<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Kampong</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/kampong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/kampung-lurah-kampung-idealis-penuh-pesona-kehidupan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/kampung-lurah-kampung-idealis-penuh-pesona-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 13:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[idealis]]></category>
		<category><![CDATA[Kampungku]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3035</guid>
		<description><![CDATA[KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN CIPANAS-LEBAK- Minggu (24/1), pagi yang cerah di kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, terlihat cukup damai dan tentram masyarakatnya. Hari Minggu adalah hari untuk berkumpul keluarga, menikmati hari libur kerja selama satu Minggu kemarin. Anak-anak kecil berlarian mengejar temannya untuk main balap sepeda. Mungkin pernah tersimpan pertanyaan ada apa dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sol.jpg"><img class="size-medium wp-image-3036 alignleft" title="sol" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sol-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN</p>
<p>CIPANAS-LEBAK- Minggu (24/1), pagi yang cerah di kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, terlihat cukup damai dan tentram masyarakatnya. Hari Minggu adalah hari untuk berkumpul keluarga, menikmati hari libur kerja selama satu Minggu kemarin. Anak-anak kecil berlarian mengejar temannya untuk main balap sepeda. Mungkin pernah tersimpan pertanyaan ada apa dengan nama sebuah kampung tersebut?</p>
<p>Kampung Lurah adalah sebuah kampung di Kecamatan  Cipanas yang letaknya tidak jauh dari kantor Camat Cipanas. Kantor Camat Cipanas letaknya ada di kampung Lurah. Sebagai pengingat saja untuk para generasi muda di kampung ini, konon nama kampung Lurah itu berasal dari orang-orang yang sudah jadi pemimpin banyak tinggal di kampung Lurah. Para pemimpin tersebut terdiri dari berbagai bidang kehidupan di masyarakat, seperti Camat, TNI, Polri, Guru, pegawai dinas di Kabupaten, unsur kepemudaan, dan lain-lain. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya.Tidak ada yang istimewa dengan kampung Lurah. Namun kampung Lurah memiliki makna sebuah kampung yang dilingkupi oleh berbagai macam profesi kehidupan sampai sekarang.</p>
<p>Kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, sebuah kampung yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari pelosok tanah air Indonesia. Boleh dikatakan kampung Lurah sudah lebih maju pesat bila dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang ada di kecamatan Cipanas. Jumlah warga yang tinggal di kampung Lurah saat ini sudah mencapai 550 kepala keluarga, terdiri dari 14 rukun tetangga dan dua rukun warga. Gambaran jumlah  rukun tetengga di kampung Lurah seharusnya sudah ditambah lagi karena sudah memenuhi syarat menjadi sebuah rukun tetangga.</p>
<p>Kampung Lurah merupakan kampung pertama dari Desa Sipayung. Di Desa Sipayung ada dua kampung, yang satunya lagi adalah kampung Babakan Pedes. Letak kampung Lurah dengan kampung Babakan Pedes  saling berdampingan. Kedua kampung tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Desa, namanya pak Ended (panggilan akrabnya ).</p>
<p>Kampung Lurah memiliki tanah garapan yang terdiri dari pesawahan dan kebun. Hasil komoditi pertanian di kampung Lurah adalah padi. Selebihnya hasil perkebunan, seperti kopi, cengkih, buah-buahan dan lain-lain. Kampung Lurah tidak akan lepas dari sejarah masa lalunya. Karena para pendahulu kampung Lurah sangat kesohor sampai tingkat nasional. Jadi, para generasi penerus yang ada di kampung Lurah ini tidak akan terlena dengan buaian zaman yang semakin menggoda. Salah satu bentuk perkembangan dalam mengisi pembangunan di kampung ini ialah adanya organisasi kepemudaan. Yang terhimpun dalam Himpunan Muda-mudi Kampung Lurah (Hikmah). Dimana terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, Mahasiswa, guru, kepala KUA, TNI, Polri, pengusaha, petani, dan lain-lain. Tujuan Hikmah berdiri tiada lain untuk mengembangkan kepemimpinan para generasi muda dalam  mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita sebagai warga negara Indonesia. Bila tidak dipersiapkan dari sejak dini, maka kemerdekaan yang dicita-citakan kepada warga negara Indonesia khususnya yang ada di kampung Lurah, maka memungkinkan tidak akan tercapai cita-cita para pendahulu kita. (Solehudin)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/kampung-lurah-kampung-idealis-penuh-pesona-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/12/tegal-duren-kampungnya-para-jawara/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/12/tegal-duren-kampungnya-para-jawara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 09:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Duren]]></category>
		<category><![CDATA[Kampungku]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2798</guid>
		<description><![CDATA[TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA SERANG &#8211; Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren.jpg"><img class="size-medium wp-image-2799 alignleft" title="ren" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA</p>
<p>SERANG &#8211; Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. Apa benar itu? Yuk kita berkunjung ke kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan kita korek keterangannya.</p>
<p>TEGAL REREN</p>
<p>Dahulu nama kampung Tegal Duren ini adalah Tegal Reren. Karena kebiasaan warga yang suka latah maka namanya berubah menjadi Tegal Duren. Tegal Duren bukan sebuah kampung pada umumnya yang banyak dihuni rumah padat panduduk. Tapi sebuah tegal lebat dan bersawah yang selalu dijadikan tempat peristirahatan para jawara. “Jawara dari mana-mana kumpul di sini,” ujar Ahmad Fatoni (47) warga Tegal Duren. Hal itu pun dibenarkan Ustadz Enting Ali Abdul Karim (40), menantu almarhum Haji Asmani, salah seorang Jawara Tegal Duren. “Sejarahnya Tegal Duren adalah tempat kumpul para jawara main judi, sabung ayam, dan minuman keras,” terang Enting.</p>
<p>Menurut Enting, kondisi inilah yang membuat hati Almarhum Kiyai H. Hasbullah, sesepuh kampung Selaur, tergerak untuk menyelamatkan Tegal Reren. Maka dia beserta warga Selaur lainnya- yang jaraknya sekira 200 meter dari Tegal Reren- segera hijrah ke Tegal Reren dan bermukim di sana. Namun ide Hasbullah tak direstui Kiai Dik Sudin, teman seperjuan Hasbullah. Bahkan Sudin menolak untuk pindah ke Tegal Reren dengan alasan tempat itu adalah gudang maksiat. Tapi, Hasbullah dan warga tetap teguh pada pilihannya.</p>
<p>Setelah kepindahan warga, Kiai Dik Sudin tetap tinggal di Selaur. Konon meninggalnya pun tak ada yang tahu. Menurut Enting, dulu di Selaur ada pohon Ambon. Pohon itu membesar dan bahkan tak mampu dipegang empat orang. “Seiring dengan kehilangan Kiai Dik Sudin pohon itu pun hilang begitu saja,” papar Enting yang kini pemilik Ponpes Al-Islam.</p>
<p>Salah satu upaya Hasbullah untuk mengubah Tegal Duren dibuktikan dengan mengirimkan pemuda-pemuda ke pondok pesantren. Dengan harapan agar bisa mendirikan pondok pesantren di Tegal Duren. Namun harapan itu tidak berhasil, sampai Kiai H. Hasbullah meninggal dunia.</p>
<p>PONDOK PESANTREN</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren2.jpg"><img class="size-medium wp-image-2801 alignleft" title="ren2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Cita-cita Almarhum diteruskan oleh H. Asmani dan teman seperjuangan, H. Ahmad, dengan memugar masjid yang sebelumnya berukuran 4&#215;6 m2. “Pada tahun 80-an Masjid Al-Mubarokah direhab dan diperbesar,” kata Enting.</p>
<p>Lalu pada tahun 1999 mimpi membangun pondok pesantren pun terealisasi dan mengusung nama Al-Islam. Sejak itulah pemuda-pemudi warga Tegal Duren sudah banyak yang memahami arti pentingnya belajar. “Pola pikirnya sudah berubah tidak lagi tradisional. Hal itu dampak dari pergeseran pemahaman,” terang Enting yang kini berusia 40 tahun.</p>
<p>Hingga saat ini, tercatat sekitar 50 orang anak yang melanjutkan kependidikan dan pesantren. Dari data ini, 17 orang anak Tegal Duren menetap di Pondok Pesantren Al-Islam, pesantren yang berada di kampung Tegal Duren. Sedangkan sisanya lebih banyak di luar seperti di Gontor Surabaya, Tangerang, dan di kampung-kampung lainnya.</p>
<p>Menurut Sobari (45) RT 01/03 kampung Tegal Duren, ia amat bersyukur dengan adanya Pesantren Al-Islam. “Adanya pesantren ini sangat membantu warga. Apalagi di sini banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu,” terang lelaki yang kini berusia 45 tahun ini. Masih dikatakannya, semoga bertambahnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan dapat mengubah taraf hidup mereka. Pasalnya, sebagian besar warga yang berjumlah 85 kepala keluarga ini, penghasilannya didapat dari ngojek, kuli di pabrik, kuli di pasar lama dan Jakarta.</p>
<p>JALAN DAN PENDIDIKAN</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren3.jpg"><img class="size-medium wp-image-2800 alignleft" title="ren3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/ren3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Masih menurut Sobari, jumlah kepala keluarga kampung Tegal Duren 85, tapi semangat dan kerja sama antar warga sangat kompak. Itu ditandai ketika mengajukan perbaikan jalan. Hal ini dibenarkan oleh Enting saat hendak melakukan pengajuan pengaspalan jalan dari warga melalui pemkot Serang ke Provinsi Banten. Kini infrastruktur jalan di kampung yang sebelahan dengan Sumur Putat ini, termasuk berkembang. Tapi ketika wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> memantau, ada yang aneh di jalan tersebut. Pengaspalannya hanya separuh. Saat dikonfirmasi, Sobari  mengatakan, jatah setiap kelurahan atau kecamatan  hanya 930 meter persegi. “Rencananya 2010 proyek ini akan diteruskan,” ujar RT yang berprofesi tukang tambal ban ini. Selain itu, semoga pemerintah setempat membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Karena pendidikan adalah cermin utama sebuah bangsa yang maju. Jika pendidikannya bagus maka SDM yang tercipta pun berkualitas. Wah, kalau begitu harus segera dibantu, nih. [Harir Baldan]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/12/tegal-duren-kampungnya-para-jawara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAMPUNG CIWARU DI SERANG KOTA INGIN MAJU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/kampung-ciwaru-di-serang-kota-ingin-maju/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/kampung-ciwaru-di-serang-kota-ingin-maju/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 01:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[Banten TV]]></category>
		<category><![CDATA[Ciwaru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot Serang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2577</guid>
		<description><![CDATA[KAMPUNG CIWARU INGIN MAJU &#8220;Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira…!&#8221; Pasti kamu pernah mendengar penggalan lirik lagu, yang dipopularkan oleh penyanyi cilik, Tasya. Lagu itu memberi pesan tentang liburan sekolah. Hari libur yang lumayan panjang, yakni sepuluh hari membuat kita ingin berlama-lama. Apalagi di Banten banyak sekali objek wisata laut seperti di Anyer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2578" title="Ciwaru" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Ciwaru.jpg" alt="Ciwaru" width="500" height="375" />KAMPUNG CIWARU INGIN MAJU</p>
<p>&#8220;Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira…!&#8221; Pasti kamu pernah mendengar penggalan lirik lagu, yang dipopularkan oleh penyanyi cilik, Tasya. Lagu itu memberi pesan tentang liburan sekolah. Hari libur yang lumayan panjang, yakni sepuluh hari membuat kita ingin berlama-lama. Apalagi di Banten banyak sekali objek wisata laut seperti di Anyer dan Carita, wisata sejarah di Banten Lama dna gunung Santri.  Tapi kalau kamu ingin merasakan tantangan baru, cobalah wisata kampung. Wisata ini murah-meriah, tidak membuat kantong jebol! Kamu bisa menggunakan sepeda atau jalan kaki.</p>
<p>RIWAYAT</p>
<p>Kalian sudah pernah berkunjung ke Ciwaru? Bagi yang tinggal di kota Serang jaraknya lumayan dekat. Kamu bisa menyusuri jalan Pusri, Kemang arh ke Rumah Dunia. Setiba di perempatan Kampung Ciloang, ambil arah ke kiri. Tapi awas! Hati-hati, jalanya berbatu-batu, masih berupa pengerasan, belum diaspal. Sekitar 500 meteran, kamu akan menumukan kampung Ciwaru.</p>
<p>Menurut Ketua Rukun Tetangga 01/06, Mad Salim (51), dahulu kampung ini banyak ditumbuhi pohon waru. Selain itu untuk menambah sejarah kamu, di kampung yang termasuk keluarahan Banjar Agung, ini dahulu pernah dibom oleh pasukan Belanda. Hal itu ditandai dengan pengakuan Mad Salim terkait keberadaan dua tokoh perjuangan seperti Almarhum Lurah Usuludin dan lurah Wawih. “Menurut cerita haji Markawi yang sudah berumur 73 tahun, kampung Ciwaru pernah dibom oleh Belanda,” urai Mad Salim.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-2579" title="Ciwaru mesjid com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Ciwaru-mesjid-com.jpg" alt="Ciwaru mesjid com" width="500" height="375" />Setelah itu warga kampung Ciwaru terpecah dua kelompok; ada kampung Tegal Ipik dan Ciwaru. Perbatasan kedua warga tersebut adalah saluran air yang mengaliri  kolam masjid. Pemicunya adalah keberadaan dua Masjid di Ciwaru dan Tegal Ipik. “Dahulu di dua kampung ini ada dua Masjid,” tutur H. Markawi sesepuh kampung Ciwaru. Karena jumlah penduduknya sedikit dan tidak sesuai hukum agama lanjut Markawi, “Atas musyawarah bersama akhirnya dua masjid tersebut dibongkar.” Namun karena ada gendang penca silat warga kembali bersatu dengan mengusung nama kampung Ciwaru.</p>
<p>Selain itu, masih menurut Mad Salim, kampung ini dijuluki “kampung pengrajin”. Pasalnya di kampung ini banyak pembuat tempe dan ketupat. “Saya usaha tempe sejak tahun 70-an,” akunya.</p>
<p>MODERN</p>
<p>Seiring waktu, pertumbuhan penduduk warga Ciwaru terus bertambah. “Karena banyak, kami bagi dua rukun tetangga,” ujar Mad Salim yang pedagang tempe. Untuk RT 01/06 tambahnya, berjumlah 120 KK, sedangkan RT 02/06 berjumlah 125 KK.</p>
<p>Selama pantauan penulis, perkembangan di kampung pengrajin tempe ini sudah modern. Itu ditandai dengan sebagian kecil warga yang memiliki kendaraan mobil dan motor. Selain itu hampir seluruh warga memiliki alat elektronik semisal televisi, radio, tape, magic jar, dan kulkas. Kendati demikian rumah-rumah arsitektur tua juga masih berdiri kokoh.</p>
<p>Selain meningkatnya jumlah penduduk, faktor Sumber daya manusia di kampung pengrajin ketupat ini sudah ada yang mengikuti program belajar pemerintah sembilan tahun. “Pendidikan warga sudah ada yang SMP sampai SMA,” ujar lelaki berkumis ini. Namun, tak sedikit juga yang putus sekolah. “Kemungkinan besar karena faktor biaya dan ekonomi kelas bawah,” urai Asnawi (32) minantu Mad Salim.</p>
<p>Hal ini pun mempengaruhi dengan mata pencaharian warga, yang  kebanyakan pedagang seperti penjual tempe, ketupat dan sayuran. Namun ada juga sebagai petani garapan, kuli pabrik di Serang dan Jakarta.</p>
<p>Sebetulnya sejak tahun 2008 sudah ada Madrasah dan TK Paud. Dibangunnya kedua tempat belajar tersebut, agar anak-anak terus bisa belajar. Dan untuk pembiayaannya hanya dikenakan bayaran bulan Rp 5000,00. Tapi kini TK tak lagi menggelar kegiatan belajar lagi. “Karena guru-guru yang ngajarnya sudah tidak lagi praktik,” ujar Asnawi.</p>
<p>Pembangunan madrasah dan TK adalah hasil dari swadaya masyarakat. Untuk Ada madrasah yang berdiri sejak tahun 2008, yang dibangun hasil swadaya masyarakat. “H. Muzakir dan lurah Banjar Agung, H. Sohkari juga turut membantu,” pungkas Mad Salim.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-2580" title="Jalan rusak" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Jalan-rusak.jpg" alt="Jalan rusak" width="500" height="375" />JALAN RUSAK</p>
<p>Sejatinya kampung Ciwaru, Kelurahan Banjar Agung, Kota Serang, ini termasuk kawasan yang strategis. Hanya berjarak seratus meter dari kawasan Kota Serang Baru (KSB), dan Kantor Walikota Serang yang kini sedang dibangun.</p>
<p>Harapan tinggi sudah selayaknya diutarakan warga yang berjumlah 245 KK, ini kepada Pemerintah Kota Serang. Seperti dikatakan Mad Salim, rukun warga 01/06 ini meminta kepada Pemerintah setempat agar memajukn kampung Ciwaru. Terutama jalannya yang rusaknya minta ampun. “Tolong status jalan diperbaiki, sudh bertahun-tahun hanya pengerasan batu saja. Juga tolong dibantu warga-warga yang tak mampu dan banyak anak yang putus sekolah,” terang Mad Salim.</p>
<p>Harapan perubahan pun sama diinginkan Asnawi (32). Suami Sumiati ini menginginkan dibukanya lapangan kerja, apalagi jarak kantor walikota sedang dibangun dan Banten TV sangat dekat. “Utamakan warga yang dekat, yaitu Ciwaru. Jangan yang dari luar,” harapnya. (Harir Baldan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/kampung-ciwaru-di-serang-kota-ingin-maju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANTAI KELAPA TUJUH, ASMIN DAN PERAHU TUA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/30/pantai-kelapa-tujuh-asmin-dan-perahu-tua/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/30/pantai-kelapa-tujuh-asmin-dan-perahu-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 12:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[Kelapa Tujuh]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2500</guid>
		<description><![CDATA[PANTAI KELAPA TUJUH, AMIN, DAN PERAHU TUA MERAK &#8211; Riuh debur ombak dan angin laut di pantai Kelapa Tujuh, yang terletak di kawasan Suralaya, Kota Cilegon, terus menampar Asmin. Lelaki berusia 60-an ini masih terpaku sendiri di dek perahu kecil miliknya. Lalu lalang pengunjung pantai yang cukup ramai terus melewati Asmin. Sejak Pukul 10.00 WIB, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2501" title="Kelapa tujuh nelayan Com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Kelapa-tujuh-nelayan-Com.jpg" alt="Kelapa tujuh nelayan Com" width="500" height="375" />PANTAI KELAPA TUJUH, AMIN, DAN PERAHU TUA</p>
<p>MERAK &#8211; Riuh debur ombak dan angin laut di pantai Kelapa Tujuh, yang terletak di kawasan Suralaya, Kota Cilegon, terus menampar Asmin. Lelaki berusia 60-an ini masih terpaku sendiri di dek perahu kecil miliknya. Lalu lalang pengunjung pantai yang cukup ramai terus melewati Asmin. Sejak Pukul 10.00 WIB,  Asmin belum juga mendapatkan penumpang. Padahal sebentar lagi jam menunjukan Pukul 14.00 WIB. “Karena sepi, sebentar lagi juga saya mau pulang,” katanya dengan nada pelan.</p>
<p>SAMPINGAN</p>
<p>Kadang Asmin berangkat dari rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Kelapa Tujuh, yaitu di Kampung Kubang Kepuh, Kecamatan Lebak Gede, Desa Suralaya. “Dari rumah ke Kelapa Tujuh ongkos Rp 2000,” Asmin menjelaskan.</p>
<p>Sebenarnya hari-hari Asmin diisi dengan bertani kacang dan pisang bersama istrinya, Eti (55) di kampung. Sedangkan jadi penyewa perahu adalah profesi sampingan yang dilakoninya sejak dua tahun lalu. Seperti Jumat (25/12) pagi itu, meski hari libur Natal dan menjelang tahun baru 2010, Asmin belum juga mendapat uang sepeserpun. Kadang untuk makan Asmin membawa bekal sendiri dari rumah, tapi tak jarang juga Asmin makan di warung sekitar. “Biasanya saya <em>ngutang</em> (hutang) dulu di warung. Bayarnya kalau sudah punya uang,” terang Asmin yang memilliki lima cucu.</p>
<p>Penghasilannya dari tukang penyewa perahu dirasakan Asmin tidak terlalu membantu untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari. Asmin sadar, pekerjaan jadi tukang penyewa perahu hanyalah pekerjaan sampingan, iseng-iseng sambil menunggu panen kebunnya tiba.</p>
<p>Untuk penyewaan perahunya, Asmin memasang harga Rp 100.000,- untuk seharian berlayar. Tidak hanya menyewakan perahu, Asmin juga mengisi kekosongan sambil menyewakan ban pelampung untuk berenang para pengunjung pantai. Harganya Rp 3000,- untuk satu pelampung. Dari jasa menyewakan pelampung ini Asmin kadang mendapatkan uang antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 dalam satu hari. “Namanya juga usaha. Kalau lagi ada ya, ada. Kadang nggak dapat sama sekali,” kata Asmin.</p>
<p>Untuk modal membuat perahu, Asmin tak perlu mengeluarkan dana sepersenpun. Pasalnya, perahu dibuat sendiri. Untuk bahan membuat perahu, Asmin mengambil kayu dari gunung Suralaya “Wah, kalau beli mungkin harganya sampai jutaan.,” Asmin menjelaskan.</p>
<p>Jika Asmin pulang, perahunya dibiarkan tinggal di bibir pantai. Sedikitpun tak ada rasa khawatir perahunya takut hilang atau ada yang mencuri,. “Disini aja. Nggak di ikat, biarin aja, udah biasa <em>kok</em> dibiarin disini,” kata Asmin tenang-tenang saja.</p>
<p>PETANI</p>
<p>Di Kampung, Asmin mempunyai lahan kebun seluas 2 hektar, yang ditanami kacang dan pisang. Selama tiga setengah bulan Asmin memanen hasil bumi itu. Keuntungan dari hasil menyewakan perahu atau ban pelampung sangat jauh berbeda dengan penghasilan dari kebunnya. Untuk satu liter kaleng kacang tanah dijual dengan harga Rp 3500,- “Dijual pada saudagar-saudagar kacang yang sengaja datang ke desa-desa,” cerita Asmin. Kadang hasil bumi Asmin sampai ratusan kaleng jumlahnya.</p>
<p>Asmin yang sudah setua ini mempunyai mimpi ingin hidupnya lebih baik, “Saya cuma ingin hidup enak dan layak,” tukas Asmin yang dirasanya pemerintah tidak memperdulikan nasib orang-orang miskin, seperti dirinya yang seorang petani dan penyewa perahu. [<strong>Ahmad Wayang</strong>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/30/pantai-kelapa-tujuh-asmin-dan-perahu-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENDERITA KAKI GAJAH KHAWATIR MENULAR</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/penderita-kaki-gajah-khawatir-menular/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/penderita-kaki-gajah-khawatir-menular/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 03:03:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[filarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[menular]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2224</guid>
		<description><![CDATA[KAKI GAJAH MENYERANG KAMPUNGKU Ketika hujan tiba, beragam penyakit mulai timbul dan menjangkit ke setiap orang. Ini disebabkan karena penumpukan sampah yang menggenangi gorong-gorong, tempat tinggal yang kurang bersih dan pola makan yang tidak bersih. Penyakit ini sering menyerang orang-orang yang melakukan pola hidup yang tidak sehat. Apalagi penyakit ini disebabkan oleh nyamuk-nyamuk yang beranak-pinak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2225" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/kaki-gajah.jpg" alt="kaki-gajah" width="300" height="400" />KAKI GAJAH MENYERANG KAMPUNGKU</p>
<p>Ketika hujan tiba, beragam penyakit mulai timbul dan menjangkit ke setiap orang. Ini disebabkan karena penumpukan sampah yang menggenangi gorong-gorong, tempat tinggal yang kurang bersih dan pola makan yang tidak bersih.</p>
<p>Penyakit ini sering menyerang orang-orang yang melakukan pola hidup yang tidak sehat. Apalagi penyakit ini disebabkan oleh nyamuk-nyamuk yang beranak-pinak di genangan air keruh serta di ruang tertutup dan tidak bersih.</p>
<p>Hal itu dampaknya dirasakan oleh seorang warga dari kampung Kukun, Rt. 02/01, desa Parigi, Kecamatan Cikande Serang, yang menderita Filarisasi atau penyakit kaki gajah, bernama Muinah. Penyakit itu sudah ia alami hampir 30 tahun, dan mengaku tak bisa mengobati penyakit tersebut karena keterbatasan biaya.</p>
<p>Sementara itu, para warga kampung Kukun, merasa prihatin dengan penyakit yang dialami ibu Muinah dan kahwatir akan dampak selanjutnya dan penyakit itu disinyalir menular. Oleh karena itu, para warga kampung Kukun melakukan siaga satu tentang kewaspadaan tentang penyakit kaki gajah tersebut.</p>
<p>Derita yang dialami Muinah, wanita paruh baya yang berusia 50 tahun lebih ini, tampak tidak mengalami kelainan apapun pada tubuhnya, ketika keluar rumah  karena ia selalu mengenakan celana panjang. Padahal hal itu ia tutup-tutupi untuk tidak terlalu dipandang warga kurang sehat, meski pada akhirnya ia merasakan derita itu. Penyakit Filarisasi atau penyakit kaki gajah terus menggelayutinya.</p>
<p>Berragam cara sudah dilakukan untuk mengobati penyakit kaki gajah yang menyerang kedua kaki ibu Muinah tersebut, akan tetapi hasilnya belum juga memuaskan,  dan sia-sia. “Obat yang pernah diberikan oleh dokter membuat penyakit ibu semakin parah. Ibu, kami hentikan untuk  mengkonsumsi obat tersebut,” kata Sunarsih anak dari ibu Muinah menjelaskan kepada crew <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a>, Jumat (18/12) kemarin.</p>
<p>Menurut Murta salah satu warga kampung Kukun, yang juga tetangga dari ibu Muinah menuturkan, “Kami berharap dari pemerintah daerah segera mengambil langkah pengobatan, agar penyakit Filarisasi atau kaki gajah yang di alami Bu Muinah tidak menular,” kata Murta mewakili harapan warga kampung Kukun, desa Parigi, Kecamatan Cikande-Serang dengan semangat.</p>
<p>Jika warga sudah mengungkapkan uneg-unegnya. Apakah dari pihak pemerintah daerah akan segera melaksanakan apa yang sudah warganya inginkan. Memang, penyakit kaki gajah bukan sembarang penyakit, akan tetapi harus ada langkah sehat untuk menangani hal semacam itu, agar tidak membuat resah dan taku warga yang tinggal di tempat-tempat yang minim dari bersih.[Muhzen Den]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/19/penderita-kaki-gajah-khawatir-menular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 22:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[BOJONEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[mahal]]></category>
		<category><![CDATA[Melaut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Ombak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1614</guid>
		<description><![CDATA[NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT Oleh Rama Rahmat Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. Menurut pantauan wartawan www.rumahdunia.com pada Sabtu (20/11) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1615" title="nelayan wadas" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/nelayan-wadas.jpg" alt="nelayan wadas" width="480" height="320" />NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</p>
<p>Oleh Rama Rahmat</p>
<p>Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. <span id="more-1614"></span>Menurut pantauan wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> pada Sabtu (20/11) suasana di dermaga dan tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat sepi. Ratusan perahu nelayan bertepi di dermaga.</p>
<p>Fandi (18 th) seorang nelayan yang baru saja kembali dari melaut mengaku, sangat susah menangkap ikan. “Gelombang di tengah laut sangat tinggi, kita cuma bisa berlayar di pinggiran laut saja.” katanya sambil melepas lelah di dermaga Wadas. Pemuda asal kampung Teluk Bako ini terlihat kecewa. Kepergiannya ke laut bersama keenam rekannya sebenarnya memaksakan diri. Berangkat dari jam 5 pagi hingga pulang jam 3 sore. “Biasanya kalau lagi normal bisa membawa pulang 100 kilo ikan. Sekarang mungkin sekitar 20 kilo,” tandasnya.</p>
<p>Lain halnya dengan Rohman (40 th) yang lebih memilih tidak pergi melaut. Rohman bersama teman-temannya tengah mengecat perahu miliknya. Bapak dari 3 orang anak ini mengaku dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hingga angin kembali rendah. Disinggung mengenai pendapatan selain nelayan Rohman hanya bisa bilang, “Kalo gak mayang (melaut-red) pasti tidak ada duit. Cari kerja di darat susah. Ya kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa ngutang dulu ke warung atau temen.”</p>
<p>Karena para nelayan enggan melaut otomatis persediaan ikan pun sangat minim. Di tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat tak banyak aktifitas. Seluruh box penyimpanan ikan kosong. Tempat pelelangan ikan yang biasanya rame kini tak banyak aktifitas seperti biasanya. “Ya, gimana mau melaut, angin kencang gini. Akibatnya ya, pasokan ikan kurang,” kata Fauzi, seorang pengepul ikan. Menurut Fauzi, jika ada ikan, itupun berasal dari nelayan Karangantu atau Pulau Kele. “Saya juga gak bisa masok ikan ke Pasar Cilegon karena gak ada ikan,” tandasnya.</p>
<p>Jika ada ikan pun pasti harganya lebih tinggi. Naik hingga lebih dari 50%. Para pedagang ikan keliling enggan beli ikan laut karena harganya mahal dan susah balik modal. Seperti yang diungkapkan oleh Samin, pedagang ikan yang berkeliling dengan motornya mengaku merugi jika memaksakan diri untuk dagang. “Beli di pelelangan aja sudah mahal. Saya pusing pasang harga mahal kepelanggan. Karena biasanya para ibu ngeluh harga ikan mahal,” katanya, yang sengaja datang ke tempat pelelangan untuk melihat perkembangan.</p>
<p>Benar saja, di rumah emak tidak masak ikan. Hanya ada rabeg tempe dan sayur kulit tangkil saja. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENYAIR NEGERI SIPIL DI BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 01:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[PENYAIR NEGERI SIPIL Oleh Rahmat Heldy HS Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. Maka kalau hidup hanya sekedar menghasilkan puisi dengan  honor tak seberapa dari koran dan majalah, pekerjaan menjadi seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1547" title="PNS penyair" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PNS-penyair.jpg" alt="PNS penyair" width="500" height="292" />PENYAIR NEGERI SIPIL</p>
<p>Oleh Rahmat Heldy HS</p>
<p>Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. <span id="more-1546"></span>Maka kalau hidup hanya sekedar menghasilkan puisi dengan  honor tak seberapa dari koran dan majalah, pekerjaan menjadi seorang penyair atau pemahat kata-kata nampaknya hanya menjadi pekerjaan sampingan.</p>
<p>HONORER</p>
<p>Idealnya memang demikian, karena Banten belum bisa dilirik sebagai sebuah provinsi yang mampu menghidupi dunia kesenian dan kebudayaan, terlebih lagi para penyair. Asumsi ini cukup beralasan kuat, jangankan memperhitungkan kehidupan para penyair, seniman dan budayawan, sekedar untuk tempat berkesenian saja, nampaknya masih harus pinjam sana-pinjam sini alias nomaden. Ironis bukan?</p>
<p>Tidak adanya tempat untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan, apalagi pembacaan puisi untuk penyair, menunjukkan bahwa Banten merupakan provinsi yang kurang memperhatikan nilai-nilai kesenian dan kebudayaan, serta artefak kata-kata. Padahal, sebagus dan semahal apapun gedung-gedung di Banten  dibangun, tetap saja akan ditinggalkan pemilik dan penghuninya, serta lapuk dimakan usia. Tetapi artefak kesenian, kebudayaan dan kata-kata sang penyair tak lekang dimakan jaman.</p>
<p>Dari keadaan yang kurang menguntungkan bagi kehidupan para penyair di Banten ini, untunglah para penyair muda Banten juga memiliki pekerjaan yang sedikit mampu memberikan kelonggaran dalam memberikan penghidupan  mereka. Sambil memperdalam karya-karya, mengkaji ulang, menyelami lebih intens tentang persoalan-persoalan sosial yang terjadi di Banten, mereka juga turut ambil bagian mencerdaskan siswa dan siswi Banten yang ada di sekolah dengan menjadi guru honorer.  Ada juga beberapa orang  yang nyambi jadi editor di dunia penerbitan.</p>
<p>CPNS</p>
<p>Sebuah keinginan dan harapan yang juga tidak bisa disalahkan, ketika sejumlah para penyair muda Banten turut pula menceburkan diri dalam perekrutkan Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS) yang diadakan serentak di seluruh propinsi Banten pada hari Minggu (15/11). Memang harus kita akui, sejumlah penyair muda Banten umumnya mereka guru honorer di SMP/SMA, yang ingin mendapatkan perhatian pemerintah.</p>
<p>Nugraha Umur Kayu misalnya, penyair yang yang ikut meramaikan bursa calon Pegawai Negri Sipil di SMPN 12 Kota Serang menjelaskan “Menjadi pegawai negri itu agar nyaman saja di hari tua, bisa dibilang kentut saja dibayar ketika pensiun,” katanya sambil tertawa. Lebih lanjut Nunu berbicara, “Tidak perduli isu dengan persoalan sogok-menyogok yang berkembang dimasyarakat, yang mencapai 40-80 juta, yang penting maju terus! Ikut test, tanpa nyogok! Keterima bersyukur, tidak ya coba test lagi nanti!” tegasnya.</p>
<p>Di tempat terpisah Wahyu Arya Wiyata, penyair dan guru honorer di sebuah SMK di Kabupaten Serang mengomentari, “Saya ingin mengubah citra penyair. Untuk mendapat modal cultural perlu juga ditunjang dengan modal ekonomi. Menulis dalam ruang ber-AC tentu lebih nikmat di banding dengan menulis di tempat rental computer yang pengap, ya <em>toh</em>…?” Wahyu mnepis anggapan, bahwa penyair itu harus menderita, agar karya-karyanya bagus.  “Siapa bilang jika mapan penyair mandeg? Ya tidaklah! Justru semakin mapan, kita itu semakin semangat berkarya, karena didukung oleh fasilitas.”</p>
<p>Lain pernyataan Nunu dan Wahyu, lain pula pernyataan Umbu Kramat Watu, yang ikut test CPNS karena memiliki komitmen 3 M. Umbu memaparkan, “Maksudnya kalau diterima jadi PNS pertama menabung, kedua menikah dan ketiga menulis!”</p>
<p>Harus kita akui, kenyamanan di hari tua, semua orang pasti menginginkannya. Hidup digaji dengan tidak bekerja setelah selesai masa kerja, adalah harapan banyak orang, asalkan dengan tidak menghalalkan segala cara. <em>Toh, </em>pada kenyataannya banyak juga mereka yang jadi penyair, tetapi mereka juga menjadi Pegawai Negri Sipil. Mereka bekerja di kantor dinas, bahkan juga mereka bekerja jadi dosen di sejumlah kampus. Kalau di Serang ada Toot ST Radik, yang jadi Kasie Kesenian Diparsenibud Serang, Wan Anwar dan Firman Venayaksa dosen di Untirta Serang. Sah-sah saja, bukan?  Selamat berjuang kawan, moga lulus dan sukses!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center">Rumitnya Pelaksanaan UN SMA Tahun 2009</p>
<p><strong>Serang- </strong>Kegiatan Ujian Nasional (UN) SMA yang akan dilaksanakan pada Maret Minggu ke 3 tahun 2010, nampaknya akan banyak mengalami kendala. Sebab, sesuai dengan Peraturan Mentri Pendidikan nasional nomor 75 tahun 2009, pada pasal 14 ayat 1,2, dan 3 yang menyatakan bahwa: 1. Peserta UN SMA/MA mengikuti ujian di satuan pendidikan lain sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam POS.  2. Peseta ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam satu ruangan terdiri atas peserta ujian dari beberapa sekolah /madrasah dalam satu kecamatan dan/kabupaten /kota. 3. Peserta UN SMP/MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK mengikuti ujian di satuan pendidikan  penyelenggaraan UN.</p>
<p>Melihat pasal 14 di atas nampaknya akan menjadi beban bagi sekolah dan murid. Selain biaya ongkos yang tinggi, juga terkendala dengan akses wilayah Kabupaten Serang yang jaraknya berjauhan dan kondisi jalan yang tidak memadai. Menanggapi Peraturan Mentri No. 14 di atas, pihak Kepala Sekolah dan Kesiswaan SMA Al Irsyad Waringinkurung langsung mengambil sikap guna mengantisipasi, jika peraturan itu benar-benar dijalankan. Di sela ruang rapat Alyadi, S.Pd.I Kepala Sekolah SMA Al Irsyad menyatakan, “Di SMA Kota Tangerang, 3 sekolah sudah melaksanakan, dan 2 sekolah di SMA Rangkasbitung juga dilaksankan tahun lalu, kemungkinannya tidak ada kendala sehingga peraturan ini dilanjutkan,” katanya. Masih menurut Alyadi, “Kesulitannya kalau yang tak punya kendaraan,  walaupun hal ini bisa diatur oleh siswa atau sekolah, cuma beban biaya yang tinggi. Mudah-mudahan itu tak akan terjadi, ditahun ini,” harapnya.</p>
<p>Hadari, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menambahkan “Kalaupu tahun ini harapannya tidak terjadi, tetapi, bagaimanapun juga kita harus siapakan. Masalahnya ini sudah ada dalam bentuk Permen dan sudah ada sekolah yang melaksanakan, tegasnya. Rapat yang dilaksanakan pada Sabtu (21/11) dari pukul 10.00-12.00 Wib. di Musholla Al Irsyad itu, dihadiri oleh puluhan guru. Dan juga pihak kurikulum. <strong>(Rahel)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA IKAN LAUT MELAMBUNG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 16:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut. Dengan kondisi angin kencang dan gelombang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1531" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PICT8316.jpg" alt="PICT8316" width="500" height="375" />CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.</p>
<p>Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air laut tinggi itu puluhan nelayan tidak bisa melaut. Selain membahayakan, ini juga berdampak pada mengurangnya jumlah ikan di lautan. Untuk mengisi kekosongan, para nelayan memilih menjadi pekerja srabutan dan berharap cuaca kembali cerah.</p>
<p>Karena tidak banyak yang melaut itulah maka harga ikan di pasaran menjadi mahal. Sesuai hukum dagang, barang yang sedikit dan banyak peminat maka akan mengalami harga yang relative mahal.</p>
<p>Seperti yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Cilegon. Di pasar-pasar ini, harga ikan naik di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu dari harga biasa. Hampir semua ikan laut seperti cumi-cumi, kakap, udang dan ikan lainnya mengalami kenaikan.</p>
<p>Salah seorang pedagang ikan di Pasar Baru Kranggot Kota Cilegon, Tamrin, menuturkan harga ikan cumi yang awalnya Rp 15 ribu kini naik menjadi Rp 20 ribu, harga ikan kakap yang biasanya Rp 32 ribu kini naik menjadi Rp 37 ribu, dan harga udang laut yang biasanya Rp 16 ribu kini melonjak menjadi Rp 20 ribu. Supardi, pedagang ikan, juga mengamini hal yang sama.</p>
<p>Jika nelayan masih menggantungkan hidupnya pada cuaca baik, ada baiknya pemerintah membantu dengan memberikan pekerjaan sementara pada para nelayan saat cuaca buruk begini. Ini dimaksudkan agar istri dan anak mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekalipun suami tidak bisa melaut. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BANYAK MAFIA DI BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/banyak-mafia-di-banten/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/banyak-mafia-di-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 21:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia]]></category>
		<category><![CDATA[Markus]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah roboh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1499</guid>
		<description><![CDATA[SERANG – Kata mafia sering terdengar akhir-akhir ini. Apalagi saat mantan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah terjerat dugaan korupsi. Tapi apa sebenarnya mafia itu? Mafia adalah perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Selain istilah mafia kasus (atau biasa diakronimkan dengan markus), ada juga istilah bagi mafia-mafia lain seperti mafia sistem. Mafia-mafia sistem inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1500" title="Foto headline Dimyati" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Foto-headline-Dimyati.jpg" alt="Foto headline Dimyati" width="500" height="343" />SERANG – Kata mafia sering terdengar akhir-akhir ini. Apalagi saat mantan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah terjerat dugaan korupsi. Tapi apa sebenarnya mafia itu? Mafia adalah perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal).</p>
<p>Selain istilah mafia kasus (atau biasa diakronimkan dengan markus), ada juga istilah bagi mafia-mafia lain seperti mafia sistem.</p>
<p>Mafia-mafia sistem inilah yang disebutkan oleh Aliansi Masyarakat Pemuda Peduli Banten (AMPPB) , yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat saat melakukan aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi Banten Jum’at (20/11). S. Sumarna, juru bicara AMPPB dengan tegas menuding, “Banyak oknum dan mafia-mafia sistem di sejumlah kantor dinas dan instansi pemerintah di Banten.” AMPPB menuntut kepada Kejati Banten agar mneyeret para okum yang merusak Banten tersebut.</p>
<p>Contoh yang paling terang menurut mereka adalah saat para mafia ini “mencaplok” uang bangunan yang sebenarnya diperuntukkan untuk membangun sekolah, sehingga bangunan sekolah tidak tahan lama karena dana yang dibelanjakan untuk membangun kurang dari yang ditetapkan. Bukti kongkritnya, di koran-koran lokal dan televisi banyak diberitakan sekolah yang ambruk di Banten padahal baru beberapa hari diperbaiki.</p>
<p>AMPPB juga memperkirakan, bahwa ada mafia-mafia yang memiliki pengaruh kuat yang melakukan korupsi di kantor Dinas Pendidikan dan Dinas Bina Marga Tata Ruang atau Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten. Para demonstran menyebar brosur berisi tuntutan kepada Kejati agar segera bergerak menyikapi sejumlah mafia yang ada di sejumlah kantor dinas. Massa kemudian membubarkan diri tanpa ada yang menemui mereka dari pihak Kejati Banten. (Gading Tirta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/banyak-mafia-di-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BULAN KEJEPIT DI MAKAM SULTAN MAULANA YUSUF</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/bulan-kejepit-di-makam-sultan-maulana-yusuf/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/bulan-kejepit-di-makam-sultan-maulana-yusuf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 01:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Maulana Hasanuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Maulana Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[KASEMEN &#8212; Bulan-bulan ini, pemakaman Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang ada di Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen sepi. Seperti tampak pada hari Minggu lalu. Siang itu, suasana bangunan tempat makam Maulana Yusuf terlihat lengang. Tidak ada peziarah selain beberapa orang yang sedang tidur-tiduran di dalam dan di luar bangunan makam. “Kalo bulan-bulan sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1281 alignleft" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PICT83191.jpg" alt="PICT8319" width="500" height="375" /> KASEMEN &#8212; Bulan-bulan ini, pemakaman Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang ada di Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen sepi.</p>
<p>Seperti tampak pada hari Minggu lalu. Siang itu, suasana bangunan tempat makam Maulana Yusuf terlihat lengang. Tidak ada peziarah selain beberapa orang yang sedang tidur-tiduran di dalam dan di luar bangunan makam. “Kalo bulan-bulan sekarang <em>mah</em> bulan &#8216;kejepit&#8217;,” kata Endung yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu di makam.</p>
<p>Bulan &#8216;kejepit&#8217; yang dimaksud Endung adalah sebagai bulan yang tidak banyak memberikan penghasilan yang lumayan karena pemasukan yang didapatkannya atau kuncen yang suka menziarahi hanya dari keroyalan penziarah. Hari itu saja Endung hanya mendapatkan Rp 18 ribu. Menurut bapak dua anak ini, bulan-bulan sekarang yang datang untuk berziarah hanya dua sampai tiga bis saja. “Kalo yang rame itu bulan Muharam,” ungkap lelaki asal Kasunyatan ini. “Itu bisa nyampe 20 bis!” lanjutnya.</p>
<p>Meski merupakan bulan kejepit, tapi ada saja yang berkunjung untuk ziarah kesana. Agus (51) contohnya. Ia bersama 60 peziarah lain yang datang dari Bogor menumpangi satu bus datang sekitar jam satu siang. Ketua rombongan dan ketua sebuah majelis taklim di daerahnya ini mengaku sering berziarah ke Banten. “Ya <em>nggak</em> tentu sebulan berapa kali tapi saya sering (ziarah) kesini,” katanya yang saat itu didampingi sang istri.</p>
<p>Setelah berziarah di makam Maulana Yusuf, Agus langsung membimbing rombongannya ke makam Sultan Maulana Hasanuddin di Banten lama.  (Gading Tirta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/bulan-kejepit-di-makam-sultan-maulana-yusuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

