TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]
Gola Gong | Novel | April 8th, 2010 | 3 Comments »
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu orang-orang yang berkumpul di stasiun. Buat mereka, kedatangan kereta adalah rezki; sesuatu yang harus disambut dengan sukacita.
Pedagang asongan yang mengais rezki dari setiap gerbong dan harus turun–naik di stasiun, yang sudah berjaga-jaga sejak bunyi kereta dibunyikan, mulai mengeliat-geliat bagai ular terjaga dari tidurnya. Ada gula ada semut. Sebagian pedagang asongan yang datang dari stasiun sebelumnya dengan tubuh berkeringat turun dari gerbong dan diganti dengan yang baru. Orang-orang kecil itu tak pernah rakus dalam memburu rezki. Mereka saling berbagi; memberi kesempatan yang sama untuk sesuap nasi. Begitu terus silih berganti di setiap stasiun. Mereka meneriakan jenis dagangan dan mimpi serta harapan-harapan yang sama. Hidup bagi mereka memangnyata. Apa yang mereka dapatkan hari ini, keuntungan dari dagangannya, itulah hidup.
Beberapa penumpang berlompatan turun. Walaupun tubuh kotor dan bau segala rupa, tapi mereka tampak gembira karena sudah sampai di tempat tujuan, kampung halaman tercinta. Tempat merka lahir, menangis, besar, gembira, dan bermimpi. Mereka saling melemparkan tawa dan senyum. Lalu beberapa penumpang baru naik, tapi tidak untuk kota yang jauh. Mereka cuma menumpang ke beberapa stasiun kecil sambil bersahabat dengan kondektur plus salam tempel ala kadarnya.
Seorang pemuda memisahkan diri. Dia berusaha untuk tidak menarik perhatian atau beramah-ramah dengan orang-orang. Paling-paling dia tersenyum, atau menganguk kepada yang menyapanya. Itu sekedar tradisi penduduk pada kaum pendatang yang dianggap sebagi tamu.
Dia menyeret ransel hijaunya seperti sedang berusaha menyeret kembali sepenggal hidupnya yang tertinggal di sini. Dia melihat sekeliling stasiun seperti melihat sesuatu yang sudah teramat lama di diam-diamkan. Tak ada yang berubah dengan tempa ini, bisiknya gembira. Bangku-bangku dari kayu jati, yang kini sudah kehitam-hitaman, masih tetap jadi bagian stasiun. Aku sering tidur di bangku itu jika hari sedang panas, dia tertawa mengingatnya. Tiang-tiang penyangga masih kokoh. Tapi kios kecil di ujung barat stasiun itu kini jadi sebuah toko kecil. Dagangannya bertambah banyak. Koran dan majalahnya pun berjejer dan bergantungan.
Dia berjalan ke toko kecil itu. Berusaha melihat penjaganya dengan hati-hati. Tampaknya, dia tak ingin kehadirannya diketahui. Seorang lelaki bertopi sedang melayani pembeli. Dia tak mengenalnya. Dia membeli tisu penyegar badan.
“Ke mana Pak kumis, Mas?” tanyanya, merasa harus tahu nasib orang tua pemilik kios kecil ini dulu, yang tak pernah berhasil memergokinya jika mencuri roti. Pak Kumis yang selalu mengusirnya tiap kali ia mondar-mandir di depan kiosnya, daripada nanti ada roti atau kuenya yang hilang.
“Pak Kumis sudah mati,” si penjual enteng saja bicara.
“Kapan, Mas?” Pemuda ini tersentak.
Sambil membereskan tumpukan rokok, si penjual meneliti pemuda yang ada di depannya. “lima tahun yang lalu,” katanya.
Tadinya dia berharap bisa bernostalgia dengan Pak Kumis, sambil meminta maaf atas kelakuannya sepuluh tahun yang lewat. Beliau pasti akan pangling melihatku, pikirnya. Tapi keinginannya cuma tinggal di hatinya. Selamat jalan, Pak Kumis, batinnya penuh sesal.
“meninggal karena apa Pak Kumis, Mas? Sakit tua?”
“Mati karena duit!” pemilik kios itu tertawa.
Pemuda ini mengerutkan keningnya. “Jangan main-main dengan orang yang sudah meninggal, Mas,” katanya mengingatkan.
Tawa si pemilik baru terhenti. “Dia memang mati karena duit. Kiosnya ludes buat main judi.” Mimiknya berubah serius. “Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu siapa?” pengganti Pak Kumis ini menyelidik.
“Oh, nggak apa-apa,” jawab pemuda ini agak gugup. “Saya hanya pembeli setianya.” Dia tersenyum kikuk dan balik meninggalkan toko kecil itu.
Dia membawa kenangannya tentang Pak Kumis, yang kue-kue dagangannya sering dicurinya untuk mengganjal lapar dengan perasaan berduka. Pak Kumis mati karena duit. Karena judi. Kalimat itu membekas di pikirannya. Sepengetahuannya, Pak Kumis tidak pernah berjudi.
Dia mengitari stasiun lagi. Pengemis buta itu masih menadahkan tangannya ke setiap gerbong dengan doa-doa. Wajahnya semakin berkeriput dan jalannya mulai tertatih-tatih dimakan waktu. Malah ada dua pengemis baru, dengan kondisi yang sebetulnya masih sehat. Mungkin cuma manusia pemalas. Juga anak kecil tanpa pendidikan, yang semakin berkeliaran tanpa arah hidup yang jelas, membawa kotak semir yang cuma jadi hiasan kalung raksasa saja daripada berpungsi sebagai penjaring rezki. Tak berbeda dengan aku dulu, hatinya mengenang.
Menurut penilaiannya, stasiun ini tak berubah. Kehidupan yang sederhana sejak dulu tak tampak lebih maju; walupun roda ekonomi menggelinding dengan cepat dengan pabrik-pabrik yang melahap tanah produktif di timur-barat kota dan menyerap banyak tenaga kerja. Kota kecil yang cuma disinggahi kereta ekonomi. Kota yang berpanorama indah dan pernah jaya dengan pabrik gulanya dalam buku sejarah. Kota yang lebih banyak ditinggalkan pemudanya ke kota lain untuk mencari penghidupan yang lebih layak.
Cuma warna tembok stasiun ini saja yang agak bersinar menyegarkan sepasang matanya yang cerdik. Mungkin baru dicat. Dia ingat, setiap hari peringatan kemerdekaan, tembok dan pagar stasiun ini dipercantik lagi dengan cat baru. Bahkan dihiasi dengan umbul-umbul dan dihiasi dengan kertas warna merah dan putih, lambang kebanggaan tanah air bumi kita.
Padahal keadaan kota kecil ini dua tahun terakhir berubah drastis, begitu yang sering dibacanya di koran-koran. Tadi saja di gerbong kereta api, sebelum memasuki kota, dia bisa melihat di tanah-tanah subur di luar kota, pabrik-pabrik yang menggantikan batang-batang padi dan tebu yang dulu pada musim panen seperti lukisan surgawi dan menyebarkan aroma wewangian. Juga nasib generasi mudanya, yang praktis saja memilih jadi buruh di pabrik selepas sekolah rendah dan lanjutan, karena sebagian orang tua mereka pun berpikiran sama, lebih enak menjual tanah garapannya daripada berkubang lumpur. Berpeluh keringat menanaminya dengan padi atau tebu!
Yang lebih tragis lagi dia baca tentang kota ini, adalah munculnya orang kaya baru pergeseran nilai dari pola pikir agraris ke industri. Pola pikir tradisional kaum mudanya ke kejutan budaya baru. Kini gaya hidup kota-kota besar, yang notabene diimpor dari Barat, dilahap habis oleh mereka. 3F Revolutions—Film, Food, dan Fashion bagai musim penghujan terjadi di sini.
Mereka merengek-rengek meminta dibelikan ini-itu pada orangtuanya, selama persediaan uang dari hasil penjualan tanah itu masih ada. Dan mereka tidak segan-segan melancong ke kota-kota besar cuma untuk terperangkap kenikmatan sesaat. Dan para orangtuanya itu pun tak jauh berbeda. Mereka berpiknik ke kota-kota atau pulau wisata. Bahkan ada bapak-bapak yang kawin lagi dengan gadis muda belia, yang dicomot dari kampung-kampung, sehingga banyak keluarga yang tadinya bagai permukaan kolam perawan, kini banyak riak gelombang. Lantas warung-warung pojok pun menjamur di kiri -kanan jalan di luar kota, di sepanjang jalan ke arah pabrik, menawarkan alkohol wanita bergicu tebal.
Kemudian ketika bencana itu datang, saat persediaan uang menyusut dan habis, mulai mereka kebingungan dan panik. Untuk kembali menggarap tanah, jelas tak mungkin. Untuk membuka usaha, sejak mereka dilahirkan, bahkan sejak jaman nenek moyang, mereka tak pernah diajarkan bagaimana caranya berdagang. Sehingga jalan pintas yang terbaik menjual apa saja yang tersisa. Untuk menyuap yang punya kuasa agar anak-anak mereka bisa bekerja di pabrik-pabrik, walaupun dengan gaji di bawah kebutuhan fisik minimum.
Itulah yang dibacanya tentang kota ini di koran-koran, dua tahun terakhir.
Dia duduk di bangku panjang kayu jati itu. Berusaha merasakan getaran-getarannya yang telah lalu. Ada keinginan untuk menyusuri jejak-jejak masa kecilnya di sini. Dia yakin dengan penampilannya kali ini, sebagai anak muda produk kota besar, tidak akan ada yang mengenalinya. Siapa akan menyangka kalau sebenarnya dia adalah bocah hitam nakal yang pernah malang melintang di kota ini? [Bersambung ke bagian 2]



![GG-Zara Gong [ki], Aris Buntarman, Zara [ka]](http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/GG-Zara.jpg)


