rumahdunia | Laporan Utama | September 20th, 2011 | No Comments »
Di saat Pemerintah Provinsi Banten membagi-bagikan dana hibah sebesar Rp 340 miliar kepada sekira 220 lembaga seperti orgmas, LSM, dan lainnya. Di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, sebuah taman bacaan masyarakat (TBM) bernama TBM Kosala Library terpaksa harus tutup, karena ketidakmampuan membayar sewa rumah berdurasi setahun sebesar 4,5 juta yang diminta oleh pemilik rumah. Sangat ironis, padahal keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Lalu di mana peran pemerintah daerahnya? Bagaimana sekarang kondisi TBM Kosala Library?
Sejak Idul Fitri 1432 H, TBM Kosala Library yang beralamat di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, resmi tidak memiliki sekretariat. Secara otomatis kegiatan rutin TBM pun terhenti. Ketua TBM Kosala Library, Ahmad Arif mengatakan, seusai Lebaran semua buku dan barang lainnya dititipkan ke tempat tinggal orangtuanya di Kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas. “Sesuai perjanjian setelah Lebaran, maka semua barang-barangnya kami angkut ke rumah orangtua saya. Untuk kegiatan terpaksa tidak berjalan karena belum ada sekretariatnya,” kata Arif.
Upaya ingin kembali memiliki sekretariat akhirnya kesampaian, setelah pengelola diusulkan untuk menempati rumah dinas perhutanan dan perkebunan (Dishutbun) di jalan raya Rangkasbitung-Bogor kilometer 33, persisnya di Kampung Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas. Izin menempati rumah dinas Dishutbun langsung atas rekomendasi Camat Cipanas Sukandi Mangkualam, setelah sebelumnya Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menghubunginya melalui telepon seluler.
Namun, bekas rumah dinas Dishutbun itu tidak bisa langsung ditempati karena kondisinya sangat memprihatinkan. Pantauan di lapangan, Selasa (20/9), tembok rumah sudah terlihat rapuh. Begitu pun plapon sudah tampak jebol dan daun jendela tanpa kaca. Belum lagi, bekas rumah Dishutbun itu belum ada aliran listrik dan sarana air bersih, sehingga pengelola TBM Kosala Library harus memperbaiki dan mengadakan pemasangan listrik dan air bersih. lanjutkan membaca »
rumahdunia | Warta Banten | September 5th, 2011 | No Comments »
CIPANAS–Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga gula pasir Rp 11 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 10 ribu, ayam potong Rp 30 ribu, ayam merah Rp 38 ribu, daging sapi dan kerbau masih bertahan di nominal Rp 70 ribu.
Sementara itu, harga sayuran seperti tomat per kilogram Rp 4 ribu, cabe rawit Rp 6 ribu per kilogram, cabe kriting Rp 12 ribu per kilogramnya, kentang Rp 8 ribu per kilogram, bawah merah per kilogram Rp 10.
H Muhyi, pedagang daging kerbau mengatakan, belum stabilnya harga daging karena kebutuhan warga terhadap daging masih cukup tinggi dan pasokan daging terbatas. “Setelah lebaran ini banyak warga yang sedang hajat nikahan atau khitanan sehingga peminatnya masih tinggi,” ujarnya, Senin (5/9)
Senada dikatakan Rudi. Menurutnya, harga beras makin tinggi karena para petani belum bisa menanam padi di musim kemarau. “Selain itu, pasokan dari pusat atau agen juga lagi terbatas. Wajar kalau harganya belum turun sepenuhnya,” kata Rudi. (HB).
rumahdunia | Warta Banten | September 5th, 2011 | No Comments »
CIPANAS–Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran air.
Nanang, pedagang di pasar tersebut memperkirakan tumpukan sampah itu sudah ada sejak sebelum Idul Fitri 1432 H, dan hingga H+5 ini tak kunjung diangkut oleh petugas pasar setempat. “Ya jelas sangat tidak nyaman. Ini kan mengganggu kesehatan dan juga bisa berpengaruh kepada masyarakat yang akan belanja karena baunya menyengat,” ujar Nanang. lanjutkan membaca »