ES KUWUT, MENYEGARKAN SEKALIGUS MENYEHATKAN

kuwutDi tengah Kota Serang yang panas, Sabtu (5/12) siang, saya mengunjungi sebuah café minuman yang berada di Bundaran Ciceri, Serang, Banten. Bangunan café itu sederhana saja namun bergaya khas anak muda. Cocok buat nongkrong santai. Di bagian atas cafe terdapat plang bertuliskan; Es Kuwut.

Es Kuwut adalah minuman andalan di café tersebut. Jujur harus saya katakan bahwa saya masih asing dengan nama es itu. Bagaimana dengan Anda? Pernah mendengar Es Kuwut?

Es Kuwut berasal dari bahasa Bali yang berarti es kelapa. Namun dalam penyajiannya Es Kuwut tidak hanya daging kelapa dan es seperti lazimnya es kelapa. Selain menggunakan daging kelapa muda, Es Kuwut juga dikombinasikan dengan bahan-bahan lain—yang semuanya alami—seperti melon, salasih, dan jeruk nipis.

Bagi warga Kota Serang, meminum Es Kuwut di siang hari adalah pengalaman yang eksotis dan tak terlupakan. Di tengah cuaca Serang yang panas, Es Kuwut menjadi sangat menyegarkan. Apalagi meminumnya sepulang sekolah atau kerja ketika terik matahari di atas ubun-ubun.

Namun Es Kuwut tidak hanya menyegarkan tetapi juga menyehatkan. “Seperti diketahui, air kelapa dapat bermanfaat membuang racun dari dalam tubuh. Jeruk nipis mengandung vitamin C tinggi, salasih bisa mengobati sakit perut dan sariawan,” terang Muhamad Ramelan (39), pemilik Es Kuwut.

Es Kuwut di jalan KH Fatah Hasan ini  sudah ada di Banten sejak lima tahun silam. Keberadaan Es Kuwut di Banten dibawa oleh Ramelan. “Biar pun es Kuwut ini berasal dari Kuta Bali tapi berbeda dengan yang ada di Bali. Es Kuwut yang berada di Bundaran Ciceri ini suda dimodifikasi,” ujar lelaki Pekalongan yang pernah tinggal di Bali ini menerangkan.

Setiap hari, Es Kuwut modifikasian Ramelan tak pernah sepi pembeli. Pengunjungnya pun tidak hanya terbatas para pelajar di sekolah-sekolah dekat cafe itu tapi juga guru sampai pegawai kantoran.  Kecuali  hari Ju`mat tentu saja karena hari itu tutup.

Seperti diakui tiga pelajar SMA 1 Serang yang sedang menikmati Es Kuwut. Mereka mengaku sering mengunjungi cafe Es Kuwut setelah pulang sekolah. Alasanya? “Es Kuwut cocok dengan cuaca Kota Serang yang panas,” kata mereka kompak.

Keterangan ini juga diperkuat oleh Akbar (20), seorang karyawan perusahaan Indomarco. Ia mengaku Es Kuwut segaaaaar. “Apalagi diminum siang-siang seperti ini,” ujarnya.

Kalau Anda kepanasan di Kota Serang, jangan lupa kunjungi Es Kuwut, ya! {AS Kelanaraya}

KAMPUNG GIPANG DI MAGELARAN

Gipang 1Oleh Ahmad Wayang

Hj. Mu’tiah bersama anak dan dua karyawannya sedang sibuk menyusun kue gipang ke dalam toples ukuran sedang, di rumahnya, di Kampung Magelaran Cilik Rt 09/02 Desa, Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Serang.  Rumah yang berada tepat di gang Karisma, berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Warung Jaud, yang menghubungkan ke Banten Lama.

TURUN TEMURUN

Panganan gipang itu sendiri biasanya berbentuk kotak persegi, terbuat dari beras ketan putih atau ketan merah, yang sudah dicampuri gula pasir, asam, dan saus kacang tanah. Beras ketan yang sudah dimasak setengan matang digoreng. Kemudian diaduk dengan bumbu saus kacang tadi. gipang pun siap dicetak di atas kayu kotak persegi. Caranya di-giles atau ditekan-tekan, supaya gipang jadi padat. Proses terakhir, di bagian atas gipang dilumuri saus kacang. Tunggu sampai kering, gipang siap diiris-iris dan dikemas dalam plastik lalu dipasarkan.

Nenek tiga anak itu mengaku, dirinya sudah meneruskan usaha berjualan gipang dari almarhum Ibunya, Hj. Muslihah yang sudah berumur 80 tahunan. “Sudah dari turun temurun,” kata Mu’tiah tak ingat kapan awal dirinya mulai berjualan gipang. “Pokoknya dari awal pembangunan pasar Rau Serang, saya sudah jualan gipang, meneruskan usaha Ibu saya,” sambungnya. Tidak hanya gipang yang Nek Mu’tiah jual. Kue-kue seperti rengginang, sagon, tenteng kacang, dan tenteng emping pun ia buat sendiri.

Gipang kios 2Hj. Mu’tiah yang kini  berumur 65 tahuh, menurunkan usaha gipang kepada anak-anaknya. “Sekarang saya cuma ngawasin, sambil sesekali bantu-bantu,” kata Nek Mu’tiah menaruh harapan pada anak-anaknya.

Kue gipang yang dibuat Mu’tiah, dalam seharinya bisa mencapai 500 buah toples ukuran sedang. Harga pertoplesnya Rp. 12.500,- “Ya, kadang kalo lagi banyak pesenan aja. Tapi, sekarang mah lagi sepi,” terang Nenek yang sudah mempunyai 20 cucu ini degan mimik serius.

Kue gipang buatan Nek Mu’tiah sudah mempunyai cukup banyak pelanggan. Tak hanya dari Serang, gipangnya juga dinikmati warga Tangerang bahkan hingga ke Pekalongan. Saat ditanya mengenai modal awalnya, Nek mengaku jika dulu modalnya cuma Rp 500 ribu. Tapi, sekarang mencapai sekitar Rp. 2 Juta, karena bahan-bahan membuat Gipang tambah mahal.

NAIK HAJI

Jika ditanya perihal untung yang didapat, Nek selalu menjawabnya dengan tenang dan santai, “Tiap dapet untung, nggak pernah dihitung. Yang penting di warung nggak punya hutang. Dan untungnya, dari sisa kue yang belum laku,” begitu katanya.  “Tapi, alhamdullilah, dari hasil berjualan kue-kue ini saya, suami dan tiga anak saya sudah berangkat naik haji. Mungkin itu untungnya.” katanya kemudian. Dan ternyata Hj Mu’tiah dalam dua tahun lagi, ia berencana akan menunaikan ibadah hajinya untuk yang kedua kalinya.

Mengenai sejarah tentang kue gipang yang sudah dijadikan panganan khas Bnaten, Mu’tiah mengaku tidak tahu. “Nggak tahu, pokoknya saya mah cuma dagang aja. Dari Ibu juga, nggak pernah dikasihtahu,” tutur Mu’tiah mengaku.

Gipang kiosDi kampung Magelaran, yang lumayan masih banyak pohon-pohon rindang bertumbuhan, itu ternyata bukan hanya Mu’tiah saja pembuat aneka kue-kue khas Banten. Di kampung itu, ternyata hampir semua penduduknya berjualan kue yang sama. Sebut saja Alisah (45) salah satunya, tetangga Mu’tiah yang juga berjualan kue-kue yang sama. “Ada sekitar 20 orang yang bikin gipang di kampung ini,” tutur Alisah yang juga mengaku sudah lama berjualan gipang. “Saya, jualan kue gipang ini sudah ada 20 tahun mah,“ kata ibu tujuh anak ini. Tak jauh beda dengan Mu’tiah, Alisah juga sudah mempunyai banyak pelanggan. Selain dari kota sendiri, hingga pasar Labuan, dan Menes.

Dalam sehari Alisah yang dibantu anak dan beberapa saudaranya, bisa membuat gipang antara 500 sampai 700 pack. Untuk satu packnya Alisah menjualnya seharga Rp 1500-, yang dalam satu pack itu terdapat empat potong gipang sedang ukuran kotak persegi panjang. “Kita bikin gipang, jika lagi ada pesanan saja. Jika nggak ada pesanan ya, nggak bikin,” terang Alisah. Kue gipang Alisah bisa tahan hingga sampai sepuluh hari, dengan catatan harus terhindar dari sengatan sinar matahari.

Alisah mengaku penjualan gipanya tak menentu. Jika sedang ramai, bisa mendapatkan keuntungan Rp 300.000. “Kalau dibilang cukup, ya belum. Orang nggak sesuai sama modalnya yang besar. Sedang, pengeluaran mah kecil,” keluh Alisah yang mengaku masih bertahan jualan gipang, lantaran terpaksa, karena tidak bisa jualan yang lainnya lagi. Terlebih setelah suami Alisah wafat dan meninggalkan anak-anak yang masih  kecil. “Saya terpaksa berjuang sendirian, untuk menghidupi ketujuh anak-anak saya,” katanya.

SIKAP PEMERINTAH

Tapi, di tengah persaingan perdagangan gipang yang cukup banyak di Kampung Magelaran, mereka merasakan tak ada bantuan atau perhatian lebih dari pemerintah setempat. “Sendiri-sendiri. Pemerintah, ya, pemerintah, jualan, ya, jualan,” kata Nek Mu’tiah. Padahal gipang sudah termasuk di dalam database Dinas Olahraga Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Serang, termasuk dalam panganan khas Banten, dari 37 jumlah makanan tradisional Banten.

Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Disporaparbud, Baini S.pd, mengaku sudah merencanakan membuat program pelestarian panganan khas Banten. “Rencana itu sejak tahun 2007. Tapi, belum ada keputusan. Tahun 2010 mau diajukan lagi,” kata Baini yang akan mengumpulkan semua panganan khas Banten dalam satu tempat. agar panganan khas Banten dapat lebih dikenal banyak orang lagi.

Tapi, saat wartawan www.rumahdunia.com memantau lokasi kampung gipang, banyak penjual gipang  yang tak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sampai-sampai Hj. Mu’tiah berencana akan berhenti jualan gipang. Ia berencana membuka usaha jahit-menjahit, seperti pekerjaan anaknya dulu. “Pengen berhenti saja jualan gipang. Sekarang pengen membuka mesin jahit, karena jualan gipang sekarang sudah nggak ada untungnya lagi,” tandas Mu’tiah mantap.

Lalu, benarkah dengan rencana pemerintah yang akan mengumpulkan para pedagang panganan khas Bnaten? Lalu kenapa di Kampung gipang banyak yang tak tahu dengan adanya rencana pemerintah yang akan melestarikan panganan khas Banten itu? Sementara para pedagangnya banyak yang akan berhenti berjualan gipang. Jangan-jangan para pedagang khas Banten itu adalah saudara-saudara pegawai pemerintahan itu sendiri? Sedangkan pedagang gipang yang sebenarnya tidak diberitahu, dan dibiarkan begitu saja. “Ya, begitulah dunia politik. Dunia yang penuh intrik,” seperti dalam penggalan lagu Iwan Fals.(*)

NIKMATNYA BUBUR SUMSUM SANUSI DI PASAR LAMA

Sanusi meneruskan ayahnya jualan

Sanusi meneruskan ayahnya jualan

Oleh Harir Baldan

Siapa yang tak kenal Pasar Lama Serang? Pasar yang berdiri sejak masa kolonial Belanda ini masih menyimpan bangunan rumah tua, klenteng Cina, dan bioskop Pelita. Selain menyajikan pemandangan yang kuno, di Pasar Lama juga banyak penjual makanan khas tradisional seperti bugis, gemblong, tiwul, gembleng, cuwer, dan bubur sumsum. lanjutkan membaca »

SATE BANDENG KHAS BANTEN

Nenek Maryamah menurunkan resepnya ke Nur

Nenek Maryamah menurunkan resepnya ke Nur

Apa yang kamu tahu tentang makanan khas tradisional Banten? Menurut data sementara yang telah dihimpun oleh Diparsenibud Kota Serang, panganan khas Banten yang sudah terdata sekitar 37 panganan. lanjutkan membaca »

KULINER RASA NUSANTARA DI SERANG

Sate bandng khas Banten

Sate bandng khas Banten

Oleh Halim HD

Kembali ke kampung setelah beberapa bulan setiap tahunnya di Yogyakarta, rasanya selalu membuat saya antusias. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010