<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Banten Star</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/banten-star/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>INGIN JADI PENULIS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/ingin-jadi-penulis/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/ingin-jadi-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 15:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Lingkar Pena Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kumcer GilaLova; Segila-gilanya Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3974</guid>
		<description><![CDATA[Pribahasa mengatakan, bisa karena terbiasa. Itu kiranya tepat dilayangkan pada Pipit Fiharsi (26) salah satu penulis kumpulan cerpen FLP (Forum Lingkar Pena) Banten asal Cipanas, Lebak, yang berjudul GilaLova; Segila-gilanya Cinta. Kumcer ini murni ditulis oleh penulis asal Banten yang menceritakan tentang remaja dengan seting berbalut masalah sosial budaya di Banten. Meski terbilang pemula, gadis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/dia.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3975" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/dia.jpg" alt="" width="240" height="320" /></a>Pribahasa mengatakan, bisa karena terbiasa. Itu kiranya tepat dilayangkan pada Pipit Fiharsi (26) salah satu penulis kumpulan cerpen FLP (Forum Lingkar Pena) Banten asal Cipanas, Lebak, yang berjudul GilaLova; Segila-gilanya Cinta. Kumcer ini murni ditulis oleh penulis asal Banten yang menceritakan tentang remaja dengan seting berbalut masalah sosial budaya di Banten. Meski terbilang pemula, gadis yang akrab disapa Pipit ini mampu membuat cerita pendek berjudul ‘Nyanyian Ciberang’ hanya dalam tempo sehari semalam. “Itu asli cerpen baru saya. Dari mulai judul, proses pengerjaan, dan editing,” ujar Pipit. “Pikiran saya terfokus pada tulisan dan untungnya tidak ada jadwal ngajar di malam hari,” imbuh Pipit yang dihubungi via telepon pada Kamis (13/5).</p>
<p>Dikatakan Pipit, keterlibatannya dalam pembuatan kumcer (kumpulan Cerpen) ini merupakan cita-citanya sejak SMA. Selain itu sekaligus ia ingin memberikan motivasi pada masyarakat di Kabupaten Lebak khususnya, agar bagi mereka yang minat bacanya tinggi bisa menyalurkan lewat karya tulis berupa cerita pendek. Apalagi Pipit adalah seorang guru Bahasa Indonesia. “Ini adalah wawasan khusus dan sangat diperlukan, mengingat status saya sebagai guru bahasa indonesia,” terang Pipit yang kini mengajar di Ponpes Nurul Madaany di Kampung Babakanpedes, Cipanas.</p>
<p>Pipit juga menambahkan, buku kumcer GilaLova ini diterbitkan, Gong Publishing, sebuah penerbit baru di Banten, yang merupakan lini usaha dari Rumah Dunia. Rencananya kumcer tersebut akan dilaunching pada Hari Kebangkitan Buku#3 di Banten pada Sabtu (15/5) besok. “Selain GilaLova, ada empat buku penulis Banten lainnya seperti bundel Balada Si Roy karya Gol A Gong, Membaca Banten Membaca Indonesia karya Iwan K Hamdan, Melihat Tanpa Mata karya Abdul Latief, Gadis Bukan Perawan karya Jeni Ervina, dan serangkaian buku penulis relawan Rumah Dunia yang diterbitkan secara Indie di Lumbung Banten, yang juga merupakan lumbung arsip literatur tentang atau ditulis oleh wong Banten,” jelas pengurus FLP Lebak ini. [Harir Baldan]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/13/ingin-jadi-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JADI JUARA CERPEN DAPAT DUKUNGAN DARI WABUP</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/25/jadi-juara-cerpen-dapat-dukungan-dari-wabup/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/25/jadi-juara-cerpen-dapat-dukungan-dari-wabup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 12:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[meraih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3611</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK, CIPANAS&#8212;Gerakkan literasi lokal “Cipanas Iqro” yang dicanangkan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Sabtu (27/2) di sekretariat IKMC, ternyata sudah dilakukan sebelumnya oleh Nunu Fauzan Helwah. Remaja yang mengadopsi filosofi: Banyak baca pasti banyak tahu dan jarang baca sudah tentu tidak tahu, ini yang jadi kunci sukses Nunu Fauzan Helwah meraih juara ke-1 lomba menulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/hb-.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3612" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/hb-.jpg" alt="" width="500" height="667" /></a></p>
<p>LEBAK, CIPANAS&#8212;Gerakkan literasi lokal “Cipanas Iqro” yang dicanangkan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Sabtu (27/2) di sekretariat IKMC, ternyata sudah dilakukan sebelumnya oleh Nunu Fauzan Helwah. Remaja yang mengadopsi filosofi: Banyak baca pasti banyak tahu dan jarang baca sudah tentu tidak tahu, ini yang jadi kunci sukses Nunu Fauzan Helwah meraih juara ke-1 lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Banten, yang digelar di Anyer pada Mei 2009 lalu. “Sejak dari SD sudah hobi baca buku seperti cerita atau dongeng,” tuturnya.</p>
<p>Hobi baca anak ke-6 dari 7 saudara ini berbuah manis ketika mengikuti ekstrakurikuler yakni; klab bahasa di sekolahnya, SMPN 1 Cipanas. Alhasil, bermula dari sanalah bakat menulis Nunu berkembang. “Menulis cerpen sangat menarik, tidak menyita waktu dan bebas mengekpresikan diri,” urai Nunu.</p>
<p>Selain menulis cerpen bakat yang di miliki oleh siswi yang duduk di kelas IX ini adalah membaca puisi. Untuk kedua kali Nunu berhasil meraih peringkat pertama se-Kecamatan Cipanas dan Kecamatan Lebak Gedong. Tak cukup sampai di situ, pelajar yang suka dengan novel Laskar Pelangi ini, ternyata jago bercerita. Bakat ceritanya dihadiahi juara kesatu tingkat Kabupaten Lebak.</p>
<p>Nah, amat beralasan jika guru-gurunya bangga dan menyambut baik hasil postif ini. Salah satunya, guru pembimbing klab bahasa Indonesia, Drs. Sastra, menurutnya, prestasi tidak melulu ditentukan oleh status. “Yang pasti bangga dengan keberhasilan yang digapai Nunu. Sangat luar biasa ternyata anak daerah mampu bersaing dengan pelajar dari kota yang ada di Banten,” jelas Sastra.</p>
<p>Ternyata pujian dan dukungan tak hanya mengalir dari pihak sekolah saja. Orang sekelas Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah pun turut memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dari pasangan KH. Cece Assasudin dan Hj. Oong Aulia ini. Dijelaskan Nunu,  Wabup pun pernah berkata demikian, ”Lanjutkan terus belajar menulisnya. Nanti kamu kuliah jurusan Informasi dan Komunikasi biar jadi wartawan.” [Harir Baldan]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/25/jadi-juara-cerpen-dapat-dukungan-dari-wabup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAFIN SEPTIANI: KERJA KERAS DAN PANTANG MENYERAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/17/rafin-septiani-kerja-keras-dan-pantang-menyerah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/17/rafin-septiani-kerja-keras-dan-pantang-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 12:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[patang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3578</guid>
		<description><![CDATA[RUMAH DUNIA&#8212;Paribahasa mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” dengan mengenal otomatis rasa memiliki itu akan tumbuh sendiri secara alamiah. Namun rasa memiliki tidak hanya sebatas jalinan persahabatan semata, tapi juga berkaitan dengan hobi seseorang terhadap suatu bidang kreatifitas. Hal ini yang ditekuni oleh Rafin Septiani (17), remaja yang duduk di kelas 2 SMK Negeri 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/Rafin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3579" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/Rafin.jpg" alt="" width="500" height="667" /></a>RUMAH DUNIA&#8212;Paribahasa mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” dengan mengenal otomatis rasa memiliki itu akan tumbuh sendiri secara alamiah. Namun rasa memiliki tidak hanya sebatas jalinan persahabatan semata, tapi juga berkaitan dengan hobi seseorang terhadap suatu bidang kreatifitas. Hal ini yang ditekuni oleh Rafin Septiani (17), remaja yang duduk di kelas 2 SMK Negeri 2 Serang, ini sudah jatuh cinta terhadap seni rupa sejak usia 8 tahun.</p>
<p>“Pertama kali hobi menggambar diajarin oleh kakak saya, Ebi Juliana,” kata Rafin yang merasa  bakat alami terasah ketika mengikuti perlomban lukis se-Provinsi Banten dengan meraih juara kedua. Masih dilomba yang sama remaja berkulit sawo matang ini juga menggondol juara pertama di tingkat Kabupaten Serang. Kendati begitu tak membuat Rafin berpuas diri. Justru dengan prestasi ini Rafin sadar bahwa kompetisi dibidang seni rupa khususnya di tanah Banten beberapa tahun ini sudah bertumbuhan, alasan inilah yang membuat Rafin terus meningkatkan kualitas hobinya tersebut.</p>
<p>Untuk meningkatkan talentanya, remaja bertinggi 165 centimeter ini bergabung di komunitas Rumah Kreatif di Lopang, Kota Serang. “Atas ajakan dari teman, saya bergabung dengan Rumah Kreatif pada tahun 2008,” kata Rafin. Di Rumah Kreatif kemampuan Rafin bertambah. Selain belajar karikatur juga diajarkan menggambar, membuat komik, animasi, dan yang berhubungan dengan seni rupa lainnya.</p>
<p>Dengan beragam kesibukan bergabung di Rumah Kraetif dalam proses menggali hobi atau bakatnya tersebut, Rafin dituntut untuk pandai membagi waktu. Selain sekolah remaja berambut cepak ini harus mengikuti latihan di Rumah Kreatif dan latihan di rumah.</p>
<p>Alhasil setelah bergabung dengan Rumah Kreatif kemampuan karikatur Rafin membuahkan hasil, karena keluar sebagai juara 2 lomba karikatur tingkat SMA yang dilaksanakan oleh Rumah Dunia  dalam rangka merayakan Ulang Tahun Rumah Dunia yang ke-8, Minggu (14/3). “Hari Jum’at (12/3) kemarin saya baru dihubungi oleh pak Ahyadi (guru seni di Rumah Kreatif) dan tidak latihan sebelumnya. Jujur ini sebuah kejutan yang luar biasa. Piala ini saya persembahkan untuk Rumah Kreatif dan SMKN 2 Serang,” pungkasnya. [Harir Baldan]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/17/rafin-septiani-kerja-keras-dan-pantang-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SISWI SMP 2 CIPANAS: RAIH SEPULUH BESAR PASPIDA SE-INDONESIA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/siswi-smp-2-cipanas-raih-sepuluh-besar-paspida-se-indonesia/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/siswi-smp-2-cipanas-raih-sepuluh-besar-paspida-se-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 17:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[raih]]></category>
		<category><![CDATA[sepuluh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3466</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK, CIPANAS&#8212;Mungkin bagi sebagian orang, pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai. Mendengarnya saja sudah membuat pusing kepala, apalagi sampai harus dihadapkan dengan soal matematika yang buat otak muter tujuh keliling. Tapi pernyataan itu tidak berlaku bagi Ariske Mardiyah, salah satu siswi dari SMPN 2 Cipanas, yang mengaku hobi dengan pelajaran matematika sejak duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/wayang-astri11.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3468" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/wayang-astri11.jpg" alt="" width="480" height="640" /></a>LEBAK, CIPANAS&#8212;Mungkin bagi sebagian orang, pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai. Mendengarnya saja sudah membuat pusing kepala, apalagi sampai harus dihadapkan dengan soal matematika yang buat otak muter tujuh keliling. Tapi pernyataan itu tidak berlaku bagi Ariske Mardiyah, salah satu siswi dari SMPN 2 Cipanas, yang mengaku hobi dengan pelajaran matematika sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. “Dari SD saya sudah suka dengan hitung-hitungan,” kata Ariske Mardiyah.</p>
<p>Siswi kelahiran Lebak, 20 Oktober 1994 ini, mengaku sejak SD nilai matematikanya selalu paling besar di kelas. Jadi tidak salah,  kalau Asri panggilan akrabnya, kini tercatat sebagai peserta finalis yang masuk sepuluh besar dalam PASPIDA Se Indonesia VI tingkat Kabupaten Lebak. “Meski baru masuk tingkat sepuluh besar, tapi kami berharap mudah-mudahan Asri bisa dapat rengking di tingkat nasional. Itu tentu suatu kebanggaan bagi SMPN 2 Cipanas tentunya,” kata Drs. Haryanto, M.Pd., selaku kepala sekolah SMPN 2 Cipanas berharap.</p>
<p>Menurut Asri, ia sering kali bangun pada pukul 02 .00 dini hari sampai pukul 04.00 untuk belajar matematika. Alasannya biar bisa konsentrasi dalam belajar nanti. Asri yang tinggal di kampung Rangkas Majaya, Desa Sukanarga, Sajra-Lebak, sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk mengikuti final pada Sabtu (20/2) di SMA Al-Azhar Serang dan berharap bisa masuk final.</p>
<p>Anak ke 2 dari 5 bersaudara pasangan Sumarjo dan Sudarna itu, juga masih mempunyai sederet prestasi lainnya, seperti juara 2 Cerdas Cermat Tingkat kabupaten (2009). Siswi yang suka hobi membuat puisi dan cerpen ini banyak memperoleh dukungan dari para guru atau murid-murid lainnya. Seperti yang diungkapkan Nia, kelas VIII E. “Semoga Asri bisa jadi juara,” kata Nia saat di wawancara oleh crew wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> di sekolahnya Jumat, (19/2) pagi tadi. Diakui Nia, sosok Asri selain pintar, Asri juga orang yang baik dan tidak pernah membedakan teman dalam hal bergaul. (<strong>Ahmad Wayang</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/03/siswi-smp-2-cipanas-raih-sepuluh-besar-paspida-se-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NASTITI RAIH DUTA CHANGE WITH READING</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/nastiti-raih-duta-change-with-reading/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/nastiti-raih-duta-change-with-reading/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 15:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[berkat]]></category>
		<category><![CDATA[dukungan]]></category>
		<category><![CDATA[raih]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3166</guid>
		<description><![CDATA[NASTITI RAIH DUTA CHANGE WITH READING Oleh Ahmad Wayang Nastiti Tiasundari nama lengkapnya. Gadis kelahiran Trenggalek Jawa Timur, 31 Agustus 1993 ini awalnya tak menyangka akan memenangkan lomba pemilihan Duta Change With Reading yang digagas oleh Rumah Dunia pada Sabtu (9/1/10) akhir pekan lalu. Ia mengaku tidak sampai selesai mengikuti acara CwR. “Saya pulang bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/nastiti2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3165" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/nastiti2.jpg" alt="" width="300" height="679" /></a>NASTITI RAIH DUTA CHANGE WITH READING</p>
<p>Oleh Ahmad Wayang</p>
<p>Nastiti Tiasundari nama lengkapnya. Gadis kelahiran Trenggalek Jawa Timur, 31 Agustus 1993 ini awalnya tak menyangka akan memenangkan lomba pemilihan Duta Change With Reading yang digagas oleh Rumah Dunia pada Sabtu (9/1/10) akhir pekan lalu. Ia mengaku tidak sampai selesai mengikuti acara CwR. “Saya pulang bersama guru pembimbing saya, lantaran guru saya mempunyai anak kecil yang ditinggal di rumah,” kata Nastiti.</p>
<p>Pelajar dari SMA 1 Pandeglang ini mengaku awalnya pesimis duluan untuk mengikuti pemilihan duta CwR, tapi berkat dukungan dari orangtua, guru dan teman-temannya, gadis berkulit putih ini akhirnya bersemangat untuk mengikuti pemilihan duta CwR tersebut. Lalu ia mencari ide untuk membuat essay yang tak sengaja ide essaynya didapat saat sedang makan roti, maka jadilah essay berjudul ‘Berguru Pada Sepotong Roti’.</p>
<p>Perasaan Nastiti saat mengetahui dirinya jadi juara duta CwR itu antara kaget bercampur senang. “Wah, yang pasti senang banget. Nggak nyangka bakal menang,” kata Nastiti sambil mengembangkan senyum. Berita bahagia itu pun ia peroleh lewat telpon seluler berupa <em>Short Message Service</em> (SMS) dari salah satu temannya.</p>
<p>Siswa SMA kelas 2 dari pasangan Nurus Syamsiah dan Suwarto ini ternyata mempunyai cita-cita menjadi dokter. Saat di SMP Nastiti selalu menjadi juara kelas hingga SMA kelas dua ini,  bahkan ia menyabet juara umum di sekolahnya. Meski di sekolah banyak temannya yang menganggap Nastiti pintar, tapi Nastiti tidak merasa takabur (sombong). Justru sebaliknya ia merasa belum menjadi orang yang pintar seperti apa yang dikatakan temannya. “Saya nggak pernah merasa saya pintar, karena saya sadar banyak pelajaran yang belum bisa saya kuasai,” katanya merendah diri.</p>
<p>Anak ke 2 dari dari 4 bersaudara ini, hari-harinya paling banyak habiskan di rumah. “Di rumah saya biasanya baca buku, kalau nggak maen game sama ade,” kata Nastiti. Untuk bermain game, diakuinya hanyalah sebagai refreshing saja. Di rumahnya Nastiti juga mempunyai ruang perpustakaan mini, yang koleksi bukunya milik orangtua dan kakaknya yang kebanyakan. Mulai dari buku fisika, kimia dan Inteligent Spiritual Quotient  atau Kecerdasan Spiritual. “Komik dan novel juga ada,” tambah Nastiti yang menyukai pelajaran Matematika dan Biologi ini.</p>
<p>Nastiti mengaku, keberhasilan ini berkat dukungan guru dan teman-tema serta tak lepas dari peran kedua orang tuanya, yang juga berprofesi sebagai guru di SMA 8 dan 6 Pandeglang. Kedua orang tuanya itu selalu mendukung kegiatan positif apa saja yang dilakukan anaknya, Nastiti. Harapan ke depannya, Nastiti mempunyai mimpi ingin kuliah di Universitas Indonesia (UI) Depok. Okelah kalau begitu Nastiti. Semoga mimpimu bisa terwujud. Amin!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/31/nastiti-raih-duta-change-with-reading/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABDUL SALAM:  SABET BEASISWA BEBAS SPP 4 BULAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[telat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3011</guid>
		<description><![CDATA[SABET BEASISWA BEBAS SPP Oleh Harir Baldan Pernahkah kamu mendapat penghargaan di sekolahmu? Kalau belum tidak perlu cemas ataupun panik. Biasanya, beasiswa diberikan pada pelajar berprestasi atau tidak mampu. Tapi kini, penghargaan itu bisa diraih karena menulis berita, cerpen, dan puisi. Sperti yang dialami Abdul Salam. HS., siswa SMP PGRI 1 Serang. Ingin tahu ceritanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sal.jpg"><img class="size-medium wp-image-3012 alignleft" title="sal" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sal-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>SABET BEASISWA BEBAS SPP</p>
<p>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Pernahkah kamu mendapat penghargaan di sekolahmu? Kalau belum tidak perlu cemas ataupun panik. Biasanya, beasiswa diberikan pada pelajar berprestasi atau tidak mampu. Tapi kini, penghargaan itu bisa diraih karena menulis berita, cerpen, dan puisi. Sperti yang dialami Abdul Salam. HS., siswa SMP PGRI 1 Serang. Ingin tahu ceritanya lebih lengkap? Simak terus tulisan ini.</p>
<p>DITITIPKAN DI RUMAH DUNIA</p>
<p>Salam lahir dari pasangan H. Husni dan Hj Sherina. Ia adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Saat Salam lulus dari bangku SMP, keluarganya bimbang untuk mencarikan sekolah yang tepat untuknya. Kedua orangtuanya pun khawatir akan keselamatan Salam. “Dulu saya sempat mau dititipkan di masjid sebagai marbot (penjaga masjid-red). Tapi karena masih kecil, orangtua kuatir dengan kesehatan saya,” ujar Salam. Untungnya sang kakak, Rahmat Heldy H.S yang biasa disapa Rahel, kenal akrab dengan Gol A Gong pendiri Rumah Dunia. Akhirnya Salam yang kini berusia 17 tahun ini dititipkan di Rumah Dunia pada pertengahan Juni 2008.</p>
<p>Memilih sekolah pun sempat jadi perbincangan keluarga. Selain permasalahan biaya, waktu belajar pun jadi pilihan. “Awalnya mau ke MAN 2 Serang. Tapi karena jam belajarnya lama kakak saya (Rahel-red) lebih menganjurkan ke SMA PGRI 1 Serang. Alasannya lebih dekat, tidak memakan waktu di sekolah dan ada teman dari Rumah Dunia, “ pungkasnya.</p>
<p>ANAK PEMALU</p>
<p>Ketika awal-awal di Rumah Dunia, Salam mengaku sangat pemalu. Jangankan untuk bertanya saat diskusi, bertutur sapa dengan sesama relawan, atau tamu saja ia merasa malu. Apalagi tamunya perempuan. “Dulu saya pemalu banget saat disuruh bicara. Sekarang saya berani bahkan lebih banyak bicara,” kata remaja asal kampung Bojong, Waringin Kurung, Serang ini. Baru setahun setengah di Rumah Dunia, dampaknya sudah bisa dirasakan oleh lelaki kelahiran 16 Juni 1992 ini. Salam yang dulu dikenal kalem, pendiam, dan kuper, kini berubah 180 derajat. Di Rumah Dunia dia bisa mengakses buku-buku dengan gratis dan belajar apa saja terutama ilmu menulis: jurnalistik, cerpen, dan puisi.</p>
<p>Selain menulis, Salam bisa berteman dan berkenalan dengan siapa saja. Semakin banyak orang yang dia temui semakin banyak pula ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan. Rasanya kurang lengkap bila bicara kemampuan tanpa dipadukan dengan bukti yang nyata<em>.</em> Ya, karya tulisnya pernah dimuat di media lokal: Essai-nya di Tabloid Kaibon, Puisi dan cerpen-nya di Radar Banten, Fajar Banten, dan Tribun Tangerang. Bahkan tulisannya dimuat media nasional; Annida online, Kompas.com, dan rumahdunia. com. Maka sangat wajar jika teman-teman sekelas dan gurunya membicarakan lelaki pemenang ke-2 Gebyar Bahasa Sastra Indonesia 2008 di Untirta, Serang ini. Dan klimaksnya, pada Sabtu (2/1/10) pekan lalu dia masuk sepuluh besar siswa yang meraih prestasi non akademik di kelasnya. Salam adalah salah satu siswa dari 80 murid SMA PGRI 1 Serang yang meraih Bantuan Keuangan Murid Miskin (BKMM) dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. “Uang itu dialokasikan untuk bayar SPP selama 4 bulan,” kata Salam. Profesinya bertambah sejak 1 November 2009 lalu, selain pelajar SMA PGRI 1 Serang, dia juga termasuk salah wartawan Rumah Dunia.com.</p>
<p>TERUS BERKARYA</p>
<p>Salam tumbuh dari keluarga yang sederhana. Kendati begitu, dia tidak mudah putus asa dalam berkarya. Kemampuannya dalam berbicara pun diakui oleh gurunya, Ida Faridah. “Meski terkadang ia jarang masuk kelas, Salam sebenarnya rajin dan saya mengakuinya dia punya kelebihan dalam berbicara,” terang guru PPKN ini.  Masih menurutnya, semoga dengan meraih Beasiswa Bantuan dari pemerintah ini bisa menambah semangat belajarnya.Apa yang dituturkan Ida Faridah semoga dipegang teguh Abdul Salam. “Tetap terus berkarya,” ujarnya singkat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAYUTI: MEMBACA ITU KEBUTUHAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[MEMBACA ITU KEBUTUHAN Oleh: Harir Baldan Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMBACA ITU KEBUTUHAN</p>
<p>Oleh: Harir Baldan</p>
<div id="attachment_2964" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21.jpg"><img class="size-medium wp-image-2964" title="21" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sayuti sang Duta Change With Reading</p></div>
<p>Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. <span id="more-2963"></span>Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku nyambi kerja di pencucian mobil hingga berlanjut ke SMA. Ternyata kesibukanku ini banyak menyita waktu dan pikiran. Bahkan untuk belajar saja aku jarang apalagi membaca paling sekedar hanya saja.</p>
<p><strong>Penjual Klontong</strong></p>
<p>Pada tahun 2004 aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAISMAN) Cabang Pandeglang di Cilegon. Namun lagi-lagi soal ekonomi yang membuatku terhalang. Dalam kurun waktu dua tahun lebih, rutinitas kuhabiskan untuk berkerja. Salah satunya berjualan barang-barang klontong; gayung, sikat, celengen, penggilesan, ember, bak, baskom, dan lain-lain selama tiga bulan. Akhirnya pada tahun 2007 aku kembali menduduki kursi kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Citangkil, Cilegon. Karena kompetisi di kampus sangat dasyat, alhasil, membaca bukan lagi sekedar hobi tapi karena tuntutan kebutuhan. Apalagi kini aku menggeluti dua profesi; Kuliah sambil mengajar di Madrasah Diniyah Kubang Sari 1 Cilegon.</p>
<p>Sehari aku bisa meraup satu buku bacaan ukuran kecil. Aku lebih suka buku-buku fiksi, motivasi, ilmiah dan Islami. Karena gemar membaca, maka hobiku bertambah yaitu nulis artikel dan puisi. Aku menulis artikel terinspirasi dari buku karya Totok Djuroto, M. Si, dan Bambang Supriyadi, M. Si, tentang penulisan artikel dan karya ilmiah. Sedangkan puisi aku curahkan apa yang ada dalam pikiran saja. Berawal dari hal inilah aku kenal dengan Pak Saiful Bahri, tetanggaku, yang kini menjabat sebagai ketua KPU Cilegon.</p>
<p><strong>Menjadi Duta CwR</strong></p>
<p>Aku kenal Rumah Dunia lewat cerita Pak Saiful. Nah, ketika Rumah Dunia mengadakan lomba duta “Change With Reading”, Sabtu (9/1) lalu, aku tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut, kendati di dunia tulis menulis karyaku belum pernah “nyantol” alias belum pernah diterbitkan sama sekali. Dan luar biasanya, aku terpilih sebagai pemenang duta CWR untuk tingkat perguruan tinggi. Harapanku semoga melalui Rumah Dunia Change With Reading bisa dilaksanakan kembali. Sedangkan visiku adalah membuat komunitas baca Mahasiswa di Cilegon dan mengembangkannya. Rumah Dunia sudah membuktikannya kini semoga Pemerintah Provinsi serius membasmi buta aksara di Banten ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vica Nourma Lietha: PERNAH MERASA RENDAH DIRI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/15/vica-nourma-lietha-pernah-merasa-rendah-diri/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/15/vica-nourma-lietha-pernah-merasa-rendah-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 12:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2879</guid>
		<description><![CDATA[PERNAH MERASA RENDAH DIRI Rendah diri adalah gejala satu pribadi yang kurang mampu dalam melihat eksistensi dirinya pada tatanan kehidupan sosial. Sehingga dengan begitu, pribadi yang terjangkiti “virus” rendah diri tersebut cenderung mengklaim keberadaan dirinya berbeda dan merasa tidak berguna di hadapan orang lain. Jika perasaan semacam ini tidak dilawan, bukan mustahil dapat membentuk pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/bs.jpg"><img class="size-medium wp-image-2880   alignleft" title="bs" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/bs-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a> PERNAH MERASA RENDAH DIRI</p>
<p>Rendah diri adalah gejala satu pribadi yang kurang mampu dalam melihat eksistensi dirinya pada tatanan kehidupan sosial. <span id="more-2879"></span>Sehingga dengan begitu, pribadi yang terjangkiti “virus” rendah diri tersebut cenderung mengklaim keberadaan dirinya berbeda dan merasa tidak berguna di hadapan orang lain. Jika perasaan semacam ini tidak dilawan, bukan mustahil dapat membentuk pribadi yang eksklusif dan membuatnya tidak dapat bersosialisasi dengan baik.</p>
<p>Tapi lain lagi yang terjadi dengan Vica Nourma Lietha, gadis kelahiran Bogor pada 7 Maret 1986 yang memiliki segudang prestasi di bidang akademik maupun non akademik ini justru berangkat dari pribadi yang rendah diri.</p>
<p>Dituturkan Vica, semasa dirinya duduk di bangku SD, perekonomian keluarganya sempat mengalami goncangan. Karenanyalah Vica merasa secara ekonomi dirinya tidak sama dengan orang lain, dan dengan sendirinya Vica merasa rendah diri. Apalagi pada saat itu anak ke-2 dari 3 bersaudara pasangan M.D. Bacrudin S. dengan Lelly Roosiana ini tergolong bukan anak pintar.</p>
<p>“Saat saya duduk di bangku SD kelas IV, saya pernah meraih rangking ke 48 dari jumlah 49 orang murid,” kenang gadis penyuka kue pisang molen ini. Karenanyalah Vica merasa tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Yang terpikirkan oleh Vica kala itu, dirinya mesti pintar agar dapat diterima di pergaulan. Sejak saat itulah Vica menjadi anak yang rajin belajar. Alhasil, dari tahun ke tahun nilai rapor Vica berkembang baik dengan rata-rata meraih rangking III.</p>
<p>Saat duduk di bangku SMA, karir akademik Vica kian menonjol. Ini dibuktikan dengan Vica yang meraih beasiswa prestasi hingga lulus kuliah dari Universitas Tirtayasa (Untirta) Fakultas Hukum. Dan saat menjadi mahasiswi Untirta, Vica juga pernah meraih juara 1 debat hukum tingkat Universitas. Bukan hanya itu, gadis yang bercita-cita menjadi pengacara dan presenter berita ini lulus dari Untirta dengan <em>cumlaude</em>.</p>
<p>Selain prestasi akademik tersebut, sejak masih duduk di bangku SMA hingga kini, Vica juga sering mendapat juara di bidang non akademik. Seperti menjadi finalis putri Indonesia, juara II Duta Wisata Cilegon, dan masih banyak lagi prestasi lainnya. Kini gadis yang memiliki hobi baca koran ini tengah meniti karir sebagai seorang presenter berita di sebuah telivisi lokal di Banten.</p>
<p>“Memotivasi diri bisa berangkat dari mana saja. Yang terpenting kita tidak pernah patah semangat,” tutur gadis yang mengidolakan presenter berita Rosiana Silalahi ini. <strong>[RG]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/15/vica-nourma-lietha-pernah-merasa-rendah-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Afrilia Triani:  PANTAH MENYERAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/afrilia-triani-pantah-menyerah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/afrilia-triani-pantah-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 18:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2519</guid>
		<description><![CDATA[PANTANG MENYERAH Hidup adalah perjuangan. Di dalam perjuangan ada pengorbanan. Tak ada yang dapat diraih dengan cuma-cuma. Segala sesuatu yang kita inginkan tidak bisa kita dapatkan dengan sederhanan. Jika setiap orang mendapatkan apa yang diinginkan tanpa melalui perjungan, lalu dimata letak perbedaan orang yang gigih dan yang malas? Bicara soal perjuangan, Afrilia Triani (20) adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-7.png" alt="" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-2520 alignleft" title="bss" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/bss.jpg" alt="bss" width="300" height="400" />PANTANG MENYERAH</p>
<p>Hidup adalah perjuangan. Di dalam perjuangan ada pengorbanan. Tak ada yang dapat diraih dengan cuma-cuma. Segala sesuatu yang kita inginkan tidak bisa kita dapatkan dengan sederhanan. Jika setiap orang mendapatkan apa yang diinginkan tanpa melalui perjungan, lalu dimata letak perbedaan orang yang gigih dan yang malas?</p>
<p>Bicara soal perjuangan, Afrilia Triani (20) adalah salah seorang gadis yang giat berjuang untuk menggapai cita-citanya. Karena perjuangannya itulah, mahasiswi semester II S1 Manajemen STIE Serang ini dinobatkan sebagai Duta Kampus STIE Serang 2008 setelah melewati tahapan seleksi dalam pemilihan Duta Kampus STIE Serang beberapa waktu lalu. Gelar tersebut diraihnya setelah ia berjuang menyisihkan tiga puluh peserta lain yang mengikuti ajang tersebut.</p>
<p>Putri ketiga dari pasangan Hasan Mangkai dan Lilis Ratnawati ini mengaku, pada awalnya merasa ragu untuk mengikuti pemilihan Duta Kampus. Namun setelah didaftarkan oleh teman-temannya, ia jadi termotivasi untuk berjuangan mengukir pengalaman melalui ajang tersebut. “Pada saat lolos audisi pertama aku merasa sangat senang. Mulai saat itu aku berpikir, bahwa ajang seperti ini tidak bisa main-main. Aku pun bertekad untuk memberikan yang terbaik yang bisa aku <em>lakuin</em>. Disamping itu, aku juga tidak ingin mengecewakan dan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh temen-temen,” ungkap gadis kelahiran Medan 3 April 1988 itu sambil tersenyum.</p>
<p>Gadis yang memilih baso sebagai makanan favorit ini menceritakan kembali perjuangannya untuk menjadi Duta Kampus STIE Serang. Audisi pertama, ia dihadapkan pada tes minat dan bakat, pengetahuan umum, serta wawasan seputar kampus. Setelah lolos audisi pertama, ia harus menunjukan bakat yang dimilikinya kepada dewan juri di audisi ke dua. Saat itu, ia memperagakan beberapa jurus karate yang dikuasainya. Setelah melewati audisi kedua, ia memasuki masa karantina. Selama masa karantina, ia mendapatkan banyak bekal yang harus dimiliki oleh seorang duta kampus. Di antaranya iaitu <em>public speaking, master of ceremony</em>, manajemen emosi, tata krama, dan cara berpenampilan yang baik.</p>
<p>Setelah terpilih menjadi Duta Kampus STIE Serang 2008, kegiatan gadis yang bercita-cita ingin jadi Psikolog ini semakin padat. Kini ia lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus untuk menjalankan tugas yang diembannya sebagai Duta Kampus. iaitu menjadi petugas penerimaan mahasiswa baru dan menjadi ujung tombak dalam kegiatan promosi kampus.</p>
<p>Selain menjadi duta kampus, ia pun aktif  di organisasi. Seperti badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan paduan suara. Bahkan ia terlibat dalam tim paduan suara untuk pembukaan MTQ ke 22 tingkat nasional yang akan digelar di Provinsi Banten bulan Juni mendatang. Di sela-sela kesibukannya ia masih sempat berlatih karate dan sesekali menerima tawaran untuk menjadi Sales Promotion Girl (SPG) dari beberapa produk ternama.</p>
<p>”Dengan bertambahnya kesibukan, aku mendapatkan banyak pelajaran hidup. Di antaranya tentang manajeman waktu. Awal aku sempet kerepotan membagi waktu. Tapi sekarang semuanya bisa seiring sejalan. Semua itu berkat didikan orang tua yang selalu mengingatkan aku untuk tidak mudah menyerah dalam kondisi apa pun. <em>Just do what you love and love what you do” </em>ungkapnya.[ado]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/31/afrilia-triani-pantah-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noyalita Khadijah: SERING JUARA MENULIS, OGAH BACA NOVEL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/18/noyalita-khadijah-sering-juara-menulis-ogah-baca-novel/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/18/noyalita-khadijah-sering-juara-menulis-ogah-baca-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 11:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[Rangkas novel juara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2179</guid>
		<description><![CDATA[JUARA MENULIS, OGAH BACA NOVEL Meski memang tidak semuanya mengharuskan, para penulis besar menganjurkan penulis pemula untuk banyak membaca novel. Hal itu berguna untuk melatih bagaimana kita mengetahui gaya, penyampaian gagasan, dan teknik para penulis besar. Namun hal itu ternyata tidak semuanya dituruti oleh sebagian penulis pemula. Hal ini juga diungkapkan Noyalita Khadijah, penyabet sederet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-2180 alignleft" title="bs1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/bs1.JPG" alt="bs1" width="300" height="400" />JUARA MENULIS, OGAH BACA NOVEL</p>
<p>Meski memang tidak semuanya mengharuskan, para penulis besar menganjurkan penulis pemula untuk banyak membaca novel. Hal itu berguna untuk melatih bagaimana kita mengetahui gaya, penyampaian gagasan, dan teknik para penulis besar. Namun hal itu ternyata tidak semuanya dituruti oleh sebagian penulis pemula. Hal ini juga diungkapkan Noyalita Khadijah, penyabet sederet juara lomba menulis kelahiran Lebak 4 April 1992.  Bagi Noya, sapaan akrabnya, membaca novel orang lain malah membuat kita mandeg menulis dan selalu dibayangi karya orang lain. “Saya menulis mengalir saja. Terserah jadinya seperti apa. Tapi itu tulisan saya,” ujar siswi SMAN 3 Rangkasbitung yang menyabet beberapa piala menulis: Juara III menulis cerpen se-Provinsi Banten (2007), juara II menulis cerpen se-Kabupaten (2007), juara I menulis essai se-Kabupaten Lebak (2007), dan juara harapan II karya tulis ilmiah se-Banten (2007). Selain itu putri ketiga dari tiga bersaudara pasangan Ilyas Sutisna dan Rodiah ini juga kerap menjuarai beberapa lomba tenis meja di daerahnya: juara III tenis meja POPDA Lebak (2006), juara I tenis meja POPSMA Lebak (2007), juara III tenis meja POPSMA Banten (2007), serta juara III Olimpiade Fisika SMP (2005).</p>
<p>Noya yang mengaku hobi menulis dan mengoleksi buku ini mengawali dunia menulis karena mampu mengenali karakter pribadi. “Kalau ada masalah apa pun, saya tidak pernah mau cerita ke orang lain. Alasannya malas saja melibatkan orang,” ujar Noya yang mengidolakan karya-karya Taufik Ismail dan Andrea Hirata. “Taufik itu karyanya santun dan kritis. Sementara Andrea menyodorkan kehidupan asli orang Indonesia dengan seadanya. Meski hobinya menulis, tapi Noya yang kini tinggal di Kp. Sajira Barat, Lebak, mengaku tidak bercita-cita menjadi seorang penulis. “Saya dari dulu ingin menekuni bidang antariksa dan astronomi,” ungkap Noya.  Meski demikian Noya ingin sukses pada dua bidang tersebut, pasalnya Noya sering diledek olah Kakaknya dengan sebutan Noya si sukses di dunia maya, tapi lemah di dunia nyata, saat nilai IPA-nya menurun. “Beruntung orangtua sangat mendukung keduanya,” ujarnya. “Hanya saja Lebak masih kekurangan fasilitas informasi guna mendukung hobi dan cita-cita saya,” keluh Noya.</p>
<p><strong>NOYA DI MATA GURU</strong></p>
<p>Kesuksesan Noya ternyata tak lepas dari dorongan orangtua dan guru-guru di sekolah.  Seperti yang diungkapkan Yuyun Jumi’ati, guru bidang Bahasa Indonesia SMAN 3 Rangkasbitung. “Kami sadar anak-anak tidak semuanya mahir di bidang mata pelajaran eksak. Tapi di bidang lainnnya,” ujar Yuyun. Bagi Yuyun, Noya seolah mengulang sukses kakak kelasnya, Laila Juwita, yang juga penulis. ”Dukungan tidak semata dari guru bahasa, guru-guru lain juga ikut mensuport. Karena anak-anak adalah tanggung jawab bersama,” tandasnya. ”Sebagai dukungan, anak-anak sering diajak menghadiri bedah buku dan jumpa penulis,” imbuh Yuyun .<strong> </strong>[Langlang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/18/noyalita-khadijah-sering-juara-menulis-ogah-baca-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

