<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Jawara</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/figur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>JELANG ODE KAMPUNG #4 RUMAH DUNIA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/08/jelang-ode-kampung-4-rumah-dunia/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/08/jelang-ode-kampung-4-rumah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 09:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4304</guid>
		<description><![CDATA[NYEBAR SURAT DAN BELAJAR KARAKTER ORANG Oleh Ahmad Wayang -  Perhelatan Ode Kampung #4 pada tahun 2010 kembali digelar. Ode Kampung (OK) adalah ajang pertemuan antar individu, intraindividu dan antar komunitas se-Indonesia yang diinisiasi oleh Rumah Dunia bekerjasama dengan komunitas se-Banten; Kubah Budaya, Sanggar Sastra Serang, Gesbica IAIN, Kafe Ide Untirta dan FLP Serang. OK [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Bandeng-b.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4305" title="Bandeng b" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/12/Bandeng-b.jpg" alt="" width="250" height="186" /></a>NYEBAR SURAT DAN BELAJAR KARAKTER ORANG</strong></p>
<p>Oleh Ahmad Wayang -  Perhelatan Ode Kampung #4 pada tahun 2010 kembali digelar. Ode Kampung (OK) adalah ajang pertemuan antar individu, intraindividu dan antar komunitas se-Indonesia yang diinisiasi oleh Rumah Dunia bekerjasama dengan komunitas se-Banten; Kubah Budaya, Sanggar Sastra Serang, Gesbica IAIN, Kafe Ide Untirta dan FLP Serang.<span id="more-4304"></span></p>
<p>OK 4 mengusung teman ‘Banten Art Festival’ yang akan berlangsung pada (9-12 Desember 2010), bertempat di Taman Budaya Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam 40 Ciloang, Serang. Ketua pelaksana Firman Venayaksa mengatakan. “OK kali ini lebih menonjolkan seni. Seperti pertunjukan tari dari Raksa Budaya, Rampak Bedug, Marawis, Angklung Buhun, serta berbagai pertunjukan Monolog, teater Gumilar, Teater Studio Indonesia dengan ‘Bebegig Angin’, GATES,  teater Mandar dari Sulawesi Barat, dan lainnya.</p>
<p>Pada Ode Kampung I Rumah Dunia mengusung tema “Temu Sastrawan Se-Indonesia” (Februari 2006), Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra Se-Indonesia” (Juli 2007) yang dihadiri oleh 200 sastrawan se-Nusantara. Dan Ode Kampung III dengan tema “Temu Komunitas Literasi” (Desember 2008) yang mencoba menyebarkan virus literasi dalam gerakan literasi lokal menuju Indionesia membaca.</p>
<p><strong>Surat </strong></p>
<p>Jauh-jauh hari OK 4 sudah dibicarakan. Kepanitaian disusun. Ketua Pengarang adalah Gol A Gong. Semua relawan Rumah Dunia kebagian tugas. Saya kebagian di publikasi dan dokumentasi, termasuk dalam pengiriman surat-menyurat. Kali ini saya akan mencoba menuliskan atau sedikitnya bercerita tentang pengalaman saya dalam pengiriman surat OK 4 kepada Dinas Serang, Sekolah, maupun Sponsor OK 4. Ya, itulah tugas saya pada acara yang ditungu-tungu ini, yaitu OK 4.</p>
<p>Gara-gara tugas jadi pengantar surat, sedikitnya saya jadi tahu tempat-tempat di Serang dan sekitarnya, seperti kantor dinas Provinsi dan Kota. Mengirim surat juga membuat saya bisa bertemu dengan orang-orang ‘penting’ di Banten dan saya jadi sedikit tahu karater mereka. Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika mengirim surat dari kantor ke kantor. Ada kalanya saya dicuekin, sikap si penerima surat begitu dingin, ada juga yang biasa saja, sampai yang antusias, atau kadang saya disuruh lewat bagian Humas ini dan itu dulu, padahal saya tahu ujung-ujungnya surat itu akan sampai ke meja di depan saya ini. Katanya itu sudah prosedur yang harus dilalui. Atau tekadang saya mendapti penerima surat yang cuek bebek, tapi saya tetap mencoba sedikit menjelaskan isi surat ini. “Oh ya, di dalam surat ini juga sudah tertulis kan?” katanya seraya mengacungkan surat itu. Tapi ada juga yang menyambut baik dan senang mendapat undangan dari Rumah Dunia.</p>
<p>Pengalaman yang lain, ketika saya mengirim surat pada salah satu Sponsor  OK 4. Saya kaget, karena saya dikira meminta sumbangan. “Aduh maaf, kebetulan Pak direkturnya tidak ada, dan untuk sumbangan kami mohon maaf, tidak bisa memberi,” katanya. Padahal di awal datang, saya sudah mengenalkan diri saya dengan ramah pada si penjaga, jika saya dari Rumah Dunia yang ingin mengirimkan surat buat Direktur. Papan jalan sebagai alas surat tanda terima saya sodorkan. “Ini cuma tanda terima surat, bukan minta sumbangan,” jawab saya. Si penjaga itu langsung meminta maaf pada saya. Dalam hati saya tertawa. Saya katakan lagi, jika saya bukan sedang meminta sumbangan uang, melainkan hanya mengirim surat saja. Saya bilang ini surat undangan acara OK 4. Mulut Bapak itu lalu membulat. Saya lalu bertanya dalam hati, apa mungkin saya terlihat seperti orang-orang pengambil sumbangan-sumbangan yang sering kita lihat di Serang ini?</p>
<p><strong>Belajar karakter</strong></p>
<p>Tentang saya yang ditugaskan jadi pengirim surat (keliling Kota Serang dengan motor Dinas Rumah Dunia dan banyak bertemu orang-orang) saya lalu jadi paham, ternyata saya sedang dilatih belajar berkomunikasi oleh Gol A Gong. Saya sadar tugas ini tidak hanya semata tok mengirim surat. Tapi ada pembelajaran di dalamnya. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, dalam perjalanan mengirim surat, saya juga sekaligus belajar berkomunikasi dan bisa bertemu dengan orang banyak dengan karakter yang beragam. Berbicara mengenai banayak orang dan karakternya, maka datang saja pada perhelatan akbar OK 4 ini, perhelatan kebudayaan atau pesta bagi sastarawan ini kiranya sayang untuk dilewatkan.</p>
<p>Salam. (*)</p>
<p>*) Penulis adalah Mahasiswa IAIN ‘SMH’ Banten, smester I. Relawan Rumah Dunia dan wartawan www.rumahdunia.com.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/12/08/jelang-ode-kampung-4-rumah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DANU: SEKALI HIDUP HARUSLAH BERARTI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-haruslah-berarti/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-haruslah-berarti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 16:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[berarti]]></category>
		<category><![CDATA[harus]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3846</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas adalah motto yang dijadikan landasan Danu Muchamad Syarifudin dalam meniti karir di bidang konveksi. Lelaki yang akrab di sapa Danu ini mengawali usaha konveksi pada pertengahan 2008. Atau persis ketika Danu duduk di bangku kuliah semester VII Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung. Danu yang bisa dikatakan serba kecukupan lantas tak membuat dirinya menggantungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Danu1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3845" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Danu1.jpg" alt="" width="500" height="667" /></a>Judul di atas adalah motto yang dijadikan landasan Danu Muchamad Syarifudin dalam meniti karir di bidang konveksi. Lelaki yang akrab di sapa Danu ini mengawali usaha konveksi pada pertengahan 2008. Atau persis ketika Danu duduk di bangku kuliah semester VII Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung.</p>
<p>Danu yang bisa dikatakan serba kecukupan lantas tak membuat dirinya menggantungkan hidup pada kemapanan orangtuanya. Justru dengan keadaan ini dia memanfaatkan untuk berbisnis konveksi. Tak pelak dukungan dari orangtua pun mengalir. “Alhamdulillah, orangtua amat mendukung dengan usaha yang saya geluti ini,” kata mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UNPAD Bandung ini.</p>
<p>Ide usaha ini timbul saat Danu berkenalan dengan Agus, yang berprofesi sebagai tukang jahit. Berangkat dari sanalah anak ke-4 dari 5 bersaudara ini menjajal bisnis konveksi. Dengan bermodalkan uang Rp. 350.000,-.  Danu sudah mendapatkan 15 kilogram bahan seperti Katun kombet, CVC, PE, dan TC. “Dari bahan itu menghasilkan 75 pcs kaos dengan keuntungan Rp. 750 ribu,” kata lelaki yang hobi main bola.</p>
<p>Status mahasiswa yang disandang tak memengaruhi Danu minder ataupun gengsi. Lagi-lagi peluang ini justru dimanfaatkan anak dari pasangan H. Ano Sukarna dan Hj. Yeni untuk memasarkan produk kaosnya kepada rekan-rekannya. “Kenapa mesti malu yang penting halal dan menghasilkan pengalaman,” tutur Danu yang saat ini tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC).</p>
<p>Seiring waktu, roda usaha yang dijalankan Danu terus berputar. Pelanggan demi pelanggan baik itu dari rekannya ataupun orang lain mulai berdatangan. Alhasil, pemesanan semakin bertambah. Untuk memuaskan para pelanggan Danu bekerja sama dengan rekannya dari Ponpes Gontor, Jawa Timur, Ilyas, yang juga berbisnis konveksi. “Pada 2009 saya dan Ilyas resmi membuka tempat di Parakan Saat, Bandung,” ujar Danu. Dari kerja sama ini, Danu memiliki 1 mesin jahit, 2 mesin obras, 1 mesin operdek, 1 mesin rantai dan seperangkat alat sablon. “Karena dengan memiliki mesin sendiri waktu pengerjaannya lebih efesien dan untuk menjaga kepercayaan serta kepuasan pelanggan,” terang mahasiswa jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi ini.</p>
<p>Selain menerima pesanan Danu juga membuka toko di jalan Dipati Ukur, Bandung. Harga per kaos relatif terjangkau dari mulai Rp. 35 ribu, Rp. 25 ribu hingga Rp. 20 ribu. “Untuk saat ini produk yang kami pasarkan bermark ‘Kompack’. Rencananya kalau bisa tembus ke Distro-Distro akan kami ganti dengan label ‘Colektif’,” harapnya. Masih kata Danu, dirinya tak takut dengan persaingan yang ada sekarang. “Justru bersaing dengan orang-orang kreatif, membuat saya termotivasi untuk meraih ide,” tutupnya. Maju terus pantang mundur, Danu! (Harir Baldan).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-haruslah-berarti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DANU: SEKALI HIDUP HARUS BERARTI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-harus-berarti/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-harus-berarti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 18:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Jawara Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3821</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas adalah motto yang dijadikan landasan Danu Muchamad Syarifudin dalam meniti karirnya di bidang konveksi. Lelaki yang akrab disapa Danu ini mengawali usaha konveksinya pada pertengahan 2008. Atau persisnya ketika Danu duduk di bangku semester 7 Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung. Danu yang bisa dikatakan serba kecukupan lantas tak membuat dirinya menggantungkan hidup pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Danu-copy1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3823" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Danu-copy1.jpg" alt="" width="227" height="301" /></a>Judul di atas  adalah motto yang dijadikan landasan Danu Muchamad Syarifudin dalam meniti karirnya di bidang konveksi. Lelaki yang akrab disapa Danu  ini mengawali usaha konveksinya pada pertengahan 2008. Atau persisnya ketika  Danu duduk di bangku semester 7 Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung.</p>
<p>Danu yang bisa  dikatakan serba kecukupan lantas tak membuat dirinya menggantungkan hidup pada kemapanan orangtuanya. Justru dengan keadaan  ini dia memanfaatkan untuk berbisnis konveksi. Tak pelak dukungan dari orangtua  pun mengalir. “Alhamdulillah, orangtua amat mendukung dengan usaha yang saya  geluti ini,” kata Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UNPAD,  Bandung ini.</p>
<p>Ide usaha ini  sendiri timbul saat Danu berkenalan dengan Agus, yang berprofesi sebagai tukang jahit. Berangkat dari sinilah anak ke-4 dari 5 bersaudara ini menjajal bisnis konveksi. Dengan bermodalkan Rp.  350.000,-. Danu sudah mendapatkan 15 kilogram bahan seperti Katun kombet, CVC, PE, dan  TC. “Dari bahan itu menghasilkan 75 pcs kaos dengan keuntungan Rp. 750 ribu,” kata  lelaki yang hobi main bola ini.</p>
<p>Status mahasiswa  yang disandang tak memengaruhi Danu minder ataupun gengsi. Lagi-lagi peluang ini justru dimanfaatkan anak dari pasangan H. Ano  Sukarna dan Hj. Yeni untuk memasarkan produk kaosnya kepada rekan-rekannya. “Kenapa  mesti malu yang penting, kan halal dan menghasilkan pengalaman,” tutur lelaki  yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC) ini.</p>
<p>Seiring waktu,  roda usaha yang dijalankan Danu terus berputar. Pelanggan demi pelanggan baik itu yang dari rekannya atau pun orang lain mulai berdatangan. Alhasil, pemesanan pun semakin bertambah. Untuk memuaskan  para pelanggan Danu bekerjasama dengan rekannya dari Ponpes Gontor, Jawa  Timur, Ilyas, yang juga berbisnis konveksi. “Pada 2009 saya dan Ilyas resmi  membuka tempat di Parakan Saat, Bandung,” ujar Danu. Dari kerjasama ini Danu  memiliki 1 mesin jahit, 2 mesin obras, 1 mesin operdek, 1 mesin rantai dan  seperangkat alat sablon. “Karena dengan memiliki mesin sendiri waktu pengerjaannya  pun lebih efesien dan untuk menjaga kepercayaan serta kepuasan pelanggan,”  terang mahasiswa jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi ini.</p>
<p>Selain menerima  pesanan Danu juga membuka toko di jalan Dipati Ukur, Bandung. Harga per kaos relatif terjangkau dari mulai Rp. 35 ribu, Rp. 25 ribu  hingga Rp. 20 ribu. “Untuk saat ini produk yang kami pasarkan bermark  ‘Kompack’. Rencananya kalo bisa tembus ke Distro-Distro akan kami ganti dengan  label ‘Colektif’,” harapnya. Masih kata Danu, dirinya tak takut dengan  persaingan yang ada sekarang. “Justru bersaing dengan orang-orang kreatif saya akan termotivasi untuk meraih ide,” tutupnya. Maju terus pantang mundur,  Danu! (Harir Baldan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/danu-sekali-hidup-harus-berarti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAHMAT HERNANDI: SUDAH ADA SURAT IZIN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/26/rahmat-hernandi-sudah-ada-surat-izin/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/26/rahmat-hernandi-sudah-ada-surat-izin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 09:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Pemandian Savanah Batu Kancah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3617</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8212;Mungkin akan berkisah lain jika tanah yang dimiliki Rahmat Hernandi (59) tak ada batu ‘Kancah’-nya. Konon menurutnya, dari batu itulah mata-mata air panas bercucuran. Keterangan ini agak sedikit menggelitik penulis. Tapi apa yang dikatakannya mungkin ada benarnya, sehingga pancuran air itu membuat kubangan yang tak terhingga debit airnya sampai sekarang. Bahkan masih kata istri Euis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/PICT2752.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3749" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/PICT2752.jpg" alt="" width="480" height="640" /></a>CIPANAS&#8212;Mungkin akan berkisah lain jika tanah yang dimiliki Rahmat Hernandi (59) tak ada batu ‘Kancah’-nya. Konon menurutnya, dari batu itulah mata-mata air panas bercucuran. Keterangan ini agak sedikit menggelitik penulis. Tapi apa yang dikatakannya mungkin ada benarnya, sehingga pancuran air itu membuat kubangan yang tak terhingga debit airnya sampai sekarang. Bahkan masih kata istri Euis ini, mampu mengisi empat kolam sekaligus. Dua diantaranya kolam pemandian Tirta Lebak Buana yang lokasinya 20 meter dari pemandian Savanah Batu Kancah.</p>
<p>Persisnya pada tahun 2008 Rahmat memulai usaha pemandian air panasnya. Keinginan  ini timbul selain dilatari sudah pensiun dari Dinas Kehutanan juga ingin memanfaatkan tanahnya yang mencapai 2 hektar. “Alasannya karena ingin mengembangkan potensi alamnya yakni, air panasnya,” Rahmat menjelaskan.</p>
<p>Niat Rahmat membuka objek Pariwisata air panas bukan tanpa pengorbanan dan kerja keras. Untuk membangun pemandian Savannah Batu Kancah dia harus mengeluarkan Rp. 250 juta. “Modalnya dari tabungan hasil 9 kali panen jeruk,” akunya.</p>
<p>Modal sebesar itu dipergunakan untuk pembangunan kolam, saung-saung peristirahatan, 6 kamar mandi, dan peralatan lainnya. Kendati sarana dan prasana belum melengkapi namun pemandian yang berada di jalan Raya Rangkasbitung Km 38, Lebak ini, sudah memiliki surat izin. Surat izin ini terdiri dari Surat Izin Usaha Pariwisata (SIUP), Surat Izin Gangguan (SIGA), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan Surat Izin Usaha Perorangan (SIUP). “Pemandian ini legal, mas. Ada surat izinnya,”tambah Rahmat, “Surat izin kan kewajiban, peraturan Pemerintah. Jadi kita jangan melanggar aturan itu,” tutur Rahmat.</p>
<p>Masih dikatakannya, surat-surat izinnya selalu diperpanjang. “Surat Izin Usaha Pariwisata kebetulan masanya 3 tahun sudah mau habis dan akan saya perpanjang di Pemkab Lebak,” imbuhnya. (Harir Baldan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/26/rahmat-hernandi-sudah-ada-surat-izin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HERI: USAHA WARNET BERKAT DOA ORANGTUA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/heri-usaha-warnet-berkat-doa-orangtua/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/heri-usaha-warnet-berkat-doa-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 11:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[berkat]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3474</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK, Cipanas&#8211;Dengan niat dan kerja keras serta sungguh-sungguh menjalankan suatu pekerjaan, apapun pekerjaan itu, pasti akan berhasil. Sekiranya itulah yang sudah dilakukan Heri Sumantri (23), pemilik warnet ‘Vega’ yang sudah bisa dikatakan berhasil dalam menjalankan usahanya. Lelaki lulusan SMAN 1 Cipanas itu menuturkan, awalnya ia hanya belajar kursus komputer pada seorang guru bernama Indra, selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/HERI2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3475" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/HERI2.jpg" alt="" width="500" height="559" /></a>LEBAK, Cipanas&#8211;Dengan niat dan kerja keras serta sungguh-sungguh menjalankan suatu pekerjaan, apapun pekerjaan itu, pasti akan berhasil. Sekiranya itulah yang sudah dilakukan Heri Sumantri (23), pemilik warnet ‘Vega’ yang sudah bisa dikatakan berhasil dalam menjalankan usahanya.</p>
<p>Lelaki lulusan SMAN 1 Cipanas itu menuturkan, awalnya ia hanya belajar kursus komputer pada seorang guru bernama Indra, selama satu bulan. Dari situ ia sering diminta untuk membantu dalam jasa pengetikan. Namun, pada 2009 Indra menawarkan usahanya pada Heri. “Waktu itu pak Indra diangkat menjadi pegawai negeri, jadi saya yang meneruskan usahanya,” kenang Heri saat ditemui di tempat warnet Vega-nya, Selasa (02/3).</p>
<p>Berkat doa dan dukungan moril maupun materil dari kedua orangtuanya, Heri meminjam modal dari orangtuanya senilai 2 juta. “Tapi, sekarang alhamdullilah, sudah bisa bayar modal pada ibu dan sekarang tinggal menuai untungnya,” tutur Heri. Diakui Heri, hasil dari membuka warung internet (warnet) tersebut mendapat keuntungan 3 juta perbulannya. “Itu saya niatkan untuk usaha dan dengan sungguh-sungguh saya kelola,” lanjutnya.</p>
<p>Mengingat sekarang ini, usaha warnet semakin menjamur, khususnya di kampung kelahirannya, Sipayung-Cipanas, Heri hanya mengatakan enjoy-enjoy saja. “Saya tidak merasa ada persaingan, urusan rizki itu sudah ada yang mengatur,” katanya sambil mengatakan dirinya hanya berusaha untuk membuat pengunjung nyaman, dengan memasang stiker pengumuman, jika ada yang tidak mengerti tanyakan pada operator. “Saya akan siap melayani dan membantu (pengunjung) sampai  paham,” kata lelaki yang bercita-cita ingin menjadi guru ini.</p>
<p>Di tanya mengenai arti hidup, bagi Heri, hidup ini menyenangkan, “Karena mencari rizki Allah itu mudah, asalkan ada ridho dari orangtua,serta kerja keras intinya,” katanya sambil tersenyum.[Ahmad Wayang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/heri-usaha-warnet-berkat-doa-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUKMAJAYA ALANG: PEDULI ANAK MUDA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/sukmajaya-alang-peduli-anak-muda/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/sukmajaya-alang-peduli-anak-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 15:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3452</guid>
		<description><![CDATA[SUKMAJAYA ALANG: PEDULI ANAK MUDA Oleh: Harir Baldan LEBAK&#8211;Cipanas terkenal dengan objek wisata alamnya seperti, pemandian air panas, dan Arung Jeram Ciberang, ternyata masih menyimpan satu potensi lain. Yakni, ajang motorcross yang terletak di Tugu Wates, Hamberang, Luhur Jaya, Cipanas, Lebak. Selain memiliki sumber daya alam yang menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sumber daya manusia-nya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/MTR-CROS1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3454" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/MTR-CROS1.jpg" alt="" width="500" height="472" /></a>SUKMAJAYA ALANG: PEDULI ANAK MUDA</p>
<p>Oleh: Harir Baldan</p>
<p>LEBAK&#8211;Cipanas terkenal dengan objek wisata alamnya seperti, pemandian air panas, dan Arung Jeram Ciberang, ternyata masih menyimpan satu potensi lain. Yakni, ajang motorcross yang terletak di Tugu Wates, Hamberang, Luhur Jaya, Cipanas, Lebak.</p>
<p>Selain memiliki sumber daya alam yang menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sumber daya manusia-nya (SDA) pun tak kalah potensial. Khusus di 2 Kecamatan; Cipanas dan Lebak Gedong banyak menyimpan bakat-bakat muda yang jago ngebut di jalan raya.</p>
<p>Alhasil, berawal dari sanalah ide menggelar motorcross dimulai. “Lomba balap motorcross pertama diadakan pada 12-13 Desember 2009,” kata Alang. Untuk mengadakan acara itu Alang harus menghabiskan modal Rp. 37 juta. “ 7 juta untuk buka lahan dan 30 juta untuk biaya pelaksanaannya,” terang Alang. Kendati begitu, Alang berharap kerja keras dan pengorbanannya dapat apresiasi dari Pemda Lebak. “Karena turnamen ini bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Desa, Kecamatan, dan Pemda Lebak.” Masih Alang.</p>
<p>Menurut lelaki beranak 2 ini tujuan diadakan Grasstrack untuk menggali SDM dan SDA khususnya di Kecamatan Cipanas dan Lebak Gedong. “Selain itu untuk mengantisipasi kecelakaan di jalan dan memfasilitasi bakat-bakat pembalap muda,” terangnya.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/sukmajaya-alang-peduli-anak-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAHROJI; BACA PUISI SUDAH JADI HOBI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/sahroji-baca-puisi-sudah-jadi-hobi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/sahroji-baca-puisi-sudah-jadi-hobi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 02:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Wong Cilik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3422</guid>
		<description><![CDATA[Sahroji atau akrab dipanggil Oji, ternyata selain sebagai tukang ojek, ia juga adalah ketua Rukun Tetangga (RT) di kampungnya, di Makambata Rt 12/06 Desa Sukadalem, Kecamatan Waringin Kurung, Serang. Ia mengaku mempunyai hobi membuat puisi sekaligus membacakan puisinya. Pasalnya, semenjak mengikuti lomba Baca Puisi Wong Cilik pertama (tahun 2008) yang diselenggarakan Rumah Dunia, Oji yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Syahroji_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3424" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Syahroji_1.jpg" alt="" width="500" height="667" /></a>Sahroji atau akrab dipanggil Oji, ternyata selain sebagai tukang ojek, ia juga adalah ketua Rukun Tetangga (RT) di kampungnya, di Makambata Rt 12/06 Desa Sukadalem, Kecamatan Waringin Kurung, Serang. Ia mengaku mempunyai hobi membuat puisi sekaligus membacakan puisinya. Pasalnya, semenjak mengikuti lomba Baca Puisi Wong Cilik pertama (tahun 2008) yang diselenggarakan Rumah Dunia, Oji yang saat itu tidak tahu apa itu puisi dan bagaimana bentuknya, atas permintaan temanya, Rahmat Heldy HS, guru SMA Al-Irsyad Waringin Kurung, Oji pun memberanikan diri untuk ikut lomba. Tanpa di sangka, ternyata Oji mendapatkan juara satu pada saat itu. “Waktu itu, saya membacakan puisi yang berjudul Dibalik Tukang Ojek,” kenang Oji saat menghadiri lomba Baca Puisi Wong Cilik jilid 3 di Rumah Dunia, Minggu (14/2). Bapak dari dua anak ini mengaku menjadi tukang ojek sejak 2004 lalu. “Kadang saya jadi kuli bangunan jika ada proyek pembuatan rumah. Jadi petukang,” kenang Oji. Boleh di bilang semenjak ia menjadi juara satu dalam lomba Baca Wong Cilik pertama, Oji mengaku, sekarang sudah hobi buat puisi dan membaca puisi.</p>
<p>Lalu apa puisi bagi Oji sendiri? “Puisi bagi saya adalah sebuah ungkapan perasaan pribadi seseorang,” kata Oji. Oleh karena itu, puisi-puisi yang lahir dari tangan Oji, semuanya bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Seperti pada puisi ’Di Balik Tukang Ojek’ yang menceritakan pengalamannya menunggu penumpang di pangkalan ojek saat terik mentari menyengat tubuh dan debu-debu yang menempel di wajahnya, serta doa kegetiran seorang tukang ojek yang mempunyai keluarga berjuang mencari nafkah demi sesuap nasi. Begitulah kiranya isi dari puisi ’Di Balik Tukang Ojek’ yang memang belakangan Oji mengaku puisi itu bukan murni dari buah pikiranya, melainkan ada sebagian masukan kata dari sahabatnya, Rahmat Heldi HS, penyair Kampung Ular dan relawan RD. “Puisi Dibalik Tukang Ojek itu sebagian saya yang tulis dan sebagian lagi di tulis Pak Rahmat,” kata Oji mengaku. “Tapi, ide awalnya dari saya,” sambungnya kemudian.</p>
<p>Seperti orang kebanyakan, Oji pun mengaku gemetaran saat menunggu giliran maju untuk tampil baca puisi di atas panggug. “Dulu sempat gemeteran. Deg-degan. Tapi, setelah maju (diatas panggung) nggak gemetaran lagi,” kata laki-laki yang berumur 32 tahun ini.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Syahroji_2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3425" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Syahroji_2.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Tapi, pada kesempatan kali ini, Oji tidak sedang ikut lagi dalam Lomba Wong Cilik Jilid 3. Melainkan Oji di minta oleh RD menjadi tamu sekaligus membacakan puisinya di depan. Hitung-hitung sebagai hiburan dan mengisi waktu kosong menunggu dewan juri menilai para peserta Wong Cilik jilid 3, yang sudah di mulai sekitar pukul 08.00 WIB.</p>
<p>Jika arti puisi menurut Oji adalah sebuah ungkapan perasaan pribadi seseorang. Apakah puisi Di Balik Tukang Ojek juga bagian dari perasaan pribadinya dan warna dalam kehidupannya? Lalu apa arti hidup bagi Oji? “Hidup ini terlalu keras. Dari mancari nafkah, zaman sekarang cari duit susah.” Kata Oji yang masih tetap bersemangat mencari uang lebih banyak lagi. “Karena saya sebagai tulang punggung keluarga. Jadi saya harus bertanggung jawab menghidupi anak dan istri saya,” katanya dengan mantap.[Ahmad Wayang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/sahroji-baca-puisi-sudah-jadi-hobi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DAPAT PINJAMAN MODAL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/dapat-pinjaman-modal/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/dapat-pinjaman-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 01:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[ban]]></category>
		<category><![CDATA[modal]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[toko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3405</guid>
		<description><![CDATA[PINJAMAN MODAL Oleh: Harir Baldan Untuk meraih kesuksesan dalam dunia usaha, selain butuh modal tentunya, pengorbanan, dan kerja keras juga harus memperhatikan mutu dari produk tersebut. Dengan begitu kepuasan pelanggan akan tetap terjaga. Hal inilah yang diterapkan oleh H. Oman Rohman (47) pemilik toko ”Aneka Pakasaban” yang khusus menjual ban, yang berada di Jalan Raya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PINJAMAN MODAL</p>
<p>Oleh: Harir Baldan</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/H.-Oman.jpg"><img class="size-full wp-image-3404 alignleft" title="H. Oman" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/H.-Oman.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a>Untuk meraih kesuksesan dalam dunia usaha, selain butuh modal tentunya, pengorbanan, dan kerja keras juga harus memperhatikan mutu dari produk tersebut. Dengan begitu kepuasan pelanggan akan tetap terjaga. Hal inilah yang diterapkan oleh H. Oman Rohman (47) pemilik toko ”Aneka Pakasaban”<span id="more-3405"></span> yang khusus menjual ban, yang berada di Jalan Raya Cipanas Km 38 dari arah Kota Rangkasbitung. Usaha ban ini sebelumnya dikelolah oleh kakaknya, H. Ubud. Tapi karena bangkrut, pada tahun 1992 H. Oman meneruskan usaha ban bekas tersebut. Ketika lelaki beranak tiga ini menjalan usaha ban bekas ini juga sempat mengalami kendala, lagi-lagi soal dana. ”Terutama untuk pembelian bannya,” kata Oman.</p>
<p>Namun secercah harapan itu datang ketika suami Ema Darmayani ini ditawarkan kerja sama dengan perusahaan ban ternama yang terkenal di Bandung, yakni PT.Sinar Jaya Rubber (SJR).”Melalui salesnya saya dapat modal. Kerja sama itu dalam bentuk pengolahan ban. Saya hanya mencarikan ban-ban bekas saja,” kata Lelaki asli Cipanas ini. ”Lalu ban yang sudah di vulkanisir dikirim lagi kesini,” tambahnya.</p>
<p>Kini dalam Seminggu toko H. Oman mampu mengirimkan 100 sampai150 ban bekas. Ban- ban yang tersedia di bengelnya hanya ban <em>Colt Diesel</em> saja. Harganya berkisar Rp. 750 ribu,- yang sudah di vulkanisir. Namun selain menjual juga menerima memvukanisirkan cukup membayar jasanya Rp. 390 ribu.  Kerja sama itu ternyata berbuah manis, kini roda usaha yang dijalankan Oman telah memiliki cabang di Pasar Gajrug, mesin congkel, 4 mesin cetak, kompresor. Ternyata keberadaan toko ban ini berdampak bagi warga setempat.“Dulu saya pernah tawarkan pada warga sekitar tapi mereka tak tahan karena terlalu berat. Tapi ada salah satu warga dari sini yaitu, Farid,” beber Oman Rohman. Rohman salah satu dari empat karyawannya mengatakan,”Bagi saya sendiri sangat membantu begitu juga dengan anak-istri saya.” Tak pelak harapan dan cita-citapun keluar dari bibir Oman. ”Harapan saya kalo ada modal ingin membeli mesin cetak ban yang lebih modern,” harapnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/dapat-pinjaman-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JUARA CERPEN, DIDUKUNG WABUP</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/17/juara-cerpen-dapat-dukungan-wabup/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/17/juara-cerpen-dapat-dukungan-wabup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 07:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Anyer]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3358</guid>
		<description><![CDATA[JUARA CERPEN, DIDUKUNG WABUP LEBAK Banyak baca banyak tahu, sedikit baca sedikit tahu. Kiat-kiat inilah yang jadi kunci sukses Nunu Fauzan Helwah, yang meraih juara ke-1 lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Banten, yang digelar di Anyer pada Mei 2009 lalu. “Sejak dari SD sudah hobi baca buku seperti cerita atau dongeng,” tuturnya. Hobi baca anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/DE.jpg"><img class="size-medium wp-image-3359 alignleft" title="DE" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/DE-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>JUARA CERPEN, DIDUKUNG WABUP LEBAK</p>
<p>Banyak baca banyak tahu, sedikit baca sedikit tahu. Kiat-kiat inilah yang jadi kunci sukses Nunu Fauzan Helwah, yang meraih juara ke-1 lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Banten, yang digelar di Anyer pada Mei 2009 lalu. “Sejak dari SD sudah hobi baca buku seperti cerita atau dongeng,” tuturnya. Hobi baca anak ke-6 dari 7 bersaudara ini berbuah manis ketika mengikuti ekstrakurikuler,  yakni klab bahasa di sekolahnya, SMPN 1 Cipanas. Alhasil, bermula dari sanalah bakat menulis Nunu berkembang. “Menulis cerpen sangat menarik, tidak menyita waktu dan bebas mengekpresikan diri,” urai Nunu.</p>
<p>Selain menulis cerpen, bakat yang dimiliki oleh siswi yang duduk di kelas 3, ini adalah membaca puisi dan berhasil menggondol peringkat pertama se-Kecamatan Cipanas dan Kecamatan Lebak Gedong. Tak cukup sampai di situ, pelajar yang ngefans dengan novel Laskar Pelangi, ini ternyata jago bercerita. Bakat ceritanya dihadiahi juara kesatu tingkat Kabupaten Lebak.</p>
<p>Sangat beralasan jika guru-gurunya bangga dan menyambut baik hasil postif ini. Salah satunya, guru pembimbing klab bahasa Indonesia, Drs Sastra. Menurutnya, prestasi tidak melulu ditentukan oleh status atau yang lainnya. “Yang pasti bangga dengan keberhasilan yang digapai Nunu. Sangat luar biasa ternyata anak daerah mampu bersaing dengan pelajar-pelajar dari kota yang ada di Banten,” beber Sastra.</p>
<p>Ternyata pujian dan dukungan tak hanya mengalir dari pihak sekolah saja. Orang sekelas Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah pun turut memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dari pasangan KH. H. Cece Assasudin dan Hj. Oong Aulia ini. Dijelaskan Nunu,  Wabup pernah berkata kepadanya,”Lanjutkan aja belajar nulisnya. Nanti kamu kuliah di jurusan Informasi dan Komunikasi, biar jadi wartawan.” Nah, terus rajin membaca, ya! (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/17/juara-cerpen-dapat-dukungan-wabup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMET RAHMAT SANG PETUALANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/memet-rahmat-sang-petualang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/memet-rahmat-sang-petualang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawara]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[petualang]]></category>
		<category><![CDATA[ulet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3185</guid>
		<description><![CDATA[SANG PETUALANG Oleh Harir Baldan Menjadi petualang bukan hal yang mudah untuk ditempuh.  Selain mental, kerja keras, ulet, tekun, modal, sabar, dukungan, juga harus cinta terhadap dunia petualangan saja. Sebab seorang petualang harus siap menghadapi segala rintangan dan tantangan. Hal ini juga pernah dirasakan Memet Rahmat (63), warga Cipanas, Lebak, Banten.  Hujan panas, perih getir, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
<p>SANG PETUALANG</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/met.jpg"><img class="size-medium wp-image-3183 alignleft" title="met" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/met-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Menjadi petualang bukan hal yang mudah untuk ditempuh.  Selain mental, kerja keras, ulet, tekun, <span id="more-3185"></span>modal, sabar, dukungan, juga harus cinta terhadap dunia petualangan saja. Sebab seorang petualang harus siap menghadapi segala rintangan dan tantangan. Hal ini juga pernah dirasakan Memet Rahmat (63), warga Cipanas, Lebak, Banten.  Hujan panas, perih getir, dan segela kondisi medan di lapangan harus ia hadapi. Baginya, itu adalah sebuah konsekuensi. Soal resiko sudah siap ditanggung tentunya.</p>
<p>PRESTASI</p>
<p>Rahmat, biasa dia disapa. Lelaki yang lahir pada 24 September 1948 ini adalah asli warga Cipanas, Lebak, Banten. Kedua orangtuanya asli Banten. Setelah lulus bangku SLTP pada tahun 1963, dia melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun karena faktor ekonomi, pendidikan Rahmat berhenti di tengah jalan pada 1966. Kendati demikian, tak membuat Rahmat yang kini beranak tiga ini putus harapan.  Dengan modal semangat dan keyakinan, Rahmat melakukan petualangan ke negeri orang.  Mulai dari Sumatera Selatan sebagai karyawan PT. Isapati, Jambi.  Rahmat bekerja di bidang pengeboran sejak tahun 1972 sampai 1980. Pengorbanan dan kerja kerasnya tak sia-sia, atas prestasinya di perusahaan tersebut, membuat perusahaan memberikan tugas ke luar negeri. Negara-negera yang pernah disinggahi kakek dari empat cucu adalah Warsawa (Polandia), Hawaii (USA), Thailand, dan Singapura. “Selama 2 bulan saya di luar negeri dan ini adalah penghargaan pribadi saya, karena  prestasi kerja saya dinilai perusahaan sangat membanggakan,” akunya.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/met2.jpg"><img class="size-medium wp-image-3184 alignleft" title="met2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/met2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>ORGANISASI</p>
<p>Lahir dari ayah seorang mantan Pejuang, Abdul Muis dan ibu seorang pensiunan guru, Hj. Dedeh Hamzah, jiwa petualang Rahmat sudah terlihat sejak duduk di bangku SLTP kelas 1 tahun 1960. Hal ini dimulai dengan menjadi anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Rupanya petualangan Rahmat pun terus merambah ke dunia politik. Selain mengelola pemandian Titra Lebak Buana di Cipanas, Lebak, Banten, Ayah tiga anak ini pun sempat menjadi anggota kongres partai. Ia bergabung menjadi anggota organisasi beberapa partai; Pemuda Marhaenis, Partai Nasional Indonesia, Partai Demokrasi Indonesia, dan terakhir adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Di partai berlambang banteng moncong putih ini, Rahmat dilantik sebagai wakil ketua Dewan Pimpinan Cabang untuk Kecamatan Cipanas. Jabatan ini tentu menambah kesibukan dan rutinitas Rahmat. Undangan seminar partai ke beberapa daerah seperti di Sange, Tanah Lot (Bali), Kalimantan, Pare-pare (Sulawesi Selatan), Ambarawa (Semarang, Jawa Tengah). Kiprahnya di bidang politik terhenti pada tahun 2005. “Karena sudah tak sejalan lagi, maka saya memutuskan mundur,” tuturnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/01/memet-rahmat-sang-petualang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

