DANU: SEKALI HIDUP HARUSLAH BERARTI
rumahdunia | Jawara | April 18th, 2010 | 1 Comment »
Judul di atas adalah motto yang dijadikan landasan Danu Muchamad Syarifudin dalam meniti karir di bidang konveksi. Lelaki yang akrab di sapa Danu ini mengawali usaha konveksi pada pertengahan 2008. Atau persis ketika Danu duduk di bangku kuliah semester VII Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung.
Danu yang bisa dikatakan serba kecukupan lantas tak membuat dirinya menggantungkan hidup pada kemapanan orangtuanya. Justru dengan keadaan ini dia memanfaatkan untuk berbisnis konveksi. Tak pelak dukungan dari orangtua pun mengalir. “Alhamdulillah, orangtua amat mendukung dengan usaha yang saya geluti ini,” kata mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UNPAD Bandung ini.
Ide usaha ini timbul saat Danu berkenalan dengan Agus, yang berprofesi sebagai tukang jahit. Berangkat dari sanalah anak ke-4 dari 5 bersaudara ini menjajal bisnis konveksi. Dengan bermodalkan uang Rp. 350.000,-. Danu sudah mendapatkan 15 kilogram bahan seperti Katun kombet, CVC, PE, dan TC. “Dari bahan itu menghasilkan 75 pcs kaos dengan keuntungan Rp. 750 ribu,” kata lelaki yang hobi main bola.
Status mahasiswa yang disandang tak memengaruhi Danu minder ataupun gengsi. Lagi-lagi peluang ini justru dimanfaatkan anak dari pasangan H. Ano Sukarna dan Hj. Yeni untuk memasarkan produk kaosnya kepada rekan-rekannya. “Kenapa mesti malu yang penting halal dan menghasilkan pengalaman,” tutur Danu yang saat ini tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC).
Seiring waktu, roda usaha yang dijalankan Danu terus berputar. Pelanggan demi pelanggan baik itu dari rekannya ataupun orang lain mulai berdatangan. Alhasil, pemesanan semakin bertambah. Untuk memuaskan para pelanggan Danu bekerja sama dengan rekannya dari Ponpes Gontor, Jawa Timur, Ilyas, yang juga berbisnis konveksi. “Pada 2009 saya dan Ilyas resmi membuka tempat di Parakan Saat, Bandung,” ujar Danu. Dari kerja sama ini, Danu memiliki 1 mesin jahit, 2 mesin obras, 1 mesin operdek, 1 mesin rantai dan seperangkat alat sablon. “Karena dengan memiliki mesin sendiri waktu pengerjaannya lebih efesien dan untuk menjaga kepercayaan serta kepuasan pelanggan,” terang mahasiswa jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi ini.
Selain menerima pesanan Danu juga membuka toko di jalan Dipati Ukur, Bandung. Harga per kaos relatif terjangkau dari mulai Rp. 35 ribu, Rp. 25 ribu hingga Rp. 20 ribu. “Untuk saat ini produk yang kami pasarkan bermark ‘Kompack’. Rencananya kalau bisa tembus ke Distro-Distro akan kami ganti dengan label ‘Colektif’,” harapnya. Masih kata Danu, dirinya tak takut dengan persaingan yang ada sekarang. “Justru bersaing dengan orang-orang kreatif, membuat saya termotivasi untuk meraih ide,” tutupnya. Maju terus pantang mundur, Danu! (Harir Baldan).






