KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

CIPANAS-LEBAK- Minggu (24/1), pagi yang cerah di kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, terlihat cukup damai dan tentram masyarakatnya. Hari Minggu adalah hari untuk berkumpul keluarga, menikmati hari libur kerja selama satu Minggu kemarin. Anak-anak kecil berlarian mengejar temannya untuk main balap sepeda. Mungkin pernah tersimpan pertanyaan ada apa dengan nama sebuah kampung tersebut?

Kampung Lurah adalah sebuah kampung di Kecamatan  Cipanas yang letaknya tidak jauh dari kantor Camat Cipanas. Kantor Camat Cipanas letaknya ada di kampung Lurah. Sebagai pengingat saja untuk para generasi muda di kampung ini, konon nama kampung Lurah itu berasal dari orang-orang yang sudah jadi pemimpin banyak tinggal di kampung Lurah. Para pemimpin tersebut terdiri dari berbagai bidang kehidupan di masyarakat, seperti Camat, TNI, Polri, Guru, pegawai dinas di Kabupaten, unsur kepemudaan, dan lain-lain. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya.Tidak ada yang istimewa dengan kampung Lurah. Namun kampung Lurah memiliki makna sebuah kampung yang dilingkupi oleh berbagai macam profesi kehidupan sampai sekarang.

Kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, sebuah kampung yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari pelosok tanah air Indonesia. Boleh dikatakan kampung Lurah sudah lebih maju pesat bila dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang ada di kecamatan Cipanas. Jumlah warga yang tinggal di kampung Lurah saat ini sudah mencapai 550 kepala keluarga, terdiri dari 14 rukun tetangga dan dua rukun warga. Gambaran jumlah  rukun tetengga di kampung Lurah seharusnya sudah ditambah lagi karena sudah memenuhi syarat menjadi sebuah rukun tetangga.

Kampung Lurah merupakan kampung pertama dari Desa Sipayung. Di Desa Sipayung ada dua kampung, yang satunya lagi adalah kampung Babakan Pedes. Letak kampung Lurah dengan kampung Babakan Pedes  saling berdampingan. Kedua kampung tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Desa, namanya pak Ended (panggilan akrabnya ).

Kampung Lurah memiliki tanah garapan yang terdiri dari pesawahan dan kebun. Hasil komoditi pertanian di kampung Lurah adalah padi. Selebihnya hasil perkebunan, seperti kopi, cengkih, buah-buahan dan lain-lain. Kampung Lurah tidak akan lepas dari sejarah masa lalunya. Karena para pendahulu kampung Lurah sangat kesohor sampai tingkat nasional. Jadi, para generasi penerus yang ada di kampung Lurah ini tidak akan terlena dengan buaian zaman yang semakin menggoda. Salah satu bentuk perkembangan dalam mengisi pembangunan di kampung ini ialah adanya organisasi kepemudaan. Yang terhimpun dalam Himpunan Muda-mudi Kampung Lurah (Hikmah). Dimana terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, Mahasiswa, guru, kepala KUA, TNI, Polri, pengusaha, petani, dan lain-lain. Tujuan Hikmah berdiri tiada lain untuk mengembangkan kepemimpinan para generasi muda dalam  mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita sebagai warga negara Indonesia. Bila tidak dipersiapkan dari sejak dini, maka kemerdekaan yang dicita-citakan kepada warga negara Indonesia khususnya yang ada di kampung Lurah, maka memungkinkan tidak akan tercapai cita-cita para pendahulu kita. (Solehudin)

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

SERANG – Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. Apa benar itu? Yuk kita berkunjung ke kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan kita korek keterangannya.

TEGAL REREN

Dahulu nama kampung Tegal Duren ini adalah Tegal Reren. Karena kebiasaan warga yang suka latah maka namanya berubah menjadi Tegal Duren. Tegal Duren bukan sebuah kampung pada umumnya yang banyak dihuni rumah padat panduduk. Tapi sebuah tegal lebat dan bersawah yang selalu dijadikan tempat peristirahatan para jawara. “Jawara dari mana-mana kumpul di sini,” ujar Ahmad Fatoni (47) warga Tegal Duren. Hal itu pun dibenarkan Ustadz Enting Ali Abdul Karim (40), menantu almarhum Haji Asmani, salah seorang Jawara Tegal Duren. “Sejarahnya Tegal Duren adalah tempat kumpul para jawara main judi, sabung ayam, dan minuman keras,” terang Enting.

Menurut Enting, kondisi inilah yang membuat hati Almarhum Kiyai H. Hasbullah, sesepuh kampung Selaur, tergerak untuk menyelamatkan Tegal Reren. Maka dia beserta warga Selaur lainnya- yang jaraknya sekira 200 meter dari Tegal Reren- segera hijrah ke Tegal Reren dan bermukim di sana. Namun ide Hasbullah tak direstui Kiai Dik Sudin, teman seperjuan Hasbullah. Bahkan Sudin menolak untuk pindah ke Tegal Reren dengan alasan tempat itu adalah gudang maksiat. Tapi, Hasbullah dan warga tetap teguh pada pilihannya.

Setelah kepindahan warga, Kiai Dik Sudin tetap tinggal di Selaur. Konon meninggalnya pun tak ada yang tahu. Menurut Enting, dulu di Selaur ada pohon Ambon. Pohon itu membesar dan bahkan tak mampu dipegang empat orang. “Seiring dengan kehilangan Kiai Dik Sudin pohon itu pun hilang begitu saja,” papar Enting yang kini pemilik Ponpes Al-Islam.

Salah satu upaya Hasbullah untuk mengubah Tegal Duren dibuktikan dengan mengirimkan pemuda-pemuda ke pondok pesantren. Dengan harapan agar bisa mendirikan pondok pesantren di Tegal Duren. Namun harapan itu tidak berhasil, sampai Kiai H. Hasbullah meninggal dunia.

PONDOK PESANTREN

Cita-cita Almarhum diteruskan oleh H. Asmani dan teman seperjuangan, H. Ahmad, dengan memugar masjid yang sebelumnya berukuran 4×6 m2. “Pada tahun 80-an Masjid Al-Mubarokah direhab dan diperbesar,” kata Enting.

Lalu pada tahun 1999 mimpi membangun pondok pesantren pun terealisasi dan mengusung nama Al-Islam. Sejak itulah pemuda-pemudi warga Tegal Duren sudah banyak yang memahami arti pentingnya belajar. “Pola pikirnya sudah berubah tidak lagi tradisional. Hal itu dampak dari pergeseran pemahaman,” terang Enting yang kini berusia 40 tahun.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 50 orang anak yang melanjutkan kependidikan dan pesantren. Dari data ini, 17 orang anak Tegal Duren menetap di Pondok Pesantren Al-Islam, pesantren yang berada di kampung Tegal Duren. Sedangkan sisanya lebih banyak di luar seperti di Gontor Surabaya, Tangerang, dan di kampung-kampung lainnya.

Menurut Sobari (45) RT 01/03 kampung Tegal Duren, ia amat bersyukur dengan adanya Pesantren Al-Islam. “Adanya pesantren ini sangat membantu warga. Apalagi di sini banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu,” terang lelaki yang kini berusia 45 tahun ini. Masih dikatakannya, semoga bertambahnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan dapat mengubah taraf hidup mereka. Pasalnya, sebagian besar warga yang berjumlah 85 kepala keluarga ini, penghasilannya didapat dari ngojek, kuli di pabrik, kuli di pasar lama dan Jakarta.

JALAN DAN PENDIDIKAN

Masih menurut Sobari, jumlah kepala keluarga kampung Tegal Duren 85, tapi semangat dan kerja sama antar warga sangat kompak. Itu ditandai ketika mengajukan perbaikan jalan. Hal ini dibenarkan oleh Enting saat hendak melakukan pengajuan pengaspalan jalan dari warga melalui pemkot Serang ke Provinsi Banten. Kini infrastruktur jalan di kampung yang sebelahan dengan Sumur Putat ini, termasuk berkembang. Tapi ketika wartawan www.rumahdunia.com memantau, ada yang aneh di jalan tersebut. Pengaspalannya hanya separuh. Saat dikonfirmasi, Sobari  mengatakan, jatah setiap kelurahan atau kecamatan  hanya 930 meter persegi. “Rencananya 2010 proyek ini akan diteruskan,” ujar RT yang berprofesi tukang tambal ban ini. Selain itu, semoga pemerintah setempat membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Karena pendidikan adalah cermin utama sebuah bangsa yang maju. Jika pendidikannya bagus maka SDM yang tercipta pun berkualitas. Wah, kalau begitu harus segera dibantu, nih. [Harir Baldan]

KAMPUNG CIWARU DI SERANG KOTA INGIN MAJU

CiwaruKAMPUNG CIWARU INGIN MAJU

“Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira…!” Pasti kamu pernah mendengar penggalan lirik lagu, yang dipopularkan oleh penyanyi cilik, Tasya. Lagu itu memberi pesan tentang liburan sekolah. Hari libur yang lumayan panjang, yakni sepuluh hari membuat kita ingin berlama-lama. Apalagi di Banten banyak sekali objek wisata laut seperti di Anyer dan Carita, wisata sejarah di Banten Lama dna gunung Santri.  Tapi kalau kamu ingin merasakan tantangan baru, cobalah wisata kampung. Wisata ini murah-meriah, tidak membuat kantong jebol! Kamu bisa menggunakan sepeda atau jalan kaki.

RIWAYAT

Kalian sudah pernah berkunjung ke Ciwaru? Bagi yang tinggal di kota Serang jaraknya lumayan dekat. Kamu bisa menyusuri jalan Pusri, Kemang arh ke Rumah Dunia. Setiba di perempatan Kampung Ciloang, ambil arah ke kiri. Tapi awas! Hati-hati, jalanya berbatu-batu, masih berupa pengerasan, belum diaspal. Sekitar 500 meteran, kamu akan menumukan kampung Ciwaru.

Menurut Ketua Rukun Tetangga 01/06, Mad Salim (51), dahulu kampung ini banyak ditumbuhi pohon waru. Selain itu untuk menambah sejarah kamu, di kampung yang termasuk keluarahan Banjar Agung, ini dahulu pernah dibom oleh pasukan Belanda. Hal itu ditandai dengan pengakuan Mad Salim terkait keberadaan dua tokoh perjuangan seperti Almarhum Lurah Usuludin dan lurah Wawih. “Menurut cerita haji Markawi yang sudah berumur 73 tahun, kampung Ciwaru pernah dibom oleh Belanda,” urai Mad Salim.

Ciwaru mesjid comSetelah itu warga kampung Ciwaru terpecah dua kelompok; ada kampung Tegal Ipik dan Ciwaru. Perbatasan kedua warga tersebut adalah saluran air yang mengaliri  kolam masjid. Pemicunya adalah keberadaan dua Masjid di Ciwaru dan Tegal Ipik. “Dahulu di dua kampung ini ada dua Masjid,” tutur H. Markawi sesepuh kampung Ciwaru. Karena jumlah penduduknya sedikit dan tidak sesuai hukum agama lanjut Markawi, “Atas musyawarah bersama akhirnya dua masjid tersebut dibongkar.” Namun karena ada gendang penca silat warga kembali bersatu dengan mengusung nama kampung Ciwaru.

Selain itu, masih menurut Mad Salim, kampung ini dijuluki “kampung pengrajin”. Pasalnya di kampung ini banyak pembuat tempe dan ketupat. “Saya usaha tempe sejak tahun 70-an,” akunya.

MODERN

Seiring waktu, pertumbuhan penduduk warga Ciwaru terus bertambah. “Karena banyak, kami bagi dua rukun tetangga,” ujar Mad Salim yang pedagang tempe. Untuk RT 01/06 tambahnya, berjumlah 120 KK, sedangkan RT 02/06 berjumlah 125 KK.

Selama pantauan penulis, perkembangan di kampung pengrajin tempe ini sudah modern. Itu ditandai dengan sebagian kecil warga yang memiliki kendaraan mobil dan motor. Selain itu hampir seluruh warga memiliki alat elektronik semisal televisi, radio, tape, magic jar, dan kulkas. Kendati demikian rumah-rumah arsitektur tua juga masih berdiri kokoh.

Selain meningkatnya jumlah penduduk, faktor Sumber daya manusia di kampung pengrajin ketupat ini sudah ada yang mengikuti program belajar pemerintah sembilan tahun. “Pendidikan warga sudah ada yang SMP sampai SMA,” ujar lelaki berkumis ini. Namun, tak sedikit juga yang putus sekolah. “Kemungkinan besar karena faktor biaya dan ekonomi kelas bawah,” urai Asnawi (32) minantu Mad Salim.

Hal ini pun mempengaruhi dengan mata pencaharian warga, yang  kebanyakan pedagang seperti penjual tempe, ketupat dan sayuran. Namun ada juga sebagai petani garapan, kuli pabrik di Serang dan Jakarta.

Sebetulnya sejak tahun 2008 sudah ada Madrasah dan TK Paud. Dibangunnya kedua tempat belajar tersebut, agar anak-anak terus bisa belajar. Dan untuk pembiayaannya hanya dikenakan bayaran bulan Rp 5000,00. Tapi kini TK tak lagi menggelar kegiatan belajar lagi. “Karena guru-guru yang ngajarnya sudah tidak lagi praktik,” ujar Asnawi.

Pembangunan madrasah dan TK adalah hasil dari swadaya masyarakat. Untuk Ada madrasah yang berdiri sejak tahun 2008, yang dibangun hasil swadaya masyarakat. “H. Muzakir dan lurah Banjar Agung, H. Sohkari juga turut membantu,” pungkas Mad Salim.

Jalan rusakJALAN RUSAK

Sejatinya kampung Ciwaru, Kelurahan Banjar Agung, Kota Serang, ini termasuk kawasan yang strategis. Hanya berjarak seratus meter dari kawasan Kota Serang Baru (KSB), dan Kantor Walikota Serang yang kini sedang dibangun.

Harapan tinggi sudah selayaknya diutarakan warga yang berjumlah 245 KK, ini kepada Pemerintah Kota Serang. Seperti dikatakan Mad Salim, rukun warga 01/06 ini meminta kepada Pemerintah setempat agar memajukn kampung Ciwaru. Terutama jalannya yang rusaknya minta ampun. “Tolong status jalan diperbaiki, sudh bertahun-tahun hanya pengerasan batu saja. Juga tolong dibantu warga-warga yang tak mampu dan banyak anak yang putus sekolah,” terang Mad Salim.

Harapan perubahan pun sama diinginkan Asnawi (32). Suami Sumiati ini menginginkan dibukanya lapangan kerja, apalagi jarak kantor walikota sedang dibangun dan Banten TV sangat dekat. “Utamakan warga yang dekat, yaitu Ciwaru. Jangan yang dari luar,” harapnya. (Harir Baldan)

PANTAI KELAPA TUJUH, ASMIN DAN PERAHU TUA

Kelapa tujuh nelayan ComPANTAI KELAPA TUJUH, AMIN, DAN PERAHU TUA

MERAK – Riuh debur ombak dan angin laut di pantai Kelapa Tujuh, yang terletak di kawasan Suralaya, Kota Cilegon, terus menampar Asmin. Lelaki berusia 60-an ini masih terpaku sendiri di dek perahu kecil miliknya. Lalu lalang pengunjung pantai yang cukup ramai terus melewati Asmin. Sejak Pukul 10.00 WIB,  Asmin belum juga mendapatkan penumpang. Padahal sebentar lagi jam menunjukan Pukul 14.00 WIB. “Karena sepi, sebentar lagi juga saya mau pulang,” katanya dengan nada pelan.

SAMPINGAN

Kadang Asmin berangkat dari rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Kelapa Tujuh, yaitu di Kampung Kubang Kepuh, Kecamatan Lebak Gede, Desa Suralaya. “Dari rumah ke Kelapa Tujuh ongkos Rp 2000,” Asmin menjelaskan.

Sebenarnya hari-hari Asmin diisi dengan bertani kacang dan pisang bersama istrinya, Eti (55) di kampung. Sedangkan jadi penyewa perahu adalah profesi sampingan yang dilakoninya sejak dua tahun lalu. Seperti Jumat (25/12) pagi itu, meski hari libur Natal dan menjelang tahun baru 2010, Asmin belum juga mendapat uang sepeserpun. Kadang untuk makan Asmin membawa bekal sendiri dari rumah, tapi tak jarang juga Asmin makan di warung sekitar. “Biasanya saya ngutang (hutang) dulu di warung. Bayarnya kalau sudah punya uang,” terang Asmin yang memilliki lima cucu.

Penghasilannya dari tukang penyewa perahu dirasakan Asmin tidak terlalu membantu untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari. Asmin sadar, pekerjaan jadi tukang penyewa perahu hanyalah pekerjaan sampingan, iseng-iseng sambil menunggu panen kebunnya tiba.

Untuk penyewaan perahunya, Asmin memasang harga Rp 100.000,- untuk seharian berlayar. Tidak hanya menyewakan perahu, Asmin juga mengisi kekosongan sambil menyewakan ban pelampung untuk berenang para pengunjung pantai. Harganya Rp 3000,- untuk satu pelampung. Dari jasa menyewakan pelampung ini Asmin kadang mendapatkan uang antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 dalam satu hari. “Namanya juga usaha. Kalau lagi ada ya, ada. Kadang nggak dapat sama sekali,” kata Asmin.

Untuk modal membuat perahu, Asmin tak perlu mengeluarkan dana sepersenpun. Pasalnya, perahu dibuat sendiri. Untuk bahan membuat perahu, Asmin mengambil kayu dari gunung Suralaya “Wah, kalau beli mungkin harganya sampai jutaan.,” Asmin menjelaskan.

Jika Asmin pulang, perahunya dibiarkan tinggal di bibir pantai. Sedikitpun tak ada rasa khawatir perahunya takut hilang atau ada yang mencuri,. “Disini aja. Nggak di ikat, biarin aja, udah biasa kok dibiarin disini,” kata Asmin tenang-tenang saja.

PETANI

Di Kampung, Asmin mempunyai lahan kebun seluas 2 hektar, yang ditanami kacang dan pisang. Selama tiga setengah bulan Asmin memanen hasil bumi itu. Keuntungan dari hasil menyewakan perahu atau ban pelampung sangat jauh berbeda dengan penghasilan dari kebunnya. Untuk satu liter kaleng kacang tanah dijual dengan harga Rp 3500,- “Dijual pada saudagar-saudagar kacang yang sengaja datang ke desa-desa,” cerita Asmin. Kadang hasil bumi Asmin sampai ratusan kaleng jumlahnya.

Asmin yang sudah setua ini mempunyai mimpi ingin hidupnya lebih baik, “Saya cuma ingin hidup enak dan layak,” tukas Asmin yang dirasanya pemerintah tidak memperdulikan nasib orang-orang miskin, seperti dirinya yang seorang petani dan penyewa perahu. [Ahmad Wayang]

PENDERITA KAKI GAJAH KHAWATIR MENULAR

kaki-gajahKAKI GAJAH MENYERANG KAMPUNGKU

Ketika hujan tiba, beragam penyakit mulai timbul dan menjangkit ke setiap orang. Ini disebabkan karena penumpukan sampah yang menggenangi gorong-gorong, tempat tinggal yang kurang bersih dan pola makan yang tidak bersih.

Penyakit ini sering menyerang orang-orang yang melakukan pola hidup yang tidak sehat. Apalagi penyakit ini disebabkan oleh nyamuk-nyamuk yang beranak-pinak di genangan air keruh serta di ruang tertutup dan tidak bersih.

Hal itu dampaknya dirasakan oleh seorang warga dari kampung Kukun, Rt. 02/01, desa Parigi, Kecamatan Cikande Serang, yang menderita Filarisasi atau penyakit kaki gajah, bernama Muinah. Penyakit itu sudah ia alami hampir 30 tahun, dan mengaku tak bisa mengobati penyakit tersebut karena keterbatasan biaya.

Sementara itu, para warga kampung Kukun, merasa prihatin dengan penyakit yang dialami ibu Muinah dan kahwatir akan dampak selanjutnya dan penyakit itu disinyalir menular. Oleh karena itu, para warga kampung Kukun melakukan siaga satu tentang kewaspadaan tentang penyakit kaki gajah tersebut.

Derita yang dialami Muinah, wanita paruh baya yang berusia 50 tahun lebih ini, tampak tidak mengalami kelainan apapun pada tubuhnya, ketika keluar rumah  karena ia selalu mengenakan celana panjang. Padahal hal itu ia tutup-tutupi untuk tidak terlalu dipandang warga kurang sehat, meski pada akhirnya ia merasakan derita itu. Penyakit Filarisasi atau penyakit kaki gajah terus menggelayutinya.

Berragam cara sudah dilakukan untuk mengobati penyakit kaki gajah yang menyerang kedua kaki ibu Muinah tersebut, akan tetapi hasilnya belum juga memuaskan,  dan sia-sia. “Obat yang pernah diberikan oleh dokter membuat penyakit ibu semakin parah. Ibu, kami hentikan untuk  mengkonsumsi obat tersebut,” kata Sunarsih anak dari ibu Muinah menjelaskan kepada crew www.rumahdunia.com, Jumat (18/12) kemarin.

Menurut Murta salah satu warga kampung Kukun, yang juga tetangga dari ibu Muinah menuturkan, “Kami berharap dari pemerintah daerah segera mengambil langkah pengobatan, agar penyakit Filarisasi atau kaki gajah yang di alami Bu Muinah tidak menular,” kata Murta mewakili harapan warga kampung Kukun, desa Parigi, Kecamatan Cikande-Serang dengan semangat.

Jika warga sudah mengungkapkan uneg-unegnya. Apakah dari pihak pemerintah daerah akan segera melaksanakan apa yang sudah warganya inginkan. Memang, penyakit kaki gajah bukan sembarang penyakit, akan tetapi harus ada langkah sehat untuk menangani hal semacam itu, agar tidak membuat resah dan taku warga yang tinggal di tempat-tempat yang minim dari bersih.[Muhzen Den]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010