan-segan melancong ke kota-kota besar cuma untuk terperangkap kenikmatan sesaat. Dan para orangtuanya itu pun tak jauh berbeda. Mereka berpiknik ke kota-kota atau pulau wisata. Bahkan ada bapak-bapak yang kawin lagi dengan gadis muda belia, yang dicomot dari kampung-kampung, sehingga banyak keluarga yang tadinya bagai permukaan kolam perawan, kini banyak riak gelombang. Lantas warung-warung pojok pun menjamur di  kiri -kanan jalan di luar kota, di sepanjang jalan ke arah pabrik, menawarkan alkohol wanita bergicu tebal.</p>
<p>Kemudian ketika bencana itu datang, saat persediaan uang menyusut dan habis, mulai mereka kebingungan dan panik. Untuk kembali menggarap tanah, jelas tak mungkin. Untuk membuka usaha, sejak mereka dilahirkan, bahkan sejak jaman nenek moyang, mereka tak pernah diajarkan bagaimana caranya berdagang. Sehingga jalan pintas yang terbaik menjual apa saja yang tersisa. Untuk menyuap yang punya kuasa agar anak-anak mereka bisa bekerja di pabrik-pabrik, walaupun dengan gaji di bawah kebutuhan fisik minimum.</p>
<p>Itulah yang dibacanya tentang kota ini di koran-koran, dua tahun terakhir.</p>
<p>Dia duduk di bangku panjang kayu jati itu. Berusaha merasakan getaran-getarannya yang telah lalu. Ada keinginan untuk menyusuri jejak-jejak masa kecilnya di sini. Dia yakin dengan penampilannya kali ini, sebagai anak muda produk kota besar, tidak akan ada yang mengenalinya. Siapa akan menyangka kalau sebenarnya dia adalah bocah hitam nakal yang pernah malang melintang di kota ini? [Bersambung ke bagian 2]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEGERA &#8220;TEMBANG KAMPUNG HALAMAN&#8221; KARYA GOL A GONG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/21/segera-tembang-kampung-halaman-karya-gol-a-gong/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/21/segera-tembang-kampung-halaman-karya-gol-a-gong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 23:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3015</guid>
		<description><![CDATA[Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung &#8220;Tembang Kampung Halaman&#8221;  karya Gol A Gong &#8211; dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/15c-Awal-Nama-Gola-Gong.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3016" title="15c-Awal Nama Gola Gong" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/15c-Awal-Nama-Gola-Gong.jpg" alt="" width="700" height="525" /></a>Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung &#8220;Tembang Kampung Halaman&#8221;  karya Gol A Gong &#8211; dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada yang berhasil menjangkau, tapi ada yang terhempas.</p>
<p>Kata Gong, &#8216;Ini tentang sisi kelabu manusia! Tunggu saja!&#8221; Sekarang Gol A Gong sedang menulis novel anak-anak dibantu Tias Tatanka, istrinya. &#8220;Bahkan dalam penulisanya, saya dibantu para relawan Rumah Dunia!&#8221; terang Gong. &#8220;Makl;um, tangan saya sering kesemutan, mesti dibantuin!&#8221;</p>
<p>*) Foto: Gol A Gong (dulu penulisanya Gola Gong) berfoto bersama saat launching buku &#8216;The Journey&#8221; di stand Salamadi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/21/segera-tembang-kampung-halaman-karya-gol-a-gong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [25]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/07/senja-di-selat-sunda-25/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/07/senja-di-selat-sunda-25/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2704</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Aku mengucap syukur dalam hati. Pertolongan pun akhirnya datang. Lelaki Baduy ini seperti sudah paham apa yang terjadi. Dia menyuruh kami untuk berkemas. Kami mengikutinya menuruni bukit dan menyeberangi sungai kecil. Beberapa kali kami naik-turun bukit, lalu sampai ke panamping Kadu Keter. Kampung ini adalah pos terakhir jika kita masuk lewat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/aam-gg.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2705" title="aam gg" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/aam-gg.jpg" alt="" width="93" height="124" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Aku mengucap syukur dalam hati. Pertolongan pun akhirnya datang. Lelaki Baduy ini seperti sudah paham apa yang terjadi. Dia menyuruh kami untuk berkemas. Kami mengikutinya menuruni bukit dan menyeberangi sungai kecil. Beberapa kali kami naik-turun bukit, lalu sampai ke panamping Kadu Keter. Kampung ini adalah pos terakhir jika kita masuk lewat pintu utara.<span id="more-2704"></span></p>
<p>Beberapa petugas keamanan dari Rangkasbitung menginterogasi kami. Ketika kami menceritakan tentang kejadian semalam, para petugas itu tersentak. Mereka memang sudah mendengar rombongan kami lewat <em>handy talky</em>, yang sudah menangkap salah seorang dari ketiga perampok itu di wilayah selatan.</p>
<p>&#8220;Semalam dua orang dari kalian sudah keluar dari sini,&#8221; seorang petugas mengabarkan. &#8220;Mungkin mereka sedang menuju Rangkas sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mereka bilang terpisah dari rombongan,&#8221; kata petugas yang lain. &#8220;Malam tadi kami sedang ada di lapangan. Orang Baduy &#8216;kan nggak bisa membaca surat keterangan mereka,&#8221; tambahnya.</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221; Eri memaki.</p>
<p>&#8220;Mereka perampok-perampok itu, Pak!&#8221; seru kami.</p>
<p>Para petugas itu memang sudah terkecoh. Mereka langsung mengirim kabar lewat <em>hatong </em>ke Ciboleger. Mereka masih yakin, bahwa di Rangkas kedua perampok itu akan dibekuk.</p>
<p>Tapi perjalanan buatku belum selesai. Masih satu jam perjalanan lagi untuk keluar dari wilayah Kanekes. Masih banyak tanjakan yang harus aku daki sebelum sampai di Ciboleger.</p>
<p>Tengah hari kami tiba juga di base camp. Kami terpaksa bermalam di sini, karena kendaraan ke Rangkas cuma di pagi hari saja. Kami bermalam di rumah Pak Askari, seorang penduduk yang sudah biasa menampung wisatawan nusantara yang akan pergi ke Kanekes. Bahkan bapak berputra lima ini suka jadi <em>guide </em>amatir.</p>
<p>Tak ada yang kami kerjakan selain bermalas-malasan. Aku lebih suka duduk menyendiri. Kadang kala kejadian semalam membayangi terus. Memberati pikiranku. Kalau sedang begini, aku jadi ingat rumah; Papa, Mama, dan Robby.</p>
<p>&#8220;Ngeganggu?&#8221; Nana duduk di sebelahku.</p>
<p>Aku mencoba tersenyum.</p>
<p>&#8220;Sudah rindu Yogya?&#8221; Nana menyebutkan tanggal kepulanganku, yang tinggal empat hari lagi.</p>
<p>Aku mengangguk. &#8220;Kamu ikut pulang dengan aku &#8216;kan?&#8221; aku berharap.</p>
<p>&#8220;Eri mengajakku melihat senja di Selat Sunda,” suaranya perlahan.</p>
<p>&#8220;Untuk apa?&#8221; aku keberatan, karena akan pulang sendirian.</p>
<p>&#8220;Eri memintaku untuk yang terakhir kali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti malah menjadi beban kamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku belum selesai ngomong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya aku nggak mau pulang sendirian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bilang tadi, Eri mengajakku. Aku &#8216;kan nggak ngomong, bahwa aku mau diajak Eri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berarti kita pulang sama-sama &#8216;kan!&#8221;</p>
<p>Nana mengangguk.</p>
<p>&#8220;Kamu sudah siap kehilangan dia sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak dia pergi meninggalkan aku, sejak dia nggak pernah ngirim surat lagi, aku sudah siap untuk kehilangan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus, Eri jadi kerja sama Uzi di Jakarta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Akhirnya antara anak dan ayah ada kesepakatan. Eri dikirim ayahnya sekolah musik di Eropa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wow! Dia bakalan kecantol cewek bule di sana!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin sekarang aku harus memilih salah satu cowok di kampus, ya!&#8221;</p>
<p>Aku menatapnya tidak percaya, &#8220;Betul, Na?&#8221;</p>
<p>Lalu aku ajukan Alfred, si Menado yang doyan <em>rally</em>, Boyke, ketua senat yang juga hobi naik gunung, atau Mulyadi, jagoan karate kampus.</p>
<p>Nana cuma mengangguk-angguk. &#8220;Pokoknya kamu jadi penasihatku, ya!&#8221; dia gembira sekali saat ini.</p>
<p>Lalu Nana menatapku dengan lucu. Aku tahu kalau dia bermaksud mengingatkan aku tentang kejadian semalam, ketika aku ketakutan sampai-sampai buang air kecil di celana.</p>
<p>Aku tersipu-sipu, &#8220;Aku betul-betul takut waktu itu.&#8221;</p>
<p>Nana tertawa keras.</p>
<p>Aku mencubitnya.</p>
<p>Nana kini menjerit. &#8220;Ini bisa jadi gosip murahan di kampus!&#8221; teriaknya masih tertawa.</p>
<p>Aku terus mencubitnya.</p>
<p>&#8220;Hey, hey,&#8221; Nana memegangi kedua lenganku.</p>
<p>&#8220;Awas, kalau sampai bocor di kampus!&#8221;</p>
<p>Nana menggeleng. &#8220;Ada pesen dari temen-temen,&#8221; katanya mencoba menahan tawa. &#8220;Sore ini ada pelantikan. Kamu mendapat &#8216;bintang kehormatan&#8217; dari kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apaan, tuh ?&#8221; aku tertarik.</p>
<p>&#8220;Mereka sangat terkesan, karena kamu berhasil menjelajahi Kanekes.&#8221;</p>
<p>Aku manggut-manggut.</p>
<p>Setelah aku membeli tas <em>koja </em>khas Baduy, yang dianyam dari akar pohon, serta selendang untuk suvenir di rumah, menjelang senja ada upacara kecil-kecilan di halaman. Yanto memberi wejangan alakadarnya. Terutama mengucapkan syukur, karena sudah lolos dari bahaya yang mengancam. Beberapa kali dia menyebut aku, yang tetap dengan semangat tinggi melintasi Kanekes.</p>
<p>Lalu mataku ditutup. Aku disuruh maju, karena akan dikalungi &#8216;tanda kehormatan&#8217;. Eri maju dan mengalungi aku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Beberapa saat tidak ada suara. Aku buka selendang yang menutup mataku. Tak ada siapa-siapa di halaman.</p>
<p>Aku dengar suara orang tertawa riuh di dalam rumah Pak Askari. Aku berteriak ketika tahu apa bandul kalung &#8216;tanda kehormatan&#8217; itu. Kerak nasi itu! Aku betul-betul marah. Bukankah kerak sialan ini sudah aku buang? Rupanya Eri memungutnya lagi. Anak ini memang tukang iseng!</p>
<p>Tapi aku tersenyum juga. Mungkin kalau sudah sampai di rumah nanti, aku akan minta diajari memasak pada Mama. Rasanya tidak komplet menjadi seorang wanita kalau tidak tahu urusan dapur. Ternyata liburanku kali ini membawa banyak kenangan buatku.</p>
<p>Tak akan pernah aku lupakan. Tak akan pernah aku sesali sudah berlibur di sini.</p>
<p>Nana, memang, sudah mengajari aku banyak hal lewat liburan ini. [TAMAT]</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/07/senja-di-selat-sunda-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [24]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/senja-di-selat-sunda-24/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/senja-di-selat-sunda-24/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:33:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2648</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Jubah-jubah hitam sekarang berkepak-kepak menutupi bumi. Semua orang kini, selain pada Tuhan, menggantungkan hidupnya pada nyala senter. &#8220;Hey, ada tanda jejak nih!&#8221; Eri berteriak girang. Senternya menyorot ke semak-semak. Ada tanda panah dari alang-alang. Tadi kami sudah melewati jalan setapak ini. Aneh. Ah, mungkin saja tadi kami tidak teliti. Dengan hati-hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_2652" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-full wp-image-2652" title="GG-Zara" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/GG-Zara.jpg" alt="Gong [ki], Aris Buntarman, Zara [ka]" width="500" height="344" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Jubah-jubah hitam sekarang berkepak-kepak menutupi bumi. Semua orang kini, selain pada Tuhan, menggantungkan hidupnya pada nyala senter.<span id="more-2648"></span></p>
<p>&#8220;Hey, ada tanda jejak nih!&#8221; Eri berteriak girang. Senternya menyorot ke semak-semak.</p>
<p>Ada tanda panah dari alang-alang. Tadi kami sudah melewati jalan setapak ini. Aneh. Ah, mungkin saja tadi kami tidak teliti.</p>
<p>Dengan hati-hati kami meniti jalan setapak yang menuju lembah. Lenganku tetap tidak mau lepas mencekal lengan Nana. Aku tidak ingin berjalan sendirian. Kadang kala aku menjerit kalau ada duri-duri pohon membeset kulitku.</p>
<p>Eri berteriak lagi ketika ada tanda bacokan di batang pohon. Kami semakin turun ke bawah. Ada patahan ranting. Aku merasa tanda-tanda itu seperti dibuat oleh &#8216;seseorang&#8217; untuk kami. Inikah pertolongan Tuhan?</p>
<p>&#8220;Hey, sini, sini!&#8221; Eri berteriak-teriak di bawah sana. &#8220;Cepetan!&#8221; teriaknya lagi gembira.</p>
<p>&#8220;Huma di atas bukit!&#8221; Yantojuga berteriak senang.</p>
<p>Ada sebuah gubuk di huma, ladang orang Baduy. Kadang kala orang Baduy suka bermalam di huma, jika pekerjaan ladangnya belum selesai.</p>
<p>Aku langsung menyuruh untuk bermalam saja. Aku tidak meminta persetujuan mereka. Ini seperti perintah yang keluar dari mulut seorang amatir! Untung mereka mengiyakan juga. Eri tampak sudah berhasil membuka pintu gubuk. Kebiasaan orang Baduy memang tidak pernah mengunci rumah seperti kita. Rasa saling percaya tertanam kuat di jiwa mereka.</p>
<p>Beberapa saat aku terlelap kelelahan di pojok ruangan. Aku cuma bangun untuk makan mie rebus saja beberapa suap. Setelah itu aku meringkuk lagi. Angin malam yang dingin menakutkan, menyusup ke dalam gubuk lewat celah-celah dinding. Aku terbius dan terbelenggu.</p>
<p>Tapi itu terasa tidak lama.</p>
<p>Aku menjerit ketika terdengar ribut-ribut. Ada dua orang lelaki mengobrak-abrik ransel kami. Dua orang perampok itu! Mereka dengan rakus dan liar menyantap sisa makanan yang kami punya.</p>
<p>&#8220;Jangan coba-coba!&#8221; bentak yang wajahnya brewok sambil mengacungkan golok, begitu melihat Eri bergerak mencurigakan.</p>
<p>Aku menangis ketakutan dipeluk Nana.</p>
<p>&#8220;Heh, jangan nangis kamu!&#8221; yang berkumis mengacungkan golok ke arahku.</p>
<p>Tangisku malah tambah nyaring. Seluruh persendianku terasa copot dan bergetar. Oh, Tuhan, aku merasa celanaku basah. Nana yang menyadari itu hampir saja tertawa. Mulutnya memang terkunci rapat-rapat, tapi sorot matanya menandakan kegelian. Aku cuma bisa pasrah saja.</p>
<p>&#8220;Kataku, diem! Cewek cengeng kamu!&#8221; lelaki biadab itu berdiri. Dia berjalan ke arahku.</p>
<p>Secara reflek mulut aku rapatkan. Nana terus membantuku agar tenang. Dia berbisik mengembalikan kepercayaan diriku. Pelan-pelan membantuku juga.</p>
<p>&#8220;Heh, kamu! Sini!&#8221; si Brewok menghardik Yanto. &#8220;Ambil tali-tali itu! Iket semuanya!&#8221; perintahnya.</p>
<p>Si Kumis membantu Yanto mengikat. Satu-satu kami diikat. Ketika giliran aku, mata si Kumis jelalatan. Wajahku langsung pucat dan aku meronta-ronta, menangis, dan berteriak, ketika perampok bedebah itu menyeretku. Nana memegangi kuat-kuat tubuhku dan Yanto menubruk si Kumis. Yang lain berteriak-teriak. Eri berusaha bangkit, tapi ambruk lagi, karena tangan dan kakinya diikat.</p>
<p>&#8220;Heh, minggir, minggir!&#8221; si Brewok menendang dan mengancam leher Yanto dengan ujung goloknya.</p>
<p>Aku menangis menjadi-jadi. Aku pikir inilah kisah hidupku yang tragis berawal di sini. Kisah-kisah seorang gadis korban perkosaan, yarig sering aku baca di mass media atau di film-film Amerika, sebentar lagi akan terjadi padaku.</p>
<p>&#8220;Apa-apaan kamu!&#8221; bentak si Brewok. &#8220;Kita nggak punya waktu untuk begituan!&#8221;</p>
<p>Si Kumis bersungut-sungut.</p>
<p>Nana memelukku.</p>
<p>&#8220;Ayo, ikat lagi mereka!&#8221;</p>
<p>Setelah Nana, Yanto mengikatku. Aku tahu dia tidak tega mengikatku kencang-kencang. Lalu Yanto pun diikat oleh mereka.</p>
<p>Kedua perampok itu dengan gerak cepat mengambil beberapa pakaian dari ransel. Mencobai satu per satu, sampai dirasa ada yang cocok. Aku kira yang pas dikenakan mereka adalah pakaian Eri dan Yanto. Tubuh mereka sama tinggi dan besarnya. Lalu mereka mengobrak-abrik peralatan mandi. Di dalam keremangan cahaya senter, mereka mencukur habis jenggot dan kumis!</p>
<p>Aku baru menyadari kalau mereka sedang mengganti penampilan. Mereka menyamar menjadi seperti kami untuk menerobos keamanan. Aku semakin yakin ketika mereka mengambil dompet kami dan memilih-milih mana yang cocok.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, ya!&#8221; kata mereka tertawa puas meninggalkan kami. Dengan ransel di punggung, penampilan mereka jauh dari perkiraan buruk. Mereka kini tak ubahnya seperti para petualang seperti kami.</p>
<p>&#8220;Aduh, ranselku masih baru, tuh!&#8221; Yanto memaki, karena ranselnya diambil perampok.</p>
<p>&#8220;Punyaku juga!&#8221; Aris menggerutu.</p>
<p>&#8220;Ransel lagi diributin!&#8221; Rini berteriak kesal.</p>
<p>&#8220;Pikirin nih, gimana ngebuka tali!&#8221; teriaknya lagi.</p>
<p>Eri meronta-ronta. &#8220;Kenceng amat sih ngiketnya, To!&#8221; katanya pada Yanto. &#8220;Si Amat aja nggak kenceng-kenceng!&#8221; dia mencoba melucu.</p>
<p>&#8220;Nggak ada waktu buat ngelucu, tau!&#8221; Yayah kini buka suara. &#8220;Kapok aku, kapok!&#8221; jeritnya.</p>
<p>&#8220;Tolong, toloong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Berisik amat, sih!&#8221;</p>
<p>&#8220;Diem kenapa, sih!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lagian siapa yang ngedenger?”</p>
<p>Aku cuma menggelengkan kepala. Dalam keadaan darurat begini, mereka masih bisa adumulut. Aku kehabisan kata-kata. Aku cuma memejamkan mata, karena sudah terbebas dari hal yang paling buruk tadi.</p>
<p>&#8220;Mendingan sekarang tidur ajalah,&#8221; Eri mengusulkan. &#8220;Besok pagi pasti ada orang Baduy ke sini.&#8221;</p>
<p>Aku mengiyakan usul Eri tadi. Aku sentuh tubuh Nana. Aku lihat Nana pun mengangguk. Kami akhirnya mencoba untuk pasrah; tidur meringkuk dengan tangan terikat, menunggu sampai matahari terbit.</p>
<p>Kami semua terjaga begitu suara pintu berderit. Mata kami terpicing, karena cahaya terang dari pintu menyilaukan mata. Seorang lelaki Baduy berdiri memandang kami dengan perasaan heran. Beragam suara pun berlompatan dari mulut kami. Kehidupan mulai membias lagi di wajah kami. [bersambung ke bag. 25]</p>
<p>*) Foto: Gong, Aris Buntarman, Zara Zettira ZR sekitar 1989</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/senja-di-selat-sunda-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [23]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/03/senja-di-selat-sunda-23/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/03/senja-di-selat-sunda-23/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 14:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/01/03/senja-di-selat-sunda-23/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Eri dan Yanto langsung membongkar ranselnya. Barang-barang mereka disebar pada ransel yang lain. Lalu ranselku dijejalkan ke ransel Eri. Aku berharap nanti bisa melanjutkan perjalanan lagi dengan lenggang kangkung. &#8220;Aku kepengen ngerasain tidur di rumah Baduy,&#8221; kataku kecewa. &#8220;percuma aku jauh-jauh ke sini! Cuma capek doang!” keluhku lagi. &#8220;Moga-moga kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Eri dan Yanto langsung membongkar ranselnya. Barang-barang mereka disebar pada ransel yang lain. Lalu ranselku dijejalkan ke ransel Eri. Aku berharap nanti bisa melanjutkan perjalanan lagi dengan <em>lenggang kangkung</em>.<span id="more-2631"></span></p>
<p>&#8220;Aku kepengen ngerasain tidur di rumah Baduy,&#8221; kataku kecewa. &#8220;percuma aku jauh-jauh ke sini! Cuma capek doang!” keluhku lagi.</p>
<p>&#8220;Moga-moga kita bisa tidur di panamping,&#8221; Nana memberiku semangat.</p>
<p>&#8220;Apa kita nggak bakalan kemalaman ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita lewat jalan potong!&#8221; Eri menegaskan.</p>
<p>&#8220;Kamu pernah lewat sana &#8216;kan, Ri?&#8221;</p>
<p>Eri mengangguk cepat. &#8220;Yuk!&#8221; dia begegas.</p>
<p>Setelah menyeberangi sungai dan menaiki bukit kecil, Eri membelok memasuki hutan. Kami menyusuri jalan setapak yang tidak pernah dilalui orang, kecuali orang Kanekes yang mencari kayu bakar. Jalan setapaknya tertutup daun-daun kering yang basah dan akar-akar pohon.</p>
<p>Kami ternyata berjalan di atas Gunung Paniga yang melingkar. Lagi-lagi aku merasa was-was, karena di wilayah tangtu Cibeo ini ada hutan larangan yang lain, Sasaka Domas, yang menjadi tanggung jawab puun Cibeo. Jangan-jangan kami &#8220;menginjak&#8221;nya.</p>
<p>&#8220;Setelah bukit itu pasti ada pancuran alam!&#8221; Eri berteriak.</p>
<p>Aku memandang Nana.</p>
<p>Ada sebuah pohon besar tumbang. Batangnya melintang menghalangi jalan. Kami memanjat ketika menyeberangi pohon itu. Yanto membantuku naik.</p>
<p>Eri tampak berdiri di batang pohon itu. Dia agak pendiam dan banyak berpikir sekarang. Mungkin sedang mengingat-ingat ke arah mana yang betul, karena banyak cabang yang membingungkan.</p>
<p>Eri melompat dan berjalan lagi. Belum begitu jauh ada pohon lain yang tumbang. Lebih besar dari yang pertama. Pohon yang ini tampaknya belum begitu lama roboh. Dahan-dahannya belum dipotong semua. Eri kini kalang kabut.</p>
<p>&#8220;Salah jalan, Ri?&#8221; Nana menegur.</p>
<p>&#8220;Kita balik lagi ke pohon tumbang yang pertama!&#8221; Eri langsung membalik dan bergegas.</p>
<p>Aku merasa kepalaku kosong dan membesar.</p>
<p>&#8220;Tenang, Tina, tenang,&#8221; Nana juga gelisah.</p>
<p>Beberapa orang meneriakkan kekecewaan yang sama. Bahkan menyarankan untuk kembali ke jalan simpang pertama.</p>
<p>&#8220;Ngapain balik lagi? Tanggung! Malah lebih deket dari sini ke Ciboleger!&#8221; Eri menyebut kampung <em>base camp </em>di pintu gerbang utara itu.</p>
<p>&#8220;Tapi mana jalannya?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah jam lima, nih!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kemalaman di sini, waduh, gawat, Broer!&#8221;</p>
<p>&#8220;Heh, jangan ribut kayak gini dong!&#8221;</p>
<p>Eri tidak menggubris. Dia turun ke sisi kiri ketika ada jalan getapak. Semakin ke bawah, malah tidak jelas arahnya. Ternyata cuma jejak pencari kayu bakar. Terpaksa kami naik lagi, kembali ke pohon pertama yang tumbang.</p>
<p>Kami mengikuti lagi ke mana Eri. Terbentur ke lembah yang lain. Malah sekali waktu kami cuma berputar-putar saja. Aku betul-betul panik dan kehabisan napas. Nana memapahku.</p>
<p>“Kasih aku waktu!” Eri gelisah. “Kalian tunggu di sini!” Eri bergegas. Dia mundur beberapa meter dari tempat kami berdiri. Dan hilang di balik semak-semak.</p>
<p>Yanto menyuruh Ato dan Aris untuk mencari kemungkinan jalan lain. Mereka mengambil arah yang berlawanan. Menerobos semak-semak. Sepuluh menit kemudian mereka kembali dengan wajah tegang. Bahkan kening Eri tampak berdarah.</p>
<p>&#8220;Hati-hati, Ri,&#8221; Nana langsung memberinya obat merah.</p>
<p>Eri tampak serba salah diberi perhatian lebih oleh Nana. &#8220;Aku tahu jalannya ke arah sana!&#8221; Eri menunjuk ke seberang lembah. &#8220;Tapi, kenapa nggak pernah nyampe?!&#8221; Eri berteriak kesal. Tangannya seperti menyibak-nyibakkan &#8216;kabut&#8217; di depannya.</p>
<p>Matahari semakin menggelincir.</p>
<p>Kegelapan sebentar lagi akan merengkuh kami.</p>
<p>&#8220;Ini pasti ada yang ‘menghalangi&#8217; pandangan kita!&#8221; sungut Eri sambil membanting tubuhnya ke tanah. Dia duduk bersender pada batang pohon. Wajahnya berkeringat dan penuh rasa bersalah. &#8220;Aneh.Aku nggak ngerti,&#8221; matanya menerawang jauh, seperti mencoba menembus &#8216;kabut&#8217; itu.</p>
<p>&#8220;Kena &#8216;kualat&#8217; &#8216;ngkali!&#8221; ada yang nyeletuk.</p>
<p>&#8220;Huss, jangan ngomong sembarangan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kita sering ngelanggar aturan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Buktinya kita mandi di sungai pakai sabun!&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu sih Eri, Ato, sama Maman!&#8221;</p>
<p>&#8220;Enak aja, kok nuduh aku! Tuh, Yayah sama Rini malah keramas pakai shampo!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudab, sudah!”</p>
<p>Eri tampak terpukul sekali.</p>
<p>&#8220;Kita coba lagi, Ri,&#8221; Yanto menariknya untuk berdiri.</p>
<p>Eri berdiri. Dia merogoh senter dari ranselnya.</p>
<p>&#8220;Sebaiknya kita berdoa dulu,&#8221; Nana menyarankan. &#8220;Dalam situasi begini, kita harus tetep kompak. Jangan saling menyalahkan. Juga jangan merasa yang paling bersalah,&#8221; Nana menyuruh semua orang untuk memejamkan mata.</p>
<p>Eri menatap Nana dengan perasaan yang sulit ditebak. Kami berdo&#8217;a dalam hening. Minta petunjuk pada Tuhan. Minta pikiran dijernihkan dari hal-hal buruk yang membelenggu. Dan aku menangis, karena takut pada segalanya. Pada perampok yang setiap saat mengancam, <em>kualat </em>karena &#8220;menginjak&#8221; tanah <em>larangan</em>, dan pada kegelapan hutan. [Bersambung ke bag. 24]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/03/senja-di-selat-sunda-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [22]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/senja-di-selat-sunda-22/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/senja-di-selat-sunda-22/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 04:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/senja-di-selat-sunda-22/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Persis tengah hari kami sampai di Cikeusik. Yang paling menarik, sebelum memasuki tangtu, di setiap utara kampung selalu ada leuit. Pada tiang-tiangnya dibuat lempengan papan seperti piring. Gunanya untuk mencegah tikus nakal naik ke lumbung. Aku terperangah, begitu memasuki kampung tangtu pertama ini. Rumah-rumah berdinding anyaman bambu ini masih serba baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2595" title="Anak Matahari-GG" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Anak-Matahari-GG.jpg" alt="Anak Matahari-GG" width="150" height="106" />Oleh Gol A Gong</p>
<p>Persis tengah hari kami sampai di Cikeusik. Yang paling menarik, sebelum memasuki tangtu, di setiap utara kampung selalu ada <em>leuit</em>. Pada tiang-tiangnya dibuat lempengan papan seperti piring. Gunanya untuk mencegah tikus nakal naik ke lumbung.<span id="more-2596"></span></p>
<p>Aku terperangah, begitu memasuki kampung tangtu pertama ini. Rumah-rumah berdinding anyaman bambu ini masih serba baru dan ada sisa-sisa bekas kebakaran. “Agustus 1993 lalu, kampung ini kebakaran,&#8221; Yanto menerangkan.</p>
<p>&#8220;Semua rumah musnah dilumat api!&#8221; sambung Eri.</p>
<p>&#8220;Kecuali rumah <em>puun</em>,&#8221; Nana menunjuk ke titik selatan dan agak terpencil.</p>
<p>&#8220;Rumah puun memang kebal!&#8221; seseorang berdecak kagum.</p>
<p>&#8220;Puun &#8216;kan orang sakti!&#8221; tambah yang lain lagi.</p>
<p>Aku mencoba berpikir rasional. Rumah puun letaknya di selatan, kondisi tanahnya lebih tinggi, dan cukup jauh dengan rumah penduduk. Maka wajar kalau tidak terjilat api. Kalau memang ada faktor-faktor di luar logika, entahlah itu. Tapi aku harus percaya pada kenyataan sejarah yang ada, bahwa orang-orang natural; yang menganggap &#8220;alam sebagai bagian hidup&#8221;, selalu punya kekuatan gaib.</p>
<p>Nana menyambung bahwa mereka punya filosofi hidup, &#8220;Bumi haruslah dipelihara. Jangan disakiti.&#8221; Itulah sebabnya rumah-rumah mereka tidak menggunakan paku. Antara tiang-tiangnya cuma diikat dengan akar-akar pohon dan atapnya bukan dari genteng, yang bahan bakunya diambil dari bumi, tapi dari daun kelapa. Serta dindingnya dari bilik, anyaman bambu. Air sungai pun tidak boleh dicemari oleh limbah kimia. Mandi memakai sabun, atau mencuci dengan deterjen dilarang keras!</p>
<p>&#8220;Karena tidak boleh &#8216;menyakiti&#8217; bumilah, semua Baduy Dalam memasak di dalam rumah panggung mereka. Tanpa alas yang representatif. Maka tidak heran kalau ada perkampungan Baduy Dalam sering kebakaran!&#8221; Nana menjelaskan lagi tradisi turun-temurun itu.</p>
<p>&#8220;Ya, pantesan!&#8221; aku menggelengkan kepala.</p>
<p>&#8220;Kenapa tradisi ini nggak ditinggalin aja, sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurut mereka, kebakaran sudah hukum alam. Nggak bisa ditawar-tawar lagi,&#8221; Eri mencoba memuaskan rasa ingin tahuku. Tambahnya, orang tangtu tidak pernah menyalahkan tradisi. Tapi semata-mata kecerobohan mereka saja. &#8220;Kalau tradisi yang disalahkan, kata mereka, Baduy Dalam nggak bakalan pernah ada!&#8221; Eri tertawa.</p>
<p>Benakku langsung merekam pola kampung tangtu ini. Jika diibaratkan sebuah kotak, pusatnya adalah alun-alun. Di titik selatan pada tanah yang agak tinggi, itulah rumah puun. Ini disengaja, agar penguasa adat bisa mengawasi wilayahnya. Di sisi timur-barat alun-alun, rumah penduduk berderet, mengikuti kondisi tanah yang berbukit. Di antara rumah dengan rumah ada <em>kamalir</em>, saluran kecil tempat mengalirkan air hujan dari atap rumah. Mereka tidak mengenal pagar, karena itu artinya mengaku tanah sebagai milik pribadi. Untuk sekadar batas wilayah, mereka cuma mengenal kayu wayang, berupa sebatang pohon atau batu.</p>
<p>&#8220;Perbedaannya dengan kampung panamping cuma dalam tanahnya saja,&#8221; Eri menerangkan padaku. Dia menambahkan, kalau di tangtu, mereka tidak boleh merusak tekstur tanah. Jadi konstruksi bangunanlah yang menyesuaikan dengan kondisi tanah. Kebalikannya di panamping, mereka sesuka hati membangun rumah. Jika tanahnya tinggi, mereka akan meratakannya. Kalau terlalu rendah, tentu akan ditinggikan.</p>
<p>Ketika melihat aku berjalan menuju rumah puun, Yanto yang berada di dekatku, menyetop. Menurutnya, orang &#8220;luar&#8221; seperti kami dilarang mendekati rumah puun dalam batas tertentu.Aku kini yakin kenapa kita tidak boleh masuk ke Kanekes lewat jalan lolongok (pintu selatan), karena selain dikhawatirkan &#8220;menginjak&#8221; tanah yang disucikan, juga &#8220;halaman puun&#8221; ini.</p>
<p>Kami duduk di <em>bale kapuunan</em>, di titik utara, tempat pertemuan resmi atau untuk menerima tamu. Di sebelah kanan bale pertemuan, ada <em>saung lesung</em>, tempat penduduk menumbuk padi. Setiap menjelang sore akan kita lihat wanita-wanita Baduy ngobrol sambil menumbuk padi di sini.</p>
<p>Dua pria tangtu, yang meronda, menghampiri kami. Memakai <em>aros</em>, sarung dari benang kasar berwarna putih, yang dililitkan menyentuh batas lutut. Lebih menyerupai rok wanita. Bajunya warna putih yang sudah kecoklat-coklatan. Tanpa kancing dan <em>kutung</em>-seperti kaos. Juga <em>telekung</em>, ikat kepala berwama putih. Kalau telekung itu dibuka, jangan kaget melihat rambut mereka yang panjang seperti penyanyi rock!</p>
<p>Eri mengajak mereka hercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Orang Baduy ini tidak banyak bertanya dan kesannya seperti menunggu saja. Jika ada pertanyaan, mereka menjawab dengan singkat saja.</p>
<p>&#8220;Kita disarankan untuk melanjutkan perjalanan ke Cibeo,&#8221; kata Eri.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soal perampok itu.&#8221;</p>
<p>Aku menarik napas. Sebetulnya aku ingin sekali bermalam di sini. Selain untuk menyegarkan badan, juga ingin melihat isi rumah Baduy Dalam. Mereka membaca keinginanku itu, tapi tidak bisa berhuat apa-apa.</p>
<p>Satu tangtu lagi, Cikartawana, kami lewati. Sudah sore. Dari tangtu kedua ini cuma memakan waktu sekitar sepuluh menit menuju tangtu terakhir, Ciheo. Lagi-lagi kami disarankan untuk meneruskan perjalanan, karena keadaan sedang darurat. Orang Kanekes kalau berbicara sangatlah polos dan tidak ada basa-basi. Setiap omongannya mengandung kebenaran dan tidak bisa ditentang. &#8220;Rencana nggak selamanya mulus, ya!&#8221; Eri tertawa kecut padaku.</p>
<p>Aku minta <em>break</em>. Kepada mereka aku bilang bahwa punggungku sudah tidak kuat lagi membawa ransel. [Bersambung ke ba. 23]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/senja-di-selat-sunda-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [21]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/senja-di-selat-sunda-21/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/senja-di-selat-sunda-21/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 01:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/senja-di-selat-sunda-21/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong siang bergulir memalaskan ketakberdayaanku menelanjangi waktu mencari goresan hari membuat sepenggal harapan jadi nyata untuk kembali bermimpi panjang sinar meriak seketika celah bumi hangus penuh cahaya penuh debu memintal senjang jadi tak berjarak anak waktu mengalir lalu tak berbekas tak ada tapak hidup harus berjalan, katamu. *** Petualangan besar buatku pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2542" title="20b-Aktivis Perbukuan" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/20b-Aktivis-Perbukuan.jpg" alt="20b-Aktivis Perbukuan" width="700" height="627" />Oleh Gol A Gong</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>siang bergulir</em></p>
<p><em>memalaskan ketakberdayaanku</em></p>
<p><em>menelanjangi waktu</em></p>
<p><em>mencari goresan hari<span id="more-2543"></span></em></p>
<p><em>membuat sepenggal harapan</em></p>
<p><em>jadi nyata</em></p>
<p><em>untuk kembali bermimpi</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>panjang sinar meriak</em></p>
<p><em>seketika celah bumi hangus</em></p>
<p><em>penuh cahaya penuh debu</em></p>
<p><em>memintal senjang jadi tak berjarak</em></p>
<p><em>anak waktu mengalir lalu</em></p>
<p><em>tak berbekas tak ada tapak</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>hidup harus berjalan, katamu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>***</em></p>
<p>Petualangan besar buatku pun dimulai. Satu per satu kami memasuki <em>leuweung kolot</em>, hutan Baduy di pintu selatan. Aku tahu bahwa masuk ke Kanekes lewat jalan <em>lolongok </em>sangatlah tabu, karena dikhawatirkan akan &#8220;menginjak&#8221; tanah larangan, Arca Domas, yaitu titik awal yang dipercaya orang Kanekes sebagai tempat bumi ini mulai mengeras. Tempatnya di Bukit Pamuntuan, di hulu Ciujung pada ujung barat Pegunungan Kendeng. Namun lokasinya sangat dirahasiakan. Cuma <em>puun Cikeusik </em>dan beberapa orang kepercayaannya saja yang tahu.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita &#8216;nginjek&#8217; tanah larangan?&#8221; bisikku khawatir pada Nana.</p>
<p>&#8220;Tanah larangan itu ada di dalam hutan,&#8221; Nana meyakinkan. Tambahnya, &#8220;Sepanjang kita nggak keluar dari jalur jalan setapak, aman deh!&#8221;</p>
<p>Tapi beberapa kali kami berpapasan dengan orang Kanekes, yang <em>panamping </em>atau <em>tangtu</em>. Wajah mereka seperti berkesan tidak suka. Mereka cuma melintas apa adanya saja. Moga-moga ini cuma perasaanku saja.</p>
<p><em>&#8220;Ati-ati nya, aya rampok</em>! (Hati-hati, ada perampok!)&#8221; aku mendengar seseorang dari mereka memperingatkan.</p>
<p>Eri menerangkan, bahwa seorang dari perampok itu sudah tertangkap basahdi perhatasan leuweung kolot. Terus terang saja, selain lelah, hatiku tetap saja didera ketakutan yang tidak enak. Selain akan serangan dari perampok yang tiba-tiba, juga &#8220;kualat&#8221; karena melanggar tradisi setempat terus membayangiku.</p>
<p>Sepanjang perjalanan Eri mencoha mengusir rasa takutku dengan <em>joke-joke</em>-nya. Aku tertawa juga. Misalnya Eri melucu tentang seorang Baduy yang salah makan. Maksud hati mengunyah sukro, apa daya kamper yang dimakan! Anekdot yang lainnya lagi, ketika seorang Baduy keheranan melihat tamu dari kota memakan sabun (baca: keju).</p>
<p>Hatiku agak terhibur juga. Apalagi ketika orang-orang ikut tertawa ketika melewatiku. Kedengarannya mereka bergembira. Tapi ketika melihat Nana yang tersenyum simpul, aku jadi curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres padaku.</p>
<p>Nana membalik. Berjalan ke arahku. Dia mengambil sesuatu yang menggantung di ranselku. Huh, kerak itu! Wajahku betul-betul panas dan merah. Bagi seorang wanita, ketahuan tidak bisa masak sangat memalukan! Apalagi kepergok nasi yang ditanaknya hangus! Aku tahu siapa biang keroknya! Aku pelototi Eri. Agak aneh anak ini. Ketika orang-orang was-was dengan para perampok, dia masih sempat untuk berbuat iseng. Tapi si brengsek itu cuma cengar-cengir. Aku ambil kerak itu. Aku lempar sekeras-kerasnya pada dia.</p>
<p>Eri menghindar sambil tertawa ngakak.</p>
<p>Nana menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan lagi. Dia berada di belakangku, bermaksud untuk melindungiku dari gangguan Eri.</p>
<p>Aku cuma menggigit bibir dan tersenyum saja ketika menyadari sedang berada di &#8220;dunia kecil&#8221; yang masih mempunyai aturan hidup sendiri. Desa Kanekes ini luasnya sekitar 5000 Ha. Terdiri dari tanah perkampungan dan pertanian (2000 Ha), serta sisanya tanah <em>tutupan </em>(hutan lindung). Ada 46 kampung Baduy, termasuk tiga kampung <em>tangtu</em>, <em>Baduy Dalam.</em></p>
<p><em>Leuweung kolot</em> sudah kami tinggalkan. Pohon-pohonnya tidak terlalu besar, tapi cukup rapat. Kami mesti hati-hati ketika menyusuri jalan setapak yang ditutupi akar-akaran. Atau juga menyusuri aliran air yang berbatu-batu. Serba licin dan berlumut.</p>
<p>Beberapa kampung panamping, Baduy Luar, kami lewati. Di kampung-kampung Baduy, pada siang hari penduduknya pergi menggarap ladang atau mencari kayu bakar. Paling-paling wanita tua dan bocah-bocah saja yang tinggal di rumah. Tapi untuk menjaga keselamatan kampung diserahkan pada petugas ronda.</p>
<p>Orang panamping sudah termasuk yang mau menerima kebudayaan modern. Hal-hal yang ditabukan seperti radio, pakaian yang lebih dari dua warna (hitam dan putih), peralatan dapur dari gelas dan logam, memakan binatang berkaki empat, sudah merasuki keseharian mereka. Tapi apa pun perubahan yang terjadi di sini, kesederhanaan masih terpancar jelas di wajah-wajah mereka. Kesederhanaan dalam pola pikir dan hidup.</p>
<p>Walaupun mereka sudah meninggalkan tradisi leluhur, yang masih dipertahankan oleh saudara-saudara mereka di tiga tangtu; Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo, mereka tetap tidak rakus. Mereka cuma memenuhi sekadar kebutuhan hidup saja. Kesederhanaan itu bukanlah dikarenakan oleh ketidakberdayaan ekonomi, melainkan ajaran hidup yang dianut. Bagi mereka kesederhanaan merupakan kewajiban yang harus diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari.</p>
<p>Berbeda memang dengan orang tangtu. Mereka berupaya memenuhi kebutuhan hidup dan ekonominya di bidang pertanian secara tradisional. Mereka bertani dengan sistim <em>slash and burning</em>, berpindah-pindah dalam siklus sekitar 4 -6 tahun, karena secara tradisi perputaran kembali ke ladang semula harus terjadi dalam jangka waktu yang ganjil. Jika mereka berpindah ke tempat yang lain, peremajaan hutan sudah dilakukan. Menggarap lahannya pun tanpa cangkul, tapi menggunakan arit, karena buat mereka bumi tidak boleh &#8220;dilukai&#8221;. [Bersambung ke bag. 22]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/senja-di-selat-sunda-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [20]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/senja-di-selat-sunda-20/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/senja-di-selat-sunda-20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 02:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/senja-di-selat-sunda-20/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Di antara tidurku yang setengah terjaga, aku dengar suara kasak-kusuk. Ketika aku buka mata, betapa gelapnya suasana sekeliling. Aku hampir saja berteriak, karena dadaku ini seperti terhimpit. Aku belum pemah tidur dalam kegelapan seperti ini. Tapi mulutku langsung terkunci, begitu ingat aku sedang berada di mana. Aku meraba-raba arlojiku. Mencoba melihatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2442" title="Menaraku" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Menaraku.jpg" alt="Menaraku" width="113" height="150" />Oleh Gol A Gong</p>
<p>Di antara tidurku yang setengah terjaga, aku dengar suara kasak-kusuk. Ketika aku buka mata, betapa gelapnya suasana sekeliling. Aku hampir saja berteriak, karena dadaku ini seperti terhimpit. Aku belum pemah tidur dalam kegelapan seperti ini. Tapi mulutku langsung terkunci, begitu ingat aku sedang berada di mana. Aku meraba-raba arlojiku. Mencoba melihatnya di keremangan cahaya. Aku pijit lampu penerang arloji. Jam satu malam! Aku lihat Nana sedang dikerubuti kawan-kawannya. Aku mencoba memasang kuping, mencuri percakapan mereka.</p>
<p>&#8220;Tadi Eri ngeronda ke batas hutan,&#8221; bisik Nana seperti takut kedengaran oleh aku. &#8220;Dia lihat ada api di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Api unggun?&#8221; Rini memegangi lengan Nana.</p>
<p>Nana mengangguk.</p>
<p>&#8220;Perampok itu?&#8221; Yayah agak cemas.</p>
<p>&#8220;Belum pasti,&#8221; hibur Nana. &#8220;Eri, Yanto, sama Aris sedang menyelidiki. Siapa tahu mereka rombongan seperti kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau bukan?&#8221; Mira gelisah.</p>
<p>&#8220;Jangan berisik,&#8221; Nana melihat kepadaku.</p>
<p>Aku pura-pura tertidur lelap.</p>
<p>&#8220;Kita balik lagi ke kampung aja, deh,&#8221; usul Yayah. &#8220;Tengah malam begini?&#8221; Nana mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Daripada ketemu perampok!&#8221; Rini ketakutan.</p>
<p>Tiba-tiba Eri dan Aris muncul.</p>
<p>&#8220;Yang lain mana?&#8221; sura Nana tegang.</p>
<p>&#8220;Jaga-jaga,&#8221; ini suara Aris.</p>
<p>&#8220;Tina tidur?&#8221; Eri melihat ke arahku. &#8220;Bagus. Jangan sampai dia tahu, ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gimana? Betul mereka perampok itu?&#8221; Rini tak mau diam.</p>
<p>&#8220;Ada tiga orang lelaki sedang berkemah di batas hutan,&#8221; keterangan Eri ini membangunkan aku.</p>
<p>&#8220;Apa? Perampok itu ada di sini?&#8221; pekikku.</p>
<p>Nana memelukku, &#8220;Tenang, Tina.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tenang bagaimana, Nana?&#8221; aku meronta.</p>
<p>&#8220;Bakal bahaya kalau kita semalaman ketakutan di sini,&#8221; aku tetap memilih untuk kembali ke kampung.</p>
<p>&#8220;Denger, denger dulu,&#8221; potong Eri. &#8220;Mereka nggak bakalan berani keluar dari persembunyian, karena tempat ini sudah dikurung. Apalagi sampai dateng ke tempat kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa rencanamu, Eri?&#8221; Nana tetap menenangkan aku.</p>
<p>&#8220;Kalian tidur aja. Biar kami jaga-jaga di luar. Besok pagi baru kita putuskan, apakah mau terus ke Baduy atau balik lagi ke kampung,&#8221; Eri keluar dari tenda.</p>
<p>Nana berdiri dan menyusul keluar tenda. Tinggal aku, Rihi,Yayah, dan Mira yang saling pandang dan merasakan ketakutan. Tidak lama Nana muncul lagi. Wajahnya tetap tenang, atau katakanlah ditenang-tenangkan agar kami ikut tenang juga. &#8220;Bagaimana, Nana?&#8221; sambutku.</p>
<p>&#8220;Kita tidur saja. Perjalanan kita masih panjang,&#8221; Nana mengambil tempat.</p>
<p>&#8220;Apanya yang tenang?&#8221; Rini gelisah lagi.</p>
<p>Nana tidak menjawab. Dia menyelipkan tubuhnya di antara aku dan Mira. Kami berdesak-desakan. Ketakutan akhirnya terkalahkan juga oleh rasa kantuk yang menyengat.</p>
<p>Kegelapan aku rasakan membelenggu seperti jubah-jubah penunggu hutan. Kegelapan yang menyeringai mempertontonkan gigi-gigi taringnya. Waktu menggelinding bagai derit pintu tua, seperti ikut menyeramkan suasana malam.</p>
<p>Aku menggeliat ketika seseorang menepuk-nepuk tubuhku. Burung-burung aku dengar bersahutan dengan riang. Aku keluar dari tenda. Warna kemerahan pun mengambang di langit timur.</p>
<p>Aku lihat Nana, Yayah, dan Rini sedang merebus air. Menyiapkan teh atau kopi panas, dan sarapan mie rebus. Selalu saja aku bangun paling akhir. Rasanya malu juga. Sebagian lelaki membereskan tenda. Aku pergi ke sungai, mencuci muka.</p>
<p>&#8220;Kita kembali ke kampung?&#8221; aku sudah membantu membukai bungkus mie.</p>
<p>“Ngapain balik lagi!&#8221; sambar Eri. &#8220;Nanti sore juga kita sampai di Baduy!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi perampok-perampok itu?&#8221; aku menatapnya kesal.</p>
<p>&#8220;Sudah aku bilang, mereka nggak bakalan berani menampakkan wajahnya. Apalagi berani muncul di jalan setapak. Mereka itu sembunyi jauh-jauh di dalam hutan,&#8221; Eri bersikeras. Tiba-tiba Yanto menyentuhkan telunjuknya kebibir,menyuruh untuk diam. Dia menyuruh kami untuk bersembunyi. Aku berlari mengikuti Nana ke semak-semak. Eri, Toni dan Aris bersembunyi di batang pobon di mulut jalan setapak. Yang lainnya cuma menanti saja dengan perasaan was-was di depan tenda.</p>
<p>Ah, ternyata cuma serombongan <em>Baduy Panamping</em>, Baduy Luar yang hidup di sekitar Baduy Dalam; Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Ada tiga gadis muda belia memakai pemerah pada bibirnya. Mereka membawa buntelan. Dua bocah berambut panjang, yang memanggul pisang. Dan dua lelaki dewasa, yang menggotong <em>weulit</em>, atap dari daun kelapa. Mereka berpakaian serba bitam, yang menandakan identitas Baduy Luar. Kalau pakaian Baduy Dalam selalu ada unsur warna putihnya. Atau bisa juga serba putih.</p>
<p>Penduduk Baduy Luar ini membawa hasil bumi untuk ditukar pada kampung-kampung terdekat dengan kebutuhan sehari-hari, seperti garam, terasi, atau ikan asin. Begitulah kebiasaan mereka, kalau tidak berdagang ya paling-paling bertandang untuk melestarikan kehidupan bertetangga dengan masyarakat di luar wilayah mereka..</p>
<p>Lalu ada rombongan kedua. Kali ini lebih banyak. Selain yang membawa pisang, weulit, ada seseorang yang memanggul kayu bakar. Orang itu memakai topi laken dan pakaiannya kotor sekali.</p>
<p>Eri keluar dari persembunyiannya. Dia berlari mendekati si kayu bakar itu. Mencegatnya. Aku melirik Nana, yang tampak tegang. Aku yakin bakal ada sesuatu yang terjadi. Apalagi Yanto dan Aris ikut menghadang.</p>
<p>&#8220;Mau ke mana, <em>Kang</em>?&#8221; Eri menelitinya.</p>
<p>Si kayu bakar tidak menggubris. Dia mempercepat langkahnya, melewati rombongan Baduy panamping.</p>
<p><em>&#8220;Tewak tah, tewak!</em> (Tangkap tuh, tangkap!)&#8221; teriak Eri mengejar.</p>
<p>&#8220;Rampok, rampok!&#8221; Yanto menimpali.</p>
<p>Si kayu bakar merasa posisinya terjepit. Dia membuang pikulan kayu bakarnya dan ngibrit. Tapi Eri lebih cepat dan sudah menubruknya. Mereka bergulingan di tanah. Yanto membantunya. Orang-orang Kanekes berhenti dan memperhatikan pergumulan itu. Eri mencekal perampok itu. Yanto menggeledah tas kecilnya. Ada beberapa perhiasan dan segepok uang.</p>
<p>&#8220;Mana yang dua orang lagi?!&#8221; bentak Eri.</p>
<p>Perampok ini menatapnya dengan beringas.</p>
<p>Eri menyuruh Aris mengikat perampok ini kuat-kuat. Lalu menyerahkannya pada rombongan Baduy Luar. Mereka menggiringnya ke kampung terdekat. Menyerahkannya ke kepala kampung.</p>
<p>&#8220;Kamu nekat, Eri!&#8221; protesku masih was-was.</p>
<p>Eri malah tertawa. &#8220;Yuk, kita berangkat!&#8221; katanya pada yag lain.</p>
<p>&#8220;Heh, bagaimana kalau yang dua orang lagi melihat tadi?&#8221; aku menolak untuk pergi. &#8220;Bisa berabe nanti!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mereka tinggal dua orang! Kita bersepuluh! Kalian takut?&#8221; tantang Eri. &#8220;Percaya deh, mereka nggak bakalan berani menampakkan batang hidungnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal jangan kemalaman saja,&#8221; Yanto buka suara.</p>
<p>&#8220;Nggak bakalan. Sore juga udah nyampe,&#8221; Eri meyakinkan. &#8220;Tanggung dong kalau balik lagi. Ini justru keasyikannya!&#8221;</p>
<p>Aku meminta pendapat Nana, yang tampak mulai terpengaruh oleh omongan Eri. Aku lihat yang lainnya sudah membereskan ransel.</p>
<p>&#8220;Cuma resikonya, kita nggak bisa mampir lama-lama di Cikeusik dan Cikartawana,&#8221; Eri menyebut dua kampung Baduy Dalam. &#8220;Sasaran kita langsung ke Cibeo aja!&#8221; tegas Eri.</p>
<p>Aku agak kecewa juga. Berarti aku tidak akan melihat kehidupan di dua kampung Baduy Dalam yang masih murni memegang aturan adat. Bahkan agak tertutup menerima tamu dari luar wilayah mereka. Menurut Nana, kampung Baduy Dalam terakhir, Cibeo, sudah tercampur dan agak terbuka pada kehidupan dunia &#8220;luar&#8221;. Kampung inilah yang tampaknya dipersiapkan untuk &#8220;terbuka&#8221; menyambut wisatawan nusantara, yang ingin tahu tentang kehidupan mereka. [bersambung ke bag. 21]</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/senja-di-selat-sunda-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [19]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/27/senja-di-selat-sunda-19/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/27/senja-di-selat-sunda-19/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 00:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/12/27/senja-di-selat-sunda-19/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Nana cuma tersenyum menghiburku. Keesokan harinya langit cerah. Kami melanjutkan perjalanan lagi; naik turun bukit. Menjelang senja kami melintasi sebuah sungai kecil berbatu-batu. Lagi aku selalu tiba paling akhir. Eri tetap setia di belakangku. Seharian tadi dia tidak menggodaku. Sungai berbatu-batu ini perbatasan alam wilayah Kanekes, yang memisahkan dunia &#8220;luar&#8221; dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Nana cuma tersenyum menghiburku. Keesokan harinya langit cerah. Kami melanjutkan perjalanan lagi; naik turun bukit. Menjelang senja kami melintasi sebuah sungai kecil berbatu-batu. <span id="more-2402"></span>Lagi aku selalu tiba paling akhir. Eri tetap setia di belakangku. Seharian tadi dia tidak menggodaku.</p>
<p>Sungai berbatu-batu ini perbatasan alam wilayah Kanekes, yang memisahkan dunia &#8220;luar&#8221; dengan alam Baduy. Setelah itu leuweung kolot menjulang di depan kami. Dan kampung Baduy ada di sana.</p>
<p>Aku duduk dan membuka sepatu. Merendam kedua kakiku. Aku basuh wajahku dengan air sungai yang jernih. Terasa segar, walaupun kulit wajahku terasa perih terbakar.</p>
<p>Nana menghampiriku. &#8220;Hebat,&#8221; katanya tertawa kecil. &#8220;Ternyata kamu masih kuat jalan. Aku kira udah digendong Eri.&#8221;</p>
<p>Aku semprot Nana dengan air sungai.</p>
<p>Nana membalas.</p>
<p>&#8220;Kita bermalam di sini aja!&#8221; Eri muncul di balik semak-semak. &#8220;Daripada kemaleman di leuweung kolot!&#8221;</p>
<p>Yanto mengiyakan sambil menyuruh beberapa orang untuk mencari tanah agak lapang.</p>
<p>Aris, Toni, Ato, dan Maman membongkar ranselnya. Mereka mendirikan tenda. Peralatan berkemah berhamburan. Sebuah <em>flysheet</em>, lembaran gantung, mereka rentang dan diikat di dahan-dahan. Ini bisa jadi atap tenda jika hujan turun nanti.</p>
<p>&#8220;Mestinya anak Yogya ini masak buat kita-kita!&#8221; Eri berteriak pada yang lain.</p>
<p>Nana melirikku sambil mengulum senyum. Aku jadi serba salah. Nana tahu kalau aku paling tidak bisa masak. Di rumah segalanya dikerjakan oleh pembantu. Paling-paling aku cuma bisa merebus mie. Sialnya aku kebagian memasak nasi. Aku meminta pertolongan Nana. Ini seperti kiamat buatku.</p>
<p>&#8220;Aku ajarin deh,&#8221; Nana menarik aku ke sungai.</p>
<p>&#8220;Eri cuma mau mempermainkan aku saja,&#8221; bisikku.</p>
<p>Nana lagi-lagi tertawa.</p>
<p>&#8220;Sana, kamu kumpul sama mereka saja,&#8221; suruhku.</p>
<p>&#8220;Betul?&#8221; Nana menyelidik.</p>
<p>Aku mengangguk. Biarlah aku kerjakan sendiri saja. Aku ingat-ingat kursus kilat yang diajarkan Nana tadi. Aku cuci beras di sungai. Rasanya dadaku tertekan sekali, karena setiap gerakanku seperti diperhatikan orang-orang.</p>
<p>Aku raba-raba benda keras persegi empat berwarna putih ini. Para petualang menyebutnya <em>parafin</em>. Aku nyalakan dengan korek api, malah tanganku yang tersundut. Aku sembunyikan rasa perihku dengan menjilati jariku yang tersundut api tadi. Beberapa kali aku coba menyalakan api, tapi selalu gagal. Benda &#8220;ajaib&#8221; ini masih barang aneh buatku. Yayah yang kebagian merebus mie, membantuku menyalakan api.</p>
<p>&#8220;Hati-hati, nasinya jangan sampai hangus,&#8221; Eri menyindir aku.</p>
<p>Aku pura-pura tidak mendengar ocehannya.</p>
<p>Api di tungku sudah menyala. Aku letakkan panci berisi beras di atasnya. Api pun menjilat-jilat. Sesekali aku buka tutup panci, aku aduk-aduk. Akhirnya nasi pun matang juga, walaupun di bawahnya terbentuk kerak lumayan tebal.</p>
<p>Eri mengacung-acungkan kerak, nasi yang gosong, pada orang-orang sambil tertawa-tawa. &#8220;Ini dia nasi <em>made in </em>Yogya! Lumayanlah!&#8221;</p>
<p>Kami mengitari api unggun.</p>
<p>Aku lihat Nana ingin menghentikan ulah Eri. Tapi Eri tidak peduli. Yang lain ngobrol seperlunya saja. Yanto malah asyik main catur dengan Aris.</p>
<p>&#8220;Kamu tuh noraknya nggak ilang-ilang!&#8221; tegur Nana.</p>
<p>Eri cuma tertawa. Dia menghampiri aku. &#8220;Kamu marah, Tina?&#8221; si brengsek ini duduk di sebelahku.</p>
<p>Aku menatapnya.</p>
<p>&#8220;Kalau sedang begini, aku selalu bergembira, Nana. Kadang kala aku suka melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Entahlah. Yang penting aku bisa melupakan keruwetan di rumah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itukah sebabnya kamu suka <em>traveling</em>?&#8221; tanyaku.</p>
<p>Eri mengangguk.</p>
<p>&#8220;Tapi itu jangan dijadikan alasan untuk bikin kesal orang, dong!&#8221; protesku.</p>
<p>&#8220;Aku cuma nggak betah dengan suasana sepi. Aku pingin semua orang bergembira dalam perjalanan seperti ini.&#8221;</p>
<p>Yanto menghampiri kami. &#8220;Siapa yang duluan jaga, Ri?&#8221; katanya melihat ke sekeliling.</p>
<p>&#8220;Aku sama siAris, deh!&#8221; Eri berdiri. &#8220;Sebaiknya kamu tidur aja. Kumpulin tenaga buat besok,&#8221;</p>
<p>Eri tersenyum padaku.</p>
<p>Aku merasa terhibur melihat senyumnya yang mempesona. Aku lihat arlojiku. Sudah hampir jam sepuluh! Aku masuk ke tenda lebih awal.</p>
<p>&#8220;Nanti tiga jam lagi di aplus, ya!&#8221; aturnya pada Yanto. &#8220;Setelah Ato sama Maman, kamu giliran yang terakhir sama Toni!&#8221; Eri masih memberi petunjuk pada Yanto.</p>
<p>Malam merembet dan gerimis mulai turun. [bersambung ke ba. 20]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/27/senja-di-selat-sunda-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENJA DI SELAT SUNDA [18]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/senja-di-selat-sunda-18/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/senja-di-selat-sunda-18/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 23:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/senja-di-selat-sunda-18/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Nana yang merasa serba salah aku beri isyarat untuk terus saja berjalan. Dia beberapa meter di depanku. Yang lainnya sudah jauh di depan. Nana pun lama-lama sudah tak kelihatan lagi. Aku duduk beristirahat di bawah pohon. Minum sebanyak-banyaknya. &#8220;Jangan terburu-buru minum,&#8221; Eri sudah tiba. &#8220;Pelan-pelan saja. Nanti dada kamu sakit,&#8221; katanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2221" title="Gong-cover JMGNSH" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Gong-cover-JMGNSH.jpg" alt="Gong-cover JMGNSH" width="500" height="448" />Oleh Gol A Gong</p>
<p>Nana yang merasa serba salah aku beri isyarat untuk terus saja berjalan. Dia beberapa meter di depanku. <span id="more-2222"></span>Yang lainnya sudah jauh di depan. Nana pun lama-lama sudah tak kelihatan lagi.</p>
<p>Aku duduk beristirahat di bawah pohon. Minum sebanyak-banyaknya.</p>
<p>&#8220;Jangan terburu-buru minum,&#8221; Eri sudah tiba. &#8220;Pelan-pelan saja. Nanti dada kamu sakit,&#8221; katanya lagi sambil mengkuliahi, bahwa suhu badan kalau sedang panas jangan langsung kena air. Berilah tempo untuk menurunkan suhu badan.</p>
<p>Akhimya aku sependapat setelah aku batuk-batuk.</p>
<p>Akulah yang paling terakhir datang di tempat beristirahat, di pinggir sungai berbatu-batu. Matahari hampir menggelincir. Eri beberapa belas meter di belakangku. Aku tahu kalau dia sengaja menjaga jarak, walaupun tetap menjaga keselamatanku.</p>
<p>Nana tersenyum menyambutku. &#8220;Eri mengganggu kamu?&#8221; dia melihat Eri yang baru tiba dan langsung membantu mendirikan tenda.</p>
<p>Aku menggeleng. &#8220;Aku berani bayar berapa pun, Nana, kalau ada motor ojek!&#8221; aku mengeluh.</p>
<p>Nana tertawa lucu.</p>
<p>Kami yang perempuan, kebagian mengurusi dapur. Aku agak kikuk juga ketika ikut memasak. Untung mereka membiarkan aku istirahat. Aku tertidur pulas di <em>hammock</em>, yang diikat di antara dua batang pohon rindang.</p>
<p>Aku dibangunkan setelah makan malam tersedia. Sebetulnya aku agak risih juga melihat nasi dan mie rebus yang diciduk langsung dari panci dan kadang saling berebut, piring-piring yang tampak kotor, serta cara makan mereka yang buatku jorok.</p>
<p>Untung aku sudah mempersiapkan makan malam yang lain. Roti, keju, dan coklat. Tapi sialnya, selera makanku langsung hilang begitu Eri duduk di sebelahku. Dia makan tanpa menggunakan sendok. Malah dengan sengaja piring itu diangkat dan didekatkan ke bibir. Dia langsung menyeruputnya!</p>
<p>Perutku memberontak.</p>
<p>&#8220;Enak lho makan kayak gini,&#8221; dia menjilati piringnya sampai licin. &#8220;Ini bisa jadi obat penawar stress!&#8221; tawanya meledak. &#8220;Selera makanmu hilang? Boleh minta rotinya? Buat cuci mulut!&#8221;</p>
<p>Aku sodorkan bungkusan roti. Eri pun berteriak pada yang lain. Dalam sekejap rotiku pun amblas. Untuk mengganjal perut, aku cuma makan coklat dan makanan kecil yang sudah aku persiapkan. Tapi perbekalan darurat ini pun cepat menipis, karena aku harus membagi-bagikan pada rombongan cewek.</p>
<p>&#8220;Kayaknya acara makan berikutnya, kamu harus mau bergabung, ya?&#8221; Nana tertawa senang.</p>
<p>Aku mengangguk lemah.</p>
<p>Kami berkumpul mengelilingi api unggun. Saling tukar cerita. Banyak pertanyaan terlontar padaku. Terutama soal kehidupanku, yang menurut mereka sangat berbenturan dengan kehidupan mereka. Aku memang paling &#8220;berbeda&#8221; di antara mereka. Tidak segesit dan sekuat mereka. Aku cenderung &#8220;dilayani&#8221; dan &#8220;diistimewakan&#8221; oleh mereka. Lalu beberapa lelaki menawarkan membawakan ranselku.</p>
<p>Ini ide bagus. Ranselku dibongkar. Barang-barangku dibagi-bagi kepada mereka. Kecuali barang-barang &#8220;perusahaanku&#8221; saja, yang tetap aku bawa. Kini ranselku terasa ringan.</p>
<p>Tapi ketika kami melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, ransel itu tetap saja membuat punggungku sakit. Aku sadar bahwa setiap saat kondisi badanku semakin lelah, sehingga barang yang semestinya ringan tetap terasa berat. Mungkin yang paling hagus, aku tidak usah membawa apa-apa.</p>
<p>Menjelang tengah hari, langit berubah gelap. Angin menderu-deru. Aku cuma melihat punggung seseorang di depanku. Lalu hilang di tikungan. Aku menunggu Eri muncul dari belakang. Aku merasa takut sekali ketika gerimis mulai turun.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; Eri menadahkan tangannya. &#8220;Bakalan gede nih hujannya!&#8221; katanya. &#8220;Siniin ranselmu!&#8221;</p>
<p>Tanpa hanyak omong aku serahkan ranselku. Punggungku terasa ringan sekali. Aku menarik napas lega. Aku berjalan cepat-cepat. Eri tetap di belakangku. Ranselku disandang di dadanya.</p>
<p>Gerimis semakin rapat. Aku hampir putus asa ketika sadar, bahwa kampung itu ada di atas bukit. Aku harus melalui tanjakan berbatu-batu yang panjang. Aku berlari semampuku.</p>
<p>Hujan mulai deras. Tubuhku basah kuyup. Eri membantuku menaiki tanah menyerupai anak tangga. Aku betul-betul putus asa dan menyesal sudah ikut ke sini. Aku betul-betul ambruk ketika sampai di perkampungan.</p>
<p>&#8220;Kamu haik-haik saja, Ti:na?&#8221; Nana menyambutku. Dibawanya aku ke rumah kepala kampung, di mana orang-orang sudah bermalas-malasan di <em>bale-bale</em>-nya.</p>
<h1>&#8220;Aduh, Nana,&#8221; tanpa merasa malu aku merebahkan badan di bale-bale. Beberapa orang memberi tempat yang luas padaku. &#8220;Sebaiknya bajumu diganti dulu,&#8221; Nana membangunkan aku.</h1>
<p>&#8220;Badanku kayaknya remuk,&#8221; aku bangun dengan malas.</p>
<p>Setelah berganti baju dengan yang kering, aku langsung meringkuk di <em>sleeping bag </em>di pojok. Hujan tak ada tanda-tanda mau berhenti, malah semakin besar saja. Perjalanan terpaksa dilanjutkan esok hari.</p>
<p>Kami bermalam di kampung ini. Aku perhatikan suasana kampung ini sangat terisolir. Mustahil bisa dimasuki mobil sampai tahun 2000. Tapi aku merasa trenyuh sekali melihat penerimaan tuan rumah, yang sangat ramah dan manusiawi. Segala yang ada di dapur, dihidangkan pada kami. Buat orang kampung, kedatangan tamu dari kota memang sebuah kebanggaan.</p>
<p>Sebelum kami pergi meringkuk, Bapak Kepala Kampung memberi nasihat, tentang pantangan di <em>leuweung kolot</em>, hutan Baduy yang penuh misteri. Untuk sampai Baduy Dalam, kita memang harus menembus leuweung kolot. Yang membuatku ngeri adalah ketika bapak itu mengabarkan tentang tiga orang perampok dari Rangkasbitung, yang melarikan diri ke wilayah Kanekes.</p>
<p>Aku berbisik pada Nana, &#8220;Jangan-jangan kita ketemu mereka.&#8221; [bersambung ke bag. 19]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/senja-di-selat-sunda-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

