<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Banten Kuliner</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/banten-kuliner/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/my-bakso-rasa-bintang-lima-harga-kaki-lima/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/my-bakso-rasa-bintang-lima-harga-kaki-lima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 08:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[bakso]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[kaki lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3626</guid>
		<description><![CDATA[SERANG&#8212;Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/My-Bakso_2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3627" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/My-Bakso_2.jpg" alt="" width="432" height="375" /></a>SERANG&#8212;Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah <em>Franchise: </em>merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha <em>Franchise</em> yang sedang dirintis oleh Yusifa (35)<em>.</em></p>
<p>My Bakso memang berbeda dari bakso-bakso biasanya. Selain tidak menggunakan MSG atau Monosodium Glutamate<strong>.</strong> My Bakso di buat sendiri dan di kemas secara higienis  serta tempatnya bersih dan rapih, membuat My Bakso menjadi alasan wajib sebagai tempat santai sambil menikmati My Bakso yang maknyus.</p>
<p>My Bakso mempunyai banyak variasi, diantaranya ada bakso urat halus, bakso kotak rawit campur, bakso urat jumbo campur, bakso isi keju dan bakso mie mangkuk keriuk. Harga yang ditawarkan My Bakso relatif murah, antara tujuh ribu sampai delapan ribu rupiah per porsinya. Sesuai dengan slogan My Bakso: ‘Rasa bintang lima, harga kaki lima’. “Selain murah meriah, bakso di sini juga di jamin sehat, karena My Bakso tidak menggunakan bahan pengawet,” kata Ysifah, ibu  beranak tiga menuturkan.</p>
<p>Cara pembuatan My Bakso, diakui Yusifa sebenarnya sama saja seperti pembuatan bakso-bakso yang lain. Namun tetap ada perbedaan. Dalam pemilihan bahan-bahannya pun harus dijaga ke segarannya serta kualitasnya. Seperti 1 kg daging sapi segar, 150 gram tepung tapioka, bumbu-bumbu (yang dibeli dari Surabaya), serta ditambah dengan sari tumbuhan Mahoni. “Sari Mahoni ini selain mengandung banyak manfaat, juga sebagai penyeimbang rasa dan pengganti MSG,” terang Yusifa.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/My-Bakso_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3628" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/My-Bakso_1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>My Bakso buka setiap Senin sampai Sabtu dari pukul 09.30 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Khusus untuk hari Minggu pertama dan keempat, My Bakso libur. Di My Bakso juga menerima jasa <em>catering</em> atau pemesanan.</p>
<p>Saat di tanya mengenai penghasilan yang di dapat tiap harinya, Yusifa enggan menjawab secara rinci. “Ya, pokonya Alhamdullilah…,untuk biaya hidup bersama ketiga anak saya, saya rasa sudah lebih dari cukup,” kata Yusifa sambil mengatakan dalam waktu dekat ini dirinya akan menambah menu sebagai pelengkap My Bakso, seperti Juice, Cofee, dan Bou-Bee Crepes.</p>
<p>Wina, salah satu pembeli My Bakso, warga Ciracas-Serang, mengaku sering mampir ke Restro My Bakso ini. “Baksonya enak. Selain itu tempatnya juga bersih,” kata Wina yang mengaku suka dengan bakso isi keju.***(<strong>Ahmad Wayang</strong>, relawan dan wartawan www.rumahdunia.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/my-bakso-rasa-bintang-lima-harga-kaki-lima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/08/makanan-tradisional-serabi-gurih-dan-alami/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/08/makanan-tradisional-serabi-gurih-dan-alami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 07:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[alami]]></category>
		<category><![CDATA[Cilegon]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[Surabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3238</guid>
		<description><![CDATA[SERABI GURIH DAN ALAMI Oleh: Rama Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir, Husen (50thn) tengah mendirikan sebuah tenda dagangannya dengan menggunakan terespal yang disangga oleh 4 batang kayu. Tenda sederhana berwarna biru itu cukup sederhana, hanya cukup melindungi dari sinar matahari ataupun air hujan yang tiba-tiba turun. Sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SERABI GURIH DAN ALAMI</strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_3239" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/surabi.jpg"><img class="size-medium wp-image-3239" title="surabi" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/surabi-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Foto: http://miftahalfarissy.files.wordpress.com/2009/05/1surabi5.jpg</p></div>
<p>Oleh: Rama<br />
</strong></p>
<p>Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir, <span id="more-3238"></span>Husen (50thn) tengah mendirikan sebuah tenda dagangannya dengan menggunakan terespal yang disangga oleh 4 batang kayu. Tenda sederhana berwarna biru itu cukup sederhana, hanya cukup melindungi dari sinar matahari ataupun air hujan yang tiba-tiba turun. Sementara Elia, istri Husen tengah mempersiapkan sebuah tungku pembakaran kayu dengan menggunakan susunan batu bata. Kemudian tiga buah mangkuk cetakan yang terbuat dari gerabah dipasang diatas tungku.</p>
<p>Ketika waktu sudah menunjukan jam 3 sore, sepasang suami istri asal Indramayu itu siap menggelar dagangannya berupa makanan tradisional Serabi. Sementara Elia tengah membuat adonan serabi yang terbuat dari tepung beras, parutan kelapa, garam dan air secukupnya dalam toples pelastik. Husen kemudian mulai membakar kayu dalam tungku untuk memanaskan cetakan serabi dan menggarang tutup cetakan di sisi tungku. Dengan keterampilan tangan dalam mengola bahan dasar Serabi selama dua tahun terakhir, Elia mulai mengoleskan margarin ke dalam mangkuk cetakan yang sudah panas. Satu sendok irus berisi adonan serabi dituangkan ke dalam mangkuk cetakan. Kemudian Elia menutup cetakan. Api pembakaran harus stabil. Kurang lebih dua menit serabi yang dipanggang telah matang dan mengeluarkan aroma gurih yang menggoda selera.</p>
<p>ORIGINAL DAN GURIH</p>
<p>Sejak enam bulan yang lalu, Elia dan Husen menggelar dagangannya di pinggir jalan Bayangkara Sumampir, Cilegon. Awalnya, mereka menggelar dagangannya di pasar Baru Cilegon, namun setelah Pasar Baru Cilegon digusur dan pindah tempat di Keranggot yang letaknya semakin jauh dari rumah kontrakannya di Kampung Jagal, sepasang suami istri yang tidak dikarunia buah hati ini pun memutuskan untuk pindah ke Sumampir.</p>
<p>Kawasan Sumampir merupakan tempat yang strategis dan selalu ramai dilewati kendaraan bermotor yang menuju kawasan kecamatan Purwakarta. Sedangngkan jika anda berasal dari arah Merak, patokannya adalah lapangan Sumampir dan kemudian masuk ke pertigaan jalan Bayangkara, hanya kurang lebih 100 meter dari pangkalan ojek. Sedangkan jika dari arah kota Cilegon dan mengendarai kendaraan pribadi harus memutar jalan dari depan kompleks gedung pemerintahan kota Cilegon, perempatan lampu merah tugu Geger Cilegon, mengambil jalur kiri menuju Lapangan Sumampir.</p>
<p>Menurut pengakuan Husen, biasanya dulu jualan Serabi di Sumampir kalau lagi ada pasar malam saja. ”Banyak pembeli yang nanya kenapa gak netap dagang disini saja,” keterangan Husen pada wartawan www.rumahdunia.com (4/2). Husen menambahkan kalau jualan di Sumampir waktunya lebih luang, mulai dari jam 3 sore sampai magrib. Sedangkan waktu di pasar baru dari jam 1 dini hari hingga pagi hari, membuat tubuh sering masuk angin.</p>
<p>Bahan yang digunakan dalam pembuatan serabi dijamin original. Hanya tepung beras, garam, parutan kelapa, dan air secukupnya. Semua resep itu di dapat dari saudara Elia. Awal pertama kali membuat serabi rasanya jadi keras. Namun seiring waktu yang terus berjalan, Elia bisa membuat serabi lezat yang hingga kini punya banyak pelanggan dari berbagai kalangan.</p>
<p>Elia pun memberikan tips supaya rasa serabinya terasa gurih. “Banyakin parutan kelapa, itu yang bikin gurih,” katanya yang selalu memarut kelapa langsung di atas adonan tepung beras. Elia menambahkan, bahwa tepung beras harus di giling sendiri dan jangan memakai tepung kemasan. Elia membuat adonan sedikit demi sedikit, biasanya satu irus dicampur dengan bahan lainnya dan diaduk-aduk terus supaya mengembang.</p>
<p>ALAMI</p>
<p>Banyak orang yang sekarang lebih memilih makanan yang alami. Begitu juga dengan serabi buatan Elia yang tidak memakai bahan kimia sejenis pewarna atau pun pengembang makanan. Justru dengan kealamian itu yang membuat dagangannya laris manis diserbu pembeli. 6-8 kg tepung beras sebagai bahan dasar serabi biasanya habis tiap harinya.</p>
<p>“Biasanya kalau ada tambahan bahan kimia itu bikin pusing kepala. Kalau orang makan serabi ini pasti ketagihan pengen lagi. Dijamin tidak <em>belenger</em>,” kata Husen.</p>
<p>“Serabi di sini alami. Top banget rasanya,” kata Abdul Koyum sambil mengacungkan jempolnya kepada wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> saat peliputan berlangsung (4/2). Abdul Koyum seorang karyawan PT KS itu sering tiap kali pulang kerja selalu memarkirkan sejenak mobilnya untuk membeli serabi yang kemudian dibawa pulang.</p>
<p>Meski tempat dagangan dan proses pembuatannya sederhana, pelanggan serabi banyak dari kalangan para pejabat, polisi, karyawan, guru, dan lainnya. Elia juga mengaku setidaknya dalam seminggu pasti ada pesanan dalam jumlah cukup besar yang biasa dibuat di rumahnya.</p>
<p>Jika anda ingin mencicipi gurihnya serabi buatan Elia, sebaiknya anda datang pada sore hari dari jam 3 hingga magrib pada hari biasa. Sedangkan pada hari libur jam 2 siang sudah mulai buka dan cepat habis diserbu pembeli. Anda bisa mendapatkan serabi yang gurih dan alami dengan cukup mengeluarkan kocek seribuh rupiah per buahnya. Anda pun akan mendapatkan bungkusan air gula merah yang bisa anda cocol saat makan serabi. Menyeoooss, deh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/08/makanan-tradisional-serabi-gurih-dan-alami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA RABEG BANTEN DAN ARAB SAUDI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 14:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Artis]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3001</guid>
		<description><![CDATA[RABEG BANTEN DAN ARAB Oleh Harir Baldan Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon  di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/X.jpg"><img class="size-medium wp-image-3002 alignleft" title="X" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/X-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>RABEG BANTEN DAN ARAB</p>
<p>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, <span id="more-3001"></span>persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon  di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan Rabeg di jalan Mayor Syafe’I No.30, kampung Magersari, Serang. “Tepatnya antara Mekkah dan Madinah ada satu kota bernama Rabeg,” kata H. Naswi mantap. Menurut ceritanya lagi, di kota itu tersedia makanan khas dari daging kambing. Namun dikenalnya bukan Rabeg. Sedangkan di kota Serang Rabeg merupakan salah satu panganan khas Banten. “Mungkin nama Rabeg sebagai makanan khas Banten itu diambil dari sana (Kota Rabeg-red),” ujarnya lagi. Rabeg hanya bisa ditemukan di Kota Serang, salah satunya Rabeg H. Naswi.</p>
<p>SEJAK MASA SULTAN</p>
<p>Bicara sejerah Rebeg sendiri di Banten. Konon, menurut H. Naswi Rabeg sudah ada sejak jaman pemerintahan Sultan Hasanudin Banten. Hingga saat ini makanan yang terbuat dari daging kambing itu masih dipertahankan. Bahkan setiap kali ada acara pernikahan, khitanan, dan acara lainnya selalu dijadikan menu utamanya.</p>
<p>Karena sudah jadi tradisi warga Serang, maka kakek dan orangtua H. Naswi pun berjualan Rabeg. Saat itu, panganan khas ini dijual kala ada acara tontonan tradsional warga seperti: Ubrug, wayang, dan jaipongan. “Dahulu jualannya di Tegal Lembau yang kini jadi Komplek Titan Arum, Legok, Serang,” terang suami Hj. Sumiati ini.</p>
<p>Kata orang bijak, mewariskan harta kepada anak-cucu lama-lama akan habis juga, apalagi jika tak mampu menjalankannya. Tapi jika anak-cucunya diwariskan ilmu dan pengalaman maka sampai tujuh turunan pun tak akan habis. Hal itu pun dialami H. Naswi dengan ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari orangtuanya yang kemudian dipraktekkan sendiri dengan membuka usaha Rabeg. “Tahun 1975 saya sudah fokus jualan sendiri,” akunya. Saat itu perputaran roda usaha H. Naswi masih dalam tahap penjajakan. Untuk memasarkannya dia mesti berpindah-pindah tempat; di Kota Cilegon dari tahun 1975-1976, lalu pindah ke Pasar Lama 1977-1982, Pasar Induk Rau 1982-1997, Kantin di Pengadilan Negeri Serang pada 1997-2006 dan di Jalan Mayor Safe’I, Margersari, Serang dari tahun 2006 sampai sekarang. Kendati penjual rabeg banyak ditemukan di Kota Serang, Lelaki bercucu empat ini tak takut dengan persaingan tersebut. Menurutnya, setiap olahan punya cita rasa khas masing-masing. Dia pun tak ragu-ragu memberitahukan soal resep bahan dan cara pembuatannya. Adapun bahan-bahan Rabeg khas H. Naswi adalah daging kambing, merica, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kayu manis, pala, kecap, garam, minyak sayur, dan cuka. Cara pembuatannya sendiri tidak terlalu rumit. Daging kambing direbus sekitar 30 menit, diangkat lalu ditiriskan.  Iris-iris daging kambing seukuran dadu. Lalu tumis semua bahan bumbu, kecuali garam, merica, kecap, dan cuka, yang sudah disisir. Setelah itu masukkan daging yang sudah diiris tadi. Tuangkan air sisa rebusan. Lalu diberi kecap, merica, cuka, garam secukupnya sampai daging benar-benar empuk.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Y.jpg"><img class="size-medium wp-image-3003 alignleft" title="Y" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Y-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>DIKUNJUNGI ARTIS</p>
<p>Warung makan Rabeg H. Naswi buka dari pukul 08.00 s/d 21.00 WIB. Buat Anda yang belum sarapan, atau makan siang bisa mampir ke tempatnya. Cukup mengeluarkan uang Rp 13.ribu maka Anda sudah bisa menikmati seporsi Nasi Rabeg. Namun jika kamu ingin makan Rabegnya saja tanpa nasi, justru lebih murah hanya merogoh kocek Rp 10 ribu. Aroma khasnya juga lebih berasa.</p>
<p>Selain Rabeg, di sini juga juga tersedia nasi uduk, nasi putih, empal, sate kambing dan sapi, sop kambing dan sapi, soto kambing dan sapi, dan ayam bakar. untuk menambah kenikmatan tersaji juga jus alpukat, jus jeruk, air mineral, dan soft drink sprite, coca cola, dan fanta, yang bisa menyegarkan tenggorokan.</p>
<p>Menurut H. Naswi sehari warung Rabegnya bisa menghabiskan sepuluh kilogram daging. Soalnya pengunjungnya aja dari beragam kalangan. “Selain masyarakat biasa, rumah makan saya juga pernah dikunjungi artis seperti, William Wongso, Didin Bagito, Beno Bolue, Dorce Gamalama, dan Pak Hutama (Cinta Fitri),” ujarnya.</p>
<p>Menurut pengakuan salah satu pengunjung, Rabeg H. Naswi ini beda dengan yang lain. “Rasanya enak, sih. Rasanya beda apalagi kuahnya,” kata Eris, pegawai Kanwil Kota Serang, yang sering berkunjung ke warung nasi Rabeg. Saking enaknya jadi sering mampir lagi. Kebanyakan tempat-tempat makan atau restoran tetap buka dihari libur namun rumah makan Rabeg, H. Naswi malah tutup. “Karena tiga karyawan saya masih muda-muda jadi saya liburkan saja. Biar menikmati hiburan,” jelasnya.</p>
<p>MALAYSIA</p>
<p>Tidak stabilnya harga sembako dan daging menjadi kendala dan keluhan para pedagang, terutama pedagang kecil. Dampak ini sudah pasti berpengaruh pada mutu dan kualitas makanan tersebut. Apalagi untuk saat ini harga kambing Rp 45.ribu perkilogram. “Kalau harga beli naik, jual pun kami naikkan,” tutur bapak dari Aulia ini. Selain khas Serang, katanya lagi, tetap tak mengurangi bahan sedikitpun. Karena jika sampai dikurangi maka rasa dan aroma khasnya akan sedikit hilang. Karena olahannya memberikan rasa yang istimewa, H. Naswi pernah ditawari rekannya untuk buka cabang di Tangerang, Bandung, Malaysia, Singapura. Namun, dia menolak karena alasan usia. Luar biasa. Ternyata Rabeg Serang dilamar untuk buka cabang di Malaysia dan Singapura juga. Tapi awas, nanti diklaim lagi. Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NASI SUMSUM PURI KIAN DIGEMARI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/05/nasi-sumsum-puri-kian-digemari/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/05/nasi-sumsum-puri-kian-digemari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 15:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2680</guid>
		<description><![CDATA[Cuaca di Kota Serang akhir-akhir ini sangat dingin. Hembusan angin kencang disertai hawa dingin membuat pengemudi kendaraan harus extra hati-hati. Kenapa? Karena cuaca seperti ini tidak baik untuk kesehatan. Apalagi si pengendara dalam keadaan perut kosong kroncong. Wah, bahaya itu! Tapi “don’t worry be happy”. Ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan perut kosong kalian. Obat?  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-2681 alignleft" title="sum" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sum.jpg" alt="sum" width="400" height="300" />Cuaca di Kota Serang akhir-akhir ini sangat dingin. Hembusan angin kencang disertai hawa dingin membuat pengemudi kendaraan harus extra hati-hati. Kenapa? Karena cuaca seperti ini tidak baik untuk kesehatan. Apalagi si pengendara dalam keadaan perut kosong kroncong. Wah, bahaya itu! Tapi “don’t worry be happy”. Ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan perut kosong kalian. Obat?  Yang pasti ini sangat sepesial. Bahkan bisa ketagihan!<span id="more-2680"></span></p>
<p>TURUN TEMURUN</p>
<p>Ayo,  saya ajak kalian ke  tempat yang sangat akrab di telinga warga ibu kota Banten ini, yaitu Pasar Lama Kota Serang. Di pasar ini banyak tenda jajanan khas dari berbagai daerah dan salah satunya  yakni nasi Sumsum Puri yang terkenal di Serang.</p>
<p>Nasi Sumsum Puri sudah ada di Serang, Banten, sejak tahun 1941. Konon, makanan ini adalah warisan turun temurun. Saya pun berbicang-bincang dengan pemilik warung Nasi Sumsum, Pak Arie Kusuarahadi. Menurut pengakuannya, dia sudah lama berjualan di sana. “Saya adalah generasi ketiga. Dan saya sudah 10 tahun berjualan,” ujar Arie. Dulu namanya Sumsum Mang Puri lanjut Arie, “Lalu karena semakin besar saya ganti Puri.”</p>
<p><img class="size-full wp-image-2682 alignleft" title="sum3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sum3.jpg" alt="sum3" width="400" height="300" /></p>
<p>TETAP ALAMI</p>
<p>Kendati banyak alat-alat modern semisal blender, Arie tetap masih menggunakan alat tumbuk tradisional untuk mengolah bumbunya. Alasannya sederhana, supaya bumbu yang menyatu dalam nasi dan sumsum terasa alami. “Pokoknya tetap alami dan rasa tetap tidak berubah,” terang lelaki berusia 31 tahun ini.  Tradisi kealamiahan ini pun bukan hanya dari alat saja, tapi dari lokasi warungnya yang masih mengusung tenda agar terlihat khas yang sudah turun-temurun.</p>
<p>Alhasil, berkat keuletan dan ketekunananya, Nasi Sumsum Puri yang beralamat di Jalan Tb. Buang ini, pernah diundang dalam acara HUT ke-482 Kabupaten Serang. Menurut Arie beberapa pejabat Pemerintahan Kabupaten dan tamu undangan yang turut merasakan kenikmatan Nasi Sumsum diantaranya Bupati Kabupaten Serang, H. Taufik Nuriman, Wakil Bupati Andi Sujadi, Kapolda Banten Rumiah Kartoredjo, Ketua DPRD Kabupaten Serang Hasan Maksudi, Dirut PDAM Akhmad Rohendi, Dirut PT. Serang Berkah Mandiri Setiawan Arif Widodo dan lain-lain. Bahkan pembawa acara wisata kuliner Bondan Winarno dan Benou Boulu pun pernah singgah di tenda Sumsum Puri milik Arie ini.</p>
<p>Pada hari libur pengunjung yang datang bukan hanya dari lokal Banten saja. “Enam puluh persen pengunjung dari luar kota, Seperti dari Jakarta, Bandung, bahkan ada yang dari Demak dan Medan,” jelas lelaki beranak tiga ini. Keadaan ini sudah pasti  mempengaruhi jumlah sumsum yang disediakan. “Jika lagi rame bisa menghabiskan 2000 biji nasi sumsum.</p>
<p>Untuk memuaskan para pelanggannya Arie pun membuka cabang di jalan Jenderal Ahmad Yani, tepatnya samping Permata Bank. Kok, buka cabangnya di Kota Serang, aja? Kata Arie ketika ditemui di kediamannya di Perumahan Bumi Agung 1 Blok I, selain tingginya peminat Nasi Sumsum di Banten masih banyak, juga ingin mempertahankan kekhasan panganan Banten.</p>
<p>Ucapan Arie ternyata tak isapan jempol belaka. Contohnya Akbar (18) siswa SMAN 3 Cilegon, ini harus jauh-jauh datang ke Serang hanya untuk mencicipi gurihnya nasi sumsum Puri.”Murah, enak, pas dikantong lagi,” papar Akbar warga Cilegon.</p>
<p>Masih kata pelajar yang berprofesi sebagai Disk Jockey (DJ) ini, rasanya enak di sini ketimbang di Cilegon. Sudah tidak rahasia lagi jika makanan yang terbuat dari sumsum kerbau dan sapi ini banyak digemari warga. Bahkan media lokal atau pun stasiun televisi nasional semisal Trans 7, Trans TV, SCTV, RCTI, Indosiar, dan Global TV  pun pernah mengekspose. Kuliner ini juga pernah meyabet dua kali sertifikat Bango Cita Rasa Nusantara 2007 dan 2009.</p>
<p><img class="size-full wp-image-2683 alignleft" title="sum2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sum2.jpg" alt="sum2" width="400" height="300" /></p>
<p>HARAPAN</p>
<p>Selain Nasi Sumsum, di warung tenda milik Arie ini juga menyediakan Sate Lidah Kerbau, dan Otak-otak. Harganya cukup murah meriah, hanya cukup membayar Rp 10.000,00-/porsi Nasi Sumsum yang berisi tiga biji dihiasi ketimun dan sisiran tomat. Supaya menambah selera makan biar lebih nikmat, maka enaknya Nasi Sumsum ditemani sate lidah kerbau atau otak-otak. Hmmm…pasti mantap!</p>
<p>Dihitung-hitung usia keberadaan Nasi Sumsum sudah enam puluh sembilan tahun. Umur yang terbilang sudah sangat dewasa untuk seorang manusia. Pengorbanan dan kerja keras Arie, orang tua dan kakeknya demi mengangkat citra Banten melalui kuliner sungguh sangat luar biasa. Dua kali penghargaan Kecap Bango 2007 dan 2009 bukan itu cita-cita mereka sesungguhnya.</p>
<p>Tapi bagaimana agar makanan khas ini tetap dijaga kelestariannya. “Supaya bertahan saja. Karena kita tahu Nasi Sumsum adalah masakan kuliner khas Banten yang seharusnya dikenal di seluruh Dunia,” harap Arie. Banyaknya wisatawan nusantara kuliner yang datang ke Serang, semestinya dijadikan sebagai peluang bagi pejabat yang mempunyai visi jelas dalam bidang wisata.</p>
<p>Jika saja makanan khas Banten direlokasi dan mempunyai tempat strategis, maka turis atau pelancong pun bakalan tidak lagi kebingungan mencari makanan khas. Jangan kan pelancong mancanegara, kita sendiri sebagai warga Banten kerap masih bingung di mana mencari makanan khas Banten? (Harir Baldan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/05/nasi-sumsum-puri-kian-digemari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETAN BINTUL COCOK UNTUK SARAPAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/ketan-bintul-cocok-untuk-sarapan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/ketan-bintul-cocok-untuk-sarapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 02:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Ketan bintul]]></category>
		<category><![CDATA[Royal]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Sari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2589</guid>
		<description><![CDATA[Apa menu sarapan kamu pagi ini? Nasi uduk, bubur ayam, atau lontong sayur? Kalau kamu bosan dengan itu semua, kamu bisa sarapan ketan bintul. Lho, emang ada? Bukannya ketan bintul ada di bulan Ramadhan aja? Umumnya memang pada bulan puasa, tapi sekarang tidak lagi. Jika penasaran, kamu bisa mengunjungi wisata kuliner di pasar tumpah Taman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2587" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-2587" title="Ketan bintul pnjual" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Ketan-bintul-pnjual.jpg" alt="Ketan bintul Bu Ones di pasar tumpah Taman Sari, Royal, Serang" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Ketan bintul Bu Ones di pasar tumpah Taman Sari, Royal, Serang</p></div>
<p>Apa menu sarapan kamu pagi ini? Nasi uduk, bubur ayam, atau lontong sayur? Kalau kamu bosan dengan itu semua, kamu bisa sarapan ketan bintul. Lho, emang ada? Bukannya ketan bintul ada di bulan Ramadhan aja? Umumnya memang pada bulan puasa, tapi sekarang tidak lagi. Jika penasaran, kamu bisa mengunjungi wisata kuliner di pasar tumpah Taman Sari Royal, Pasar Lama dan Pasar Induk Rau di Serang.  Kamu bakalan menemukan panganan yang terbuat asli dari ketan itu.</p>
<p>RIWAYAT</p>
<p>Tak ada yang tau pasti kapan ketan bintul dikenal masyarakat. Namun, seperti ditulis Harian Umum Pelita pada 31 Desember 2009, ketan bintul sudah akrab di warga Banten sejak abad ke-15. Konon, panganan ini digemari Sultan Maulana Hasanuddin, pangeran panutan kerajaan Banten pada waktu itu.</p>
<p>Luar biasa! Padahal makanan yang terbuat dari beras ketan ini adalah panganan rakyat jelata. Tapi Sultan Maulana Hasanuddin menyukai panganan ini, terutama saat berbuka puasa. Akhirnya menjadi tradisi bila seseorang berbuka puasa dengan ketan bintul, karena itu menghargai dan menghormati Sultan. Dan ada kebanggaan tersendiri saat menikmatinya. Hal itu dibenarkan Abdul Salam (17 th). Menurut warga Waringinkurung itu, “Buka puasa tanpa ketan bintul rasanya kurang pas.”</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-2588" title="Ketan bintul oke" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Ketan-bintul-oke.jpg" alt="Ketan bintul oke" width="500" height="375" />WARGA SUKA</p>
<p>Ternyata ketan bintul digemari warga Banten tidak hanya saat puasa. Meski animo pembeli tak seramai di bulan Ramadhan, tapi ketan bintul Ones (47) tetap laris manis. ”Sehari saya bikin 10 liter, alhamdulillah habis,” ujar Ones, pedagang dari kampung Cikeusal. Kebanyakan pembelinya dari warga Serang.</p>
<p>Untuk mencicipi legitnya ketan bintul, kamu cukup merogoh kocek Rp 500,00-/iris yang sudah dibungkus daun. Murah’ kan?! “Enak, apalagi makannya ditemani kopi atau teh,” kata Agung (19) warga Cimuncang Sukasari yang memborong ketan bintul sebanyak 14 biji. Lain halnya Nawiyah (47), wanita asal Cipare, Serang, ini sudah sering berlangganan. “Saya beli 15 biji untuk dijual lagi,” tutur Nawiyah.</p>
<p>TARIK WISATAWAN</p>
<p>Menilik database Disporasenibud Kota Serang tahun 2009, ketan bintul termasuk salah satu dari tiga puluh tujuh panganan khas Banten. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya, Baini S.pd. “Ketan Bintul dan Nasi sumsum juga termasuk panganan khas Banten,” ujar Baini. Kondisi panganan tersebut hingga saat ini terus hidup dan berkembang lanjut Baini,“Tetap dilestarikan aja,” ujarnya singkat.</p>
<p>Namun apa yang dituturkan Baini tak sepadan dengan pengakuan Teguh (45). Staf Pusat Bahasa Indonesia itu mengatakan baru mencicipi ketan bintul di Rumah Dunia saat menggelar “Bengkel Sastra” pada 3 – 4 Desember 2009. “Ketan bintul ini saya baru nyoba,” akunya.</p>
<p>Bagaimana ini promosinya? Bahkan untuk promosinya, Baini sudah mengusulkan ke Pemkot Kota Serang. “Sudah diusulkan pada 2010, database sudah dimasukkan. Tapi belum mampu untuk membuatnya,” tambah Baini lagi. Oh, pantas saja turis nusantara seperti Teguh baru nyoba. Lha wong usulannya aja baru 2010. (Harir Baldan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/ketan-bintul-cocok-untuk-sarapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ES KUWUT, MENYEGARKAN SEKALIGUS MENYEHATKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/12/es-kuwut-menyegarkan-tubuh-sekaligus-menyehatkan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/12/es-kuwut-menyegarkan-tubuh-sekaligus-menyehatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 18:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Es Kuwut]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Serang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2062</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah Kota Serang yang panas, Sabtu (5/12) siang, saya mengunjungi sebuah café minuman yang berada di Bundaran Ciceri, Serang, Banten. Bangunan café itu sederhana saja namun bergaya khas anak muda. Cocok buat nongkrong santai. Di bagian atas cafe terdapat plang bertuliskan; Es Kuwut. Es Kuwut adalah minuman andalan di café tersebut. Jujur harus saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2066" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/kuwut.jpg" alt="kuwut" width="453" height="322" />Di tengah Kota Serang yang panas, Sabtu (5/12) siang, saya mengunjungi sebuah café minuman yang berada di Bundaran Ciceri, Serang, Banten. Bangunan café itu sederhana saja namun bergaya khas anak muda. Cocok buat nongkrong santai. Di bagian atas cafe terdapat plang bertuliskan; Es Kuwut.</p>
<p>Es Kuwut adalah minuman andalan di café tersebut. Jujur harus saya katakan bahwa saya masih asing dengan nama es itu. Bagaimana dengan Anda? Pernah mendengar Es Kuwut?</p>
<p>Es Kuwut berasal dari bahasa Bali yang berarti es kelapa. Namun dalam penyajiannya Es Kuwut tidak hanya daging kelapa dan es seperti lazimnya es kelapa. Selain menggunakan daging kelapa muda, Es Kuwut juga dikombinasikan dengan bahan-bahan lain—yang semuanya alami—seperti melon, salasih, dan jeruk nipis.</p>
<p>Bagi warga Kota Serang, meminum Es Kuwut di siang hari adalah pengalaman yang eksotis dan tak terlupakan. Di tengah cuaca Serang yang panas, Es Kuwut menjadi sangat menyegarkan. Apalagi meminumnya sepulang sekolah atau kerja ketika terik matahari di atas ubun-ubun.</p>
<p>Namun Es Kuwut tidak hanya menyegarkan tetapi juga menyehatkan. “Seperti diketahui, air kelapa dapat bermanfaat membuang racun dari dalam tubuh. Jeruk nipis mengandung vitamin C tinggi, salasih bisa mengobati sakit perut dan sariawan,” terang Muhamad Ramelan (39), pemilik Es Kuwut.</p>
<p>Es Kuwut di jalan KH Fatah Hasan ini  sudah ada di Banten sejak lima tahun silam. Keberadaan Es Kuwut di Banten dibawa oleh Ramelan. “Biar pun es Kuwut ini berasal dari Kuta Bali tapi berbeda dengan yang ada di Bali. Es Kuwut yang berada di Bundaran Ciceri ini suda dimodifikasi,” ujar lelaki Pekalongan yang pernah tinggal di Bali ini menerangkan.</p>
<p>Setiap hari, Es Kuwut modifikasian Ramelan tak pernah sepi pembeli. Pengunjungnya pun tidak hanya terbatas para pelajar di sekolah-sekolah dekat cafe itu tapi juga guru sampai pegawai kantoran.  Kecuali  hari Ju`mat tentu saja karena hari itu tutup.</p>
<p>Seperti diakui tiga pelajar SMA 1 Serang yang sedang menikmati Es Kuwut. Mereka mengaku sering mengunjungi cafe Es Kuwut setelah pulang sekolah. Alasanya? “Es Kuwut cocok dengan cuaca Kota Serang yang panas,” kata mereka kompak.</p>
<p>Keterangan ini juga diperkuat oleh Akbar (20), seorang karyawan perusahaan Indomarco. Ia mengaku Es Kuwut segaaaaar. “Apalagi diminum siang-siang seperti ini,” ujarnya.</p>
<p>Kalau Anda kepanasan di Kota Serang, jangan lupa kunjungi Es Kuwut, ya! {AS Kelanaraya}</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/12/es-kuwut-menyegarkan-tubuh-sekaligus-menyehatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAMPUNG GIPANG DI MAGELARAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kampung-gipang-di-magelaran/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kampung-gipang-di-magelaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 14:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Gipang]]></category>
		<category><![CDATA[Kios]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1839</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Wayang Hj. Mu’tiah bersama anak dan dua karyawannya sedang sibuk menyusun kue gipang ke dalam toples ukuran sedang, di rumahnya, di Kampung Magelaran Cilik Rt 09/02 Desa, Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Serang.  Rumah yang berada tepat di gang Karisma, berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Warung Jaud, yang menghubungkan ke Banten Lama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1843" title="Gipang 1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Gipang-1.jpg" alt="Gipang 1" width="500" height="375" />Oleh Ahmad Wayang</p>
<p>Hj. Mu’tiah bersama anak dan dua karyawannya sedang sibuk menyusun kue gipang ke dalam toples ukuran sedang, di rumahnya, di Kampung Magelaran Cilik Rt 09/02 Desa, Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Serang.  Rumah yang berada tepat di gang Karisma, berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Warung Jaud, yang menghubungkan ke Banten Lama.</p>
<p>TURUN TEMURUN</p>
<p>Panganan gipang itu sendiri biasanya berbentuk kotak persegi, terbuat dari beras ketan putih atau ketan merah, yang sudah dicampuri gula pasir, asam, dan saus kacang tanah. Beras ketan yang sudah dimasak setengan matang digoreng. Kemudian diaduk dengan bumbu saus kacang tadi. gipang pun siap dicetak di atas kayu kotak persegi. Caranya di-<em>giles</em> atau ditekan-tekan, supaya gipang jadi padat. Proses terakhir, di bagian atas gipang dilumuri saus kacang. Tunggu sampai kering, gipang siap diiris-iris dan dikemas dalam plastik lalu dipasarkan.</p>
<p>Nenek tiga anak itu mengaku, dirinya sudah meneruskan usaha berjualan gipang dari almarhum Ibunya, Hj. Muslihah yang sudah berumur 80 tahunan. “Sudah dari turun temurun,” kata Mu’tiah tak ingat kapan awal dirinya mulai berjualan gipang. “Pokoknya dari awal pembangunan pasar Rau Serang, saya sudah jualan gipang, meneruskan usaha Ibu saya,” sambungnya. Tidak hanya gipang yang Nek Mu’tiah jual. Kue-kue seperti rengginang, sagon, tenteng kacang, dan tenteng emping pun ia buat sendiri.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1845" title="Gipang kios 2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Gipang-kios-2.jpg" alt="Gipang kios 2" width="500" height="375" />Hj. Mu’tiah yang kini  berumur 65 tahuh, menurunkan usaha gipang kepada anak-anaknya. “Sekarang saya cuma ngawasin, sambil sesekali bantu-bantu,” kata Nek Mu’tiah menaruh harapan pada anak-anaknya.</p>
<p>Kue gipang yang dibuat Mu’tiah, dalam seharinya bisa mencapai 500 buah toples ukuran sedang. Harga pertoplesnya Rp. 12.500,- “Ya, kadang kalo lagi banyak pesenan aja. Tapi, sekarang mah lagi sepi,” terang Nenek yang sudah mempunyai 20 cucu ini degan mimik serius.</p>
<p>Kue gipang buatan Nek Mu’tiah sudah mempunyai cukup banyak pelanggan. Tak hanya dari Serang, gipangnya juga dinikmati warga Tangerang bahkan hingga ke Pekalongan. Saat ditanya mengenai modal awalnya, Nek mengaku jika dulu modalnya cuma Rp 500 ribu. Tapi, sekarang mencapai sekitar Rp. 2 Juta, karena bahan-bahan membuat Gipang tambah mahal.</p>
<p>NAIK HAJI</p>
<p>Jika ditanya perihal untung yang didapat, Nek selalu menjawabnya dengan tenang dan santai, “Tiap dapet untung, nggak pernah dihitung. Yang penting di warung nggak punya hutang. Dan untungnya, dari sisa kue yang belum laku,” begitu katanya.  “Tapi, alhamdullilah, dari hasil berjualan kue-kue ini saya, suami dan tiga anak saya sudah berangkat naik haji. Mungkin itu untungnya.” katanya kemudian. Dan ternyata Hj Mu’tiah dalam dua tahun lagi, ia berencana akan menunaikan ibadah hajinya untuk yang kedua kalinya.</p>
<p>Mengenai sejarah tentang kue gipang yang sudah dijadikan panganan khas Bnaten, Mu’tiah mengaku tidak tahu. “<em>Nggak</em> tahu, pokoknya saya <em>mah</em> cuma dagang aja. Dari Ibu juga, <em>nggak</em> pernah dikasihtahu,” tutur Mu’tiah mengaku.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1848" title="Gipang kios" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Gipang-kios.jpg" alt="Gipang kios" width="500" height="375" />Di kampung Magelaran, yang lumayan masih banyak pohon-pohon rindang bertumbuhan, itu ternyata bukan hanya Mu’tiah saja pembuat aneka kue-kue khas Banten. Di kampung itu, ternyata hampir semua penduduknya berjualan kue yang sama. Sebut saja Alisah (45) salah satunya, tetangga Mu’tiah yang juga berjualan kue-kue yang sama. “Ada sekitar 20 orang yang bikin gipang di kampung ini,” tutur Alisah yang juga mengaku sudah lama berjualan gipang. “Saya, jualan kue gipang ini sudah ada 20 tahun<em> mah</em>,“ kata ibu tujuh anak ini. Tak jauh beda dengan Mu’tiah, Alisah juga sudah mempunyai banyak pelanggan. Selain dari kota sendiri, hingga pasar Labuan, dan Menes.</p>
<p>Dalam sehari Alisah yang dibantu anak dan beberapa saudaranya, bisa membuat gipang antara 500 sampai 700 pack. Untuk satu packnya Alisah menjualnya seharga Rp 1500-, yang dalam satu pack itu terdapat empat potong gipang sedang ukuran kotak persegi panjang. “Kita bikin gipang, jika lagi ada pesanan saja. Jika nggak ada pesanan ya, <em>nggak</em> bikin,” terang Alisah. Kue gipang Alisah bisa tahan hingga sampai sepuluh hari, dengan catatan harus terhindar dari sengatan sinar matahari.</p>
<p>Alisah mengaku penjualan gipanya tak menentu. Jika sedang ramai, bisa mendapatkan keuntungan Rp 300.000. “Kalau dibilang cukup, ya belum. Orang <em>nggak</em> sesuai sama modalnya yang besar. Sedang, pengeluaran <em>mah </em>kecil,” keluh Alisah yang mengaku masih bertahan jualan gipang, lantaran terpaksa, karena tidak bisa jualan yang lainnya lagi. Terlebih setelah suami Alisah wafat dan meninggalkan anak-anak yang masih  kecil. “Saya terpaksa berjuang sendirian, untuk menghidupi ketujuh anak-anak saya,” katanya.</p>
<p>SIKAP PEMERINTAH</p>
<p>Tapi, di tengah persaingan perdagangan gipang yang cukup banyak di Kampung Magelaran, mereka merasakan tak ada bantuan atau perhatian lebih dari pemerintah setempat. “Sendiri-sendiri. Pemerintah, ya, pemerintah, jualan, ya, jualan,” kata Nek Mu’tiah. Padahal gipang sudah termasuk di dalam database Dinas Olahraga Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Serang, termasuk dalam panganan khas Banten, dari 37 jumlah makanan tradisional Banten.</p>
<p>Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Disporaparbud, Baini S.pd, mengaku sudah merencanakan membuat program pelestarian panganan khas Banten. “Rencana itu sejak tahun 2007. Tapi, belum ada keputusan. Tahun 2010 mau diajukan lagi,” kata Baini yang akan mengumpulkan semua panganan khas Banten dalam satu tempat. agar panganan khas Banten dapat lebih dikenal banyak orang lagi.</p>
<p>Tapi, saat wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> memantau lokasi kampung gipang, banyak penjual gipang  yang tak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sampai-sampai Hj. Mu’tiah berencana akan berhenti jualan gipang. Ia berencana membuka usaha jahit-menjahit, seperti pekerjaan anaknya dulu. “Pengen berhenti saja jualan gipang. Sekarang pengen membuka mesin jahit, karena jualan gipang sekarang sudah <em>nggak</em> ada untungnya lagi,” tandas Mu’tiah mantap.</p>
<p>Lalu, benarkah dengan rencana pemerintah yang akan mengumpulkan para pedagang panganan khas Bnaten? Lalu kenapa di Kampung gipang banyak yang tak tahu dengan adanya rencana pemerintah yang akan melestarikan panganan khas Banten itu? Sementara para pedagangnya banyak yang akan berhenti berjualan gipang. Jangan-jangan para pedagang khas Banten itu adalah saudara-saudara pegawai pemerintahan itu sendiri? Sedangkan pedagang gipang yang sebenarnya tidak diberitahu, dan dibiarkan begitu saja. “Ya, begitulah dunia politik. Dunia yang penuh intrik,&#8221; seperti dalam penggalan lagu Iwan Fals.(*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kampung-gipang-di-magelaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NIKMATNYA BUBUR SUMSUM SANUSI DI PASAR LAMA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/26/nikmatnya-bubur-sumsum-sanusi-di-pasar-lama/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/26/nikmatnya-bubur-sumsum-sanusi-di-pasar-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur sumsum]]></category>
		<category><![CDATA[wangi rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1702</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Harir Baldan Siapa yang tak kenal Pasar Lama Serang? Pasar yang berdiri sejak masa kolonial Belanda ini masih menyimpan bangunan rumah tua, klenteng Cina, dan bioskop Pelita. Selain menyajikan pemandangan yang kuno, di Pasar Lama juga banyak penjual makanan khas tradisional seperti bugis, gemblong, tiwul, gembleng, cuwer, dan bubur sumsum. WANGI RASA Kalau kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left">
<div id="attachment_1714" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1714" title="Bubur Pasar lama" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Bubur-Pasar-lama.jpg" alt="Sanusi meneruskan ayahnya jualan " width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Sanusi meneruskan ayahnya jualan </p></div>
<p>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Siapa yang tak kenal Pasar Lama Serang? Pasar yang berdiri sejak masa kolonial Belanda ini masih menyimpan bangunan rumah tua, klenteng Cina, dan bioskop Pelita. Selain menyajikan pemandangan yang kuno, di Pasar Lama juga banyak penjual makanan khas tradisional seperti bugis, gemblong, tiwul, gembleng, cuwer, dan bubur sumsum.<span id="more-1702"></span></p>
<p><strong>WANGI RASA</strong></p>
<p>Kalau kamu berkunjung ke Pasar Lama jangan lupa menikmati bubur sumsum buatan Sanusi. Di tengah-tengah pasar lama di antara lapak ikan, daging, dan sayuran, Sanusi biasa mangkal dengan gerobak pikulnya. Dia mangkal mulai pukul 08.30 WIB setiap hari. Dagangannya akan langsung tandas saat jam menunjukkan pukul sebelas. “Kalo lagi rame pulang sekitar jam 11, tapi kalo lagi sepi pulang jam 12 atau jam satu,” akunya. Awalnya, pada tahun 2000, Sanusi karyawan di SPBU Gerem Jaya, Merak. Namun karena jarak dan penghasilannya amat terbatas, dia beralih profesi menjadi pedagang bubur sumsum hingga sekarang.</p>
<p>Bubur buatan Sanusi diakui beberapa pelanggannya memiliki kelebihan tertutama soal rasa. Seperti yang diungkapkan Hj. Jumahdi, warga Kaujon, Serang. “Rasa bubur sumsum Sanusi sangat wangi. Kalo ke pasar saya sering beli.”</p>
<p>Nani, asal Kedalingan, Serang juga berkomentar sama. “Enak. Adem ke perut,” katanya menanggapi. Ia mengaku sering membeli bubur sumsum buatan Sanusi setiap kali ke Pasar Lama.</p>
<p>Menurut Sanusi, pelanggan yang datang dan membeli dagangannya tidak hanya dari Kota Serang saja, melainkan juga dari Cilegon bahkan ada yang dari Bogor dan Bandung.</p>
<p>Soal rasa memang dijaga betul oleh Sanusi. Dia mengaku bahan dan cara pembuatan bubur sumsum menggunakan bahan-bahan yang serba alami, agar buburnya lebih enak. Termasuk saat memasak bubur, Sanusi memilih menggunakan kayu bakar ketimbang gas. “Kalau pake gas kurang wangi,” begitu Sanusi beralasan. Pengerjaannya pun dilakukan tiap pukul 01.00 WIB, karena jika dibuat siang atau sore tidak tahan lama dan khawatir basi.</p>
<div id="attachment_1715" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1715" title="Bubur pembeli" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Bubur-pembeli.jpg" alt="Kenal maka sayanglah" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Kenal maka sayanglah</p></div>
<p>KETAGIHAN</p>
<p>Untuk membuat satu loyang bubur sumsum, Sanusi menghabiskan tepung beras sebanyak 8 kilogram per hari. “Alhamdulillah, tiap hari habis meski musim hujan,” ujar bapak tiga anak ini mantap. Modal yang dibutuhkan Sanusi untuk membuat bubur sumsum hanya Rp 100 ribu. Sedangkan keuntungan yang didapatkan Sanusi biasanya sekitar seratus ribuan per hari.</p>
<p>Meski demikian, Sanusi masih saja mengeluh dengan pendapatannya. “Harga sembako sekarang semakin melambung. Belum lagi untuk resiko dapur dan tiga anak saya yang masih sekolah,” keluhnya. Sanusi berharap pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak. “Kalo BBM-nya mahal yang lain pasti ikut mahal,” katanya.</p>
<p>Sanusi sudah menekuni usahanya ini sejak tahun 2000 lalu. Sanusi meneruskan usaha bapaknya yang sudah berjalan 40 tahun di tempat yang sama. “Sayang kalau tidak teruskan pelanggan bapak sudah banyak,” ujar pria asli Malang Nengah, Kagungan, Serang ini.</p>
<p>Apakah bubur sumsum makanan khas Banten? Menurut Sanusi, ya. Alasannya, karena bubur sumsum itu sudah lebih dari lima puluh tahun ditekuni keluarganya. Tapi menurut Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Kota Serang, Baini, S.Pd., bubur sumsum tidak termasuk makanan khas Banten. “Soalnya di daerah manapun (bubur sumsum) ada,” jelas Baini ketika ditemui di kantornya, Kamis (26/11).</p>
<p>Terlepas dari apakah bubur sumsum merupakan makanan khas Banten atau bukan, yang pasti bubur susmsum buatan Sanusi mesti dicoba dan pasti akan ketagihan.(*)</p>
<p>RESEP BUBUR SUMSUM</p>
<p>Untuk membuat bubur sumsum, Sanusi mengolahnya menggunakan bahan-bahan alami dengan cara manual. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan cara membuatnya.</p>
<p>1.Bahan-bahan</p>
<p>-Tepung Beras</p>
<p>-Daun suji</p>
<p>-Pandan</p>
<p>- Santan dari kelapa setengah tua</p>
<p>-Gula Aren</p>
<p>-Gula Pasir</p>
<p>2. Cara membuat</p>
<p>Tepung beras atau beras yang sudah digiling dicampur air mentah kira-kira 15 gayung (untuk tepung sekitar 4 kilo). Lalu masukkan daun suji untuk pewarna agar bubur berwarna hijau dan daun pandan agar wangi. Aduk hingga air mendidih di atas api menggunakan kayu bakar selama  2 jam. Sesudah itu masukkan adonan keloyang dan dinginkan selama satu setengah jam. Bubur yang sudah dingin dan padat dipotong seukuran kotak korek api, lalu ditata berjejer di atas nampan. Untuk menambah nikmat, bubur disiram santan yang sudah dicampur gula aren dan gula pasir. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/26/nikmatnya-bubur-sumsum-sanusi-di-pasar-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SATE BANDENG KHAS BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/sate-bandeng-khas-banten/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/sate-bandeng-khas-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 21:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1492</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kamu tahu tentang makanan khas tradisional Banten? Menurut data sementara yang telah dihimpun oleh Diparsenibud Kota Serang, panganan khas Banten yang sudah terdata sekitar 37 panganan. Dari 37 panganan khas Banten ada yang berkembang tapi juga ada yang hampir punah. Dari beberapa makanan khas tersebut terdapat satu panganan yang paling digemari dan banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1493" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1493" title="Bandeng2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Bandeng2.jpg" alt="Nenek Maryamah menurunkan resepnya ke Nur" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Nenek Maryamah menurunkan resepnya ke Nur</p></div>
<p>Apa yang kamu tahu tentang makanan khas tradisional Banten? Menurut data sementara yang telah dihimpun oleh Diparsenibud Kota Serang, panganan khas Banten yang sudah terdata sekitar 37 panganan. <span id="more-1492"></span>Dari 37 panganan khas Banten ada yang berkembang tapi juga ada yang hampir punah. Dari beberapa makanan khas tersebut terdapat satu panganan yang paling digemari dan banyak dicari, yaitu sate bandeng. Makanan khas ini pernah diikutsertakan dalam kontes sate Bandeng di Amsterdam,  Belanda pada tahun 1992 di Tropic Museum, Royal Institute. (<a href="http://www.radiospin.net/">www.radiospin.net</a>).</p>
<p>NENEK MARYAMAH</p>
<p>Tidak banyak yang tahu tentang sejarah sate bandeng. Kata Samsun, pedagang sate Bandeng yang sudah berjualan sejak tahun 1987, “Sate Bandeng sudah ada sejak jamannya Sultan Maulana Hasanudin Banten. Saya tahu dari kakek saya.”</p>
<p>Seiring banyaknya permintaan yang datang, pedagang-pedagang sate Bandeng pun mulai ramai bermunculan di mana-mana. Bak jamur di musim hujan. Dari mulai warung-warung di pinggir jalan samapi sampai toko-toko ikut meramaikan. Salah satunya adalah Maryamah (98) yang sejak tahun 60an sudah berjualan sate bandeng secara turun menurun. Sekarang sudah masuk ke generasi dua.</p>
<p>Nenek 10 orang anak itu kini telah menurunkan ilmunya pada anak dan menantunya, Nur (30). Setiap hari Nenek Maryamah bisa menjual 150 tusuk sate bandeng. Maklum, sate bandengnya sudah dikenal banyak orang. Bahkan sudah mempunayi banyak pelanggan. Mulai dari hotel-hotel, instansi-instansi di tingkat provinsi, Krakatau Steel, perusahaan-perusahaan di Suralaya-Merak, bahkan pernah dipesan untuk oleh-oleh ke Belanda dan Al-Jazair. Beberapa artis terkenal seperti Dorce Gamalama, Elvi Sukaesih dan Wahyu bule pun pernah datang dan mencicipi sate Bandeng Nenek Maryamah.  Untuk harga satu bijinya nek Maryamah menjualnya dengan harga Rp 18.000.</p>
<div id="attachment_1494" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1494" title="Bandeng3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Bandeng3.jpg" alt="Sate bandeng dipanggang" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Sate bandeng dipanggang</p></div>
<p>RESEP</p>
<p>Saat dimintai resep pembuatan sate bandeng oleh wartawan www.rumahdunia.com, Nek Maryamah tak segan untuk membaginya. Mau tahu apa aja tentang resep sate bandeng nek Maryamah?</p>
<p>Bahan-bahannya cukup sederhana saja dan mudah didapat. Selain garam dan <em>vetsin</em>, bawang goreng,  ketumbar yang sudah ditumbuk halus, gula merah, sedikit tambahan gula pasir serta santan secukupnya. Semua bumbu-bumbu itu (keculai santan) digiling halus, kemudian diaduk dengan santan dan campurkan daging bandeng yang sudah di halusi dan di buang tulang-tulangnya.</p>
<p>Nur, menantu Nek Maryamah mengatakan, “Kalau ingin hasilnya bagus, harus memilih bandeng yang segar. Jangan pilih bandeng yang lunak atau merah. Biasanya, kalau bandengnya bermata merah nanti sate bandeng jadi gatal dan tidak enak. Palng juga hanya bisa bertahan selama tiga hari.”</p>
<div id="attachment_1495" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1495" title="Bandeng4" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Bandeng4.jpg" alt="Hmmm, lezat sate bandengnya" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Hmmm, lezat sate bandengnya</p></div>
<p>OLEH-OLEH</p>
<p>Kekhasan sate Bandeng membuat Bilpi (27), perempuan asal Bekasi ini tertarik menjual sate bandeng. Sejak tahun 2003 lalu, berlokasi di bahu jalan pintu tol Serang, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman ia mulai berjualan panganan khas ini. “Lumayan, untungnya bisa <em>dapet</em> dua kali lipat. Soalnya banyak orang yang nyari sate Bandeng buat oleh-oleh,” kata ibu dua orang anak ini.</p>
<p>Di jalan menuju pintu tol Serang timur banyak kios makanan khas Banten untuk oleh-oleh para turis lokal. Sate bandeng termasuk yang laris dibeli orang selain ceplis dan  gipang. Tapi sayangnya Deperindakop (Departemen Perindustrian Perdagangan dan Koperasi) belum memiliki program untuk untuk menjaga dan melestarikan makanan  khas banten tersebut. Ditemui dikantornya, Hasmin (52), Kasie Makanan Tradisonal Deperindakop menjelaskna, “Untuk saat ini belum ada. Tapi, rencananya akan kita lestarikan”.</p>
<p>Hal senada juga terjadi di Diparsenibud  Kota Serang. “Belum, tapi tahun 2007 sudah ada pengajuan untuk program melestarikan sate Bandeng dan penganan lainya. Tapi belum ada keputusan dari provinsi. Tahun 2010 rencananya akan kami ajukan kembali anggarannya,” ujar Baini, S.Pd, Kasi Adat dan Budaya.</p>
<p>Wah, lambat sekali, ya! Padahal Banten sudah 9 tahun jadi provinsi. Cepetan lho, Pak. Nanti diklaim lagi sama Malaysia, lho!(Ahmad Wayang)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/sate-bandeng-khas-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KULINER RASA NUSANTARA DI SERANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/13/rasa-nusantara-kuliner-di-serang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/13/rasa-nusantara-kuliner-di-serang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 15:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Empal]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Nasi uduk]]></category>
		<category><![CDATA[Pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Sate Banteng]]></category>
		<category><![CDATA[Siomay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1003</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Halim HD Kembali ke kampung setelah beberapa bulan setiap tahunnya di Yogyakarta, rasanya selalu membuat saya antusias. Serang pada tahun 1968-69, tahun pertama saya memasuki kota pelajar Yogyakarta yang selalu membuat begitu banyak orang iri, tak membuat saya punya kebanggaan berlebihan terhadap kota kebudayaan yang dimitoskan oleh banyak kalangan. Memang ada kenikmatan juga di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_1004" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1004" title="BantenFoto-SateBandeng" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/BantenFoto-SateBandeng-300x225.jpg" alt="Sate bandng khas Banten" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Sate bandng khas Banten</p></div>
<p>Oleh Halim HD</p>
<p>Kembali ke kampung setelah beberapa bulan setiap tahunnya di Yogyakarta, rasanya selalu membuat saya antusias.<span id="more-1003"></span> Serang pada tahun 1968-69, tahun pertama saya memasuki kota pelajar Yogyakarta yang selalu membuat begitu banyak orang iri, tak membuat saya punya kebanggaan berlebihan terhadap kota kebudayaan yang dimitoskan oleh banyak kalangan. Memang ada kenikmatan juga di Yogyakarta. Tapi bukan makanannya. Saya bisa melampiaskan kesenangan saya di Yogyakarta untuk menonton pilem yang lebih beragam dibandingkan Serang yang hanya punya dua bioskop, <em>Royal </em>(diganti menjadi <em>Merdeka</em>, dan lalu <em>Trikarya</em>) dan <em>Sempurna</em> (diganti menjadi <em>Trimurti</em>).</p>
<p>PIAWAI MAKANAN</p>
<p>Bagi saya, kota yang paling nikmat untuk menyantap makanan adalah kota Serang. Dalam bayangan saya yang selalu membuat air liur saya berada ditengah tenggorokan pada saat saya membayangkan kota kelahiran saya. <em>Karedok, pecel </em>dan<em> soto</em> bi Supi dan bi Sanah, <em>empal </em>bi Melah, <em>sate</em> dan <em>sop kambing</em> mang Buloh, <em>rabek</em> mang Kasbuloh di Calung, <em>bubur ayam</em> Kim Cong, <em>bakso</em> dan <em>Siomay</em> Lin Tong, <em>ketoprak</em> nyah Urip dan masih ada belasan jenis makanan yang membuat ingatan saya tak pernah lekang dengan kota kecil dengan pepohonan jenis asem, mahoni, kenari, waru dan juga palem raksasa yang berderet di sepanjang ruas jalan manapun juga. Betapa indahnya kota kelahiran ditahun 1960-an, yang selalu setiap pagi saya lalui jalan-jalan itu bersama ayah saya dan beberapa teman untuk menghirup udara pagi, sebelum matahari terbit.</p>
<p>Serang, dengan jenis makanan khas antara karakter pesisir, Sunda-Jawa, dan wilayah pesisir nusantara lainnya dicampur dengan Melayu-Islam serta terselip pula berbagai jenis makanan Tionghoa, yang semuanya menjadi bagian dari mosaik kultur makanan Serang khususnya dan Banten. Dengan  citarasa berbagai jenis makanan yang membuat siapa saja selalu ingat dengan kota yang berasal dari wilayah persawahan ini, yang juga melalui jenis makanannya itulah Serang dikenal.</p>
<p>Di jaman Bupati Gogo Sanjadirja (1960-an), <em>sate bandeng</em> menjadi salah satu jenis makanan wajib di istana Merdeka di Jakarta; menjadi bagian kesukaan Bung Karno, seperti juga Pangdam Siliwangi Brigjen Ibrahim Ajie yang bukan hanya “konon”, tapi pasti mengharuskan <em>sate bandeng</em> bagian dari menu dalam upacara makan resmi di Jawa Barat. Dan rasanya, karena sang Pangdam legendaris dan Bupati Gogo Sanjadirja yang punya selera bagus itulah makanya <em>sate bandeng</em> bisa dipromosikan dan memasuki wilayah elite. Dan ingat, siapa yang tidak tahu kualitas <em>ikan bandeng</em> dari Sawah Luhur, yang menjadi sumber ikan bandeng paling kondang di Jawa Barat, yang sejak jaman Sultan Hasanuddin wilayah itu dijadikan sebagai wilayah istimewa penghasil <em>ikan bandeng</em>.</p>
<p>Tentu saja <em>ikan bandeng</em> bukan hanya dari Sawah Luhur, juga ada yang berasal dari Domas, Pontang dan wilayah sekitar Labuan dan Anyer Lor dan Kidul dan beberapa daerah lainnya. Tapi, yang namanya <em>ikan bandeng</em> Sawah Luhur yang dikenal karena kenyal dan juga tak berbau lumpur! Dan karena itu pula begitu banyak orang-orang dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Jakarta, jika berwisata ke Serang-Banten, salah satu ole-olenya adalah <em>ikan bandeng,</em> disamping <em>emping</em> dan <em>asem-tua</em>, serta berbagai jenis buah-buahan. Ingat, <em>sawo</em> Banten pada tahun 1960-an sangat dikenal di Jawa Barat karena besar-besar dan manis, seperti juga <em>rambutan si nyonya</em> yang kondang sejagat Jawa Barat dan Jakarta. Dan karena <em>ikan bandeng </em>juga makanya ada <em>pindang bandeng</em>, salah satu favorit makanan saya. Dan soal pindang, jenis makanan khas pesisir nusantara, di Banten bukan hanya <em>pindang bandeng</em>. Juga ada <em>pindang ikan kerong-kerong, ikan teri, ikan peda, ikan lemuru </em>dan<em> ikan tongkol</em>.</p>
<p>Membaca berbagai jenis makanan pesisir Serang-Bantern, pikiran saya melayang dan membayangkan betapa warga Serang-Banten demikian piawainya dalam mengolah makanan yang menjadi sumber bagi pertumbuhan fisik dan rohaninya.</p>
<div id="attachment_1005" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1005" title="BantenFoto-Gipang" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/BantenFoto-Gipang-300x225.jpg" alt="Gipang yang gurih" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Gipang dan ceplis melinjo  yang gurih</p></div>
<p>Saya kira, atau tepatnya, saya yakin bahwa suatu masyarakat yang demikian piawai dalam mengolah berbagai jenis makanan adalah suatu masyarakat yang terbuka yang mampu menerima berbagai jenis kebudayaan yang datang dari luar, dan bagaimana masyarakat itu melakukan penyesuaian dengan citarasanya. Di samping itu, kepiawaian itu juga menjadi tanda dan bukti paling kuat bagi suatu masyarakat dalam memahami lingkungannya, memahami berbagai jenis tetumbuhan dan rempah-rempah serta potensi alam yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Saya merasa bahwa dengan membaca berbagai jenis makanan itu, rasanya pantaslah Banten pernah menjadi kota dan pelabuhan internasional, di mana berbagai bangsa dan kebudayaan bertemu dan saling berbagi dan memahami. Dan dari pertemuan itu pula maka jenis makanan tumbuh dan berkembang, seiring dengan perkembangan pemikirannya dan citarasa yang kian meluas: Banten bukan hanya sebilah golok yang bisa menebas. Tapi lebih dari itu pemikiran keagamaan dan kebudayaannya yang ikut membentuk mosaik kebudayaan nusantara. Banten bukan sekedar seperti kodok dalam batok yang menepuk dirinya paling gagah perwira. Keperwiraan dan kegagahannya justeru ditancapkan ke dalam berbagai jenis dan bentuk kebudayaan yang kontributif di dalam perkembangan dan pembentukan kebudayaan nusantara, termasuk diantaranya sistem irigasi, perkebunan tebu dan pengolahannya, dan berbagai jenis rempah-rempah.</p>
<p>RITUAL KAMPUNG</p>
<p>Pulang ke kampung dengan antusiasme yang meluap dan dengan seijin orangtua saya, maka satu persatu warung langganan dicicipi kembali. Melalui lidah saya bertemu bukan hanya citarasa ragawi, tapi juga pertemuan dengan teman-teman lama serta kenalan yang memiliki citarasa sama. Makanan mempertemukan siapa saja dalam suatu ruang sosial di mana kita bisa berbagi pengalaman, dan saling memperbandingkan, dan sekaligus mengukuhkan suatu citra kebudayaan melalui lidah.</p>
<p>Sesampai di kampung dari perjalanan sepanjang belasan sampai duapuluh jam, dan istirah barang dua-tiga jam, maka sore menjelang magrib, mengunjungi bubur Kim Cong (pada waktu itu masih mangkal di rumahnya, di Mangga Dua Dalam) menjadi kewajiban, seperti kewajiban pada malam hari untuk menikmati <em>night life</em> di Royal untuk menyaksikan pilem. Dan jika tak ada pilem yang menarik, maka jalan-jalan di Taman Sari, dan nongkrong di warung untuk menikmati bebagai jenis gorengan, seperti pisang, ubi, singkong, tape, misro (amis di jero) dengan segelas dua wedang bandrek.</p>
<p>Dan esok harinya, sejenis ritual yang tersusun dalam daftar setelah mendapat restu dari ibu saya: makan di warung bi Melah atau mang Buloh atau Kasbuloh; dan siang hari memasuki warung pecel atau karedok, ketoprak. Ibu saya mengijinkan jika liburan saya hanya satu minggu untuk menikmati kesenangan saya, dengan selingan makan di rumah.</p>
<p>Sependek ingatan saya, rasa-rasanya hobi jalan-jalan keliling kota karena ayah saya yang selalu mengajak saya setiap subuh sampai menjelang matahari terbit, sejak saya masih di kelas Nol (taman kanak-kanak), Sekolah Rakyat (SR) Mardi Yuwana,  sampai SMPN III Lopang.</p>
<p>Dan kesenangan itu saya lanjutkan.</p>
<div id="attachment_1006" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1006" title="Serang sumpek" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Serang-sumpek-300x225.jpg" alt="Serang makin panas dan penuh polusi" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Serang makin panas dan penuh polusi</p></div>
<p>Kenikmatan jalan-jalan di Serang bukan hanya karena hobi. Tapi juga kota Serang yang rindang, bersih, dan banyak warung yang bisa diampiri pada saat kita lelah.</p>
<p>Sekarang saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kita bisa jalan-jalan dengan nikmat: kepadatan lalu lintas yang membuat kita tak lagi nikmat jalan-jalan sambil kongko; juga tiadanya pepohonan yang membuat kita berkeringat bukan karena berjalan tapi panas yang menerpa kepala dan tubuh kita. Ditambah dengan makin menyempitnya (atau menghilang!) trotoar dan tak jarang dipenuhi oleh pedagang kaki lima.</p>
<p>Coba anda bayangkan kesenangan jalan-jalan pada jaman Bung karno dan Bupati Gogo Sanjadirja: dari Mangga Dua lalu menyusuri ke jalan Dipanegara menuju alun-alun, nongkrong di alun-alun, lalu ke Kota Baru dan menyusuri Magersari berbelok ke Gang Rendah, mampir sebentar di toko rempah-rempah pakde saya, lalu ke jalan Hasanuddin, ke Calung dan Lopang, kembali ke Mangga Dua Dalam melalui Kebon Sawo dan Kebon Sayur.</p>
<p>Saya kira, sekarang saya tak lagi berminat untuk menyusuri jalan-jalan itu; kota Serang sudah tak nikmat lagi. Lihatlah misalnya Taman Sari atau Pamelan (Palem laan) yang dulu rindang, kini tak ada lagi pepohonan; semuanya bangunan yang norak, dan sisa arsitektur kolonial hampir musnah; dan yang tersisapun hanya meninggalkan rasa pahit. Padahal, di masa lampau, jalan ke Taman Sari, Pamelan, Cimuncang dan Pisang Mas lalu ke Cipare dan sampai ke Ciceri, rasanya bukan suatu perjuangan yang berlebihan. Dan jalan kaki ke Kasemen, Karangantu atau Bio Banten atau Masjid Agung Banten, bukan sesuatu yang istimewa. Pengisi liburan, sesekali kami isi dengan santai lika liku jalan itu kami lewati sambil sesekali mampir di rumah teman atau warung. Kini tak ada kenikmatan. Kota dan berbagai tata ruang yang sudah amburadul dan rusaknya lingkungan alam serta sistem transportasi yang mengejar setoran, membuat saya kecut jika saya balik ke kampung.</p>
<p>Sama seperti tak nikmatnya kita bersepeda di jaman kiwari di kota Serang. Berbeda dengan jaman lampau ketika saya baru bisa bersepeda dan menyusuri jalan menuju Kaloran, Kaujon lalu sampai Taktakan dan melintasi pemakanan Tionghoa Sentiong dan berbalik ke Lontar, Magersari dan kembali ke kampung menjadi kebiasaan hampir setiap dua hari sekali. Kami juga senang sekali setiap minggu ke Kasemen, mandi di sungai, atau ke Karangantu untuk mancing, singgah di Bio Banten (Avalokirtesvara) dan bisa juga dilanjutkan melalui Dermayon (pemukiman orang-orang Indramayu) ke Tasik Kardi (danau buatan) yang dulu menjadi penampungan air untuk irigasi dan sekaligus sebagai tempat hiburan kaum elite tradisi Banten. Bahkan kami sering juga dari Tasik Kardi lalu ke Kramat Watu, dan dari sana barulah pulang. Kadang-kadang kami juga dolan ke Masjid Agung Banten, sebelum ke Tasik Kardi.</p>
<p>Dari Serang ke Kramat Watu dan lalu belok ke arah kiri menuju Kemuning, saya dan beberapa teman mampir ke rumah mang Pe’i, kenalan dan kerabat keluarga kami yang selalu membawa ole-ole ke rumah kami berupa Pisitan, Rambutan, Duren, Manggis, Pete, Jengkol hasil panennya. Tentu saja gemblong, wajik, rengginang dan tape ketan hitam. Sesekali kami juga pergi ke Serdang, dan dari Serdang kami dolan ke Gunung Santri. Dari puncak Gunung Santri kami menyaksikan keindahan bentangan sawah-sawah dan dikejauhan kami menyaksikan alunan ombak ritmis di teluk Bojonegara. Pulangnya, kami singgah di Serdang, di rumah keluarga bapak Tb. Endung, seorang pokrol bambu, advokat jaman kolonial, yang memiliki ratusan batang pohon kelapa dan bentangan sawah. Di rumah itu kami menikmati kelapa muda dan wajik, gemblong dan berbagai penganan. Dan pulangnya, boncengan kami penuh dengan berbagai jenis ole-ole.  Dari Serang ke Kasemen, Kramat Watu, Serdang, Cilegon, Anyer Lor atau bahkan Merak serta Pulorida, pada waktu itu bukanlah sesuatu yang berat. Kami lalui dengan bersepeda dengan santai. Kami juga suka ke Cikande, Cisoka, Balaraja dan  menyusuri desa-desa di dalamnya tempat sebagian leluhur kami disemayamkan di Prau dan Leuweng Gede (Hutan Besar), dan juga Tambak serta Pamarayan. Sesekali kami  ke arah Selatan, ke Cadas Sari, lalu ke Pandeglang dan Menes – lantaran kami tergoda oleh “mitos” dan banyak opini tentang gadis-gadis kidul yang bukan maen!! Tapi, sesungguhnya kami cuma Platonis kelas teri yang hanya bisa memandang dari kejauhan, diantara cucuran keringat.</p>
<p>INGAT SERANG</p>
<p>Apakah saya sedang “bernostalgia”?</p>
<p>Bisa jadi yaa.</p>
<p>Saya tidak menolak jika ada orang yang menuding saya seperti itu. Tapi, apa yang ingin saya sampaikan di sini, catatan selayang pandang tentang Serang di jaman lampau, jaman saya masih Sekolah Rakyat dan SMP di kota kelahiran, adalah usaha saya untuk mencoba mengingat.</p>
<p>Yaaa, mengingat kembali.</p>
<p>Dan usaha untuk mengingat ini, tanpa bermaksud untuk mengharubiru dengan kenyinyiran. Saya ingin mengingat melalui hal-hal yang kecil-kecil yang saya alami secara personal.</p>
<p>Bagi saya hal ini penting, agar ingatan saya tidak rapuh; agar daya ingat ini tidak luntur oleh proses jaman yang cenderung menghilangkan segala sesuatu yang pernah terjadi.</p>
<p>Tentu saja apa yang saya catat di sini juga mempunyai kelemahan; mungkin data yang saya catat secara personal itu tidak cukup sahih.</p>
<p>Naah, untuk itulah saya harap, sesungguhnyalah saya ingin mengajak siapa saja yang tinggal dan mengenal kota Serang dan Banten dengan reflektif, melalui kaca mata personal tentang hal-hal kecil yang kita alami, agar mosaik sejarah lokal (semoga saya tidak ambisius dan takabur!) bisa lebih kaya melalui cerita orang per orang, yang tentu saja ada juga bolongnya: sebuah lubang menganga untuk dimasuki oleh siapa saja.</p>
<p>Bersyukurlah kepada bolong yang berupa dan bisa menjadi kemungkinan bagi siapapun untuk mengisi dan merajutnya dalam rangkaian catatan personal yang lain. (*)</p>
<p><strong>*) Halim HD. – Networker Kebudayaan. </strong></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/13/rasa-nusantara-kuliner-di-serang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

