Gola Gong | Kampong | November 25th, 2009 | No Comments »
NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT
Oleh Rama Rahmat
Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. lanjutkan membaca »
Gola Gong | Kampong | November 22nd, 2009 | No Comments »
PENYAIR NEGERI SIPIL
Oleh Rahmat Heldy HS
Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. lanjutkan membaca »
rumahdunia | Kampong | November 21st, 2009 | No Comments »
CILEGON – Oleh Gading Tirta – Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.
Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air laut tinggi itu puluhan nelayan tidak bisa melaut. Selain membahayakan, ini juga berdampak pada mengurangnya jumlah ikan di lautan. Untuk mengisi kekosongan, para nelayan memilih menjadi pekerja srabutan dan berharap cuaca kembali cerah.
Karena tidak banyak yang melaut itulah maka harga ikan di pasaran menjadi mahal. Sesuai hukum dagang, barang yang sedikit dan banyak peminat maka akan mengalami harga yang relative mahal.
Seperti yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Cilegon. Di pasar-pasar ini, harga ikan naik di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu dari harga biasa. Hampir semua ikan laut seperti cumi-cumi, kakap, udang dan ikan lainnya mengalami kenaikan.
Salah seorang pedagang ikan di Pasar Baru Kranggot Kota Cilegon, Tamrin, menuturkan harga ikan cumi yang awalnya Rp 15 ribu kini naik menjadi Rp 20 ribu, harga ikan kakap yang biasanya Rp 32 ribu kini naik menjadi Rp 37 ribu, dan harga udang laut yang biasanya Rp 16 ribu kini melonjak menjadi Rp 20 ribu. Supardi, pedagang ikan, juga mengamini hal yang sama.
Jika nelayan masih menggantungkan hidupnya pada cuaca baik, ada baiknya pemerintah membantu dengan memberikan pekerjaan sementara pada para nelayan saat cuaca buruk begini. Ini dimaksudkan agar istri dan anak mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekalipun suami tidak bisa melaut. (*)
Gola Gong | Kampong | November 21st, 2009 | No Comments »
SERANG – Kata mafia sering terdengar akhir-akhir ini. Apalagi saat mantan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah terjerat dugaan korupsi. Tapi apa sebenarnya mafia itu? Mafia adalah perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal).
Selain istilah mafia kasus (atau biasa diakronimkan dengan markus), ada juga istilah bagi mafia-mafia lain seperti mafia sistem.
Mafia-mafia sistem inilah yang disebutkan oleh Aliansi Masyarakat Pemuda Peduli Banten (AMPPB) , yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat saat melakukan aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi Banten Jum’at (20/11). S. Sumarna, juru bicara AMPPB dengan tegas menuding, “Banyak oknum dan mafia-mafia sistem di sejumlah kantor dinas dan instansi pemerintah di Banten.” AMPPB menuntut kepada Kejati Banten agar mneyeret para okum yang merusak Banten tersebut.
Contoh yang paling terang menurut mereka adalah saat para mafia ini “mencaplok” uang bangunan yang sebenarnya diperuntukkan untuk membangun sekolah, sehingga bangunan sekolah tidak tahan lama karena dana yang dibelanjakan untuk membangun kurang dari yang ditetapkan. Bukti kongkritnya, di koran-koran lokal dan televisi banyak diberitakan sekolah yang ambruk di Banten padahal baru beberapa hari diperbaiki.
AMPPB juga memperkirakan, bahwa ada mafia-mafia yang memiliki pengaruh kuat yang melakukan korupsi di kantor Dinas Pendidikan dan Dinas Bina Marga Tata Ruang atau Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten. Para demonstran menyebar brosur berisi tuntutan kepada Kejati agar segera bergerak menyikapi sejumlah mafia yang ada di sejumlah kantor dinas. Massa kemudian membubarkan diri tanpa ada yang menemui mereka dari pihak Kejati Banten. (Gading Tirta)
rumahdunia | Kampong | November 17th, 2009 | No Comments »
KASEMEN — Bulan-bulan ini, pemakaman Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang ada di Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen sepi.
Seperti tampak pada hari Minggu lalu. Siang itu, suasana bangunan tempat makam Maulana Yusuf terlihat lengang. Tidak ada peziarah selain beberapa orang yang sedang tidur-tiduran di dalam dan di luar bangunan makam. “Kalo bulan-bulan sekarang mah bulan ‘kejepit’,” kata Endung yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu di makam.
Bulan ‘kejepit’ yang dimaksud Endung adalah sebagai bulan yang tidak banyak memberikan penghasilan yang lumayan karena pemasukan yang didapatkannya atau kuncen yang suka menziarahi hanya dari keroyalan penziarah. Hari itu saja Endung hanya mendapatkan Rp 18 ribu. Menurut bapak dua anak ini, bulan-bulan sekarang yang datang untuk berziarah hanya dua sampai tiga bis saja. “Kalo yang rame itu bulan Muharam,” ungkap lelaki asal Kasunyatan ini. “Itu bisa nyampe 20 bis!” lanjutnya.
Meski merupakan bulan kejepit, tapi ada saja yang berkunjung untuk ziarah kesana. Agus (51) contohnya. Ia bersama 60 peziarah lain yang datang dari Bogor menumpangi satu bus datang sekitar jam satu siang. Ketua rombongan dan ketua sebuah majelis taklim di daerahnya ini mengaku sering berziarah ke Banten. “Ya nggak tentu sebulan berapa kali tapi saya sering (ziarah) kesini,” katanya yang saat itu didampingi sang istri.
Setelah berziarah di makam Maulana Yusuf, Agus langsung membimbing rombongannya ke makam Sultan Maulana Hasanuddin di Banten lama. (Gading Tirta)