CARE BOX ALA BELLA

Care box terbuat dari dus minuman susu

Care box terbuat dari dus minuman susu

Oleh Gol A Gong

Suatu hari di saat puasa September 2009 lalu, putri pertama saya, Bella (12 th) membeli susu kemasan merek Indomilk di Alfamart. Seusai buka puasa, dus susu Indomilk tidak dibuang. lanjutkan membaca »

LANDMARK KOTA YANG MEMBINGUNGKAN

Monumen daerah Serang sudah layak jadi ikon?

Monumen daerah Serang sudah layak jadi ikon?

Oleh Gol A Gong

Saat SMA (1980 – 92), setiap malam minggu saya pasti gonjlengan. Setelah masing-masing mengurusi “wakuncar” (waktu kunjug pacar), sekitar pukul 00.00 menuju markas rumah seseorang yang sudah ditunjuk.  lanjutkan membaca »

MENCARI PELANGI DI BANTEN

Ki Amuk menynayikan "Mencari Pelangi"

Ki Amuk menynayikan "Mencari Pelangi"

Oleh Gol A Gong

Saat istri saya, Tias, sedang hamil anak kami yang pertama, sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya. lanjutkan membaca »

PEMUDA BANTEN, GALILAH POTENSI DIRI

Banten Star mencoba menggali potesi diri lewat seni

Banten Star mencoba menggali potesi diri lewat seni

Oleh Gola Gong

John F Kennedy, Presiden Amerika tahun 1960-an, sebelum tewas ditembak “fans” beratnya pernah berujar, “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu, wahai anak muda! Tapi tanyakan kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu?” Tapi di kita, kadang itu jadi terbalik, “Negara sudah ngasih apa sama kita?” Itulah sebabnya, kenapa anak muda di negeri ini loyo-loyo kurang darah, karena mentalnya dididik jadi pengemis.

MANDEG

Jadi pemuda haruslah seperti jalan setapak menuju mata air. Dia harus memiliki spirit menerabas alang-alang dan semak belukar di hutan, agar orang-orang bisa mengikuti kita ke arah kemajuan. Itu dilakukan oleh para petualang Eropa, saat memetakan bumi Afrika. DR. Livingstone, misalnya, memetakan tentang sungai Nil yang membelah Afrika bersumber dari danau Victoria . Atau, para ilmuwan semacam Newton , yang memerhatikan buah apel jatuh, sehingga munculah teori gravitasi.

Lantas, kita sebagai anak muda Banten, sudah melakukan apa? Hanya menadahkan tangan, menunggu bantuan datang? Jika memulai mengerjakan sesuatu, maka mandeg? Kecenderungan anak muda yang hanya mau melakukan sesuatu jika ada dana sudah menggejala sekarang. Mereka memoles dirinya dengan berdandan seperti para pengusaha, menenteng proposal memintai dana kemana-mana, berkedok atas nama rakyat. Semoga kita tidak menjadi pemuda seperti itu. Semoga kita menjadi pemuda yang penuh semangat.

POTENSI

Atau kata Aa Gym, “Rezeki itu harus dijemput” ? Tentu kami memilih yang kedua. Rezeki harus dijemput. Caranya? Dengan berusaha dan berdo’a. sebagai pemuda, kita  memiliki modal semagnat dan ilmu.

Pernah mendengar kisah tentang teman-teman kita di Banten, dengan usianya yang masih muda, tapi mampu menggali potensi drinya? Ada 3 nama yang saya catat sempurna di hati saya. Mungkin itu teman kalian juga.

Pertama adalah NP Rahardian, direktuk Rekonvasibumi. Dia adalah contoh anak muda yang ketika jatuh terpuruk dihantam badai krismon pada 1998, mampu bangkit dengan cara mengali potensi dirinya. Awalnya Nana, panggilan akrabnya, terjun di dunia bisnis konstruksi. Saat terpuruk, dia menjadi pemuda yang mencari-cari pegangan. Dia tak patah semangat. Dia menggali potesi dirinya. Teryata dia memiliki kemampuan mengelola lingkungan. Sekarang, dia berkibar dengan LSM Rekonvasi Bumi, satu-satunya LSM yang konsisten mengawal lingkungan di Banten. Bahkan Nana dan Rekonvasi Bumi sudah jadi bagian gerakan lingkungan hidup dunia. Silahkan buktikan sendiri, datang berkunjung ke kantornya di Sengkele, Sempu, persis di belakang Kantor Kejaksaan, Serang. Kantornya bernama “Graha Bumi” dengan 3 lantai, sangat luar biasa bagi saya.

Pemuda kedua adalah Maulana Wahid Fauzi alias Si Uzi, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Banten Raya Post. Mengawali karirnya sebagai kartunis lepas di beberapa tabloid nasional; Bola, Nova, majalah Humor dan Kartini, Si Uzi direkrut Radar Banten sekitar 2001. Karikatur-karikaturnya di Radar Banten menggelitik kita semua; tersindir tapi tetap tersenyum. Dia adalah pemuda yang mampu mengenali potensi dirinya, tanpa perlu merengek-rengek meminta fasilitas kepada negara, seperti John F Kennedy pernah katakan kepada rakyatnya. Sekarang Si Uzi Direktur dan Pemimpin Redaksi Banten Raya Post serta merintis jadi direktur BR TV, yang akan mngeudara penuh Januari 2010. Kunci suksesnya, kenali potensi dan kreatif!

Pemuda ketiga adalah Andi Trisnahadi, Direktur Suhud Trisnahadi. Saya tahu persis, bagaimana Andi membuat karcis, kwitansi, dan liflet di masa awal bisnisnya pada 1990-an. Dia adalah pemuda yang ingin maju, sukses, tapi tidak lupa berbagi. Jika ada anak-anak muda seperti dirinya yang sedang membuat kegiatan, Andi membantunya denan membuatkan liflet dan spanduk gratis. Dia pengusaha pas-pasan tanpa modal dari bank, tapi masih mau membantu. Dan tidak takut bangkrut usahanya. Saya menilai, itu adalah investasi jangka panjang dari segi pencitraan. Alhasil, SUHUD Mediapromo berkembang pesat sebagai perusahaan yang bergerak di dunia kreativitas.

Ketiga pemuda tadi; Nana, Uzi, dan Andi adalah profil anak muda Banten yang patut kita contoh. Mereka menjemput rezeki, menggali potensi dirinya, tidak merengek-rengek menadahkan tangan, tapi justru menerabas semak-belukar, membukakan jalan kepada pemuda lain untuk ikut sama-sama menjemput rezeki yang bertebaran. Bukankah Muhamad pernah bersabda, “Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.”

RELAWAN

Mencontoh mereka, kami pikir itu hal terbaik. Lihat juga para relawan Rumah Dunia, mencoba berbagi di sela-sela waktu luangnya dan tidak lupa menjemput rezeki yang bertebaran dan menggali potensi diri lewat menulis. Para relawan Rumah Dunia setiap pagi sibuk mengisi waktunya; ada yang bekerja di Banten TV, jadi dosen Untirta, kuliah di IAIN SMH Banten, kuliah di Unsera, kuliah di Untirta, sekolah di SMA dan siang hari membagi-bagikna waktu, pikiran, dan tenaganya kepada siapa saja yang datang ke Rumah dunia. Para relawan Rumah Dunia mengajari anak-anak computer, menulis fiksi, menulis berita, dan teater. Jika ada kunjungan dari sebuah sekolah, para relawan Rumah Dunia melayani mereka; memberikan pelatihan jurnalistik (majalah dinding), dan menggambar,

Nana, Uzi, Andi, di sela-sela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga, mengurusi karyawan, juga masih sempat menjadi relawan di Rumah Dunia. Tidak dengan materi, dengan pikirannya, juga dengan otoritasnya. Merea patut kita contoh sebagai pemuda yang bisa mengnali potensi dirinya, yaitu tidak dengan cara menadahkan tangan! Mereka bisa menggugah keluarga Banten untuk maju. Spiritnya membangun Banten dimulai dari rumah. Insya Allah, akan menyebar luas ke Banten. Buktikan saja!(*)

PEMUDA KREATIF, RELAWAN, DAN WAKTU YANG DIMANFAATKAN

Oleh Gol A Gong

Ketika sedang asyik berbincang-bincang dengan Zoel, teman lama yang pernah jadi asisten sutradara Rano Karno di sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Selasa (27/10) lalu, tiba-tiba istri saya menginterupsi, “Pah, ada orasi di IAIN, lho! Sekarang!”

KREATIF

Waduh! Sudah pukul 20.30. WIB. Saya bergegas. Zoel saya tinggalkan di Rumah Dunia. “Sana, dengerin ‘Ki Amuk’ saja!” kataku. Di panggung Rumah dunia, Ki Amuk, divisi musik Rumah Dunia pimpinan Firman Venayaksa, yang mengusung puisi jadi lagu, sedang berlatih untuk tampil di STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Urusan dengan Zoel, rencana berkolaborasi membuat sinetron untuk Indosiar ditunda dulu. Selintas tentang Zoel, dari perckapan yang setengah jm tadi, dia pulang kampong. Zoel ingin mengembangkan potensi local untuk diangkat ke layer kaca. “Setiap saya syuting di kota lain, saya memikirkan Banten. Kenapa tidak saya lakkan di Banten? Saya sudah menemukan produser. Orang itu siap investasi. Saya ingin anak-anak muda di Banten kreatif!” Saya mengangguk setuju.

Diantar Piter Tamba, relawan Rumah Dunia yang kini creative di Banten TV, kami meluncur ke IAIN Serang di pusat kota. Saya agak cemas, karena motor baru Piter belum memakai nomor polisi. Kalau ada polisi, urusannya panjang. Tapi Piter yang masuk kriteria pemuda karena berumur 25 tahun, tetap semangat memacu motornya. Bahkan rambu dilarang memutar balik arah, diterabas saja. Dengan carea memotong jalur di sebelahnya, memang lebih cepat sampai di gerbang IAIN ketimbang harus lurus mmeutar di SPBU. Ini juga termasuk cara berpikir kreatif, agar bisa cepat sampai ditujuan. Kadang sesekali kita harus mau berpikir keluar dari kotak (out of the box), asal siap menerima resiko!

RELAWAN

Lima menit kemudian, sampailah kami di “Saung Peradaban” IAIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, lokasi dimana orasi berlangsung. BEM IAIN SMH Banten malam itu menyelenggarakan kegiatan “Refleksi Soempah Pemoeda ke-81”. Saya, Mufti Ali, PhD, dan Ibnu Adam Aviciena didaulat untuk orasi. Mufti Ali kebagian orasi pertama.

Mufti Ali, cendekiawan muda Banten yang menimba ilmu sejarah dan teologi di Universitas Leiden menceritakan, “Setahun setelah sumpah pemuda dideklarasikan di Jakarta, pada 14 Oktober 1929, tepatnya di Ciruas, perkumpulan ‘Boedi Banten’ digulirkan. Mereka anak muda Banten yang ingin maju. Mereka membuat sekolah dasar, yang kini digusur karena mementingkan pembangunan pasar.” Mufti juga menggelorakan semangat perubahan di kampus IAIN yang terkenal jorok dan banyak sampahnya. Lewat lembaga riset dan penelitian Bantenologi yang dipimpinnya, Mufti mengumpulkan mahasiswa untuk jadi relawan. “Sudah terkumpul 65 relawan. Saya akan mengajak mereka menghijaukan kampus dan membersihkan sampah!” kata Mufti bersemangat.

Bicara soal relawan, saya teringat para relawan di Rumah Dunia, yang sepakat, bahwa apa-apa yang kita miliki ada hak untuk orang lain di dalamnya. Apakah itu pikiran, tenaga, dan harta. Hanya 2,5% saja hak orang lain itu. Sudah 7 tahun Rumah Dunia bergulir sejak 3 Maret 2002, para relawan datang silih-berganti. Mereka melayani dengan tekun setiap setiap orang yang datang ke Rumah Dunia. Mereka menyiapkan diskusi, membuat liflet, menyebarkan undangan, menata kursi dan meja, menyelenggarakna kegiatan, menghidangkan makanan dan minuman, memberi kursus bahasa dan computer, dan membuat pelatihan. Semua tidak ada kaitannya dengan uang. Mereka tidak dibayar. Orang-orang yang datang ke Rumah Dunia pun tidak membayar. Saya termasuk relawan di dalamnya. Sebagai relawan kami tidak dipanggil, tapi terpanggil.

WAKTU

Setelah diselingi group nasyid, saya mendapat giliran orasi. Di depan saya duduk lesehan sekitar seratusan anak muda. Saya melirik ke sisi kanan. Ada grafiti di tembok sekretriat BEM IAIN. Saya terkejut. Grafiti dengan pilok merah itu menohok mata saya, “BEM KORUPTOR. BEM HANYA DIKONTRAKKAN!”. Menurut mereka, sekretariat BEM hanya diisi pengurusnya dengan kegiatan molor alias tidur. Banyak kasur di secretariat BEM. Saya melirik ke sisi kiri, berjejer ruang-ruang UKM. Benak saya melayang jauh; banyak peristiwa baku-hantam di antara mereka. Mulai dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) SiGMA yang menulis tentang perilaku teman-temannya di Mahapeka (Mahasiswa Pencinta Alam Kampus) yang justru merusak lingkungan. Lalu si  wartawan kampus digebuki oleh para pencinta alam itu. Juga tentang sampah yang menumpuk di sekitar ruang-ruang UKM (unit kegiatan mahsaiswa).

Melihat siyuasi itu, saya memulai orasi dengan mengutip Bung Karno, “Beri saya 100 orang tua, maka saya akan memindahkan gunung Semeru. Tapi, beri saya 10 pemuda yang cerdas, berani, dan kuat, maka saya akan mengggerkan dunia!” Sengaja saya gelorakan itu, karena mahasiswa adalah anak muda, dimana segala harapan masa datang yang lebih baik terletak di pundak mereka. Tapi, yang terjadi di antara mahasiswa IAIN SMH Banten adalah baku hantam. Mereka menyelesaikan segala persoalan dengan otot, bukan otak. Sebetulnya, graffiti merah itu tidak perlu terjadi jika mereka egaliter di antara mereka sendiri. Budaya dialog mesti dikembangkan, karena mahasiwa adalah kaum intelektual. “Sekarang saatnya otak, bukan otot!” saya memprovokasi mereka. Bagimana bisa maju, jika mengurusi sampah di sekitar kampus saja tidak mampu! Bahkan dikritik saja tidak mau.

Saya melihat mahasiswa IAIN SMH Banten cerai-berai. Padahal di luar tembok kampus banyak kekisruhan terjadi. Saya menceritakan sebuah fenomena kehidupan, tentang penyapu jalanan. Perhatikanlah penyapu itu. Dia begitu tekun menyapu setiap jengkal wilayah di depannya; dia tidak akan membiarkan ada sampah yang terlewat. Perhatikan juga saat tangannya menggenggam gagang sapu; dia tidak akan rela setiap lidi sapunya terlepas. Dia akan menjaga agar semua lidi sapunya utuh dan kokoh. Dia sadar, jika lidi sapunya terlepas, maka pekerjaannya tidak akan beres. Begitulah juga mahasiswa. Jika mereka tercerai-berai alias tidak kompak, maka mereka hanya akan jadi komoditas politik, akan dijadikan proyek yang mengatasnamakan pendidikan.

Usai saya, Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa IAIN yang juga relawan Rumah Dunia, mendapat jatah bicara. Ibnu dikategorikan mahasiswa berprestasi, karena baru saja lulus dari study perbandingan agama di Universitas Leiden. Untuk ukuran pemuda seusia dia, 25 tahun, cukup membanggakan. Sambil kuliah, dia sudah mampu mencari uang dengan menulis cerpen dan novel. Setelah lulus, sambil menunggu panggilan beasiswa di Leiden, Ibnu jadi wartawan di Radar Banten dan Indopos. Sebagai pemuda, waktu yang bergulir dimanfaatkannya dengan kegiatan positif. Kata Imam Ghazali, masa lalu adalah hal yang sangat jauh dan tidak akan pernah bisa kembali. Begitulah Ibnu, karena sadar waktu tidak akan pernah kembali dan akan menjadi jauh, maka waktu diisinya dengan hal-hal berguna; membaca buku, menulis, kursus bahasa, dan menghadiri diskusi.

Nah, di usia seperti Ibnu, saya juga melakukan hal sama. Mengisi waktu dengan hal-hal berguna. Begitulah ciri-ciri orang sukses. Waktu yang akan jadi masa lalu penuh diisi oleh hal-hal bermanfaat. Bung Karno mencontohkan itu kepada kita. Di usia 24 tahun, BK sudah melakukan perlawanan dan rela mendekam di penjara Sukamiskin. Waktu baginya sangat berkualitas.

Saya yang sudah berusia 46 tahun, tentu tidak layak lagi disebut sebagai pemuda kini. Menurut UU Kepemudaan, bahwa rentang umur pemuda adalah 16 – 30 tahun, maka saya adalah orang tua. Eten Hilman, Ketua KNPI Banten di Banten Raya Post (27/10) mengatakan, “Siap reposisi!” Sedangkan di sisi lain, Andi Malarangeng diankat jadi Menpora di usia 46 tahun!

Wah, bagaimana ini? (*)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010