TBM ZAKIYAH BANDUNG DAN BEM FIB UI BERKUNJUNG KE RUMAH DUNIA

PICT0368

RUMAH DUNIA – Mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM) tak segampang mendirikan warung, ataupun tak semudah menggelar tikar di tanah. Harus menata diri, mulai dari kebiasaan, maksud dan tujuan, kemudian melihat kondisi lingkungan. Hal tersebut sedang dilalui tujuh orang yang mengaku dari Taman Bacaan Masyarakat Zakiyah, Bandung, Kamis (24/12) kemarin yang berkunjung ke Rumah Dunia sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam kunjungannya, TBM Zakiyah yang beralamat di Jl. Kampung Pasir Jati Rt/Rw 03/17 Desa Muka Payung Kecamatan Cililin Bandung ini ingin sharing perihal cara pengelolahan TBM.

“Maksud kedatangan kami, selain ingin tahu tentang Rumah Dunia sekaligus sharing tentang TBM. Cara pengelolaan, metode dan konsep yang diterapkan Rumah Dunia itu seperti apa?” kata Ayu Puji Rahayu (32), pendiri Taman Bacaan Masyarakat Zakiyah. Guru SD kelas 1 itu menambahkan, “Saya ingin TBM saya awet, tidak musiman.”

Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia, menyambut hangat kedatangaan TBM Zakiyah ke Rumah Dunia. Memang, usia keberadaan TBM Zakiyah masih tergolong muda, tiga bulan. Dan, koleksi buku-buku masih terbilang belum lengkap, baru ada buku-buku pelajaran dan majalah anak. Alhasil, TBM Zakiyah belum berani dibuka untuk umum, hanya kalangan masyarakat sekitar. Namun, taman bacaan masyarakat ini memiliki gerakan penyebaran minat baca untuk menciptakan budaya dan generasi membaca bagi masyarakat kelak. “TBM Zaskiyah berdekatan dengan pondok pesantren. Sementara ini, hanya untuk anak-anak sekolah dasar, sekolah menengah atas dan ponpes sekitar saja,” ujar Ayu, menambahkan.

Di bawah pohon mangga yang rindang, Gol A Gong dengan semangat membagi pengalaman tentang metode yang diterapkannya dalam mengelola RD. Gong lebih berseangat lagi ketika ada oleh-oleh kue Maya Sari. Begitu juga para relawan yang biasa ngemil pisang goreng dan bakwan. “Rumah Dunia bertujuan selain pada kepenulisan, juga untuk membagun generasi muda yang cerdas dan kritis,” tutur Gong sambil menghabiskan 3 kue.

Ba’da duhur, rombongan Zakiyah pamit keluar untuk membeli makan siang. “Nanti kalau mau ikutan, setelah ini ada kunjungan dari Universitas Indonesia yang mau belajar jurnalistik,” kata Gong menawarkan. Gong pun pamit untuk istirahat sejenak karena lehernya mulai sakit lagi.

KUNJUNGAN UI

Tak lama setelah tamu dari Bandung pergi mencari makan siang, giliran dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok datang. Almamater kuningnya terlihat begitu meriah dan serempak. Rombongan UI  yang berjumblah 24 orang tiba sekitar Pukul 13.00 WIB memakai bus kampus. Setelah istirahat sejenak, barulah acara perkenalan dimulai. Firman Venayaksa selaku presiden Rumah Dunia memandu acara. Para relawan memperkenalan diri masing-masing pada mahasiswa UI.

Menurut Noory Okthariza, selaku ketua BEM, tujuan UI berkunjung ke RD untuk refresing, karena baru selesai ujian dan masih libur. Selain itu, mereka mengaku ingin berada ditengah-tengah komunitas literasi. Noory pertama kali melihat RD sangat takjub sekali. Ia juga senang bisa berada di komunitas yang masih concern dengan dunia literasainya. Dikatakan Noory, dalam perkenalannya, rombongan yang dipimpinnya terdiri dari 15 jurusan yang mayorits dari Jurusan Sastra mulai dari semester 1 sampai 7. “Saya sendiri dari Jurusan Filsafat,” Noory memperkenalkan diri.

Selama kurang lebih satu jam setengah, Firman Venayaksa (Presiden RD) dan Gol A Gong  mengenalkan RD sekaligus memberi sekilas materi tentang jurnalistik pada mahasiswa UI. Mereka, mayoritas merasa bingung dengan adanya boneka yang terbuat dari jerami yang berada di sekitar RD, yang diyakini sebagai penangkal hujan.

Sebelum acara kunjungan berakhir, mahasiswa UI memberikan kenang-kenangan cinderamata dan sebuah amplop pada Gol A Gong. “Lho, kok ada amplop segala?” kata Gong heran.

“Ga’ papa. Ini hanya sebagai kenang-kanangan dari kami saja, “ kata Noory berterimakasih pada semuanya.

Akhyar, salah satu mahasiswa UI, mengaku sangat terkesan dengan RD. “Sangat bagus. Sangat terinspirasi bisa mengenal Gol A Gong dan relawan yang punya niat bagus dalam hal literasi. Saya harap RD tetap bertahan dan terus dalam idealismenya,” tutur lelaki yang mengambil Jurusan Sastra Jepang ini.

Sebelum para mahasiswa ini pulang, mereka mengajak para relawan RD makan sore bersama di Komplek Makmur Jaya Kecamatan Taktakan, Serang. Di komplek itu, ternyata ada rumah Gina, salah satu mahasiswa UI yang memang asli Serang. Namun dari sekitar 8 relawan yang ada di RD, cuma saya dan Harir Baldan yang ikut makan. Terimakasih UI dan Teh Gina. Salam dari kami, relawan RD. [Ahmad Wayang]

AKOER SUMBANG BUKU UNTUK RUMAH DUNIA

akoerRUMAH DUNIA — Jarak yang terbilang dekat dengan Jakarta tak lantas membuat Banten maju dari segi sumber daya manusia (SDM). Kenapa? Itu terbukti dari minimnya minat baca di daerah yang terkenal dengan debusnya ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi itu diantaranya: minimnya minat baca masyarakat, masih jarangnya Taman Bacaan Masyarakat di sebuah daerah tersebut, jaraknya yang jauh dari perpustakaan dan terbatasnya persediaan buku.

Untuk yang terakhir, relawan Rumah Dunia termasuk yang beruntung. Apa pasal? Coba bayangkan, di saat sebagian orang sulit membeli buku, Sabtu (26/12) pagi tadi, Rumah Dunia mendapat sumbangan buku dari Penerbit Andal Krida Nusantara (Akoer). Buku sumbangan itu berjumlah tiga puluh satu buku, antara lain “30 Hari Jadi Murid Anakku” (Mel), “Prahara Asmara” (Zara Zettira Zr), “Prahara Asmara Sucinya Noda 2” (Zara Zettira Zr), “Kasmaran: Sebuah Memoar Cinta” (Kafi Kurnia & Dwitri Waluyo), “Tanril Siege Of King Naum 2” (Nafta S Meika), “Kembar Keempat” (Sekar Ayu Asmara), “Pintu Terlarang” (Sekar Ayu Asmara), “Pucuk Cinta Bougenville” (Sitta Wulandari), “Nagabonar Jadi 2” (Akmal Nasery Basral), “Kenangan Abu-Abu” (Winna Efendi), “Burger, Pizza & Semur Jengkol” (Wibi A. R.), “Digitariumdan” (Baron Leonard), “Biola Tak Berdawai” (Seno Gumira Aji Darma), dan “Imperia” (Akmal Nasery Basral).

Dulu, Akoer juga menerbitkan buku kumpulan cerpen Rumah Dunia berjudul “Harga Sebuah Hati” (2005) dimana royaltinya disumbangkan untuk Rumah Dunia. Pada 2005, buku “Imperia” karangan Akmal Nasery Basral diluncurkan di Rumah Dunia. Semoga semakin banyak penerbit yang menyumbangkan buku ke Rumah Dunia, karena Rumah Dunia sering didatangi taman-taman bacaan masyarakat di Bnatne. “Kami suka tidak tega menolaknya. Sebetulnya itu bukan urusan kami. Tapi, sebgai bentuk solidaritas, biasanya satu dus buku plus majalah, kami sumbangkan,” kata Sobirin, relawan Rumah Dunia. “Mas Gong pernah bilang, insya Allah akan diganti lagi oleh penerbit,” Sobirin mengakhiri percakapan. (Harir Baldan)

LPM SIGMA GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DAN BROADCASTING

change RD COMRUMAH DUNIA – Sekitar 50-an mahasiswa Banten dari berbagai perguruan tinggi seperti IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Universitas Serang Raya (Unsera), STIE Cilegon, Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Pandeglang dan STAISMAN Pandeglang mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Broadcasting (PJB) yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA di Rumah Dunia pada Jum`at (18/12) lalu.

Peserta PJB dari lima perguruan tinggi itu mendapat materi langsung dari praktisi menulis seperti Gol A Gong dan Ibnu Adam Aviciena, novelis yang dijuluki “filsuf Rumah Dunia”.Pelatihan nberlangsung dari pukul 09.00 – 13.00 WIB diselingi acara makan siang bersama relawan Rumah Dunia.

“Kegiatan ini sangat menarik dan mengisi ceruk ketidaktahuan saya tentang menulis, baik cerpen, novel, artikel, dan esai,” kata Iin Hajiah Faujiah, mahasiswa IAIN. Hal yang sama juga dialami Ipin. “Dengan adanya acara ini saya bisa paham jurnalistik,” tegas Ipin, mahasiswa IAIN pula.

Saat membuka pelatihan, Gol A Gong menanyakan siapa yang sudah pernah membaca novel. Dari 50-an peserta PJB, hanya satu orang saja yang mengacungkan tangan. Kita bisa melihat betapa rendahnya kualitas membaca mahasiswa Banten khususnya dan umumnya orang Indonesia. Dengan cepat, Gol A Gong memberikan novel “Bangkok Dalam Kenangan”, novel karangannya sendiri, sebagai penghargaan kepada mahasiswa yang mengacungkan tangan tadi.

“Rumah Dunia menampung orang-orang kampung yang mau maju,” tutur Gol A Gong. Lalu Gol A Gong mencontohkan tiga relawan Rumah Dunia seperti Ibnu, Harir, dan Wayang, yang berasal dari kampung dan sudah mengalami kemajuan. Ibnu Adam yang kini sudah menulis novel dan menyelesaikan kuliah di Laiden Universty, Belanda. Relawan lain, Harir Baldan, dari seorang penjual gorengan menjadi seorang wartawan di www.rumahdunia.com. Dan Ahmad Wayang dari penjual roti menjadi seorang penulis. Beberapa cerpen dan puisi Ahmad Wayang sudah dimuat di koran Radar Banten dan Fajar Banten.

Gong juga mengingatkan para peserta, bahwa di Indonesia itu kemiskinan bermula dari rendahnya kualitas pendidikan mereka. Misalnya, mengapa Ibu dan bapak kita yang bekerja, berdagang, bertani atau buruh begitu-begitu saja kualitas hidupnya? Tidak ada peningkatan. bahkan seorang petani yang tadinya memiliki sawah, kini hanya jadi penggarap saja, karena sawahnya sudah dijual. Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi yang lebih dominan adalah faktor membaca. Kalau ibu dan bapak kita mau membaca pasti akan menjadi pedagang dan petani yang mengerti tentang menejemen.

Gola A Gong lalu menceritakan kisah dua orang pemuda yang suka membaca dan tidak. Pemuda pertama berbadan besar tak membaca sedangkan yang satu kurus dan mau membaca. Setiap hari dua pemuda itu bekerja mengangkut air dari bukit ke kampung untuk dijual kepada warga. Satu pikul air dihargai Rp 1.000. Suatu hari, si kurus berpikir untuk membuat instalasi air. Uang yang dikumpulkan dari memikul air ia keluarkan untuk membeli pohon bambu dan mengupahi pekerja. Sedangkan si badan besar terus saja mengumpulkan uang hasil dari penjualan air. Pekerjaan si kurus membuat instalasi air sangat lama hampir satu tahun. Setelah instalasi air jadi, si badan besar terus saja memikul air dengan kondisi fisik yang semakin lemah dan akhirnya sakit. Akibatnya, uang yang dikumpukan si besar dari hasil perih memikul air habis untuk berobat. Sedangkan si kurus yang tadinya memikul air kini jadi menejer perusahaan air. Dia tinggal menyalurkan air ke rumah-rumah dan harga yang tadinya satu pikul Rp 1.000, menjadi Rp 500. Dengan begitu, si kurus bisa memperingan kantong warga yang membeli air. Dari keuntunganya, dia juga bisa membantu biaya pengobatan si besar dan mengajak si besar bergabung di perusahaannya.

Dari kisah di atas, kita bisa melihat kualitas antara orang yang membaca dan tidak. Allah pun bejanji akan mengangkat derajat manusia yang berilmu dan beriman dengan beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak berilmu. Hal itu sejalan dengan tema besar kegiatan Rumah Dunia sepanjang 20010, yaitu “Change with Reading” (CwR). Gerakan Cwr itu sudah direspon dengan baik oleh warga Banten serta instansi terkait. Terbukti saat  pencanangan CwR  pada 9 Januari 2010 nanti akan dihadiri HM. Masduki, wakil gubernur Bnten dan Kepala Dinas Pendidikan Bnen, Drs. Eko Koswara. (AS. Kelanaraya)

AGENDA DESEMBER 2009 DI RUMAH DUNIA

Pelatihan_1Selama Desember 2009, di Rumah Dunia diisi kegiatan bekerjasama dengan pihak luar. Ada bengkel Sastra pada 2 – 3 Desember, bekerjasama dengan Pusat Bahasa Depdiknas. Kemudian perpindahan tahun baru Islam (17/12) di Rumah Dunia ditandai dengan refleksi diri, hening dan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah SWT dengan cara pembelajaran orasi (muhadhoroh) dengan tema hijrah.  Pada Minggu (20/12), Taman Bacaan Masyarakat Kota Serang akan mengadakan kegiatan halal bi halal pelantikan pengurus periode 2010 di Rumah Dunia. Pada Kamis (21/12), sekitar 30-an guru SMP Penabur, Kali Malang Jakarta akan datang ke Rumah Dunia untuk pelatihan creative writing dengan Gol A Gong.

Puncak kegiatan di Desember 2009 adalah  DETIK AKHIR 2009, DETIK AWAL 2010 di Rumah Dunia dirayakan dengan diskusi REFLEKSI KOMUNITASSASTRA DI BANTEN, pada 31 Desember 2009, pukul 20.00 – 23.00 WIB, bertempat di Rumah Dunia. Ini bekerjasama dengan komunitas Kubah Budaya yang didirikan (alm) Wan Anwar. Kegiatan ini mencoba merekam gelas  2009 , dimana dunia sastra di Banten mengalami gonjang-ganjing. Dimulai dari ketidakbecusan Disbudpar Banten mengurusi seniman di Banten, sehingga batal menirimkan para penyairya I ajang MPU di Solo. Akibatnya, para senimna sepakat memboikot seluruh kegiatan Dispudbar Banten hingga batas waktu tak terbatas.

Kata Gol A Gong, penggagas boikot, “Jika kinerja Disbudpar Banten membaik, maka kami akan mencabut boikot itu!” Juga akan dibahas nasib Kubah Budaya sepeninggal  Wan Anwar. Kubah Budaya adalah warisan Wan Anwar, yang telah melahirkn penyair-penyair muda berbakat di Banten.  Pembicaranya Toto ST Radik (Pensehat Rumah Dunia) mengusung “Posisi Rumah Dunia sebagai Komunitas di Banten”, Sulaiman Djaya dari Kubah Budaya dengan catatannya; Quo Vadis, Komunitas Sastra di Banten, dan Indra Kusumah, sales marketing koran Fajar Banten memamparkan “Seberapa Penting Halaman Koran Untuk Rubrik Budaya.” Menu tambahan pembacaan puisi penyair Banten seperti Irwan Sofwan (Kubah Budaya), Ibnu PS Megananda (Forum Kesenian Banten), Rahmat Heldy HS (Al-Irsyad), dan monolog Dedi Setiawan.

Silahkan gabung. Gratis. Ada menu tambahan yang gurih; pembacaan puisi para penyair Banten dan monolog. Tebtu tidak ketinggalan menu hangat bandrek atau bajigur. (Jang RuDun)

PINDAH DAN BERMIMPILAH

TBI 2SERANG – Tahun baru Islam atau dikenal dengan tahun hijriyah memiliki sejarah sebagai perpindahan (hijrah) Nabi Muhammad dan pengikutnya dari dari Mekah ke Madinah. Seiring berkembangnya pengetahuan, hijrah kemudian dimaknai dengan berbagai macam salah satunya pindah dari yang buruk ke yang lebih baik.

“Mari kita hijrah dari otot ke otak,” ajak Gol A Gong saat talkshow di acara malam bina iman dan taqwa (Mabit) memeriahkan pergantian tahun baru Islam (17/12) di masjid An Nur, Rumah Sakit Sari Asih, Kota Serang. Menurut Gol A Gong, saat ini masyarakat Banten dikenal oleh orang di luar Banten sebagai masyarakat yang lebih banyak mengedepankan otot daripada otak.

Stigma ini melekat sudah lama dan makin melekat setelah Imam Samudra (orang Banten asli) meledakkan Bali. Sayangnya, setelah peledakan itu, tidak ada ulama Banten yang menulis di media massa dan menjelaskan perbuatan Imam Samudra itu sebagai perbuatan yang salah dalam pandangan Islam karena bertentangan dengan ajaran Islam yang mengusung misi sebagai penebar kedamaian di muka bumi, rohmatan lil’alamin.

Maka, momen peringatan tahun baru Islam sangat tepat menebarkan perpindahan dari kebiasaan mengedepankan kekerasan ke budaya intelektual. Gong, begitu ia biasa dipanggil, juga sedang menggulirkan gerakan kebudayaan “Change with Reading” di Banten melalui Rumah Dunia mengawali tahun 2010. “Change with Reading” diharapkan bisa menggelinding dan seperti maksudnya, membuat masyarakat gemar membaca sehingga dapat mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Pembicara lain, Yayat Suhartono, memaknai hijrah sebagai langkah besar menuju kemenangan atau perjuangan dari kedzoliman seperti yang dilakukan Muhammad. Praktisi bisnis ini menekankan akan pentingnya umat Islam saat ini memanfaatkan waktu untuk berbuat amal saleh.

Sedangkan Zulkieflimansyah (anggota DPR) menyeru agar umat Islam mau dan berani bermimpi. “Kita harus punya keberanian bermimpi dengan hal-hal fisik. Misalnya, bermimpi punya mobil,” katanya mencontohkan. Dengan memiliki mimpi seseorang akan lebih terpacu dalam hidup. Selain bermimpi tentanng hal-hal fisik, lelaki yang pernah mencalonkan Gubernur Banten ini juga mengajak agar berani bermimpi dengan tujuan sosial dan intelektual. “Misalnya tahun depan saya akan membaca sekian buku,” Zul menambahkan.

Acara pringatan tahun baru Islam yang dimulai pukul 20.00 WIB ini tidak hanya menggelar talkshow tapi juga disertai dengan kegiatan lain yang dapat mendekatkan diri dengan Allah seperti qiyamul lail atau sholat tahajud berjamaah. Lalu ada muhasabah, dzikir dan sholat subuh bersama, sampai pukul 05.30. (GT)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010