<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Jeda</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/jeda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>MENGUKIR UMUR SEJARAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/mengukir-umur-sejarah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/mengukir-umur-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 16:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3979</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang berkesan dari perbincangan pagi itu antara peserta Rakernas LKBN ANTARA yang berkunjung memenuhi undangan sarapan pagi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di rumah jabatan Wisma Pakuan, Bandung, baru-baru ini. Rakernas kami tahun ini diadakan di Bandung. Perbincangan kami pagi itu adalah seputar bagaimana melakukan karya terbaik buat negeri ini. Salah satu perbincangan paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang berkesan dari perbincangan pagi itu antara peserta Rakernas LKBN ANTARA yang berkunjung memenuhi undangan sarapan pagi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di rumah jabatan Wisma Pakuan, Bandung, baru-baru ini. Rakernas kami tahun ini diadakan di Bandung. Perbincangan kami pagi itu adalah seputar bagaimana melakukan karya terbaik buat negeri ini.<br />
Salah satu perbincangan paling berkesan adalah ajakan Gubernur tentang bagaimana setiap manusia sejatinya memiliki kesempatan sama untuk mengukir umur sejarah yang dapat melampaui umur biologis. Apa pun jabatan dan amanah kemanusiaan yang disandangnya.</p>
<p>Gubernur bertutur tentang sejarah Wisma Pakuan. Gedung indah dan megah itu masih tegak berdiri meskipun sang arsitek telah wafat. “Banyak orang mengenang siapa arsitek dan yang membangunnya”, demikian Gubernur menambahkan.</p>
<p>Dalam catatan sejarah, gedung itu awalnya dibangun sebagai kediaman Residen Priangan yang pindah dari Cianjur. Kini, gedung tersebut menjadi rumah dinas jabatan Guberbur Jawa Barat.</p>
<p>Meski usia bangunan sudah lama, namun gedung ini masih kokoh. Menurut catatan MAJ Kelling (1935), gedung itu mulai dibangun oleh Residen der Moore tahun 1864.</p>
<p>Perbincangan pagi itu kemudian mengingatkan saya dan boleh jadi semua peserta Rakernas juga; kita sering mengenang karya dan kebaikan seseorang dari apa yang ditinggalkan ketika sudah wafat.</p>
<p>Kebaikan itu kemudian menjadi inspirasi bagi kita yang masih hidup untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p>Sebuah gedung yang tidak bernyawa saja dapat menjadi buah karya yang terus dikenang, apalagi bila kita mampu mengukir hidup yang berarti yang bermanfaat bagi orang lain saat kita hidup maupun setelah kematian kelak.</p>
<p>Apa yang membedakan diri kita dengan manusia rendah hati dan terpuji yang sudah wafat; Buya Hamka (alm.), W.S. Rendra (alm.) atau Muhammad Natsir (alm)?.</p>
<p>Selengkapnya, sahabat dapat mengklik:<br />
<a href="http://www.antaranews.com/jeda/?i=1272857077" target="_blank">http://www.antaranews.com/jeda/?i=1272857077</a></p>
<p>Salam,<br />
MY</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/mengukir-umur-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENUAI HIKMAH DARI GRANADA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/menuai-hikmah-dari-granada/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/menuai-hikmah-dari-granada/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 13:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Antara news]]></category>
		<category><![CDATA[Kantor Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Spain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3155</guid>
		<description><![CDATA[MENUAI HIKMAH DARI GRANADA Ahmad Mukhlis Yusuf Sahabat, bersama seorang kolega, Asro Kamal Rokan, kami baru kembali dari sebuah perjalanan dinas ke Spanyol, menghadiri Sidang Kantor Berita se-dunia di Madrid. Setelah sidang-sidang selesai, melalui jalur darat, kami menyempatkan diri berkunjung ke Toledo, Cordova dan Granada dipandu oleh seorang pengemudi setempat yang bernama Jose. Saya ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Granada.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3156" title="Granada" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Granada.jpg" alt="" width="500" height="448" /></a>MENUAI HIKMAH DARI GRANADA</p>
<p>Ahmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>Sahabat, bersama seorang kolega, Asro Kamal Rokan, kami baru kembali dari sebuah perjalanan dinas ke Spanyol, menghadiri Sidang Kantor Berita se-dunia di Madrid. Setelah sidang-sidang selesai, melalui jalur darat, kami menyempatkan diri berkunjung ke Toledo, Cordova dan Granada dipandu oleh seorang pengemudi setempat yang bernama Jose.</p>
<p>Saya ingin berbagi salah satu hikmah perjalanan itu. Banyak inspirasi yang kami peroleh sebagai anak bangsa yang ingin membangun Indonesia lebih baik. Semoga sedikit kisah ini dapat bermanfaat bagi sahabat.</p>
<p>Sabtu pagi itu, tepat pukul 09.00 kami tiba di depan antrian menuju Palacios Nezaras, bagian terpenting di dalam Istana Al Hambra, Provinsi Granada. Pada masa kejayaannya, istana megah itu bernama Istana Nasrid.</p>
<p>Jatah waktu kunjungan yang diperoleh adalah jam 09.30. Dalam tiket yang dibeli dengan biaya € 10, waktu kunjungan ke Palacios Nezaras dibatasi maksimal 30 menit. Waktu kunjungan bagian-bagian lain dari Al Hambra tidak dibatasi. Selain kami, banyak pengunjung dari berbagai negara berdatangan ke Al Hambra.</p>
<p>Sambil menunggu, kami gunakan waktu untuk mengunjungi bagian lain Istana itu, Alcazaba, benteng berwarna merah yang dulu menjadi simbol tangguhnya pertahanan Kesultanan Granada dalam menghadapi pihak-pihak yang menginginkan kejatuhannya.</p>
<p>Di dalam Al Hambra, kami menyaksikan ukiran-ukiran dan untaian kaligrafi kelas dunia di setiap sudut Istana, dan komposisi taman yang disertai air mancur yang indah. Ada juga Gazebo yang dapat menatap Kota Granada dari berbagai sudut. Kami membayangkan betapa para penghuninya dulu menikmati indahnya pemandangan kota sebelum padat seperti saat ini.</p>
<p>Untaian kaligrafi di Al Hambra mengingatkan kami pada untaian kaligrafi pada Mihrab di Mezquita, Cordoba, yang sekarang telah diubah menjadi Katedral. Bentuk kolom-kolom di Mezquita meniru kolom-kolom di Masjid Nabawi, Madinah.</p>
<p>Setelah setengah jam berkeliling di Al Hambra, kami keluar dan menikmati pemandangan Taman Medina dan Generalife di seberang Palacios Nezarios.</p>
<p>Sahabat, seperti juga sahabat telah ketahui, setelah berkuasa di Spanyol yang diawali pendaratan pasukan Thariq bin Ziyad di Gibraltar, dan selanjutnya menaklukkan pasukan Raja Roderick pada tahun 711 M, Kekalifahan Andalusia yang meliputi sebagian besar Spanyol akhirnya lepas ke tangan kekuasaan Raja Ferdinand dan Ratu Isabel pada tahun 1492 M.</p>
<p>Setelah lepasnya Toledo, Cordova, Sevilla dan daerah-daerah lain di Spanyol, Granada adalah pertahanan pemerintahan muslim terakhir pada waktu itu.</p>
<p>Ada kisah kepemimpinan yang luar biasa. Setelah memerintahkan pembakaran semua kapal yang membawa pasukannya menyeberang dari Afrika Utara ke Spanyol sesaat mendarat di Gibraltar, Thariq berpidato singkat; &#8220;lawan di depan kamu, lautan di belakang kamu, silakan pilih mana yang kamu kehendaki&#8221;. Pidato Thariq itu hingga kini sering jadi salah satu pelajaran tentang kepemimpinan di berbagai pelatihan.</p>
<p>Selengkapnya, sahabat dapat mengklik:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;7e4d96b4448d33f906c2ac5b0eae6125&quot;, event)" href="http://www.antaranews.com/jeda/?i=1264911298" target="_blank">http://www.antaranews.com/jeda/?i=1264911298</a></p>
<p>Minggu, 31 Januari 2010 11:14 WIB<br />
Salam,<br />
MY</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/menuai-hikmah-dari-granada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DADANG MUWARDI, PENDIDIK YANG MEMBEBASKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/01/dadang-muwardi-pendidik-yang-membebaskan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/01/dadang-muwardi-pendidik-yang-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 06:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1864</guid>
		<description><![CDATA[DADANG MUWARDI, PENDIDIK YANG MEMBEBASKAN Oleh Akhmad Mukhlis Yusuf &#8220;Pengaruh seorang guru bersifat kekal, ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir&#8221; (Henry Adams) Dalam rangka Hari Guru tahun ini saya ingin berbagi kisah seorang guru luar biasa yang telah membangun dasar-dasar kreativitas di sebuah kota kecil di bagian terbarat Pulau Jawa, Pandeglang. Guru luar biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-930" title="Emye" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye.jpg" alt="Emye" />DADANG MUWARDI, PENDIDIK YANG MEMBEBASKAN</p>
<p>Oleh Akhmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>&#8220;Pengaruh seorang guru bersifat kekal, ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir&#8221; (Henry Adams)<span id="more-1864"></span></p>
<p>Dalam rangka Hari Guru tahun ini saya ingin berbagi kisah seorang guru luar biasa yang telah membangun dasar-dasar kreativitas di sebuah kota kecil di bagian terbarat Pulau Jawa, Pandeglang. Guru luar biasa itu namanya Pak Dadang Muwardi. Pada bulan Agustus tahun ini beliau pensiun.</p>
<p>Suatu hari tiga puluh dua tahun yang lalu, Pak Dadang memerintahkan agar kami mengatur tempat duduk dalam posisi &#8220;letter U&#8221;. Kami menurut saja. &#8220;Biar semua saling melihat dan berhadapan&#8221;, ujarnya. Pak Dadang adalah guru kelas 6 SDN 4 Pandeglang, sekolah kami.</p>
<p>Kami laksanakan instruksi itu dengan gembira. Tentu saja, saat itu kami tidak tahu maksudnya. Jadilah kami semua &#8220;duduk di depan&#8221;, seperti layaknya kelas sebuah pelatihan eksekutif sekarang. Saat itu, praktek pengajaran yang ia lakukan sangatlah tidak lazim. Sebagai guru, dia mengajar di tengah kelas, bukan di depan seperti lazimnya kelas yang lain.</p>
<p>Setiap hari, Pak Dadang mengajar berbagai mata pelajaran yang kami suka. Kami bisa belajar matematika seharian, kalo kami bilang ingin belajar matematika. Begitu juga mata pelajaran lain. Namun, ia memberi syarat, semua mata pelajaran wajib ada jatahnya dalam seminggu.</p>
<p>Kami juga sering diajaknya main bola, mencari cacing, mancing bareng, bercocok tanam, latihan kepemimpinan dan serangkaian kegiatan lapangan lainnya. Hasil dari bercocok tanam boleh dibawa pulang ke rumah untuk dimasak. Kami bergantian jadi komandan upacara bendera dan latihan baris-berbaris. Entah mengapa, aku paling sering kebagian tugas membaca teks Pancasila.</p>
<p>SDN 4 Pandeglang bukan sekolah alam, namun kami punya &#8220;kebebasan&#8221; seperti itu di bawah bimbingan Pak Dadang. Tak jarang kami pulang malam ke rumah, karena kegiatan bareng sama beliau. Para orang tua tidak ada yang mempersoalkan, setelah masing-masing pernah mengecek ke sekolah kami.</p>
<p>Masa-masa itu merupakan salah satu masa kanak-kanak yang paling menyenangkan, sebelum akhirnya aku harus pindah sekolah karena ayahku pensiun dan menamatkan setengah tahun terakhir SD di sekolah yang lain. Saat itu ada tambahan setengah tahun pelajaran, akibat kebijakan Mendikbud baru, Prof. Daoed Joesoef.</p>
<p>Hari Minggu (29/11/2009) kami murid-murid Pak Dadang (kini 60 tahun) menjenguknya yang tengah sakit di rumahnya. Beliau menderita stroke menjelang pensiun dari tugas mengajarnya pada bulan Agustus 2009. Entah apa penyebab strokenya, nampaknya mengajar dan bergaul dengan murid-muridnya adalah panggilan hatinya.</p>
<p>Beliau pensiun sebagai pengajar senior di SDN 9 Pandeglang. Pak Dadang beristri Ibu Eneng dan dikarunia satu putera, Faris (13 tahun), duduk di kelas 2 SMP. Kini, Pak Dadang terpaksa menggunakan tongkat, namun tetap antusias menerima kedatangan kami, murid-muridnya.</p>
<p>Sahabat, lagi-lagi, banyak orang biasa melakukan tindakan-tindakan luar biasa. Tiga puluh tahun lalu, Pak Dadang menggunakan metode pendidikan yang amat langka saat itu yang bertujuan melatih kreativitas anak-anak. Praktek metode itu masih langka di jamannya. Dia punya ide dan keberanian mewujudkan idenya. Menurutnya, ide tersebut diizinkan oleh Kepala Sekolah SDN 4 waktu itu, Bu Larasati, yang kini sudah wafat.</p>
<p>Aku ingat wajah Bu Larasati itu, karena beliau teman ayahku. Ayahku pernah bercerita riwayat pertemananya dengan Bu Laras saat di HIS. Wajahnya manis keibuan dan selalu tersenyum bila menatap anak-anak didiknya. Ide dan keberanian Pak Dadang didukung oleh kepemimpinan Bu Larasati, yang menghadirkan kreativitas di sekolah kami.</p>
<p>Belakangan, saat di SMA, kami diperkenalkan metode pendidikan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Namun, praktek CBSA di sekolah kami tidak &#8220;sebebas&#8221; saat kami diasuh Pak Dadang itu. Yang paling aku ingat saat praktek CBSA adalah murid diminta menulis bahan pelajaran di papan tulis, yang lain menyalinnya. Kadang-kadang, kami gantian membacakan dan mengulang bahan pelajaran, yang lain mendengarkan dan mencatatnya.</p>
<p>Pada hari minggu itu, kami yang datang menjenguk Pak Dadang menyampaikan terima kasih atas ilmu yang beliau tanam kepada kami. Insya Allah, ilmu yang bermanfaat bakal menjadi salah satu amalan tak terputus kelak, amien.</p>
<p>Pengaturan meja dan bangku berbentuk U saat itu tak terasa telah membentuk dasar-dasar egaliter pada kami, anak didiknya. Kami tidak dilarang berdebat dan saling berdiskusi. Aku pernah dilarang duduk sebangku terus dengan salah satu temanku, Machsus Thamrin (sekarang wartawan senior ANTV).</p>
<p>Machsus adalah bintang pelajar saat itu. Pak Dadang rupanya ingin aku lebih percaya diri dengan sebangku dengan yang lain. Pak Dadang juga menganjurkan kami menjenguk Shanty, salah satu teman kami yang sedang sakit ke rumahnya pada jam sekolah. Dia mengajarkan kasih tanpa kata-kata, melainkan dengan perbuatan.</p>
<p>Pak Dadang meminta kami belajar bercocok-tanam di halaman sekolah dan kadang-kadang memasaknya bareng pada sore hari untuk mengajarkan kami bahwa setiap hasil akhir ditentukan oleh awal dan proses yang harus disirami dan dirawat dengan baik.</p>
<p>Banyak pelajaran yang kami peroleh dari beliau, tak terhitung. Kami yakin, Allah SWT, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan membalas semua budi baiknya.</p>
<p>Sahabat, Minggu lalu kita telah merayakan Hari Guru, mari kita ingat ketulusan dan kebaikan mereka dalam mendidik kita. Sungguh tak ternilai budi baik mereka, meski kadang mereka sendiri melupakan budi baik itu, karena mereka senang dan ikhlas melakukannya, subhanallah.</p>
<p>Jabat Erat,<br />
Ahmad Mukhlis Yusuf,<br />
Praktisi Manajemen, Pengamat Kepemimpinan (<a href="http://us.mc1121.mail.yahoo.com/mc/compose?to=ahmadmukhlis.yusuf@gmail.com">ahmadmukhlis.yusuf@gmail.com</a>)<br />
Sent from the handheld of Emye. Please visit the most credible news portal in Indonesia: <a href="http://www.antaranews.com/" target="_blank">http://www.antaranews.com</a>, you&#8217;ll find the most reliable one. That&#8217;s one click away, Indonesia!</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/01/dadang-muwardi-pendidik-yang-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 22:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Mukhlis Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Bebagi]]></category>
		<category><![CDATA[Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1774</guid>
		<description><![CDATA[AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf Pada hari Jumat (27/11) di Bandung yang udaranya sejuk itu, aku merasakan isi khutbah Jumat yang menggetarkan hatiku di Masjid Al Azhar, daerah Kelurahan Sederhana. Masjid itu terletak sekitar 150 meter dari rumah mertuaku. Aku berada di Bandung merayakan Hari Raya Iedul Adha. Tahun ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1779" title="Emye 3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye-3.jpg" alt="Emye 3" width="159" height="204" />AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN<br />
Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>Pada hari Jumat (27/11) di Bandung yang udaranya sejuk itu, aku merasakan isi khutbah Jumat yang menggetarkan hatiku di <span id="lw_1259360979_1">Masjid</span> <span id="lw_1259360979_2" style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; cursor: pointer;">Al Azhar</span>, daerah Kelurahan Sederhana. Masjid itu terletak sekitar 150 meter dari rumah mertuaku. Aku berada di Bandung merayakan Hari Raya Iedul Adha. Tahun ini, kami sekeluarga Sholat Ied di Bandung.<span id="more-1774"></span></p>
<p>Penyampai khutbah adalah seorang tuna netra. Beliau menyampaikan uraian tentang makna Ibadah Qurban dengan sangat menarik, terutama tentang komitmen kita untuk ikhlas berqurban demi tujuan hidup yang lebih besar dan sejati.</p>
<p>Beliau menyampaikan ajakan untuk meraih kebahagiaan spiritual sebagai kebahagiaan tertinggi, bila kita lebih banyak memberi dan berbagi, ketimbang mengharap menerima. Ada kebahagiaan pada nurani kita bilamana kita lebih banyak memberi, demikian katanya.</p>
<p>Aku merasakan getaran kuat karena kata-katanya meluncur penuh makna dengan artikulasi sekelas dengan salah satu komunikator terbaik di negeri ini yang aku kagumi, Jalaludin <span id="lw_1259360979_3">Rahmat</span>. Ajakannya untuk berbagi kepada sesama manusia membuat jamaah yang hadir, yang umumnya tidak ada yang tuna netra, terdiam menyimak khusyu.</p>
<p>Teman, seorang tuna netra mengajak kita berbagi, padahal boleh jadi sebagian dari kita sering iba melihat mereka. Padahal, dalam perbincanganku dengan para tuna netra sebelumnya, mereka tidak ingin dikasihani. Mereka hanya berharap mendapat kesempatan.</p>
<p>Setelah shalat Jumat selesai, aku menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Nama beliau adalah H. Aan Zuhana, tinggal di Cibeber, Cimahi, Bandung. Beliau menyapaku dengan ramah, alhamdulillah harapanku berkenalan disambutnya dengan baik.</p>
<p>Aku mendapat nomor selular dan kartu namanya, karena aku tidak membawa handphone aku berjanji akan mengirimkan nomor selularku. Kukatakan, suatu waktu aku ingin berkunjung. Aku yakin, dari menyimak isi khutbahnya, beliau seorang yang amat berilmu.</p>
<p>Beliau mengajakku untuk mampir siang itu, selepas sholat Jumat. Beliau bilang di rumahnya ada acara bersama teman-teman tuna netranya. Aku memohon maaf tidak dapat mampir siang itu karena sudah ada janji lain. Dalam hati, aku mau mencari teman wartawan yang luang untuk mampir kesana.</p>
<p><span id="lw_1259360979_4">Alhamdulillah</span>, ternyata teman wartawan ANTARA ada yang luang. Namanya Ajat. Ajat meluncur kesana. Menurut Ajat, ada lebih dari 400 tuna netra berkumpul di kediaman Pak Aan dan memperoleh ceramah motivasi sekaligus makan siang dari Pak Aan. Para tuna netra tersebut berasal dari berbagai wilayah di Bandung dengan ragam profesi; guru, PNS, wiraswasta, karyawan swasta dan mengelola usaha pijat tradisional.</p>
<p>Menurut Ajat, banyak diantara tuna netra datang dengan pasangan masing-masing. Banyak diantara mereka juga mendapat pasangan yang tidak tuna netra. Subhanallah. Ya Allah, Engkau Maha Berkehendak.</p>
<p>Ternyata betul keyakinan saya saat menyimak khutbah Pak Aan bila beliau orang yang berilmu dan <span id="lw_1259360979_5" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">luar biasa</span>. Menurut Ajat, Pak Aan adalah Ketua DPP Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) yang amat dihormati lingkungan dan teman-temannya.</p>
<p>Temanku, banyak orang-orang luar biasa di sekeliling kita. Tidak semua dikenal publik, karena tidak tersentuh media dan publikasi. Mereka bukan pejabat publik atau selebritis yang menarik buat media. Namun, banyak tindakan mereka sungguh luar biasa, <span id="lw_1259360979_6">seperti yang dilakukan</span> Pak Aan ini. Mereka tetap berkarya.</p>
<p>Semoga Allah SWT meridhai ikhtiar kebaikan yang dilakukan Pak Aan dan orang-orang lain yang memiliki ikhtiar sejenis, amien.</p>
<p>Salam,<br />
Emye</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 00:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Mukhlis Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Antara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN *) oleh Ahmad Mukhlis Yusuf Pernahkah Anda mengalami masa-masa sulit saat sedang berikhtiar melakukan kebaikan? Boleh jadi, kita semua pernah mengalaminya. Sementara, begitu mudahnya bila hal sebaliknya, keburukan, kita lakukan. Teman, ajaran agama tentang prinsip-prinsip kebaikan yang biasanya disertai dengan ujian-ujian pasti telah kita yakini. Sebagai muslim, saya juga meyakini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-930" title="Emye" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye.jpg" alt="Emye" width="150" height="225" /> JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN</p>
<p>*) oleh Ahmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>Pernahkah Anda mengalami masa-masa sulit saat sedang berikhtiar melakukan kebaikan? Boleh jadi, kita semua pernah mengalaminya. Sementara, begitu mudahnya bila hal sebaliknya, keburukan, kita lakukan.<span id="more-940"></span></p>
<p>Teman, ajaran agama tentang prinsip-prinsip kebaikan yang biasanya disertai dengan ujian-ujian pasti telah kita yakini. Sebagai muslim, saya juga meyakini kebenaran akan janji Allah SWT dalam Al Qur&#8217;an yang menyatakan, &#8220;Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan&#8221;. Dia nyatakan itu sampai diulang dalam QS 94:5-6.</p>
<p>Menafsirkan pernyataan Tuhan di atas menuntut kemampuan akal untuk menjangkaunya, dan disertai hati yang akan merasakan getaran ilahiah. Tapi, sering kali tidak mudah untuk menerapkan keyakinan itu, apalagi pada saat kita sedang dirundung masalah terus-menerus.</p>
<p>Manusia diberikan kebebasan untuk memilih sikap atas semua kejadian yang menimpanya, baik menghadapi kesulitan maupun kemudahan. Lezatnya kemudahan, manakala kita mampu mengatasi kesulitan dengan segala anugerah akal dan hati pada jiwa yang dekat dengan penciptanya. Keduanya dapat saling mengisi untuk dapat menaklukkan setiap ujian agar dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang.</p>
<p>Dulu, kita pernah menghadapi ulangan-ulangan di sekolah dan berbagai ujian, termasuk ujian masuk SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Apakah semuanya kita lalui dengan mudah? Tentu tidak, bukan? Saat itu kita merasakannya sebagai kesulitan. Tak terbayangkan apa yang akan keluar menjadi soal ujian, apalagi membayangkan akan ada ujian apa lagi setelahnya. Tetapi, saat kita telah sanggup melintasinya, telah usai melaksanakan ujian-ujian tersebut, bukankah semuanya terasa nikmat saja?</p>
<p>Di sisi lain, ada pula peristiwa-peristiwa yang kita merasa kurang berhasil melintasinya dengan memuaskan. Tetapi, manakala kita belajar dari pengalaman itu, bukankah kita bisa memaknainya sebagai jalan lain yang juga tak kalah indahnya?</p>
<p>Ada kisah nyata beberapa tahun lalu tentang ujian semacam itu. Saya dan beberapa tetangga menjadi panitia pembangunan rumah ibadah di kompleks perumahan kami. Mulai dari membentuk kepanitiaan, proses perencanaan pembangunan, pencarian dana, pelaporan penggunaan dana, sampai pelaksanaannya  memakan waktu kurang lebih 8 bulan. Alhamdulillah, berkat kerja bersama, rumah ibadah itu selesai.</p>
<p>Nah, selama proses pembangunan, kami melalui berbagai ujian dan ketegangan yang kerap muncul diantara panitia. Rupanya, tanpa kami sadari kami ingin menyelesaikan rumah ibadah tersebut dengan sudut pandang, pengalaman dan persepsi masing-masing. Tentu ini menjadi kendala yang berarti dalam suatu kepanitiaan.</p>
<p>Untunglah, dalam kondisi emosi yang memuncak, seorang tokoh panutan di kompleks perumahan kami, Pak Hobol Siregar, urun suara. Beliau dengan bijak mengingatkan kami semua agar <em>jembar</em> atau <em>cool</em> dalam menghadapi berbagai masalah saat itu. &#8220;Untuk kebaikan, ujiannya pasti lebih besar,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ia juga mengatakan, semua yang terlibat pasti berniat baik dan tinggal bersabar menyelesaikan setiap permasalahan satu-persatu. Menyelesaikan masalah dengan &#8220;sumbu pendek&#8221;, ibarat petasan, akan mudah meledak dan mencelakakan siapa saja didekatnya.</p>
<p>Teman, saya yakin Anda pernah mengalami berbagai pengalaman sejenis. Pengalaman pada tingkat kepemimpinan diri, keluarga, organisasi, bahkan bangsa sekalipun. Selalu ada jalan, bila kita mampu menempatkan masalah pada tempatnya.</p>
<p>Mata dan sudut pandang kita, merupakan fungsi atau perpanjangan visi hidup kita. Ia sejatinya mampu menjangkau tujuan dan gambar besar di sana, yang tidak boleh ditutupi oleh masalah di depan mata saat ini.</p>
<p>Semua masalah yang kita hadapi di depan mata harus dapat diurai. Bila dilakukan dengan kepala dingin berfokus pada jalan keluar paling baik untuk kepentingan bersama, pasti ada jalan keluarnya.</p>
<p>Terkadang kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Itulah realitas kehidupan, sebab kita masih bisa berteman dengan siapa pun, saat mengalami perbedaan sikap dan pandangan. Bahkan, saat perbedaan keyakinan sekalipun.</p>
<p><em>&#8220;Man Jadda, wa jada&#8221;</em>; siapa yang tekun pasti berhasil, demikian salah satu peribahasa Arab yang kita dengar sejak kecil. Tekun atau persisten berarti kita sejatinya harus mampu memaksimalkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi segala rintangan dengan kerja keras dan kerja cerdas secara optimal terus-menerus.</p>
<p>Sunatullah yang boleh jadi sering kita alami. Semakin kita tekun, semakin banyak kemudahan dan energi positif yang menyebar pada lingkungan. Orang awam seperti saya, sering menyederhanakannya sebagai &#8220;keberuntungan&#8221;.</p>
<p>Jadi, mari senantiasa bercermin pada suara hati, karena dia yang paling jujur.</p>
<p>Bukanlah saat kita melakukan semua tindakan kebaikan dengan persisten dan sepenuh hati, termasuk mengatasi berbagai ujian yang merintanginya, segalanya begitu nikmat dan indah, bukan?</p>
<p>Dan, sebaliknya saat kita melakukan berbagai tindakan keburukan, ada suara hati yang sesungguhnya menolak, bukan?</p>
<p>Hasrat jiwa yang menggelora untuk menggunakan anugerah akal dan hati secara maksimal demi kebaikan akan terasa menggetarkan diri, demikian pesan seorang ahli tasawuf.</p>
<p>Getaran ini bakal mampu menggerakkan berbagai tindakan nyata dalam kehidupan, terlebih lagi saat kita mampu menaklukkan segala yang merintanginya.<br />
Wallahu&#8217;alam. (***)</p>
<p><em>*) Praktisi Manajemen dan Pemerhati Kepemimpinan, tinggal di Bogor</em></p>
<p>COPYRIGHT © 2009</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BELAJAR DARI JORDAN, SAHABAT SEJATI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/04/belajar-dari-jordan-sahabat-sejati/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/04/belajar-dari-jordan-sahabat-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 01:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tidur siang terlalu mahal buat kita! Asrama ini dibayar rakyat, SPP kita juga dibayar rakyat!&#8221; begitu kata kawan saya, Jordan, pada suatu siang akhir tahun 80an membangunkan saya. Asrama kami dikenal dengan nama Asrama Felicia IPB, hanya bisa dihuni oleh maksimal 15 orang. Model bangunan tua, warisan Belanda. Asrama tersebut hingga kini masih ada. Dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1775" title="Emye 2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye-2.jpg" alt="Emye 2" width="168" height="173" />&#8220;<em>Tidur siang terlalu mahal buat kita! Asrama ini dibayar rakyat, SPP kita juga dibayar rakyat!</em>&#8221; begitu kata kawan saya, Jordan, pada suatu siang akhir tahun 80an membangunkan saya.</p>
<p>Asrama kami dikenal dengan nama Asrama Felicia IPB, hanya bisa dihuni oleh maksimal 15 orang. Model bangunan tua, warisan Belanda. Asrama tersebut hingga kini masih ada. Dua tahun lalu, asrama tersebut sempat jadi lokasi shooting film <em>&#8220;Perempuan Berkalung Sorban</em>&#8220;.<span id="more-359"></span></p>
<p>Siang itu, dengan agak dongkol namun dalam hati saya membenarkan teguran itu, saya terbangun dari tidur siang yang jarang saya nikmati. Siang itu, kami tertidur sejenak untuk menghilangkan penat setelah seminggu menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan tingkat nasional sebuah organisasi extra-universiter di Bogor.</p>
<p>Teguran itu, bukan satu-satunya kebiasaan yang Jordan lakukan terhadap kami. Dia juga mengajak teman-temannya berdisiplin untuk total berorganisasi, sebagai cara untuk membayar utang pada rakyat, katanya.</p>
<p>Selama tinggal di asrama, dia paling sering mengkritik paper dan materi-materi kultum subuh yang bergiliran kami lakukan.  Kuliah tujuh menit (kultum) sehabis sholat subuh, membuat paper, presentasi, diskusi, latihan jadi pengarah diskusi, dan mengisi hari-hari sebagai penggiat organisasi kemahasiswaan adalah hari-hari yang membuat asrama tersebut tidak pernah sepi.</p>
<p>Dia juga yang paling sering memprovokasi rapat-rapat pengurus asrama, forum diskusi coffee morning yang dilakukan setiap hari minggu pagi dan rapat-rapat kepengurusan organisasi agar terus kritis, meski kadang rapat baru selesai dengan diakhiri sholat subuh berjamaah.</p>
<p>Bahkan, laporan pertanggungjawaban kepengurusan organisasi yang hampir disetujui forum pun bisa mentah lagi bila ia datang dan bergabung. “Kita harus mengkritisi pertanggungjawaban, ada tanggung jawab besar di sana” begitu katanya mendelik.</p>
<p>Sebagai orang Surabaya, Jordan selalu menyampaikan semua pandangannya dengan lugas diiringi matanya yang berbinar-binar menyala. Bahkan, semua penghuni asrama dapat julukan unik, sesuai dengan kebiasannya.</p>
<p>Seorang teman yang rajin mengetik surat-surat, dia juluki &#8220;teketek&#8221; mengikuti bunyi mesin tik merk Brother waktu itu. Dia bilang, jadi Sekretaris Umum jangan hanya pandai mengetik surat, namun harus jadi master-mind organisasi.</p>
<p>Seorang teman yang ia nilai paling bijak, dia panggil &#8220;Buya&#8221;, agar teman itu mengikuti kearifan Buya Ismael Metareum yang saat itu memimpin PPP. Saat itu kami suka tersenyum sendiri mengamati “kreativitas” dan &#8220;kejahilan&#8221; Jordan ini. Pasrah, sebab dia punya hak untuk memanggil kami dengan sebutan sesukanya. Hak itu, tidak kami gunakan terhadapnya.</p>
<p>Jordan telah menjadi kawan berorganisasi yang sangat mengasyikkan dan kadang-kadang “menjengkelkan” dengan totalitasnya yang luar biasa. Sebab, dia tidak pernah puas dengan kinerja teman-temannnya. Dia selalu melihat kekurangan, yang kadang tidak kami lihat.</p>
<p>Dia juga terus menjadi &#8220;lawan&#8221; diskusi yang terus menantang kemampuan argumentasi kami. Puncaknya, seperti diuraikan pada awal tulisan ini, dia juga terus “mengganggu&#8221; kami yang ingin tenang berisirahat, setelah penat beraktivitas.</p>
<p>Bertahun-tahun mengalami masa-masa itu sungguh masa yang tidak nyaman. Pada masa itu, saya merasa Jordan “over dosis”, kelebihan hormon adrenalin berorganisasi. Tidak jarang, saya pun merespon dengan keras sikap-sikapnya tersebut. Terhadap sikap keras itu pun, Jordan tidak berubah, dan tidak pernah berubah. Bahkan setelah saya selesai  kuliah dan harus pindah dari asrama tersebut.</p>
<p>Belakangan, Jordan selesai juga studinya. Saat ini, Jordan menekuni bisnis asuransi setelah sempat berkarir di dunia sekuritas. Dia hidup bahagia bersama keluarganya. Kami masih sering berhubungan. Jordan sekeluarga menjadi sahabat keluarga kami. Matanya yang berbinar-binar terwariskan pada Btari, puteri sulungnya.</p>
<p>Namun kawan, “latihan” mental menghadapi sikap Jordan tersebut telah membuat saya dan teman-temannya belakangan lebih terbiasa menghadapi tekanan dan kondisi ketidak-nyamanan yang terjadi pada lingkungan, di manapun. Tidak ada hidup yang mudah, sebab setiap orang pasti harus menghadapi setiap ujian, baik ujian pada kehidupan pribadi maupun saat berinteraksi dengan lingkungan kerja dan sosial lainnya.</p>
<p>Hanya orang yang sudah meninggal yang bebas dari ujian. Namun orang yang meninggal itu tidak dapat kembali pada kehidupan sebelumnya untuk melakukan tindakan-tindakan perbaikan, sebab kematian adalah one way ticket; jalan yang tidak memungkinkan kita kembali ke dunia.</p>
<p>Dalam kehidupan ini, kita masih punya kemewahan untuk melakukan tindakan-tindakan perbaikan. Amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak soleh dan solihah lah yang dapat terus mengisi tabungan kebaikan yang kita lakukan, bila kita meninggal kelak. Lain tidak.</p>
<p>Kawan, kita semua pasti pernah memiliki masa-masa yang tidak menyenangkan dalam kehidupan, terutama memiliki teman-teman yang mungkin “menjengkelkan”. Ada teman yang selalu melihat kekurangan atau ketidaksempurnaan dari apa yang kita lakukan.</p>
<p>Saya yakin Anda sepakat dengan saya, kawan tersebut ternyata adalah sahabat sejati, sebab ia mampu menyampaikan hal-hal yang bisa membuat kita terus-menerus memperbaiki diri, dalam segala hal. Bahkan, pepatah lama menyatakan “kawan sejati, adalah kawan yang berani menyatakan kekurangan pada diri kita”. Dan, pepatah lain menyatakan yes man adalah musuh kita sesungguhnya. Terima kasih Jordan, sahabat sejati kami.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, Edward de Bono pernah menulis buku yang terkenal berjudul “Six Hats of Thinking”. Setiap orang berpikir dengan cara yang berbeda-beda, tergantung topi apa yang ia kenakan.</p>
<p>Ada yang sering mengenakan topi yang membuatnya sering pesimis atau sebaliknya. Apa pun topi yang dikenakan, semua adalah sudut pandang yang bisa saling melengkapi agar kita bisa melihat semua persoalan secara menyeluruh.</p>
<p>Moral dari cerita di atas adalah pelajaran bagi saya, dan mungkin Anda, bahwa kawan yang “menjengkelkan” pun, boleh jadi adalah sahabat dan bahkan guru sejati. Pelajaran ini penting bagi kita yang tengah berikhtiar menjadi master-mind dan “programmer” hidup kita masing-masing. Kita memiliki kebebasan untuk bersikap terhadap stimulus lingkungan apapun yang terjadi pada diri kita.</p>
<p>Setiap orang adalah pemimpin, begitu Sabda Nabi Muhammad SAW. Setiap pemimpin pasti diminta pertanggungjawabannya, begitu Nabi melanjutkan. Sungguh bijaksana, bila setiap pemimpin mampu meramu semua sudut pandang dalam proses pengambilan setiap keputusan atau kebijakan, pada tingkap kepemimpinan apa pun.</p>
<p>Mari petik pelajaran dari de Bono di atas, sungguh bijak bila para pemimpin lebih banyak mendengar agar dapat membuat peta yang lebih lengkap terhadap setiap permasalahan.</p>
<p>Kualitas kepemimpinan sangat ditentukan oleh kualitas keputusan yang diambilnya, sebab pemimpin adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang benar, begitu kata pakar kepemimpinan, Warren Bennis.</p>
<p>Mata kita terbatas, sudut pandang kita pun terbatas. Orang-orang di sekitar kita, boleh jadi adalah mereka yang mampu memberikan sudut pandang yang lebih luas, meski terkadang sudut pandang tersebut pahit terdengar karena berupa kritikan terus-menerus. Sebagai insan pembelajar, jalan perbaikan atas keputusan dan praktik kepemimpinan yang kita jalankan adalah jalan mendaki yang mungkin tidak berujung.</p>
<p>Saat kita berhasil menaklukan sebuah gunung walau melalui proses pendakian terjal dan panjang, biasanya kita melihat ada gunung lain yang lebih tinggi masih harus kita taklukkan berikutnya, begitu kata Stephen Covey.</p>
<p>Bagi mereka yang berorientasi pada ikhtiar membangun keagungan kepribadian, boleh jadi mereka ingin terus mendaki, sebab mereka ingin membawa misi untuk menyuarakan suara hatinya yang paling dalam, memberi makna dan manfaat bagi orang lain.</p>
<p>Kawan, kita tahu jamu itu pahit. Namun, mengapa kita masih mau meminumnya? Sebab jamu itu kita yakini dapat menyembuhkan dan menyehatkan, bukan?. Boleh jadi, kita harus mengubah cara melihat teman-teman yang “menjengkelkan” itu, sebab boleh jadi juga teman tersebut sesungguhnya adalah teman sejati kita. Wallahu’alam.</p>
<p>*) Praktisi manajemen dan pemerhati kepemimpinan, tinggal di Bogor.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/04/belajar-dari-jordan-sahabat-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

