RUMAH DUNIA – Diumumkan kepada segenap khalayak. Kepada para pembaca buku-buku Gola Gong, juga kepada para penerbit, terhitung ketika press release ini disebarkan, penulis serial “Balada Si Roy” akan mengembalikan nama asli penanya, yaitu “GOL A GONG”. Huruf “A” yang selama ini digabung ke “Gola”, kini dipisah jadi “Gol A”.
Selama ini pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten selalu memakai nama pena “Gola Gong” dimana huruf “a’ disatukan ke “Gol’ jadi “Gola”. Sekarang dipisah, huruf “a’ berdiri sendiri dan ajeg ditulis kapital “A”. Pada 2010, akan terbit novel seri anak-anak “Aku Ingin Sekolah” (Penerbit Zikrul Hakim) bersama Tias Tatanka. Nama pena “Gol A Gong” sudah resmi dipakai.
Ini juga atas saran Teguh Esha, pengarang idolanya yang menulis “Ali Topan Anak Jalanan’. Kata Teguh, “Kamu harus kembali ke nama awal. Nama itu pemberian emakmu. Nama penamu itu amanah dari emakmu!”
Bahkan, Sunardian Wirodono, penulis “Anonim My Hero” meledek lucu, “Huruf ‘A’ itu plat nomor mobil Banten! ‘A’! Jadi, ‘Gol A Gong’ lebih bagus. Mencirikan dari Banten”.
Selama ini tidak banyak yang tahu makna “Gol A Gong”. Padahal filosofis. Gol berarti masuk, A itu artinya Allah, dan Gong sejenis alat musik. Itu dimaksudkan agar tulisan-tulisan Gola Gong, eh, Gol A Gong masuk dan menggema ke hati pembaca. Itu semua tentu karena peran serta Allah SWT. Emaknya berpesan, “Kesuksesan yang kelak akan kamu raih, itu semua karena Allah!” (Jang RuDun)
RUMAH DUNIA – Sabtu malam (12/12), Rumah Dunia kedatangan dua orang tamu perwakilan dari Griya Baca Himpunan Mahasiswa Serang dan Cilegon (HIMSAC) Bandar Lampung. “Ada keperluan apa? Apa yang bisa kami Bantu?” kata Gol A Gong selaku pendiri Rumah Dunia dengan ramah. Saat itu Gong dan relawan sedang berkumpul di Panggung.
Tb. A. Hizbullah, selaku sekertaris umum dan Dika Ferdiansyah selaku ketua umum HIMAC, memperkenalkan diri dan langsung menjelaskan maksud kedatangannya. “Griya Baca HIMAC akan mengadakan relaunching untuk yang kedua kalinya. Kami meminta bantuan sumbangan berupa buku dari Rumah Dunia,” kata Hizbullah, yang bisa sapa dangan sebutan Tb.
Gol A Gong langsung menanggapinya dengan baik. “Bisa, bisa. Kapan mau diambil bukunya? Apa mau sekarang?” Gong menawarkan. Tapi, karena dirasa terlalu terburu-buru, ahirnya perwakilan dari Griya Baca HIMAC sepakat akan mengambil bukunya besok siang.
Sebenarnya Griya Baca sudah mengadakan launching pertamanya, yaitu pada tahun 2004 lalu. Dan rencananya pada tanggal 26 Desember 2009 mendatang akan diadakan launching yang kedua. Griya Baca yang bermarkas di Jl. Bumi Mati II, Gang Surya Kencana 2 Kampung Baru, Bandar Lampung ini hanya baru mempunyai koleksi buku sekitar 200 ribu.
Griya Baca yang mempunyai visi memberantas buta aksara dan menumbuh kembangkan minat baca pada masyarakat ini sudah pernah mengadakan semacam lomba cerpen untuk Mahasiswa, serta mengundang sastrawan Lampung, Isbedi Setiawan. “Tapi Griya Baca sekarang lebih memfokuskan pada minat baca, khususnya anak-anak,” kata Tb, yang datang hari Sabtu (12/12) siang, bersama ketua umum, Dika Ferdiansyah.
Selain meminta sumbangan buku di Rumah Dunia, Griya Baca juga meminta sumbangan dari Ikatan Alumni Imsak, Serang. Selain juga sudah meminta bantuan di Bandar Lampung, pada Dinas Pendidikan, Perpustakaan Bnadar Lampung, Griya Baca juga akan mencari sumbangan buku di sekitar Taman Baca Masyarakan Lampung. Lalu, siapa berikutnya yang ingin menyumbang buku untuk Griya Baca HIMAC? (Wayang)
Bagi banyak orang buku sejarah merupakan buku yang membosankan karena ditulis dengan kering karena hanya berupa kumpulan data yang terdiri dari data yang menunjukkan hari, tanggal dan tahun peristiwa tanpa ada deskripsi atau dialog yang memikat. Karena dengan dialog dan deskripsilah sebuah bacaan akan memikat. Novel bisa menjadi contoh tepat. Dan untuk menghidari kebosanan itu, Mamit Haryana, salah satu penulis Banten, mensiasati buku dan data sejarah dengan menovelkannya.
Mamit adalah novelis yang tak banyak dikenal. Bahkan untuk ukuran Banten sekalipun. Maklum, novel-novel yang dihasilkannya belum beredar dalam bentuk buku karena masih dalam bentuk print out. Padahal ia sudah mengajukannya kepada beberapa penerbit. “Penerbit tidak mau menerbitkan dengan alasan tidak banyak yang tahu tentang sejarah Banten,” cerita Mamit. Menurutnya, penerbit lebih suka dengan novel berlatar sejarah nasional karena pasar pembaca adalah seluruh Indonesia. Atau novel dengan genre remaja.
Meski ditolak penerbit Mamit tetap bergeming. Semangat menulis pensiunan di BUMN Cilegon ini tetap tak tergoyahkan. Ia yang sejak 2006 menulis novel terus saja membuat novel sejarah Banten. Sampai saat ini lelaki asli Tangerang ini sudah menghasilkan enam novel sejarah Banten antara lain “Saketi”, “Sultan Ageng Tirtayasa”, “Benteng Spelwijk dalam Pemerintahan Sultan Haji”, dan “Kesultanan Banten dibawah Ratu Sarifah Fatimah”. Yang terbaru adalah novel “Geger Cilegon”. Geger Cilegon adalah penamaan atas peristiwa pemberontakan petani—yang dikomandoi oleh K.H. Wasyid—terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1888. Pemberontakan dilakukan karena rakyat Cilegon tidak tahan dengan peraturan pemerintah Belanda yang melampaui batas. Belanda meninggikan tarif pajak, mengawasi perkembangan agama Islam, dan inilah yang akan menjadi cikall bakal pemberontakan rakyat Cilegon.
“Apa sih motivasi Anda menulis novel sejarah Banten?” tanya saya.
“Awalnya ada beberapa orang yang meminta saya membuat novel sejarah Banten,” ungkap Mamit, “Salah satunya adalah Prof. DR. Uka Tjandrasasmita, salah seorang pakar Banten,” katanya. Dan karena permintaan itulah Mamit akhirnya menuliskan sejarah-sejarah Banten yang bertebaran di buku-buku dan hasil wawancara dengan penduduk yang terkait dalam versi novel.
Tepi pernah juga ia membuat sebuah novel hanya karena melihat rel kereta api di Rangkasbitung, Lebak. Ia mewawancarai warga di sekitar rel kereta api yang masih menyimpan cerita yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelum mereka. Rela kereta itulah yang kemudian diketahui sebagai rel kereta pertama yang dibangun Belanda. Hasilnya, Mamit membuat novel “Saketi” dari data-data sejarah yang ia kumpulkan tentang pembangunan rela kereta api dari Rangkasbitung ke Labuan.
Pada Rabu, 9 Desember 2009 Mamit menyerahkan draft Geger Cilegon dan Sultan Ageng Tirtayasa ke Lumbung Banten Rumah Dunia sebagai hadiah. Lumbung Banten adalah program Rumah Dunia untuk mengumpulkan naskah-naskah tentang Banten, menerbitkan buku-buku yang dikarang oleh orang-orang Banten, dan mengadakan diskusi tentang Banten. Saat ini, di Lumbung Banten, sudah banyak buku-buku tentang Banten baik berbentuk fiksi maupun non fiksi. (Gading Tirta)
RUMAH DUNIA, Gading Tirta – Rumah Dunia dan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional akan mengadakan acara “bengkel sastra” untuk pelajar SMA se-Banten. Seperti biasa, acara ini tidak dipungut biaya alias gratis! Acara akan dilakukan di Rumah Dunia pada 2-3 Desember 2009 nanti mulai pukul 08.00 sampai 15.30 WIB.
“Bengkel sastra” adalah program pengenalan sastra kepada pelajar dan guru bahasa Indonesia di wilayah Banten agar lebih memahaminya. Selama dua hari, para peserta akan diberikan materi seputar sastra mulai dari bagaimana menggali ide saat akan membuat cerita, membedah tokoh agar menarik, membuat plot dan alur yang memikat, sampai pada wawasan tentang peta kesusastraan dunia. Juga ada bedah karya para peserta.
Lalu ada sharing dengan relawan Rumah Dunia yang sudah banyak memiliki karya sastra dan sudah diterbitkan seperti cerpen dan novel. Peserta juga akan diberikan trik-rik bagaimana mengirimkan tulisan ke media massa termasuk memilah media massa yang bisa memuat cerpen yang dibuat.
Pembicara-pembicara yang akan mengisi antara lain yaitu Gol A Gong (novelis), Toto ST Radik (penyair), Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia), Ibnu Adam Aviciena dan Langlang Randhawa (duo cerpenis Rumah Dunia). Rencananya, peserta yang akan hadir adalah para siswa dan guru dari 15 Sekolah Menengah Atas di Banten. Satu sekolah mendelegasikan satu orang murid dan satu orang guru.[]
RUMAH DUNIA – Balai Pelayanan dan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Banten pada 21 November 2009 akan menyelenggarakan “Pelatihan Pendampingan Musik Anak Jalanan se-Banten di Rumah Dunia”. Acara akan diselenggarakan mulai pukul 09.00 sampai 16.30 WIB di Rumah Dunia, komplek Hegar Alam No.40, Ciloang, Serang, Banten.
Sasaran kegiatan ini ditujukan untuk 50 pengamen dari seluruh Banten pada usia produktif 13-18 tahun (usia SMP-SMA). Kenapa mesti anak jalanan usia produktif? Karena mereka sebagai warga negara juga memiliki hak sebagai anak Indonesia tentang pendidikan khusus yang disediakan pemerintah yang bisa mereka peroleh.
Tujuan diadakannya kegiatan ini memberikan keahlian bermusik yang “benar” kepada para pengamen, memberikan pemahaman tentang dunia musik jalanan dan dunia musik pada umunya, memberi pemahaman kepada para pengamen tentang hak-hak mereka sebagai pemuda Indonesia, dan memberikan informasi kepada mereka tentang pendidikan-pendidikan khusus yang diselenggarakn oleh pemerintah. Sehingga dengan diadakannya pelatihan ini dapat meningkatkan keahlian mereka sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kegiatan ini diisi dengan dua jenis materi yaitu pementasan dan pelatihan. Pementasan akan diisi oleh Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Rangkasbitung, Toton Greentoel, Edi Bonetsky. Pelatihan akan diisi oleh Toto ST Radik (penyair), Asep Soleh Purnama, S.Pd. (guru kesenian), Ijah Faijah (Ketua Yayasan Bina Wanita Bahagia), dan H. Wadiyo, M.Pd (Balai Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Banten).
Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]
SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]
Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]
Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]
Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]
TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]