ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong

Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada 18 Juni 1942 duduk di kursi roda dengan penuh haru. Sedangkan Fergie melambaikan tangannya kepada para penyambutnya. Gubernur Banten 2017, yang kini dipegang seorang cendekiawan asal Pandeglang, profesor di bidang ilmu strategi marketing, langsung menyalami mereka. “Selamat datang Sir Paul dan Sir Fergi di tanah sultan ini,” kata Gubernur yang cendekiawan itu. Kedua orang hebat asal Inggris itu tersenyum . lanjutkan membaca »

PANGGUNG RUMAH DUNIA: MEMBENTUK KARAKTER CINTA DAMAI

Oleh Gol A Gong

“Free us from war, poverty, illiteracy, discrimination, fear, hunger.

Create peace…” [Global Children’s Wishes]

***

Suatu siang, di tahun 2005, panggung di sudut Rumah Dunia, pusat belajar masyarakat di Kampung Ciloang, Serang Banten, dipenuhi anak-anak. Mereka dengan malu-malu, cemas, gugup, memberanikan diri naik ke panggung. Menceritakan kisah menarik di sekolah, tentang keluarga mereka, atau apa saja yang sudah mereka alami. lanjutkan membaca »

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat. lanjutkan membaca »

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong

Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan dengan proposal.

DIRI SENDIRI

Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA (1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini literasi, siapa ingin maju! Ada yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot ketimbang otak.

Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu, kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.

Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka – meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah: Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel Balada Si Roy, Al Bahri, dan Pada-Mu Aku Bersimpuh. Juga dari beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.

Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya akan hidup ketika block grant datang, lalu hilang  bulan mendatang.

PROMOSI

Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut, kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu lebih dari cukup.

Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.

Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs www.rumhdunia.net. Bertempat di senayan@library, Depdiknas Jakarta, www.rumhdunia.net pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya. Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan di www.rumahdunia.net.

KARAKTER TBM

Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun, pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-

Berkat situs www.rumahdunia.net, akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap. Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan sekeluaga menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.

Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di antara kami dan penerbit.

JEJARING

Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM. Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama block grant, kedua block grant, ketiga juga block grant!

Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama block grant, saya tidak yakin TBM yang kita kelola akan berumur panjang. Menerima block grant sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM perintis (Rp. 15 jt).  Berapa bulankah dana itu sanggup menyambung nafas TBM?

Rumah Dunia juga pernah mendapatkan block grant dari Depdiknas 2 kali, tipe B (Rp. 25 jt) pada 2006 dan 2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana block grant, karena setiap bulan kami harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block grant datang.

Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Harus bersabar. Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a, semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate Social Responsibility)-nya!

Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi (World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana untuk menghidupi TBM. Ada banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt (2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!

Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman, bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak donatur. Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),

MERCHANDISE

Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis, bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi terus kami upayakan.

Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat penerbitan GONG Publishing.  Kami berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan ulang buku-buku karya saya; Balada Si Roy. Dengan system print on demand, diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan disumbangkan ke Rumah Dunia.

Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.

Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp. 50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet, yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini, selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga  - insya Allah – akan memiliki unit usaha yang bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.

Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.

Inilah pengalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja, karena saya yakin di antara para pembaca ada yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat untuk kemajuan Taman Bacaan Masyarakat! Hidup literasi! (*)

*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan Pemipin Umum www.rumahdunia.com dan www.rumahdunia.net , terpilih sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Munas  Temu Konsolidasi Forum TBM, dengan tema “Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca Tulis”,  LPP Hotel, Demangan, Yogyakarta, 22 – 24 Feb 2010

PENGHARGAAN ITU…

Dengan XL IBA 2008

Oleh Gol A Gong

Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD yang mendistribusikannya kepada Organisasi Kepemudaan yang hanya tergabung di KNPI saja, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Aku sengaja memprovokasi KNPI Banten, agar muncul sebuah wacana atau bahan diskusi. Aku ingin para pengurus dan anggota KNPI Banten inovatif, kreatif, tidak sekedar dijadikan jalan yang memudahkan mereka masuk ke kancah politik. Sudah jadi rahasia umum, kalau KNPI adalah underbouw penguasa dan selalu memuluskan mereka yang ingin jadi penguasa. Setelah aku jelaskan, bahwa aku menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada aku.

Aku bertanding dengan pebulutangkis non-ccat

ATLET BADMINTON

Bagi aku, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Aku muda (1980 – 1990) adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, aku terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.

Di cabang badminton, aku mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Aku harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun kota, ke luar kota, bahkan saat kuliah di Bandung, aku terbiasa lari dari bukit Dago ke Maribaya. Prestasi yang aku peroleh lumayan juga. Di Serang, aku adalah atlet badminton berlengan satu dan mampu berada di ntim elit kabupaten sejajar dengan yang berlengan dua. Prestasi aku tidak main-main untuk atlet berlengan satu. Aku pernah juara kedua tingkat yunior di Serang, masuk 16 besar se-Jawa Barat, tim kampus UNPAD dan single pertama. Untuk sesama atlet berlengan satu, di level Indonesia, aku jawaranya untuk tunggal, beregu, dan double. Di level Asia Pasific juga.

Bapaklah yang menggembleng tubuhku dari seorang anak kecil berlengan satu yang sedang berada di puncak keputusasaan, hingga menjadi seorang atlet badminton berlengan satu yang penuh rasa percaya diri. Sedangkan Emak yang mengasah hati dan jiwaku, agar tetap berendah hati, tidak menyepelekan dan selalu menghargai lawan-lawanku.

Wien Muldian dari Forum Indonesia Membaca memberikan award kepadakuAKTIVIS PERBUKUAN

Waktu berdetak. Zaman berubah. Bapak dan Emak memfasilitasi aku dengan bacaan; mulai dari Koran, majalah, hingga buku-buku novel berkelas. Akhirnya aku yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah aku ke dunia tulis-menulis. Apalagi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, karena di era orde baru, perlakuan pemerintah sangat diskriminatif terhadap orang cacat.

Aku menyakinkan Bapak dan Emak, tentu diawali dengan konflik pendapat, bahwa profesi menulis bagiku sangat menjanjikan dan tidak menuntut persyaratan apakah dia cacat atau bukan, bergelar sarjana atau tidak. Persyaratannya hanya satu, bisa menulis. Itu saja. Aku memang tidak bergelar sarjana, hanya lulusan SMA dan pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung hingga semester V. Aku memiliki keinginan kuat untuk jadi penulis, wawasan, dan ide-ide menumpuk di kepala. Bagiku itu modal awal untuk jadi penulis.

Bapak awalnya menentang, karena menulis belum memberikan harapan untuk dijadikan sandaran hidup. Bapak menyaratkan kepadaku, menulis boleh saja digeluti asalkan memiliki pekerjaan tetap, sebagai apapun, bahkan walaupun gajinya kecil. “Yang penting punya penghasilan tetap!” Bapak menegaskan.

Tapi Emak memberikan toleransi. Emak memberiku peluang. Diberinya aku kesempatan untuk merantau ke Jakarta. Diberinya aku restu. Bapak tidak bisa berkata apa-apa, selain memberiku ijin pergi menaklukan Jakarta. Bismillah…, pada 1987 aku menuju Jakarta.

Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan hidupku. Keinginanku menjadi penulis terbentang di depan mata. Karya pertamaku; serial Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI (1988). Bahkan Allah mengabulkan doaku, agar keinginan Bapak terpenuhi. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis berita (wartawan) di Gramedia Majalah pada 1990. Awalnya ditawari di majalah HAI, tapi Arswendo Atmowiloto membutuhkan aku di Tabloid Wartawa Pramuka. Gaji kotorku Rp. 500.000,- Tentu saja Bapak dan Emak senang. Gajiku melebihi gaji saudara-saudaraku yang sarjana. Kemudian aku pindah bekerja jadi penulis scenario TV (script writer) di Indosiar (1995) dan RCTI dari 1997 hingga 2008 dengan gaji berlipat-lipat. Kegiatan menulis tetap aku lakukan. Hingga kini sudah sekitar 65-an novel lahir dari buah pikiranku.

Aku bahkan masih sempat membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia. Ini karena kecintaan aku terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Aku tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban aku sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hanya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.

Aku sering menemukan para tamu yang datang ke Rumah Dunia, bukan hanya untuk bertemu denganku, tapi ingin berkenalan dengan Bapak dan Emak. Memurut mereka, apa-apa yang aku lakukan di Rjmah Dunia, pasti tidak akan bisa terlepas dari peranan Bapak dan Emak. Ya, itu betul. Emak dan Bapak juga pernah melakukan hal sama ketika aku kecil. Ada sekitar 1 lemari buku-buku (novel dan komik) dan majalah mereka keluarkan di teras rumah untuk dibaca orang-orang. Hal itu tersimpan di pikiran dan hatiku. Rumah Bapak dan Emak setiap seusai sholat Isya terbuka untuk siapa saja. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, tikar-tikar digelar dari ruang tengah hingga ke teras. Televisi hitam-putih pun dinyalakan. Para tetangga berdatangan menonton film-film seri yang ditayangkan TVRI.

Saat launching buku "Inspiring Stories" di IKAPI Book FairKOMPROMI

Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah aku dihadapkan pada dilema pemberian hadiah. Pertama, aku ditawari olleh KNPI Banten. Aku tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 memberi aku penghargaan sebagai budayawan. Sulit aku tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju dan dikenal banyak orang.

“Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. “Sebagai pemimpin, aku harus kompromi. Kamu harus memikirkan segala keputusan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan kamu.”

Tias Tatanka, istrikku tercinta, memberi kebebasan sepenuhnya kepadaku; apakah aku menolak atau menerima. Akhirnya aku terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Banten, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mjlai melirik. Apalagi ketika di acarfa “Keranda Merah Putih” (2007), Gubernur Banten terpilih periode 2007 – 2012, Rt. Atut Chosiyah. SE meresmikan acara dan brdialog dengan para seniman Banten, Rumah Dunia semakin dikenal kalangan pejabat di Banten sebagai komunitas yang netral.

Yang paling menyenangkan hatiku, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada aku, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 juta (dari BNI Plus) dan buku-buku senilai Rp. 10 juta (dari Gramedia) pula. Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika aku sakit, memberi aku penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Aku menolak. Aku mengajukan nama almarhum Dauzan Faaruk sebagai orang yang layak menerima penghargaan itu. Tapi menurut paniita, Dauzan Faaruk sudah menerima itu tahun 2006. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Tidak ada pilihan lain. Kata Bapak dan Emak, “Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik.”

Kompromi lagi-lagi aku lakukan.

Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada aku,. Jujur saja, saat itu aku berpikir, “Aku sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang berhasil aku kalahkan?”

Menyusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, memberi penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, Mei 2007. Kala itu Jusuf Kalla yang menyalami aku. JK tersenyum sambil berpikir, “Siapa, sih, Gola Gong?” Udah gondrong, tangan satu lagi! Ada uang kadeudeuh sebesar Rp. 5 jt. Semua aku terima, dengan pertimbangan Rumah Dunia semakin dikenal orang. Biasanya pada saat resepsi, aku bersama Tias menyebarkan brosur Rumah Dunia kepada orang-orang yang hadir. Dan tentu, saat diwawancara, Rumah Dunia adalah topic utama.

Penghargaan XL itu..Masih ada lagi, yaitu penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi Indonesia, pada hari Buku Internasional, 3 April 2008 lalu. Ada hadiah uang sebesar Rp. 10 jt dari panitia World Book Day (Forum Indonesia Membaca, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq), yang diperuntukan untuk membantu biaya pengobatan aku selama 2 bulan di RS Holistik, Purwakarta. Aku dirawat dari Maret – Mei 2008. hadiah itu sangat membantuku.

Paling gress, radio Elshinta menghubungiku. Tuti yang menelepon di Senin (25/1/2010) yang cerah. “Gol A Gong kami usulkan mendapatkan penhargaan dari Elshinta yang berulangtahun ke-42 dan ulang tahun program News and Talk yang ke-10  Penganugrahannya pada 17 Februari 2010 di Planet Hollywood,” begitu Tuti menjelaskan kepadaku. Aku tentu senang mendengarnya. Ini baik untuk Rumah Dunia. Aku katakana kepada Tuti, anggap saja ini penghargaan untuk para relawan Rumah Dunia yang sudah jungkirbalik menggerakkan Rumah Dunia dan aku mewakili mereka menerima hadiah itu! Aku mencandai Tuti, “Hadiahnya mobil pintar, ya! Supaya program perpustakaan keliling Rumah Dunia berjalan lagi!”

Sekarang, mari kita bahu membahu menuju Indonesia Membaca! Dan itu kita mulai dari rumah!

*) Penulis sekarang bekerja di rumah dan mengelola www.rmahdunia.com ***

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010