<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Gonjlengan</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/gonjlengan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>ANTARA &#8220;TUBAGUS&#8221; DI BANTEN DAN &#8220;SIR&#8221; DI INGGRIS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/29/antara-tubagus-di-banten-dan-sir-di-inggris/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/29/antara-tubagus-di-banten-dan-sir-di-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 23:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4729</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Paul  Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex  Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak  menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian  selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana  pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul  yang lahir pada 18 Juni 1942 duduk di kursi roda dengan penuh haru.  Sedangkan Fergie melambaikan tangannya kepada para penyambutnya.  Gubernur Banten 2017, yang kini dipegang seorang cendekiawan asal  Pandeglang, profesor di bidang ilmu strategi marketing, langsung  menyalami mereka. “Selamat datang Sir Paul dan Sir Fergi di tanah sultan  ini,” kata Gubernur yang cendekiawan itu. Kedua orang hebat asal  Inggris itu tersenyum .<span id="more-4729"></span></p>
<p>KEHORMATAN</p>
<p>Hari itu Paul dan  Fergie memenuhi undangan dari Kesultanan Banten yang sudah  direvitalisasi, untuk menerima gelar kehormatan “Tubagus”. Kesultanan  Banten kini difungsikan hanya sebagai simbol peradaban masa lalu yang  pernah jaya. Jika ingin foto-foto denan mereka dipungut biaya Rp.  100.000,- atau “uang merah” seerti halnya kalau kita berfoto-ria dengan  suku Dani di Lembah BEiem, Pegunungan Jayawijaya, Papua.</p>
<p>Kedatanan  Sir Fergie dan Sir Paul adalah upaya Sultan muda, yang bermaksud  mempererat tali silaturahim lagi dengan Inggris, yang pernah diproyekkan  Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar, yang dikenal sebagai Sultan Haji atau  Sultan Muda.</p>
<p>Sultan Muda Kesultanan Banten yang ikut  mendampingi Gubernur Banten terpilih pada Pilkadal 2017, mengingatkan  khalayak saat press confrence di “Kaibon Room” Bandara Soe-Ta, bahwa  agar tidak a-historis, pada Kamis, 10 November 1681, Sultan Haji  menjilat pantat orang-orang Inggris dengan mengirimkan rombongan  berjumlah 33 orang, yang dikomandanii Ngabei Naya Wipraya dan Ngabei  Jaya Sedana. “Jadi, kita harus merevisi kedua orang itu, yang selalu  kita sebut duta besar pertama Banten. Mereka adalah para penjilat pantat  orang Inggris,” tegas Sultan Muda.</p>
<p>Maka pada 29 April  1682, kapal berisi upeti dari Kesultanan Banten sampai di Inggris dan  berlabuh di Sungai Thames dekat Kota Erith. Sultan Haji menyogok Raja  Inggris, Karel II, berupa 200 karung lada, satu partai intan berlian,  burung merak dari emas yang bertaburkan intan baiduri, serta  hadiah-hadiah lainnya, agar kekuasaan ayahnya – Sultan Ageng Tirtayasa,  jatuh ke tangannya. Sogokan itu semuanya berjumlah sekitar 12.000 real.</p>
<p>Sir  Paul dan Sir Fergie yang duduk di sebelah Sultan Muda dan Gubernur  Banten 2017 yang cendekiawan itu. melemparkan senyum ke kanan dan ke  kiri. “Ngabei Naya Wipraya dan Ngabei Jaya Sedana diangkat menjadi  &#8216;Knight&#8217; dan dianugerahi gelar kehormatan, Sir Abdul dan Sir Achmet.  Maka sudah wajib hukumnya, jika Sir Paul Mc Cartney dan Sir Alex  Ferguson mendapat gelar kehormatan pula dari kita. Yaitu &#8216;Tubagus&#8217;,”  begitulah akhir pidato Sultan Muda.</p>
<p>Kemudian Sultan Muda  membeberkan kenapa dua nama itu yang dipilih. Ternyata unsur  subjektivitas lebih mendominasi. Sultan Muda pun manusia biasa. “Saya  penggemar lagu-lagu The Beatles dan The Wings. Terutama kalau sudah  mendengarkan lagu &#8216;Yesterday”, “Let It Be&#8217; dan &#8216;Waterfall&#8217;. Sedangkan  Sir Fergie, semua pasti sudah mahfum. Dialah pelatih kebanggaan kita  semua. Sepanjang hidupnya diberikan untuk MU. Sewaktu mahasiswa, kamar  kosan saya penuh dengan pernak-pernik MU! Jadi, karena dedikasi mereka  dan sumbangsih mereka terhadap seni dan olahraga, kita wajib hukumnya  memberi gelar &#8216;Tubagus&#8217; kepada mereka! Dengan cara seperti ini, Banten  bisa mendunia. Inilah yang disebut spirit Banten untuk dunia. Pada masa  kepemimpinan saya sebagai Sultan Muda dan sahabat saya sebagai Gubernur  Banten periode 2017 hingga 2022, visi dan misi ini harus terwujud.  Begitu juga nanti pengganti kami meneruskannya.”</p>
<p>Gubenur  Banten terpilih menambahi, “Weel, sorry, yang muda yang disultankan.  Sebetulnya saya lebih menyukai Barcelona, karena huruf depannya ‘B’  seperti halnya ‘B’ di ‘Banten’. Jadi, yang layak mendapat hadiah gelar  ‘Tubagus’ adalah ’Pep Guardiola’, karena sudah mengubah lapangan hijau  sebagai panggung opera, bukan ring tinju. Tapi, saya masih menghormati  Sultan Muda. Jadi, tahun depan saya akan memberi Pep gelar ‘Tubagus’.  Syukur-syukur Lionel Messi mau juga. Okey, sekarang no problem. Wellcome  home, my brother Sir Tubagus Paul Mc Cartney dan Sir Tubagus Alex  Ferguson! Kalian berdua layak mendapatkan gelar &#8216;Tubagus&#8217;! Please!” Saat  mengakhiri kalimat itu, Gubernur Banten yang visioner ini memeluk  mereka dengan penuh rasa bangga dan haru.</p>
<p>Kilatan blitz  berkelebat bagai petir; mengabadikan moment kedatangan dua orang hebat  di jagat raya ini ke Banten. Peristiwa ini lebih megah daripada saat   Prof.Dr.Tb. Chasan Shohib mendapatkan gelar Pendekar Pembangunan  Provinsi Banten Pemegang Amanah Sultan Banten atau Sultan Banten ke-18  dari sejumlah massa yang tergabung di Yayasan Bina Islam Banten dan LSM  Kerabat dan Duriar Sultan (Keris) pada  Kamis 23 Juni 2011 di situs  Komplek Istana Kaibon, Banten Lama.</p>
<p>TEROBOSAN</p>
<p>Komplet  sudah kepopuleran Banten di Inggris, yang dulu pernah dipimpin ulama  dan jawara. Setelah Banten dipimpin cendekiawan bergelar Profesor  bernama Muhammad Yusuf pada Pilkadal Banten 2017 – 2022, Banten tidak  lagi rendah diri dan jadi ledekan politik orang-orang. Terbukti sudah  apa yang dikatakan Jendral TNI (Purn) Soerjadi Soedirdja di buku “Banten  Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot” (Gong Publishing, Mei 2010),  bahwa ”Potensi ulama, jawara dan cendekiawan di Banten harus disatukan,  bukan dipertentangkan. Jika Banten ingin maju, semangat ilmu keagamaan  ulama, keberanian jawara, dan kepintaran cendekiawan harus ada pada  pemimpin Banten masa depan.”</p>
<p>Muchtar Mandala, Pendiri  Kampung Nyi Mas Ropoh, Pandeglang mengatakan hal setali tiga uang di  buku ”Banten Bangkit #1” itu, ”Banten selama ini dikenal dengan stigma  sebagai daerah ulama dan jawara. Sebenarnya Banten juga memiliki potensi  cendekia yang cukup besar yang telah menunjukkan kiprahnya pada tingkat  nasional maupun internasional. Sudah saatnya kaum cendekia Banten dapat  menunjukkan kiprahnya bagi masa depan Banten yang lebih cerdas,  cemerlang dan berbudaya, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ulama  Banten masa lalu. Banten sudah saatnya dikenal juga dengan peranan kaum  cendekianya.&#8221;</p>
<p>Rakyat Banten pada Pilkadal 2017 -  2022  tidak salah memilih Muhammad Yusuf sebagai Gubernur Banten periode 2017 –  2022 yang unggul mengusung Program “Banten Bangkit”, menyingkirkan Ratu  Atut Chosiyah yang maju untuk ketiga kalinya dengan visi masjid dan  misi sajadahnya. Terbukti Program “Banten Bangkit” pada 100 hari pertama  mendapat resp[on positif. Muhammad Yusuf mengusulkan reformasi politik  digenjot hingga ke nol kilometer di stasiun Anyer, proyek-proyek APBD  yang trilyunan rupiah harus ditenderkan kepada siapa saja yang memenuhi  kriteria, bukan berasaskan kekeluargaan. Kedua terobosan ini dianggap  proporsional. Kalangan pejabat dan pengusaha yang tidak ingin masuk  penjara berlomba mengejar karier dengan cara elegan.</p>
<p>Begitu  juga terobosan ketiga. Kesultanan Banten direvitalisasi. Kesultanan  Banten yang ibarat kain rombeng alias compang-camping dipoles hingga  cantik dan seksi. Warga di teluk Banten yang sudah bosan miskin menerima  dengan lapang dada. Apalagi solusinya menyenangkan, yaitu para pengemis  dikaryakan jadi tenaga honorer di beberapa pemerintah kota dan  kabupaten. Dan atas kesepakatan bersama, Sultan Muda generasi kesekian  diangkat secara resmi sebagai simbol kejayaan Banten masa lalu dengan  tujuan jelas, yaitu menuju pencitraan yang lebih baik. Sultan Muda  bersiap sedia jadi patung hidup jika ada yang ingin foto bareng.  Pemerintah Provinsi lewat APBD menanggung hajat hidup keluarga  Kesultanan Banten era 2017 ini. Tak berapa lama, dampak positifnya sudah  terasa. Pariwisata pun meningkat pesat. Para peziarah merasa nyaman  selama berada di areal Kesultanan Banten. “Tidak ada lagi preman yang  menggebrak-gebrak kencleng. Roda ekonomi pun bergerak cepat di teluk  Banten. Seorang investor langsung mengeruk Bandar Karanghantu dan  didandani ulang seperti pada abad 16 dilengkapi dengan hotel berbintang.  Warga Serang bisa naik kereta, bgersepeda, atau naik delman jika ingin  menikmati kuliner Bandeng lumpur di Tapak Bumi milik Prof.Dr. Das  Albantani..</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ terobosan si  gubernur profesor. Awalnya memang ditolak dan sampai keluar fatwa haram  dari MUI Banten, yaitu perumusan kembali tentang kepada siapa saja gelar  “Tubagus” dan “Ratu” harus diberikan. &#8220;Tubagus sudah jadi sejarah. Itu  adalah pengharaan yang tinggi dari sultan kepada para pejuang Banten  masa lalu. Cukup satu generasi saja. Itu tidak relevan lagi diberikan  kepada anak dan cucunya atau cicitnya. Itu lebih tepat diberikan nanti  kepada orang-orang yang telah memberikan sumbangsih pemikiran dalam ilmu  pengetahuan dan kemasyarakatan di Banten. Misalnya Husein  Djayadiningrat dan Bachtiar Rivai layak menyandang gelar &#8216;Tubagus&#8217;.  Begitu juga gelar &#8216;Ratu&#8217;. Pelari cepat asal Banten, Martini Kustiah,  layak mendapat gelar kehormatan &#8216;Ratu&#8217;. Berkat Martini Kustiyah, dunia  atletik Banten dikenal di negeri ini,” suara Gubenur Banten 2017 – 2022  ini jernih dan santun. Pesepakbola Banten, Nasuha, anak petani yang  mencuat saat Piala AFF Suzuki 2010, juga layak mendapat gelar “Tubagus”  Nasuha.</p>
<p>Akhirnya orang memahami. Atau tepatnya tidak  peduli lagi apakah perlu memakai gelar “Tubagus” atau tidak. Banyak yang  mencopot dan menanggalkannya dengan sukarela. Mereka mengaku malu  ketika gelar &#8216;Tubagus&#8217; dan &#8216;Ratu&#8217; adalah apresiasi dari Sultan Banten  atas bhakti nenek moyang mereka kepada tatar Banten, yang saat itu  sedang berupaya lepas dari Belanda. Para anak generasi kedua, ketiga,  keempat hingga kesekian merasa malu dan tidak berhak dengan gelar itu.  Mereka merasa belum pernah melakukan apa-apa pada Banten. Tadinya mereka  berpikir, bahwa itu adalah gelar kebangsawanan atau memliki trah  langsung dari Sultan Banten sekelas Sultan Ageng Tirtayasa. Ternyata  hanya pemberian orangtua saja saat lahir. Apalagi ketika mereka  mendapatkan informasi, tentang peperangan antar ayah dan anak; Sultan  Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Akhirnya mereka sepakat, jika sudah  melakukan hal terbaik bagi Banten, mereka akan dengan bangga menyertakan  &#8220;Tubagus&#8221; di depan nama mereka. Begitu juga &#8220;Ratu&#8221;.  Akur sudah.  Kloplah. Semua demi kejayaan Banten.</p>
<p>JAWARA</p>
<p>Paling  kontroversial adalah terobosan terakhir. Gubernur profesor itu  mengusulkan penghapusan penyebutan “jawara”. Katanya, “Jawara sudah  berakhir sejak Kesultanan Banten dibumihanguskan Jendral Herman  Daendles. Tapi, jika ada yang ingin disebut &#8216;jawara&#8217; dalam arti mahir  bela diri dan tidak mempan dilukai senjata apapun, harus diberlakukan  fit and proper test.”</p>
<p>Maka mendaftarlah banyak warga  Banten yang ingin disebut “jawara”. Mereka harus melewati fit and proper  test. Pertama, duel satu lawan satu layaknya para gladiator zaman  Romawi, kemudian ditembak dan dibacok. Ada yang mati tertembak dan cacat  dibacok. Tapi terpilih 50 besar. Para calon jawara tulen itu diceburkan  di tengah Selat Sunda tanpa alat pengaman. Mereka adu cepat berenang,  hingga mengalahkan kapal cepat! Juga ditest sholat lima waktu dan  mengaji. Tidak banyak yang lolos, hanya 10 orang saja. Dan yang lolos  betul-betul memenuhi kriteria sebagai jawara Banten. Ujian selanjutnya,  ini yang berat! Kesepuluh jawara tulen Banten itu harus rela dikubur  hingga sebatas kepala di alun-alun barat kota serang. Mereka  dipertontonkan kepada warga Banten. Kepada siapa saja dipersilahkan  untuk mengeluarkan uneg-uneg mereka. Pada masa sebelumnya banyak rakyat  Banten yang tertekan oleh prilaku jawara, yang diidentikan dengan  kekerasan. Padahal jawara itu sejatinya mengayomi dan melindungi rakyat.  Banyak rakyat Banten yang melempari kesepuluh kepala itu dengan batu.  Bahkan ada yang meludahi segala. Kesepuluh calon jawara itu melewati  proses katarsis dengan tabah. Akhirnya mereka lulus ujian. Sultan Muda  menganugrahi mereka gelar “Tubagus” juga.</p>
<p>Kesepuluh jawara  tulen Banten itu kemudian diangkat jadi pengawal khusus gubernur  Banten. Pelan-pelan citra jawara yang tadinya identik dengan kekerasan  berubah jadi baik dan membanggakan. Semua warga Banten berbalik  mencintai jawara Banten. Kini tidak ada lagi dikotomi “jawara putih&#8217;  atau “jawara hitam” yang pernah diklaim H. Embay Mulya Syarief, bahwa  dirinya adalah dari golongan “jawara putih”. H. Embay mengatakan, “Jawra  putih adalah jawra yang sholat dan melindungi rakyat.” Pada Banten 2017  hingga seterusnya, hanya ada “jawara” saja, tanpa embel-embel “hitam”  atau “putih”. Haji Embay Mulya Syarief, yang dulu sering menyebut  dirinya “jawara sholat”, sangat setuju dengan terobosan gubernur yang  professor itu.</p>
<p>KAGUM</p>
<p>Setelah seminggu berkelana di  Banten; mulai dari menikmati nasi sum-syum, ujung kulon, melihat badak,  hingga suguhan goyang jaipong, Sir Paul dan Sir Fergi yang sudah bau  tanah itu mengintip kagum dari balik kaca bus mewah, yang mengantarkan  mereka ke Bandara Soe-Ta. Betapa terharu mereka. Sepanjang jalan tol  yang masih terus diperbaiki banyak spanduk dengan nama mereka: “So long  Sir Tubagus Paul Mc Cartney and Sir Tubagus Alex Ferguson. God bless  you!”</p>
<p>&#8220;Wow! Rakyat Banten sangat baik. Kami seperti raja  saja. Penyambutan ini melebihi ketika saya dan MU menyabet juara kedua  piala Champions 2011!&#8221; Sir Tubagus Alex Ferguson masih saja berdecak  penuh kekaguman. Beberapa kali dia mengarahkan kamera videonya.  &#8220;Bukankah begitu, Sir Paul?&#8221; tanya Fergi.</p>
<p>“Satuju, satuju  kule mah, Sir Tyubajus,” Paul menambahi sambil memetik gitar;  menyanyikan lagu “Yesterday” dengan sangat khidmat.</p>
<p>Sir Tubagus Fergie tertawa-tawa. (*)</p>
<p>*) Solo 15 Sept 2010 – Ciloang 24 Juni 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/29/antara-tubagus-di-banten-dan-sir-di-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANGGUNG RUMAH DUNIA: MEMBENTUK KARAKTER CINTA DAMAI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/04/panggung-rumah-dunia-membentuk-karakter-cinta-damai/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/04/panggung-rumah-dunia-membentuk-karakter-cinta-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 03:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4275</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong “Free us from war, poverty, illiteracy, discrimination, fear, hunger. Create peace…” [Global Children’s Wishes] *** Suatu siang, di tahun 2005, panggung di sudut Rumah Dunia, pusat belajar masyarakat di Kampung Ciloang, Serang Banten, dipenuhi anak-anak. Mereka dengan malu-malu, cemas, gugup, memberanikan diri naik ke panggung. Menceritakan kisah menarik di sekolah, tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Plaza1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4276" title="Plaza1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Plaza1.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>“Free us from war, poverty, illiteracy, discrimination, fear, hunger.</p>
<p>Create peace…” [Global Children’s Wishes]</p>
<p>***</p>
<p>Suatu siang, di tahun 2005, panggung di sudut Rumah Dunia, pusat belajar masyarakat di Kampung Ciloang, Serang Banten, dipenuhi anak-anak. Mereka dengan malu-malu, cemas, gugup, memberanikan diri naik ke panggung. Menceritakan kisah menarik di sekolah, tentang keluarga mereka, atau apa saja yang sudah mereka alami. <span id="more-4275"></span>Tiba-tiba saya dan istri terhenyak ketika seorang anak menceritakan tentang dirinya, ”Nama saya Nia. Saya tidak sekolah. Harusnya saya kelas empat. Tapi ayah dan ibu saya tidak punya uang. Saya dan keluarga baru datang kemarin. Kami tadinya tinggal di Pulau Seram, Maluku. Ayah saya adalah transmigran, berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Tapi, karena ada perang antar suku di sana, kami mengungsi ke Papua. Lalu ke Jakarta menumpang kapal laut milik Tentara Nasional Indonesia. Kami dibawa oleh relawan ke Serang, Banten. Ayah saya dicarikan kerja sebagai tukang kebun. Kami sekarang tinggal di rumah Bu Nas, penjual pecel, tidak jauh dari Rumah Dunia. Saya disarankan oleh relawan itu untuk sering datang ke Rumah Dunia&#8230;”</p>
<p><strong>BELAJAR SALING MENYAYANGI</strong></p>
<p>Mendengar perjalanan hidupnya, terlebih Nia pernah merantau, istri saya memintanya untuk sering bercerita di panggung di depan anak-anak Rumah Dunia. Sebuah peta Indonesia dibentangkan, dan sepanjang Nia bercerita, istri saya menunjukkan titik kota di berbagai pulau, tempat yang pernah disinggahi Nia. Buku-buku yang memuat kekhasan suku-suku yang ada di Indonesia kami sodorkan ke anak-anak itu, bahwa begitu beragamnya tanah air tercinta ini.</p>
<p>Ketika mendapati Nia sangat bersemangat belajar di Rumah Dunia, karena punya banyak waktu luang sementara teman-temannya bersekolah, kami berencana mencarikan donasi untuk kelanjutan sekolahnya. Apalagi Nia lumayan pintar. Saya menulis jurnal di <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> tentang Nia. Istri saya menyebar SMS. Hanya dalam hitungan menit, banyak kawan kami yang simpati dengan nasib Nia dan menyumbang berupa uang. Uang pun terkumpul sekitar Rp. 800.000,- Itu cukup untuk biaya masuk sekolah.</p>
<p>Lalu kami meminta bantuan seorang guru SD, Bu Qorry, tetangga di komplek Hegar Alam, Serang, tempat kami tinggal, agar Nia dapat bersekolah di tempatnya mengajar. Saat itu memang agak tanggung untuk masuk sekolah, mengingat beberapa minggu kemudian sudah memasuki ujian semester. Kendala muncul berkaitan dengan ketiadaan rapor sekolah Nia yang hilang di perantauan. Untunglah, dengan kebaikan kepala sekolah tempat tetangga kami bekerja, Nia diterima di SD Sumber Agung, Sumur Pecung, Kota Serang.  Akhirnya Nia pun sekolah lagi.</p>
<p>Kami juga meminta teman-teman kecil di Rumah Dunia membantu Nia untuk percaya diri kembali. Senang sekali melihat anak-anak itu dengan ikhlas mendukung Nia. Ada yang meminjamkan buku pelajaran, agar Nia dapat mengejar ketinggalannya, yang lain membantu menjelaskan isinya. Sungguh membahagiakan melihat mereka belajar menyayangi dari teman sendiri.</p>
<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Pohon-jk.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4277" title="Pohon-jk" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Pohon-jk.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>SEJARAH PANGGUNG</strong></p>
<p>Nia hanyalah sekelumit kisah dari keberadaan panggung di Rumah Dunia. Jika saya ingat perjalanan panjang Rumah Dunia, betapa saya harus beryukur, bahwa keberadaan Rumah Dunia membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Itu semua berkat bantuan para relawan Rumah Dunia dan para sonatur, yang tersebar mulai dari Qatar, Dubai, Taiwan, Jepang, Australia, Amerika, dan di negeri sendiri.</p>
<p>Saya dan istri memulai membangun Rumah Dunia pada 1996 dengan menempelkan prasasti di garasi rumah; <em>Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan kata-kata.</em> Kami memang membeli tanah, batu dan bata, pasir serta semennya dari royalti-royalti novel atau skenario TV yang kami tulis. Bahkan di dinding teras rumah, kami tempelkan 2 kata itu; Rumah Dunia, sehingga orang-orang kampung memanggail saya dengan sebutan ”Pak Rumah Dunia”. Terutama tukang ojek, yang biasa mengantar saya ke tempat saya bekerja.</p>
<p>Pada 2001, novel ”Pada-Mu Aku Bersimpuh” karya saya dijadikan sinetron ramadhan di RCTI oleh Indika Entertainment. Kami berhasil membebaskan tanah seluas 500 m2 persis di belakang rumah. Dinding pgar belakang kami jebol, kami beri pintu, maka jadilah halaman belakang kami yang tadinya hanya 60 m2, kini berubah jadi ”sorga” seluas 500 m2. Kami memulai ”petualangan” baru bersama kedua anak kami; Bella (5 th), Abi (4 th). Mereka menjadikan halaman itu laboratorium hidup; banyak menemukan berbagai jenis flora dan fauna, bahkan ular. Mereka merasa sedang berpetualang di hutan Amazone. Abi bergelantungan di pelepah daun pisang yang kering, seperti Bear Grylls ”Man Versus Wild” di channel BBC Knowledge.</p>
<p>So, kami membangun sebuah pendopo kecil tempat menyimpan mainan plastik kedua anak kami yang sudah rusak dan toilet yang kami peruntukkan bagi masyarakat, yang saat itu masih suka <em>dolbon</em> (<em>modol di kebon</em> = buang air besar di kebun). Dan tentu panggung. Bagi saya, panggung adalah suatu keharusan. Saya ingin melihat anak-anak yang datang ke Rumah Dunia berdiri di atas panggung, merasakan berdiri lebih tinggi dari teman-temannya, menjadi orang yang berbeda. Mereka tidak sekedar menjadi orang yang berbeda saat berdiri di atas panggung, tapi mereka menjadi seseorang. Ini adalah bagian dari pembentukan karakter sejak dini, lewat media pembelajaran ketrampilan berbahasa; yaitu mendengar dan berbicara. Seusai mereka tampil di panggung, hadiah pisang goreng atau bolpen menanti. Ini sudah berlangsung sejak Rumah Dunia berdiri di akhir 2001. Saya dan istri pada awal mengenalkan Rumah Dunia tidak langsung menyuruh mereka membaca, tapi lebih pada memanfaatkan panggung sebagai media saling mengenal.</p>
<p>Saya katakan kepada anak-anak yang datang ke Rumah Dunia, ”Tidak semua orang bisa naik ke panggung, kecuali dia orang yang hebat!” Saya tantang anak-anak itu dengan imbalan makanan atau alat-alat tulis. Saya memotivasi anak-anak kampung itu untuk berani, kritis, terbuka, dan merasa menjadi seseorang yang hebat. Anak-anak itu harus ditumbuhkan kepercayaan dirinya. Mereka harus bangga dengan dirinya. Saya tidak ingin anak-anak masa depan itu seperti para peserta di seminar-seminar atau diskusi, yang selalu tidak merasa pantas duduk di kursi paling depan. Rasa minder sebagai anak orang miskin, rasa minder karena bodoh harus dibuang. Saya mengatakan kepada anak-anak, bahwa tidak ada orang bodoh di dunia ini, tapi yang ada adalah anak yang tidak mendapat kesempatan belajar. Saya ingin anak-anak itu kelak menjadi sekumpulan anak muda yang cerdas, kritis, inovatif, jujur, cinta perdamaian, dan mendambakan perubahan.</p>
<p><strong>WISATA BELAJAR </strong></p>
<p>Di Rumah Dunia, Panggung dimaksudkan sebagai tempat membangun pemahaman, bahwa antar sesama harus saling menyayangi. Panggung Rumah Dunia adalah ruang pencegahan bagi timbulnya rasa benci. Di panggung Rumah Dunia rasa cinta disemai. Di panggung Rumah Dunia, kami saling berbagi rasa, cinta, dan ilmu.</p>
<p>Itulah sebanya kegiatan di Rumah Dunia, kami namakan dengan ”Wisata”, agar terdengar lebih berkonotasi menyenangkan bagi anak-anak. Penamaan ”wisata” membuat anak-anak merasa nyaman dan dicintai.</p>
<p>Dari Senin hingga Jum’at, sepulang sekolah dari pukul 14.00 – 17.00 WIB, kami gelar wisata mengarang, wisata gambar, wisata dongeng, dan wisata lakon amat diminati anak-anak. Segala kegiatan ini menggunakan panggung sebagai sentral aktivitas. Kemudian pelajar dan mahasiswa pun meminta kepada saya untuk difasilitasi. Maka hari Sabtu dan Minggu saya sediakan waktu bagi mereka; yaitu klab diskusi,</p>
<p>Kegiatan aneka lomba literasi juga diselenggarakan di panggung. Ada lomba menggambar, membaca puisi, pertunjukkan teater sekolah, pentas monolog, pelatihan, pentas musik. Ini bagian dari evaluasi, sampai sejauh mana transformasi intelektual terjadi kepada mereka. Untuk membuat mereka bangga dan bahagia, kami memberi hadiah piala, piagam, dan uang pembinaan alakadarnya kepada anak-anak yang keluar sebagai pemnnag lomba. Hadiah itu  semoga memotivasi perkembangan intlektual mereka di kemudian hari</p>
<p>Dalam Wisata Mengarang (tulis) anak-anak dibiarkan menulis apa adanya. Kami mengajak mereka mengamati sekeliling dan menuliskannya. Hal-hal sederhana, tema membumi, amat dekat dengan keseharian, tapi menjadi kuat karena mereka menuliskannya dengan ringan, tanpa beban.</p>
<p>Mereka juga diajak untuk mendengar dongeng, yang menggali imajinasi dalam pikiran anak-anak. Mengelilingi pendongeng, mereka tekun mendengarkan cerita bergulir, bahkan ada yang sambil tiduran di panggung Rumah Dunia. Pernah suatu hari, saya mendongeng tentang seorang anak kecil yang wajahnya sedih. Saya menunjukkan sebuah buku yang berisi gambar wajah-wajah dengan berbagai macam ekspresi; sedih, gembira, dan marah. Ini bagian dari pengenalan karakter. Saya menyisipkan dengan menunjukkan ekspresi muka dari berbagai perasaan yang ada di buku; senang, sedih, kaget, takut dan sebagainya. Anak-anak dimotivasi untuk mengungkapkan perasaan dengan memeragakannya. Ada yang seharusnya menirukan ekspresi sedih, jadi ikut tertawa karena teman-temannya menertawakannya. Atau yang harusnya menirukan tertawa keras malah menjadi menangis karena tidak tahan malu menirukan karakter di hadapan teman-temannya. Tapi itu adalah suasana yang nyaman dan membahagiakna bagi mereka. Saya merasakannya saat itu.</p>
<p>”Penahkah kalian merasa sedih?’ tanya saya.</p>
<p>Anak-anak itu menjawab serempak,”Yaaaa!”</p>
<p>Saya meminta mereka menceritakan, kenapa bersedih. Dari mulut-mulut mungil itu, saya jadi tahu, bahwa mereka memiliki banyak persoalan di rumah. Semua karena kemiskinan dan kebodohan. Ayah mereka yang hanya pengayuh becak, buruh bangunan, pemulung, dan tukang ojek. Ada yang bersedih karena berkelahi dengan adik atau kakak, bersedih karena dimarahi ayah, bersedih karena belum bayaran sekolah, bersedih karena ayah dan ibunya cek-cok. Saat itu saya menguatkan hati mereka, bahhwa jangan bersedih karena kemiskinan dan kebodohan. Saya menyitir sebuah ayat di Al-Qur’an, bahwa semakin tinggi ilmu kita, maka Allah SWT akan meninggikan derajat kita. Saya mencontohkan diri saya, yang mereka anggap berkecukupan, bahwa semua berawal dari rasa saling menyayangi antar sesama keluarga; kakak, adik, dan orang tua. Kemudian saat itulah saya menyarankan kepada mereka, agar rajin  membaca buku. Saya kisahkan success story saya, yang berawal dari membaca buku.</p>
<p>Begitu pula dengan Wisata Gambar; dengan alat yang tersedia, anak-anak diajak berekspresi. Bermula dari pensil warna, anak-anak itu antusias menggambar. Saat beranjak ke krayon di kemudian hari, karya yang muncul makin ekspresif dan variatif. Bertebaranlah mereka di panggung, anak-anak itu terus berekspresi. Anak-anak itu seolah juga merajai panggung, saat mereka mementaskan naskah kanak-kanak yang ditulis istri saya. Ceritanya sederhana, dibuat bertema keseharian mereka yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan. Ini dimaksudkan agar anak-anak tak sulit memerankan sebuah karakter.</p>
<p>PANEN RUMAH DUNIA</p>
<p>Proses yang dilakukan di Rumah Dunia melibatkan banyak orang, dengan berbagai sifat dan karakter yang berlainan. Kesemuanya dilebur dengan damai, masing-masing menghormati keberadaan yang lain, dengan konsekuensi berbagi dan saling menolong. Anak-anak yang biasanya sepulang sekolah menghabiskan waktu di jalanan; menjadi pengamen atau pemulung, jadi rajin datang ke Rumah Dunia. Beberapa anak kami beri beasiswa untk melanjutkan jenjang pendidikan ke SLTP, SLTS, bahkan perguruan tinggi.</p>
<p>Setelah hampir sepuluh tahun bergulir, beberapa anak yang tinggal di kampung sekitar Rumah Dunia, kini sudah remaja, bahkan ada yang hendak menyelesaikan jenjang S1. Mereka sudah bisa mencari uang dengan kemampuan menulis di media massa lokal dan ada yang bekerja di lembaga-lembaga usaha kreatif lainnya; seperti butik, percetakan, atau sentra komputer,</p>
<p>Bahkan yang paling membuat saya bahagia adalah proses tranformasi yang terjadi pada para pelajar dan mahasiswa, yang datang untuk belajar di hari Sabtu dan Minggu. Jika pada Senin hingga Jum’at yang datang ke Rumah Dunia adalah anak-anak dengan radius lingkaran 1 km, untuk pelajar dan mahasiswa berdatangan dari seluruh penjuru Banten. Bahkan ada yang sengaja datang dari Palembang, Sumatra Selatan. Namanya Wanja, mahasiswi Universitas Sriwijaya. Wanja mengontrak kamar selama 6 bulan untuk mengikuti program ”Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan kelima (2005) yang saya buat.</p>
<p>Ada juga Mushadiq Ali, pada 2007, yang di setiap akhir pekan bersepeda dari Pasar Kemis, Tangerang ke Rumah Dunia di Serang, sambil berjualan roti. Ada banyak peserta didik Rumah Dunia yang rumahnya di Cilegon, Rangkasbitung, bahkan Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Saking jauhnya, saya memfasilitasi mereka dengan menawarkan tinggal di Rumah Dunia jadi relawan. Kini, rata-rata mereka memanen hasilnya. Ada sejumlah nama; Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa IAIN Sultan Maulanan Hasanudin Banten, berasal dari Malingping, Banten Selatan. Ibnu menyelesaikan S2-nya di Leiden, Belanda. Kini dia jadi dosen di IAIN SMHB Banten dan Presiden Rumah Dunia periode ketiga (2010 – 2015). Ada Endang Rukmana, anak miskin dari Padarincang, Serang Selatan, yang menyabet juara I  ”UNICEF Award for Indonesian Young Writer” (2004) dan sudah menerbitkan belasan novel best seller. Yuanita Utami  dari Cilegon, menyabet ”UNICEF Award for Indonesian Young Writer” (2005). Qizink La Aziva, penulis novel dan kini hadi redaktur Opini di koran lokal ”Radar Banten”. Adkhilni MS, sejak awal Oktober 2010 jadi diplomat di Mesir. Jaya Komarudin Cholik, buruh migrant di Dubai, yang sudah menulis buku ”Tamasya ke masjid”. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Yang paling fenomenal adalah Miftah Udin, pedagang gorengan asal Kampung Ciloang. Pad 2007, Udin datang ke Rumah Dunia. Dia ingin jadi wartwaan olahraga. Dia rajin membaca tabloid ”Bola”, karena gemar sepakbola. Saya menyuruhnya berlatih menulis laporan sepakbola jika dia nonton liga Italia. Saya membimbingnya. Alhamdulillah, kini Udin dengan nama pena ”Harir Baldan” jadi koresponden koran”Banten Raya Post” wilayah Kecamatan Cipanas, Lebak, Banten Selatan. Udin juga mengelola taman bacaan masyarakat ”Kosala Library” sejak 2010.</p>
<p><strong>PANGGUNG HARUS ADA</strong></p>
<p>Menikmati panen di Rumah Dunia, saya merasa yakin, bahwa konsep panggung membawa hasil. Udin adalah salah satu contoh. Panggung bagi pelajar dan mahasiswa, saya niatkan selain sebagai pembentukan karakter menuju generasi yang kuat dan mandiri, juga tempat berlatih mengasah kemampuan otak mereka. Visi utama Rumah Dunia adalah ”Mencerdaskan dan Membentuk Geberasi Baru”.</p>
<p>Setiap jum’at malam saya menggelar kegiatan ”Orasi”. Saya menyuruh Udin dan relawan Rumah Dunia lainnya seperti Abdul Salam (18 th), Sobirin (21 th), Muhzen Den (22 th) dan masih banyak lagi,  berorasi. Topik-topik hangat dari koran dan televisi harus mereka sampaikan dari panggung. Temanya adalah isu-isu yang beredar di Banten saat itu. Mereka belajar berpidato, menuangkan gagasannya di hadapan publik. Kegiatan ”orasi” ini adalah bagian dari kegiatan intelektual. Di Banten, rata-rata para anak mudanya lebih tergiur dengan kegiatan otot, ketimbang otak. Kognitif dan kinestetis (psikomotorik) lebih dominan ketimbang ranah afektif. Sudah sejak lama orang-orang mengenal Banten dengan stigma jawara yang identik dengan kekerasan. Maka, kegiatan orasi Rumah Dunia mengusung visi ”Saatnya Otak, Bukan Otot”. Kami juga menelorkan ”Petisi Banten Damai”, agar label Banten sebagai wilayah yang identik dengan kekerasan bisa menerima perubahan tanpa perlu saling sikut dan mengadu kekuatan phisik antar kelompok.</p>
<p>Di panggung pula ekspresi natural kanak-kanak muncul apa adanya. Salah kata  yang terjadi, bahkan saat pentas drama di hadapan pengunjung pun, merupakan hal yang dianggap wajar dan manusiawi. Semua orang boleh berekspresi di sana, membacakan puisi, monolog, musik dan lagu, serta pertunjukan teater. Para pemusik jalanan pun sering kami undang untuk menyanyikan kegundahannya. Bahkan kami, para relawan mengadakan rapat sambil duduk melingkar di panggung. Debat, diskusi, makan bersama, bahkan konflik diselesaikan di sana.</p>
<p>Bagi saya, untuk mengubah negeri ini, tidak perlu bermimpi melakukan sesuatu yang besar. Tapi, melakukan tindakan nyata dengan sesuatu yang kecil, yaitu mengubah prilaku diri kita terlebih dahulu. Maka, saya dan istri mengajak orang-orang di sekitar Rumah Dunia untuk bergabung; mulai dari anak-anak, pelajar dan mahasiswa. Dan panggung kecil di sudut Rumah Dunia adalah ruang yang membebaskan hati tiap manusia untuk berekspresi, dalam koridor kesusilaan. Dan seyogyanya panggung itu ada di setiap titik perkumpulan manusia, sesederhana apapun bentuknya. Apakah itu komunitas baca, taman bacaan masyarakat, perpustakaan, karang taruna, balai desa, di halaman masjid, di sekolah, di mana saja. Sediakanlah panggung untuk anak-anak kita. Untuk diri kita juga, karena rasa cinta bisa disemai di sini dan rsa bensi bisa dicegah di sini.</p>
<p>Di panggung itulah, saya dan istri dan keempat anak kami, dan relawan Rumah Dunia, menyebarkan virus tentang betapa pentingnya secara bersama-sama memerangi kebodohan, kemiskinan, rasa takut, rasa lapar, dan rasa benci. Kami suarakan terus spirit ”Berbagi Rasa, Cinta, dan Ilmu” di panggung Rumah Dunia. Dengan begitu, akan muncul kedamaian di tempat-tempat di mana manusia berkumpul, yang sebenarnya merupakan titik temu berbagai konflik. Menjaga untuk saling mengerti, saling memahami, saling menyayangi dan saling menghargai, itu yang perlu dilakukan saat ini dan nanti.</p>
<p>Sebagai penutup, saya sajikan sebuah puisi dari kegiatan ”wisata mengarang”, yang kami terbitkan secara sederhana dalam kumpulan puisi berjudul ”Buah Merah Jambu” (Penerbit Lumbung Banten, 2009). Selamat membaca:</p>
<p><em>Remaja Akhir Jaman</em></p>
<p><em>Oleh Abdul Goni</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hijau itu, kini menjadi gersang</em></p>
<p><em>Tawa itu, kini tak lagi riang</em></p>
<p><em>Semua akibat tangan-tangan </em></p>
<p><em>yang tak bertanggung jawab</em></p>
<p><em>Bumi kini sudah tua</em></p>
<p><em>Manusia makin berlumur dosa</em></p>
<p><em>Remaja menghalalkan segala cara</em></p>
<p><em>Demi sebuah kata cinta</em></p>
<p><em>Tuhan mungkin telah murka</em></p>
<p><em>Melihat semua tingkah polah manusia. </em></p>
<p>***</p>
<p>*) Rumah Dunia, Serang 1 Desember 2010</p>
<p>*) Penulis adalah Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, Dewan Penasehat Rumah Dunia, Peraih National Literacy Prize 2010 Kategori Budaya Tulis, Penanggung Jawab <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a>, serta Direktur Gong Publishing. Email: gm_cakrawala@yahoo.com</p>
<p>*) Tulisan ini sebagai kelengkapan administrasi ”National Literacy Prize” 2010, yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/04/panggung-rumah-dunia-membentuk-karakter-cinta-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 03:27:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Be a Writer]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Novelist]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengarang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3987</guid>
		<description><![CDATA[Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat. REGULER Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat &#8220;Rumah Dunia&#8221;. Paket Kelas Menulis &#8220;Be a Writer&#8221; reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Iklan-BaW-Baraya-Post.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3988" title="Iklan BaW-Baraya Post" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Iklan-BaW-Baraya-Post.jpg" alt="" width="571" height="787" /></a>Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.<span id="more-3987"></span></p>
<p>REGULER</p>
<p>Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat &#8220;Rumah Dunia&#8221;. Paket Kelas Menulis &#8220;Be a Writer&#8221; reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; karya Gol A Gong dan sertifikat. Untuk 4 x pertemuan. Bisa milih hari. Hati Minggu dan Selasa = kelas novel. Hari Selasa = kelas skenario. Kelas berlangsung setiap pukul 13.30 &#8211; 17.00 WIB. Interaktif klas. Kelas novel pertama berlangsung Minggu 6 Juni 2010. Kelas skenario 8 Juni 2010. Di sini kamu bisa diajarin cara menemukan dan menggali ide, membuat karakter tokoh seperti hidup di dunia nyata, alu dan plot yang kuat, latar tempat yang memukau, dan ending yang  memikat. Juga diajarkan bagaimana membuat cerita serial yang terus hidup seperti novel serial “Balada Si Roy” karya Gol A Gong.</p>
<p>SERANG</p>
<p>Nah, untuk yang &#8220;Be a Writer&#8221; Exclusive biaya Rp. 1,5 jt. Hanya 50 peserta. Kegiatan berlangsung 26 Juni 2010, pukul 08 &#8211; 17.00 di Hotel Sari Kuring Indah, Cilegon. Setiap peserta wajib menyerahkan cerpen (diserahkan saat daftar atau sesudahnya). Cerpen peserta akan diterbitkan jadi buku. Jika ada peserta yang sanggup menyerahkan naskah novel, silahkan. Naskah novel terbaik, akan diterbitkan jadi novel. Tidak akan dipungut biaya apa pun untuk penerbitan buku, Dan buku2 akan didisplay di TB Gramedia dan Tisera. Silahkan kontak ke Tias 0815 13310 132. Pokoknya, pelatihan ini bisa mewujudkan kamu jadi pengarang dan punya buku sendiri. Pernah nggak bermimpi, tiba-tiba novelmu diterbitkan? Nah, mimpu bakal jadi kenyataan di sini!</p>
<p>JAKARTA</p>
<p>Untuk wilayah  Jakarta di Hotel Sofyan, 4 Juli 2010, biaya Rp. 2 jt. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; karya Gol A Gong dan sertifikat. Persyaratanya sama. menyerahkan cerpen (diserahkan saat daftar atau sesudahnya). Cerpen peserta akan diterbitkan jadi buku. Jika ada peserta yang sanggup menyerahkan naskah novel, silahkan. Naskah novel terbaik, akan diterbitkan jadi novel. Tidak akan dipungut biaya apa pun untuk penerbitan buku, Dan buku2 akan didisplay di TB Gramedia dan Tisera. Kontak Helmy di 0813 811 72601. Pokoknya, pelatihan ini nggak akan berkedok penipuan. Ini beneran. Hanya dengan Rp. 2 jt, kamu bisa sah mneyndang sebagai pengarang! Buktikan saja!</p>
<p>Jangan khawatir. Uang kamu-kamu idak akan hilang percuma. Pasti bermanfaat, karena uang kamu-kamu juga akan disumbangkan untuk kegiatan pendidikan bagi orang-orang tidak mampu di Rumah Dunia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>GONG Publishing – Anda Jadi Pengarang, Kami Tentu Senang!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 20:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Merchandise]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3399</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Emak-Kiamuk4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3400" title="Emak-Kiamuk4" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Emak-Kiamuk4.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan dengan proposal.</p>
<p>DIRI SENDIRI</p>
<p>Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA (1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini literasi, siapa ingin maju! Ada yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot ketimbang otak.</p>
<p>Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu, kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.</p>
<p>Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka – meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.</p>
<p>Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah: <em>Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata</em>! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel <em>Balada Si Roy</em>, <em>Al Bahri</em>, dan <em>Pada-Mu Aku Bersimpuh</em>. Juga dari beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.</p>
<p>Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya akan hidup ketika <em>block grant </em>datang, lalu hilang  bulan mendatang.</p>
<p>PROMOSI</p>
<p>Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut, kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu lebih dari cukup.</p>
<p>Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.</p>
<p>Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs <a href="http://www.rumhdunia.net/">www.rumhdunia.net</a>. Bertempat di senayan@library, Depdiknas Jakarta, <a href="http://www.rumhdunia.net/">www.rumhdunia.net</a> pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya. Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan di <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>.</p>
<p>KARAKTER TBM</p>
<p>Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun, pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-</p>
<p>Berkat situs <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>, akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap. Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan sekeluaga menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.</p>
<p>Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di antara kami dan penerbit.</p>
<p>JEJARING</p>
<p>Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM. Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama <em>block grant</em>, kedua <em>block grant</em>, ketiga juga <em>block grant</em>!</p>
<p>Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama <em>block grant</em>, saya tidak yakin TBM yang kita kelola akan berumur panjang. Menerima <em>block grant</em> sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM perintis (Rp. 15 jt).  Berapa bulankah dana itu sanggup menyambung nafas TBM?</p>
<p>Rumah Dunia juga pernah mendapatkan <em>block grant</em> dari Depdiknas 2 kali, tipe B (Rp. 25 jt) pada 2006 dan 2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana <em>block grant</em>, karena setiap bulan kami harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block grant datang.</p>
<p>Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Harus bersabar. Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a, semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate Social Responsibility)-nya!</p>
<p>Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi (World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana untuk menghidupi TBM. Ada banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt (2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!</p>
<p>Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman, bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak donatur. Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),</p>
<p>MERCHANDISE</p>
<p>Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis, bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi terus kami upayakan.</p>
<p>Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat penerbitan GONG Publishing.  Kami berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan ulang buku-buku karya saya; <em>Balada Si Roy</em>. Dengan <em>system print on demand</em>, diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan disumbangkan ke Rumah Dunia.</p>
<p>Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.</p>
<p>Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp. 50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet, yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini, selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga  - insya Allah – akan memiliki unit usaha yang bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.</p>
<p>Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.</p>
<p>Inilah pengalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja, karena saya yakin di antara para pembaca ada yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat untuk kemajuan Taman Bacaan Masyarakat! Hidup literasi! (*)</p>
<p>*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan Pemipin Umum <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> , terpilih sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Munas  Temu Konsolidasi Forum TBM, dengan tema &#8220;Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca Tulis&#8221;,  LPP Hotel, Demangan, Yogyakarta, 22 &#8211; 24 Feb 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGHARGAAN ITU…</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/penghargaan-itu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/penghargaan-itu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 17:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Award]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3171</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3169" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/me-award-iba.jpg"><img class="size-full wp-image-3169" title="me-award-iba" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/me-award-iba.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Dengan XL IBA 2008</p></div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD yang mendistribusikannya kepada Organisasi Kepemudaan yang hanya tergabung di KNPI saja, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Aku sengaja memprovokasi KNPI Banten, agar muncul sebuah wacana atau bahan diskusi. Aku ingin para pengurus dan anggota KNPI Banten inovatif, kreatif, tidak sekedar dijadikan jalan yang memudahkan mereka masuk ke kancah politik. Sudah jadi rahasia umum, kalau KNPI adalah underbouw penguasa dan selalu memuluskan mereka yang ingin jadi penguasa. Setelah aku jelaskan, bahwa aku menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada aku.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/9b-Badminton-Keliling-Indonesia.jpg"><img class="size-full wp-image-3170  alignleft" title="9b-Badminton Keliling Indonesia" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/9b-Badminton-Keliling-Indonesia.jpg" alt="Aku bertanding dengan pebulutangkis non-ccat" width="340" height="243" /></a></p>
<p>ATLET BADMINTON</p>
<p>Bagi aku, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Aku muda (1980 – 1990) adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, aku terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.</p>
<p>Di cabang badminton, aku mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Aku harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun kota, ke luar kota, bahkan saat kuliah di Bandung, aku terbiasa lari dari bukit Dago ke Maribaya. Prestasi yang aku peroleh lumayan juga. Di Serang, aku adalah atlet badminton berlengan satu dan mampu berada di ntim elit kabupaten sejajar dengan yang berlengan dua. Prestasi aku tidak main-main untuk atlet berlengan satu. Aku pernah juara kedua tingkat yunior di Serang, masuk 16 besar se-Jawa Barat, tim kampus UNPAD dan single pertama. Untuk sesama atlet berlengan satu, di level Indonesia, aku jawaranya untuk tunggal, beregu, dan double. Di level Asia Pasific juga.</p>
<p>Bapaklah yang menggembleng tubuhku dari seorang anak kecil berlengan satu yang sedang berada di puncak keputusasaan, hingga menjadi seorang atlet badminton berlengan satu yang penuh rasa percaya diri. Sedangkan Emak yang mengasah hati dan jiwaku, agar tetap berendah hati, tidak menyepelekan dan selalu menghargai lawan-lawanku.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Gong-FIM.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3172" title="Gong-FIM" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Gong-FIM.jpg" alt="Wien Muldian dari Forum Indonesia Membaca memberikan award kepadaku" width="500" height="375" /></a>AKTIVIS PERBUKUAN</p>
<p>Waktu berdetak. Zaman berubah. Bapak dan Emak memfasilitasi aku dengan bacaan; mulai dari Koran, majalah, hingga buku-buku novel berkelas. Akhirnya aku yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah aku ke dunia tulis-menulis. Apalagi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, karena di era orde baru, perlakuan pemerintah sangat diskriminatif terhadap orang cacat.</p>
<p>Aku menyakinkan Bapak dan Emak, tentu diawali dengan konflik pendapat, bahwa profesi menulis bagiku sangat menjanjikan dan tidak menuntut persyaratan apakah dia cacat atau bukan, bergelar sarjana atau tidak. Persyaratannya hanya satu, bisa menulis. Itu saja. Aku memang tidak bergelar sarjana, hanya lulusan SMA dan pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung hingga semester V. Aku memiliki keinginan kuat untuk jadi penulis, wawasan, dan ide-ide menumpuk di kepala. Bagiku itu modal awal untuk jadi penulis.</p>
<p>Bapak awalnya menentang, karena menulis belum memberikan harapan untuk dijadikan sandaran hidup. Bapak menyaratkan kepadaku, menulis boleh saja digeluti asalkan memiliki pekerjaan tetap, sebagai apapun, bahkan walaupun gajinya kecil. “Yang penting punya penghasilan tetap!” Bapak menegaskan.</p>
<p>Tapi Emak memberikan toleransi. Emak memberiku peluang. Diberinya aku kesempatan untuk merantau ke Jakarta. Diberinya aku restu. Bapak tidak bisa berkata apa-apa, selain memberiku ijin pergi menaklukan Jakarta. Bismillah…, pada 1987 aku menuju Jakarta.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/awardwbdku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3173" title="awardwbdku" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/awardwbdku.jpg" alt="" width="311" height="400" /></a>Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan hidupku. Keinginanku menjadi penulis terbentang di depan mata. Karya pertamaku; serial Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI (1988). Bahkan Allah mengabulkan doaku, agar keinginan Bapak terpenuhi. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis berita (wartawan) di Gramedia Majalah pada 1990. Awalnya ditawari di majalah HAI, tapi Arswendo Atmowiloto membutuhkan aku di Tabloid Wartawa Pramuka. Gaji kotorku Rp. 500.000,- Tentu saja Bapak dan Emak senang. Gajiku melebihi gaji saudara-saudaraku yang sarjana. Kemudian aku pindah bekerja jadi penulis scenario TV (script writer) di Indosiar (1995) dan RCTI dari 1997 hingga 2008 dengan gaji berlipat-lipat. Kegiatan menulis tetap aku lakukan. Hingga kini sudah sekitar 65-an novel lahir dari buah pikiranku.</p>
<p>Aku bahkan masih sempat membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia. Ini karena kecintaan aku terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Aku tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban aku sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hanya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.</p>
<p>Aku sering menemukan para tamu yang datang ke Rumah Dunia, bukan hanya untuk bertemu denganku, tapi ingin berkenalan dengan Bapak dan Emak. Memurut mereka, apa-apa yang aku lakukan di Rjmah Dunia, pasti tidak akan bisa terlepas dari peranan Bapak dan Emak. Ya, itu betul. Emak dan Bapak juga pernah melakukan hal sama ketika aku kecil. Ada sekitar 1 lemari buku-buku (novel dan komik) dan majalah mereka keluarkan di teras rumah untuk dibaca orang-orang. Hal itu tersimpan di pikiran dan hatiku. Rumah Bapak dan Emak setiap seusai sholat Isya terbuka untuk siapa saja. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, tikar-tikar digelar dari ruang tengah hingga ke teras. Televisi hitam-putih pun dinyalakan. Para tetangga berdatangan menonton film-film seri yang ditayangkan TVRI.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/20c-Aktivis-Perbukuan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3174" title="20c-Aktivis Perbukuan" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/20c-Aktivis-Perbukuan.jpg" alt="Saat launching buku &quot;Inspiring Stories&quot; di IKAPI Book Fair" width="700" height="525" /></a>KOMPROMI</p>
<p>Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah aku dihadapkan pada dilema pemberian hadiah. Pertama, aku ditawari olleh KNPI Banten. Aku tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 memberi aku penghargaan sebagai budayawan. Sulit aku tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju dan dikenal banyak orang.</p>
<p>“Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. “Sebagai pemimpin, aku harus kompromi. Kamu harus memikirkan segala keputusan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan kamu.”</p>
<p>Tias Tatanka, istrikku tercinta, memberi kebebasan sepenuhnya kepadaku; apakah aku menolak atau menerima. Akhirnya aku terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Banten, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mjlai melirik. Apalagi ketika di acarfa “Keranda Merah Putih” (2007), Gubernur Banten terpilih periode 2007 – 2012, Rt. Atut Chosiyah. SE meresmikan acara dan brdialog dengan para seniman Banten, Rumah Dunia semakin dikenal kalangan pejabat di Banten sebagai komunitas yang netral.</p>
<p>Yang paling menyenangkan hatiku, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada aku, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 juta (dari BNI Plus) dan buku-buku senilai Rp. 10 juta (dari Gramedia) pula. Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika aku sakit, memberi aku penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Aku menolak. Aku mengajukan nama almarhum Dauzan Faaruk sebagai orang yang layak menerima penghargaan itu. Tapi menurut paniita, Dauzan Faaruk sudah menerima itu tahun 2006. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Tidak ada pilihan lain. Kata Bapak dan Emak, “Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik.”</p>
<p>Kompromi lagi-lagi aku lakukan.</p>
<p>Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada aku,. Jujur saja, saat itu aku berpikir, “Aku sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang berhasil aku kalahkan?”</p>
<p>Menyusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, memberi penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, Mei 2007. Kala itu Jusuf Kalla yang menyalami aku. JK tersenyum sambil berpikir, “Siapa, sih, Gola Gong?” Udah gondrong, tangan satu lagi! Ada uang kadeudeuh sebesar Rp. 5 jt. Semua aku terima, dengan pertimbangan Rumah Dunia semakin dikenal orang. Biasanya pada saat resepsi, aku bersama Tias menyebarkan brosur Rumah Dunia kepada orang-orang yang hadir. Dan tentu, saat diwawancara, Rumah Dunia adalah topic utama.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/pict1184.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3175" title="pict1184" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/pict1184.jpg" alt="Penghargaan XL itu.." width="300" height="400" /></a>Masih ada lagi, yaitu penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi Indonesia, pada hari Buku Internasional, 3 April 2008 lalu. Ada hadiah uang sebesar Rp. 10 jt dari panitia World Book Day (Forum Indonesia Membaca, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq), yang diperuntukan untuk membantu biaya pengobatan aku selama 2 bulan di RS Holistik, Purwakarta. Aku dirawat dari Maret – Mei 2008. hadiah itu sangat membantuku.</p>
<p>Paling gress, radio Elshinta menghubungiku. Tuti yang menelepon di Senin (25/1/2010) yang cerah. “Gol A Gong kami usulkan mendapatkan penhargaan dari Elshinta yang berulangtahun ke-42 dan ulang tahun program <em>News and Talk</em> yang ke-10  Penganugrahannya pada 17 Februari 2010 di Planet Hollywood,” begitu Tuti menjelaskan kepadaku. Aku tentu senang mendengarnya. Ini baik untuk Rumah Dunia. Aku katakana kepada Tuti, anggap saja ini penghargaan untuk para relawan Rumah Dunia yang sudah jungkirbalik menggerakkan Rumah Dunia dan aku mewakili mereka menerima hadiah itu! Aku mencandai Tuti, “Hadiahnya mobil pintar, ya! Supaya program perpustakaan keliling Rumah Dunia berjalan lagi!”</p>
<p>Sekarang, mari kita bahu membahu menuju Indonesia Membaca! Dan itu kita mulai dari rumah!</p>
<p>*) Penulis sekarang bekerja di rumah dan mengelola www.rmahdunia.com ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/penghargaan-itu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PARA DUTA CHANGE WITH READING</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/para-duta-change-with-reading/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/para-duta-change-with-reading/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 12:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Buta aksara]]></category>
		<category><![CDATA[Change With Reading]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2635</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Buta aksara di Indonesia jadi fenomena. Disinyalir sekitar 10 juta penduduk di Indonesia masih buta aksara. Mendiknas, Bambang Sudibyo, merasa yakin 2010 nanti angka buta aksara bisa diredam hingga ke 7 juta jiwa. Bagaimana dengan di Banten? Bambang Sudibyo pada puncak Perayaan Hari Aksara Internasinal (HAI) yang dipusatkan di Kota Cilegon, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-full wp-image-2636 alignnone" title="change 2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/change-2.jpg" alt="change 2" width="449" height="218" /></p>
<p style="text-align: left;">Oleh Gol A Gong</p>
<p style="text-align: left;">Buta aksara di Indonesia jadi fenomena. Disinyalir sekitar 10 juta penduduk di Indonesia masih buta aksara. Mendiknas, Bambang Sudibyo, merasa yakin 2010 nanti angka buta aksara bisa diredam hingga ke 7 juta jiwa. <span id="more-2635"></span>Bagaimana dengan di Banten? Bambang Sudibyo pada puncak Perayaan Hari Aksara Internasinal (HAI) yang dipusatkan di Kota Cilegon, Banten, Selasa (8/9) dalam sambutannya mengatakan, “Supaya tidak ada lagi warga buta aksara, wajib belajar sembilan tahun mesti bisa dinikmati semua warga. Kita perkuat terus wajib belajar.”</p>
<p>TEMA</p>
<p>Sementara, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengklaim Provinsi Banten telah berhasil menjalankan program pemberantasan buta aksara dengan baik dan mencapai sasaran. Jika sekitar lima tahun lalu, warga buta aksara mencapai 500 ribu lebih warga, pada tahun 2009 bisa berkurang tinggal sekitar 155 ribu warga. “Kini Banten masuk sepuluh besar provinsi terkecil memiliki penyandang buta aksara. Prestasi ini cukup menggembirakan dan mesti terus ditingkatkan supaya semua warga melek aksara,” kata Atut.</p>
<p>Maka Rumah Dunia yang didirikan pada 3 Maret 2002, merupakan lini sosial Yayasan Pena Dunia, berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, Nomor 006 tanggal 12 Juni 2006, mencoba berpartisipasi dalam bentuk kegiatan sepanjang 2010 dengan tema  <em>Change with Reading”, </em>yang diartikan sebagai<em> </em>“Ubahlah dirimu dengan Membaca”.<em> </em>Rumah Dunia sebagai <em>learning centre</em> di bidang jurnalistik, sastra, teater, seni rupa, dan film bagi masyarakat luas mengajak waraga pelajar dan mahasiswa di Indonesia umumnya dan Banten khususnya memasuki fase membaca dalam arti keseluruhan, mulai dari fenomena di sekitar (lokal) hingga tingkat global.</p>
<p>MOTIVASI</p>
<p>Melalui tema “Change with Reading”, kegiatan di Rumah Dunia sepanjang 2010 dimaksudkan memotivasi seluruh lapisan masyarakat agar aktif membaca dan secara terus-menerus  menyebarkan spirit bahwa dengan membaca bisa mengubah hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Membaca di sini tidak hanya secara tertulis, tetapi juga yang tersirat, seperti mendiskusikan  fenomena kedaerahan (lokal) hingga tingkat yang lebih luas lagi, yakni fenomena nasional bahkan global (dunia).</p>
<p>Tujuan yang diharapkan dari gerakan Change with Reading ini adalah membuka wawasan, mengubah pola pikir, dan meningkatkan kualitas hidup dengan memulai dari kegiatan membaca dan berdiskusi.</p>
<p>DUTA</p>
<p>Untuk mengampanyekan gerakan “Change With Reading” di Banten, maka Rumah Dunia bekerjasama dengan Banten Raya Post, Dinas Pendidikan Provinsi Banten dan Serang Kota mengumpulkan para duta “Change with Reading”; mulai dari pelajar tingkat SD, SLTP, SLTA hingga mahasiswa di perguruan tinggi negeri/swasta pada  Sabtu, 9 Januari 2010, pukul 09.00 – 17.00 WIB, bertempat di Rumah Dunia. Pada hari itu akan ada pencanangan “Change with Reading” bersama HM. Masduki, Wakil Gubernur Banten. Siapa saja boleh datang untuk meramaikan acara.</p>
<p>Selain pencanangan, para duta “Change with Reading” tingkat SD dan SLTP saling mengasah ekspresi dalam lomba menggambar poster. Sedangkan duta SLTA dan perguruan tinggi berkompetisi menuangkan gagasannya tentang “Change with Reading” dalam bentuk essay serta mempresentasikannya di depan dewan juri.</p>
<p>Dengan cara seperti ini, para duta “Change with Reading” sanggup memotivasi teman di sekolah dan kampus, bahkan /masyarakat sekitar agar aktif membaca, dan secara terus-menerus  menyebarkan spirit bahwa dengan membaca bisa mengubah hidup kita menuju ke arah yang lebih baik. Mereka juga diberi kesempatan  mengadakan acara dengan tujuan membuka wawasan teman/masyarakat sekitar, misalnya dengan memulai dari kegiatan membaca dan berdiskusi di sekolah/kampus.</p>
<p>DISKUSI</p>
<p>Selain lomba menggambar poster dan menulis essay bagi para duta “Change with Reading”, pada hari pencanangan itu juga akan ada pameran komunitas literasi serta bazaar buku murah, orasi oleh Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur LKBN Antara), pentas teater Remaja Ciloang dengan lakon “Waktu yang hilang”.</p>
<p>Tentu menu diskusi menjadi bumbu penyedap, yaitu Diskusi Interaktif dengan tema “Change with Reading: Mengubah Hidup dengan Membaca”. Para pembicaranya Eko Endang Koswara (Kadindik Prov. Banten), DR. H. Zulkieflimansyah, SE, MSc, Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D (Dirktur Penmas Depdiknas), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca).</p>
<p>Puncak acara Pencanangan “Change with Reading” oleh Wakil Gubernur Banten, dengan cara membagikan buku kumpulan karya tulis Duta CWR dan menuliskan testimony pada sebidang kanvas, diikuti oleh Ahmad Mukhlis Yusuf, Eko Koswara, Zulkieflimansyah, Ella Yulaelawati dan Wien Muldian.</p>
<p>BIAYA</p>
<p>Pencanangan “Change with Reading”  akan dihadiri sekitar 400 orang  dan memutuhkan biya sebesar Rp. memakan biaya sebagaibikut Rp. 15.000.000,- untuk kesekretariatan, perlengapan seperti menyewa tenda, kursi, dan sound sytem. Konsumsi peserta menyedot anggaran besar. Biaya lainnya untuk kepentingan publikasi (liflet, spandk, dan backdrop, serta hadiah bagi para pemenang lomba.</p>
<p>Jika ada perusahaan yang tertarik bekerjasama dalam bentuk barter; menyumbang konsumsi, misalnya, tentu akan meringankan beban anggaan. Tapi cara lain yang kami lakukan adalah “Galang Dana Rp. 50.000,-“ Itu sudah kami mulai dari para relawan. Jika Anda tertarik menyumbang langsung transfer saja ke BCA Serang, nomor rekening 245 188 5733, atas nama Asih Purwaningtyas C. Sumbangan Anda akan mengubah hidup orang lain. Insya Allah, barokah dan bermanfaat. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/para-duta-change-with-reading/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE SECRET MILLIONAIRE</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/28/the-secret-millionaire/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/28/the-secret-millionaire/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 14:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[BBC Knowledge]]></category>
		<category><![CDATA[Emma Harrison]]></category>
		<category><![CDATA[Garry Eastwood]]></category>
		<category><![CDATA[Gill Fielding]]></category>
		<category><![CDATA[Jutawan]]></category>
		<category><![CDATA[Secret millionaire]]></category>
		<category><![CDATA[Utopia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Saya paling senang menonton program “Secret Millionare” (SM) di chanel BBC Knowledge, salah satu saluran di TV kabel Indovision. Banyak pelajaran berharga tentang kisah sukses para jutawan di Inggris yang masih mau berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dengan cara menyamar menjadi orang biasa. Kadang saya membayangkan bisa menjadi jutawan seperti Mo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-2425" title="Gill" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Gill.jpg" alt="Gill" width="116" height="116" />Oleh Gol A Gong</p>
<p style="text-align: left;">Saya paling senang menonton program “Secret Millionare” (SM) di chanel BBC Knowledge, salah satu saluran di TV kabel Indovision. Banyak pelajaran berharga tentang kisah sukses para jutawan di Inggris yang masih mau berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dengan cara menyamar menjadi orang biasa. Kadang saya membayangkan bisa menjadi jutawan seperti Mo Chaudry, Emma Harrison, Gill Fielding, atau Garry Eastwood yang langsung mendermakan ratusan juta uangnya. Andai saya seperti mereka, Rumah Dunia yang saya dirikan tidak perlu terseok-seok.<span id="more-2423"></span></p>
<p>JUTAWAN MENYAMAR</p>
<p>SM adalah program reality show yang mengajarkan tentang rahasia sukses para jutawan. Mereka berkeliaran dengan menyamar di kota-kota di Inggris, mencari orang-orang atau lembaga yang peduli pada lingkungan di sekitarnya untuk mereka bantu. Ada O’Harra yang mengurusi anak-anak dengan sekolah dramanya, Nenek Wynn relawan di panti cacat, atau Dona’s Dream House yang mengurusi keluarga miskin. Para jutawan itu membantu kelangsungan hidup lembaga atau perorangan dalam hal membayar sewa gedung, membeli peralatan, atau merenovasi gedung. Bahkan para pengurus lembaga social itu dibantu urusan ekonominya. Luar biasa.</p>
<p>Dalam setiap episode SM menghadirkan seorang jutawan yang menjalani hidup <em>under cover </em>dan memakai identitas baru. Dengan begitu, sang miliarder dapat menjalani hidup dalam sebuah komunitas yang kurang beruntung dengan aman. Selama sekitar sepuluh hari sang miliarder hidup <em>side-by-side</em> dengan mereka. Ia ikut merasakan masalah yang dihadapi individu atau komunitas itu. Misalnya, Mo Chaudry yang pada usia 8 tahun sudah meninggalkan Pakistan menuju London, menyamar dan bergabung di komunitas Pakistan. Emma Harrison menolong seorang nenek bernama Wynn yang jadi relawan. Dan Garry Eastwood yang menolon para veteran perang .</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2437" title="The SM" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/The-SM-300x150.jpg" alt="The SM" width="300" height="150" /><br />
Episode paling berkesan adalah saat Gill Fielding pulang kampung ke East End London. Sudah 30 tahun Gill merantai di Sussex. Gill menyamar jadi pelayan restoran. Gill mencari-cari orang atau komunitas yang bisa dibantunya. Tiba-tiba saja Gill berkenalan dengan Sabrina, yang sedang membuat laporan di restoran tempatnya bekerja. Gill mengajak Sabrina berbincang-bincang. Sabrina ternyata ibu dengan 2 anak dan sedang mengandung, mengurusi para perempuan <em>single parents</em>. Sabrina tanpa laptop menyusun rencana. Gill merasa terharu, karena Sabrina yang terbatas ekonominya dan masih menumpang di rumah ibunya, masih sempat memikirkan nasib orang lain. Lalu Gill memberi Sabrina hadiah laptop, uang untuk membantu pemberdayaan para perempuan single parents sebesar 5000 pound. Bahkan luar biasa, Gill menghadiahi Sabrina sebuah rumah. Kata Gill, “Kamu harus mengurusi dirimu dulu, agar makimal mengurusi orang lain.”</p>
<p>Di TV lokal di Indonesia, <em>variety show</em> seperti itu banyak. Tapi tidak memiliki etika. <em>Variety show</em> seperti “Bedah Rumah”, “Uang Kaget”, “Dibayar Lunas”, dan “Minta Tolong” cenderung mengeksploitasi kemiskinan. Program-program  itu tidak mendidik masyarakat untuk menghargai kerja keras. Program itu cenderung mendidik tangan di bawah alias meminta-minta seperti pengemis. Berbeda dengan SM, dimana kita bisa banyak mengambil hikmah tentang proses sukses seorang jutawan.</p>
<p>RUMAH DUNIA</p>
<p>Saat menonton SM, pikiran saya melayang-layang ke Rumah Dunia, pusat belajar yang saya, istri (Tias Tatanka), Toto ST Radik, dan para relawan lainnya seperti Muhzen Den, Ibnu AA, Qizink La Aziva, Abdul Malik, Aji Setiakarya, Indra Kesuma, Langlang Randhawa, Rimba Alangalang, dan Firman Venayaksa dirikan di Serang, Banten pada Maret 2002. Dananya dari uang royalty novel-novel saya dan beberapa donatur yang tidak mengikat. Jujur saja, saya bukan jutawan seperti Emma Harrison, Gill Fielding, atau Garry Eastwood. Tapi, saya ingin sekali hidup ini bermakna seperti mereka. Saya ingin sekali bermanfaat bagi orang lain seperti mereka. Sekecil apapun. Hampir seluruh uang royalty novel-novel saya, setelah urusan keluarga tercukupi, saya investasikan di Rumah Dunia. Saya bahagia dengan Rumah Dunia.</p>
<p>Setelah Rumah Dunia menggelinding 7 tahun, saya mulai keteteran. Biaya operasional Rumah Dunia, yang bergerak di jurnalistik, sastra, film, dan teater membengkak dari tahun ke tahun. Beberapa donatur perorangan datang dan pergi. Pada tahun 2010 ini kegiatan Rumah dunia bertemakan “Change with Reading” dan membutuhkan dana opersional sebesar Rp. 6 juta/bulan untuk membayar listrik, internet, dua buah motor dinas, alat menggambar untuk anak-anak, perpustakaan keliling yang sebulan sekali <em>road show</em> ke kampung-kampung, diskusi di setiap akhir pekan, pertunjukkan teater, dan program beasiswa pendidikan. Sekitar 50% dana sudah tertutupi dari para donatur tetap setiap bulannya seperti Emye, Das Albantani, Mizan, Zainal “Teroris” Abidin, EZ, Nurhayati, Sofie Dewayani, Ganis Supriyadi, Aneka Swalayan, dan Lies YA/Huriyati.</p>
<p>Sebetulnya beberapa jutawan di negeri ini sudah datang ke Rumah Dunia. Mereka adalah Riska Ruswandi dari Marqueen, Netty dari Tupperware, DR. Zulkieflimansyah SE, MSc, Ahmad Mukhlis Yusuf, Herdy Prihanto, dan U. Saefudin Noor, yang menyumbangkan puluhan juta rupiah uangnya untuk pembebasan tanah Rumah Dunia tahap pertama. Bahkan mereka menjadi donatur tetap setiap bulan.</p>
<p>Saya membayangkan, ini agak utopia, para jutawan itu tersesat ke Indonesia dan mampir di Serang, Banten.  Mereka menyamar menjadi relawan di Rumah Dunia. Kalaupun saya tahu, tentu saya akan pura-pura tidak tahu saja. Bagi saya, uang mereka mengalir ke Rumah Dunia dan akan saya pergunakan untuk membebaskan tanah tahap kedua seluas 1873 m2 dimana di atasnya akan saya bangun gedung kesenian tempat para remaja berekspresi, lembaga pendidikan bernama SMA Generasi Baru, kios-kios untuk jajanan khas kampung seperti nasi rabeg, nasi pecel, nasi uduk, ruang pameran lukisan, dan play ground. Ah, jangan mimpi! Tapi, siapa tahu! (*)</p>
<p>*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia dan Pemimpin Umum majalah online <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/28/the-secret-millionaire/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARE BOX ALA BELLA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/care-box-ala-bella/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/care-box-ala-bella/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 04:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Alfamart]]></category>
		<category><![CDATA[Care]]></category>
		<category><![CDATA[Care box]]></category>
		<category><![CDATA[Indomilk]]></category>
		<category><![CDATA[Kecersdasan Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1783</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Suatu hari di saat puasa September 2009 lalu, putri pertama saya, Bella (12 th) membeli susu kemasan merek Indomilk di Alfamart. Seusai buka puasa, dus susu Indomilk tidak dibuang. Bella tekun sendiri menyulap dus susu itu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi anak-anak seusianya di lingkungan tempat kami tinggal, yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_1784" class="wp-caption alignleft" style="width: 385px"><img class="size-full wp-image-1784" title="Care box" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Care-box.jpg" alt="Care box terbuat dari dus minuman susu" width="375" height="500" /><p class="wp-caption-text">Care box terbuat dari dus minuman susu</p></div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p style="text-align: left;">Suatu hari di saat puasa September 2009 lalu, putri pertama saya, Bella (12 th) membeli susu kemasan merek Indomilk di Alfamart. Seusai buka puasa, dus susu Indomilk tidak dibuang.<span id="more-1783"></span> Bella tekun sendiri menyulap dus susu itu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi anak-anak seusianya di lingkungan tempat kami tinggal, yang sudah sibuk dengan <em>hand phone</em> keluaran terbaru. Lalu Bella memberi nama dus minuman Indomilk itu: <em>care box</em>.</p>
<p>PARCEL</p>
<p>Dus itu diperlihatkan kepada kami; saya, ibunya, dan ketiga adiknya – Abi (10 th) , Odi (5 th) , Kaka (4 th). Saya membaca tulisan tangan Bella dengan spidol berwarna hijau di dinding dus kanan:  <em>Sumbangkan uang Anda di sini. Akan disalurkan untuk minuman bergizi pada anak2 yang kurang gizi</em>. Di sisi kiri Bella menulis dengan warna <em>pink</em>: <em>Dengan uang Anda yang disumbangkan  turut menciptakan pelangi di mata mereka. </em>Di bagian depan dengan warna kuning, sehingga saya harus meminta tolong Abi membacakannya: <em>Mari budayakan Rp. 500,-/orang/hari. Ikhlas, pahala, menanti</em>.</p>
<p>Bella berpesan kepada kami, “Nanti diisi, ya. Berapa saja. Abi juga. Sisa uang jajannya dimasukin ke care box.” Abi mengiyakan. Kedua adik Bella yang lain; Odi dan Kaka juga antusias. Bella cuma meminta Rp. 500,-/orang/hari kepada kami untuk dimasukkan ke <em>care box</em>nya. Bella dan Abi uang jajannya Rp. 5000,-/hari. Sedangkan Odi dan Kaka kadang-kadang Rp. 3000,- atau Rp. 2000,-. Mereka semua bersekolah di TK/SD Peradaban. Bella beranggapan, ketiga adiknya bisa menyisikan Rp. 500,-</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_1785" class="wp-caption alignleft" style="width: 385px"><em><em><img class="size-full wp-image-1785" title="Care Box 1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Care-Box-1.jpg" alt="Kaka dan Odi menyerahkan parcel ke teh Riah" width="375" height="500" /></em></em><p class="wp-caption-text">Kaka dan Odi menyerahkan parcel ke teh Riah</p></div>
<p><em>Care box</em> itu Bella tempel di dinding ruangan depan. Saya lihat ada <em>newsletter</em> ditempel di sisinya. Dalam perjalanannya, ketiga adik Bella – selain kami – sesekali mengisi <em>care box</em> itu. Tidak ada paksaan. Hasilnya, sebelum kami mudik lebaran, Bella membuka <em>care box</em>nya. Bella dan ketiga adiknya dengan bersemangat belanja di Alfamart. Lalu Bella <em>and her gank</em> membuat parcel. “Kasihan Teh Riah, belum pernah mengapat hadiah parcel,” kata Bella. Odi dan Kaka menghadiahkan parcel kepada Teh Riah, pembantu kami. Tidak lupa, Bella memotret moment bersejarah ini. Hingga November, <em>care box</em> sudah membantu seorang lagi warga Ciloang, yaitu pak Wawang. Uang yang terkumpul hampir Rp. 50.000,- Dana itu dibelanjakan sembako; gula, telur, minyak, mie,</p>
<p>PROYEK SOSIAL</p>
<p>Saya mendiskusikan hal ini dengan ibunya. Tampaknya Bella akan serius dengan <em>care box</em> ini. Ketika saya tanyakan kepada Bella, care box adalah proyek sosialnya. Dari royalty novel yang didapatnya, Bella ingin menyisihkannya untuk proyek social.</p>
<p>Saya jadi teringat ke masa-masa awal menggelorakan gerakan literasi lokal “Banten Membaca” di Rumah Dunia pada 2000 – 2002. Saya pernah mengusulkan kepada seluruh jajaran pegawai negeri di Pemerintah Provinsi Banten dan anggota dewannya untuk menyisihkan Rp. 50.000,- saja tiap bulan dari penghasilannya. Untuk anggota DPRD Banten, kabupaten dan kota se-Banten saja, asumsi saya, jika masing-masing mencapai 50 orang saja, dikalikan 10 wilayah sudah mencapai 500 orang. Jika Rp. 50.000,- dikalikan 500 orang pejabat di dewan sudah menghasilkan dana 25.000.000,- Dari uang itu bisa dipakai untuk membuat perpustakaan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan taman bacaan masyarakat seperti Rumah Dunia. Dengan dana sebanyak itu perbulannya, saya dan Rumah Dunia bisa melakukan banyak hal; membina taman-taman baca di setiap sudut Banten. Dan tentu gerakan “Banten Membaca” bisa lebih efektif. Insya Allah.</p>
<p>Akankan proyek sosial Bella berjalan mulus, sementara teman-temannya lebih asyik membincangkan hal-hal yang berbau konsumerisme? Emak saya pernah bilang, “Kepedulian sosial harus ditanamkan sejak dini. Caranya dengan mencontohkan, jangan menyuruh.” Saya merasa heran, kenapa harus “kepedulian sosial”? Kenapa tidak ilmu pengetahuan? Emak menegaskan, “Jangan masuk ke wilayah otak dulu. Tapi, hati yang lebih penting.” Tambah Emak, jika hati seorang anak sejak kecil diisi dengan hal-hal baik, maka kecerdasan otak akan datang dengan sendirinya. Belajar bagi anak-anak di saat hati bahagia dan dihiasi bunga-bunga sangat bagus dan dengan cepat si anak mencernanya.</p>
<p>Kecerdasan emosi, ini yang sering dilupakan para orangtua. Hampir kebanyakan orang tua, menginginkan anak-anaknya sudah bisa membaca sejak usia dini, bukan melatih mereka untuk mencintai buku. Akibatnya, setelah mereka dewasa, mereka tumbuh bukan sebagai orang yang sanggup mengungkap makna di balik kata atau membaca tanda-tanda kehidupan. Mereka tumbuh sebagai anak-anak Indonesia yang bagai robot dn hanya cinta pada statistik, follower, instans, dan menjdai generasi yang lemah. Mereka menjadi pintu masuk unsur-unsur dekadensi moral di negeri ini. Tentu kita tidak ingin memiliki anak-anak yang kelak termasuk penghancur bangsa.</p>
<p>Maka jika kami bepergian, kami menunjukkan kehidupan yang sesungguhnya kepada keempat anak kami. Kami membawa mereka melihat pengemis, mengunjungi orang miskin, memberi sedekah jika ada pengemis datang ke rumah, berbagi kepada yang membutuhkan. Dan tentu Rumah Dunia adalah laboratorium kehidupan bagi mereka. Pelan tapi pasti, mereka melihat apa yang dilakukan oleh ayah-ibunya. Mereka mulai paham sejak dini, bahwa kita sebetulnya saling membutuhkan. Kalau kita pintar, tidak serta-merta hasil jerih-payah sendirian. Selalu ada keterlibatan orang lain. Kita tidak pernah berhasil sendirian. Tidak boleh ada anggapan seperti itu. Pintar harus sama-sama. Sejahtera pun sama-sama. (***)</p>
<p>- Rumah Dunia, 28 November 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/care-box-ala-bella/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LANDMARK KOTA YANG MEMBINGUNGKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/landmark-kota-yang-membingungkan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/landmark-kota-yang-membingungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 05:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Gate away]]></category>
		<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Landmark]]></category>
		<category><![CDATA[LPJ Bupati]]></category>
		<category><![CDATA[Patung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1298</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Saat SMA (1980 – 92), setiap malam minggu saya pasti gonjlengan. Setelah masing-masing mengurusi “wakuncar” (waktu kunjug pacar), sekitar pukul 00.00 menuju markas rumah seseorang yang sudah ditunjuk.  Biasanya Sabtu siang kami sudah patungan untuk membeli ayam, beras, dan bumbu-bumbu. Pokoknya, apa saja yang ada di rumah, dibawa untuk makan-makan. Nasinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1300" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1300" title="Monumen daerah" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Monumen-daerah4.jpg" alt="Monumen daerah Serang sudah layak jadi ikon?" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Monumen daerah Serang sudah layak jadi ikon?</p></div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Saat SMA (1980 – 92), setiap malam minggu saya pasti gonjlengan. Setelah masing-masing mengurusi “wakuncar” (waktu kunjug pacar), sekitar pukul 00.00 menuju markas rumah seseorang yang sudah ditunjuk. <span id="more-1298"></span></p>
<p>Biasanya Sabtu siang kami sudah patungan untuk membeli ayam, beras, dan bumbu-bumbu. Pokoknya, apa saja yang ada di rumah, dibawa untuk makan-makan. Nasinya diliwet, walaupun kalah lezat dengan nasi liwet Solo. Bagi anak muda Bantn, tradisi gonjlngan sudah keharusan; ngumpil ngbakar ayam kampung, ngeliwet, dan ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja.</p>
<p>DISKUSI</p>
<p>Tradisi ini saya lestarikan di Rumah Dunia. Dalam sebulan bisa sekali atau dua kali gonjlengan, tergantung siapa yang sedang mndapatkan rezeki berlebih. Topik diskusi bisa apa saja. Seperti Senin (16/11) alam. Kami makan mengunakan daun pisang. Nasi disebar dan 2 ekor ayam bakar dibagi rata. Semua relawan Rumah Dunia duduk memanjang; semua sama rata saling comot nasi dan ayam, serta lauk lainnya seperti tahu, tempe, dan tentu saja sambel. Teermasuk istri saya; Tias Tatanka dan istri Presiden Rumah Dunia, Pramithya Gayatri. Bahkan anak-anak kami. Kebahagiaan dan kegembiraan ynag tiada terkira.</p>
<p>Topik dikusi kali ini adalah tentang <em>landmark</em> tempat tinggal kita. Para relawan Rumah Dunia rata-rata berasal dari kampung. Ibnu dari Cibaliung, Banten Selatan. Gading Tirta dan Ahmad Wayang berasal dari Warung Selikur, Pontang, Serang Timur. Abdul Salam dari Waringinkurung, Serang Barat, dan Rimba dari Menes, Pandeglang. Rata-rata mereka bingung ketika ditaya, apa landmark Banten, yang semisal kita difoto, hasilnya diperlihatkan kepada teman-teman, dan tanpa diberitahu mereka bilan, “Wah, ini di Banten, ya!” Piter tamba yang asalnya dari Palembang nyeletuk, “Jembatan Ampera, semua orang sudah tahu itu Palembang. Tapi, saya baru sekali dan tidak difoto,” ceritanya tertawa.</p>
<p>LPJ BUPATI</p>
<p>Sekitar tahun 2005 di Serang yang sekarang jadi ibu kota Provinsi, pernah ada patung-patung di sudut kota. Jika kita keluar dari pintu tol Serang timur, langsung disambut patung keluarga sejahtera; ayah-ibu-2 anak. Di perempatan Kebon Jahe – Lingkar Selatan ada patung Sultan Ageng Tirtayasa. Tapi, kedua patung itu dihilangkan! Saat seniman dan budayawan Serang protes, alasan bupati Serang waktu itu, Bunyamin, tidak islami. Setelah berdialog dengan DPRD Kab. Serang terbongkarlah “udang di balik batu” bunyamin. Ternyata supaya LPJ 2005 Bunyamin lolos, DPRD Serang memina sarat, agar pstung-patung itu dilenyapkan, karena tidak islami.   Bunyamin menyanggupi. Anehnya, ptung di alun-alun Serang yang biasa disebut Monumen Daerah masih kokoh berdiri. Juga patung “Esa Hilang Dua Terbilang” di Makorem, Royal dan patug harimau di Mapowil, alun-alun selatan Serang.</p>
<p>Lantas, kita mesti berfoto dengan latar belakang apa, agar saat foto itu dikirim ke kerabat jauh dan dipamerkan kepada orang-orang, mreka tahu, “Oh, di Banten, nih! Wah, bagus amat!” Ayo, dimana? Susah nyarinya!</p>
<p>Di Jakarta, kita bisa berfoto dengan latar belakang Monas, semua tahu itu Jakarta. Di Bandung, berfotolah di depan gedung Sate, ktu jelas Bandung, bukan Amerika. Di Palembng dengan jembatan Ampera, di Yogya dengan candi Borobudur, di Solo dengan patung Slamet Riyadi, walau masih perlu terus dipublikasikan.</p>
<p>UBAH JAWARA</p>
<p>Nah, di Banten berfoto-ria dimana? Kalau di ibu kotanya; Serang, rasa-rasanya sulit. Di Cilegon juga sami mawon, walaupun sebetulnya ikon Cilegon dengan Krakatau Steel bisa dibentuk. Sayangnya Krakatau Steel tidak membuat sebuah monument kolosal dengan cita rasa seni tinggi, misalnya, sehingga semua orang yang berwisata ke selat Sunda akan berhenti dan berforo-ria dulu di sana. Tapi, para pemimpin di Banten tidak terpikir sampai ke situ, ya.  “Mestinya sebuah kota seperti Serang sudah harus memikirkan <em>gate away</em>, pintu gerbang, sehingga orang-orang yang datang ke Serang seolah disambut, dimanusiakanlah,” saran Ridwan Kamil ST, dalam Forum <em>Design</em> Seminar Tata kota Serang yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten, Pemkot Serang, dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Banten pada Kamis (29/10), bertempat di Ruang Krakatau Hotel Le Dian. Ridwan menambahkan, bisa saja pintu gerbang itu dalam bentuk tiang-tiang atau monumen.</p>
<p>Di Banten sebetulnya sudah ada ikon menara mesjid Agung Banten warisan para Sultan di Banten Lama. Tapi kejauhan kalau hanya sekedar untuk berfoto-ria. Saya mengusulkan, bagaimana kalau Pemerintah Provinsi Banten membuat monumen seperti Nyoman Nuarta membuat Garuda Wisnu Kencana di Bali? Kolosal dan kini jadi ikon Bali. Di Banten kayaknya cocok kalau  membuat patung seorang jawara; di mana di tangan kanan memegang pena (baca: bukan golok), menandakan sekarang saatnya otak, bukan lagi otot! Ini akan mengubah citra Banten yang identik dengan kekerasan menjadi citra baru yang ramah dan intelektual. Nah, jika iya, siapa yang mau jadi modelnya?</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/17/landmark-kota-yang-membingungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENCARI PELANGI DI BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/mencari-%e2%80%9crumah%e2%80%9d-pelangi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/mencari-%e2%80%9crumah%e2%80%9d-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 01:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampibi]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Ki Amuk]]></category>
		<category><![CDATA[Mencari Pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Saat istri saya, Tias, sedang hamil anak kami yang pertama, sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya. Situasi dan kondisi Banten sebelum menjadi provinsi pada masa itu sangat memprihatinkan. Dominasi sebuah kelompok dengan label jawara , membuat saya berpikir keras, apakah tetap berdomisili di Banten atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_603" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-603" title="Ki Amuk com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Ki-Amuk-com-300x225.jpg" alt="Ki Amuk menynayikan &quot;Mencari Pelangi&quot;" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Ki Amuk menynayikan &quot;Mencari Pelangi&quot;</p></div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Saat istri saya, Tias, sedang hamil anak kami yang pertama, sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya.<span id="more-602"></span> Situasi dan kondisi Banten sebelum menjadi provinsi pada masa itu sangat memprihatinkan. Dominasi sebuah kelompok dengan label jawara , membuat saya berpikir keras, apakah tetap berdomisili di Banten atau mengungsi ke Bogor, Bekasi, atau Depok? Mungkin juga Solo?</p>
<p>Saya sedih dengan Banten, yang ternyata jarak dekat dengan Jakarta tidak serta-merta membuat Banten maju. Di Banten, jalan-jalan kualitasnya parah. Sekolah-sekolah banyak yang ambruk. Saat itu, koran lokal tidak ada. Toko buku terbatas. Dana untuk memberantas buta aksara di korupsi. Jika sepulang kerja di RCTI di akhir pekan, tidak ada sebuah tempat pun yang bisa saya dan istri datangi sebagai tempat wisata kebudayaan (nonton pameran lukisan, misalnya), kecuali urusan perut saja.</p>
<p>Jiwa saya tertekan. Sebagai terapi, jari-jari saya bergerak, merangkai sebuah puisi:</p>
<p>MENCARI PELANGI<br />
-untuk anak-anak masa depanku-</p>
<p>Kini giliranmu menikmati dunia<br />
Barangkali akan lebih keras menderita<br />
Atau lebih gembira<br />
Tapi tak akan kujanjikan kamu<br />
Bisa bermain-main air hujan<br />
Karena mencari pelangi<br />
Adalah siksaan tak terperi</p>
<p>Kini giliranmu menikmati hidup<br />
Walau yang kuwariskan<br />
Adalah jejak-jejakku<br />
Silakan kamu mencari sendiri</p>
<p>Kini giliranmu menikmati semuanya<br />
Pesanku: berilah ibumu kado pelangi<br />
Karena kami rindu hujan!</p>
<p>Kampung Ciloang, Serang<br />
Desember 1997</p>
<p>***</p>
<p>Banyak orang yang membaca puisi ini, mengira ini tentang sajak cinta saya kepada Tias. Sebetulnya sajak ini saya tulis, ketika hati saya kacau, prihatin dengan situasi dan kondisi Banten. “Pelangi” yang saya maksud di sini adalah sebuah cita-cita, terkesan utopia tetang masa depan Banten yang indah seperti saat kemunculan pelangi sehabis hujan di langit!</p>
<p>Saat itu, saya membayangkan, anak-anak saya jika tumbuh di Banten pasti akan menderita. Anak-anak biologis saya, juga anak-anak yang sosiologi kelak, tidak akan pernah bisa menikmati “pelangi”. Saya membayangkan Banten sebagai “rumah’ yang tidak memiliki jiwa. Rumah yang tidak memiliki etika, apalagi estetika.</p>
<p>Lalu, timbullah kepasrahan dalam diri saya. Allah sudah mengatur semuanya. Saya hanya perlu menjaga amanah yang diititpkan Allah lewat anak-anak. Maka, Rumah Dunia saya dan istri dirikan pada 2001 (efektif bergulir 3 Maret 2002), adalah juga karena kecintaan kami kepada anak-anak. Saya dan istri mencoba berbagi, barangkali Rumah Dunia bisa sebagai rumah bersama. Kami berharap, Rumah Dunia menjelma menjadi pelangi yang indah di Banten.</p>
<p>Nah, setelah 12 tahun sajak itu bergulir, apakah “pelangi” yang saya misalkan dengan Banten masa datang, tampak akan terwujud? Lihatlah ke langit; adakah pelangi di sana? Melihat politik dan dinasti di Banten yang didominasi oleh sebuah keluarga saja, masih jauh buku dari rak. Tentang komposisi anggota DPR asal Banten, DPRD Banten, bahkan di tingkat kota Serang, kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Ciilegon , tanggapan orang-orang seperti ini, “Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Berdoa saja. Semoga mereka diberi hidayah!”</p>
<p>Saya melihat keluarga Hj. Rt. Atuit Chosiyah, SE, yang sekarang sebagai Gubernur Banten, sangat irasional menyikapi perpolitikan di Banten. Mereka menyerbu semua posisi di legilatif, bahkan eksekutif Banten hingga legislati di Jakarta. Atut gubernur Banten, Hikmat Tomet, suami Atut, di DPR, putra mereka – Andika Hazrumy DPD DPR RI, istri Andika baru saja dilantik jadi Wakil Ketua DPRD Kota Serang dan masih banyak lagi.Saya pernah membaca tim sukses Andika berargumen di milis wongbanten, bahwa pencalonan Andika sebagai calon anggota DPD DPR RI dari Banen adalah &#8220;hak politik&#8221; setiap WNI. Saya mengiyakn. Semua orang memang memiliki hak politik. Tinggal urusannya adalah etika politik dan persoalan moral saja. Saat Andika diundang menjadi pembicara di Rumah Dunia dengan tema &#8216;Politik dan Dinasti&#8221;, dengan berbagai alasan, Andika tidak datang. Saat itu yang datang Ali suro, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, Ms.C, Prof. Dr. Ibnu Hamad, dan Abdul Hamid, MSi.</p>
<p>Abdul Hamid, MSi, asal Pandeglang, yang kini dosen di Universitas Indonesia, Depok, dan Untirta Serang,  menyebut mereka sebagai “ampibi” alias &#8220;Anak, mantu, papa, ibu, bibi” ngumpul di kantor pemerintahan dan kantor dewan. Saya hanya bisa berdo’a saja kepada Allah sWT, semoga keluarag Atut lebih mementingkan rakyat Banten daripada keluaga atau kerabatnya.</p>
<p>Tapi kecemasan saya tentang masa depan Banten yang tidak akan jaya terus bergulir. Ketika Firman Venayaksa memusikalisasikan puisi saya ini dengan kelompoknya; Ki Amuk dan diproduseri Lawang Bagja membuat album berjudul “Mencari Pelangi, tetap saja muncul kecemasan itu. Firman menyanyikannya dengan suara rintihan, seolah menegaskan kekhawatiran saya, bahwa Banten memang masih gelap-gulita. Setiap Firman dan Ki Amuk latihan di panggung Rumah Dunia, saya makin tercenung saat mendengarkan lagu “Mencari Pelangi”.</p>
<p>Jangan-jangan, Banten sebagai “rumah” hanya untuk sekelompok orang saja? (*)</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/mencari-%e2%80%9crumah%e2%80%9d-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

