TBM KOSALA LIBRARY, DITUTUP

Di saat Pemerintah Provinsi Banten membagi-bagikan dana hibah sebesar Rp 340 miliar kepada sekira 220 lembaga seperti orgmas, LSM, dan lainnya. Di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, sebuah taman bacaan masyarakat (TBM) bernama TBM Kosala Library terpaksa harus tutup, karena ketidakmampuan membayar sewa rumah berdurasi setahun sebesar 4,5 juta yang diminta oleh pemilik rumah. Sangat ironis, padahal keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Lalu di mana peran pemerintah daerahnya? Bagaimana sekarang kondisi TBM Kosala Library?
Sejak Idul Fitri 1432 H, TBM Kosala Library yang beralamat di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, resmi tidak memiliki sekretariat. Secara otomatis kegiatan rutin TBM pun terhenti.  Ketua TBM Kosala Library, Ahmad Arif mengatakan, seusai Lebaran semua buku dan barang lainnya dititipkan ke tempat tinggal orangtuanya di Kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas. “Sesuai perjanjian setelah Lebaran, maka semua barang-barangnya kami angkut ke rumah orangtua saya. Untuk kegiatan terpaksa tidak berjalan karena belum ada sekretariatnya,” kata Arif.
Upaya ingin kembali memiliki sekretariat akhirnya kesampaian, setelah pengelola diusulkan untuk menempati rumah dinas perhutanan dan perkebunan (Dishutbun) di jalan raya Rangkasbitung-Bogor kilometer 33, persisnya di Kampung Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas. Izin menempati rumah dinas Dishutbun langsung atas rekomendasi Camat Cipanas Sukandi Mangkualam, setelah sebelumnya Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menghubunginya melalui telepon seluler.
Namun, bekas rumah dinas Dishutbun itu tidak bisa langsung ditempati karena kondisinya sangat memprihatinkan. Pantauan di lapangan, Selasa (20/9), tembok rumah sudah terlihat rapuh. Begitu pun plapon sudah tampak jebol dan daun jendela tanpa kaca. Belum lagi, bekas rumah Dishutbun itu belum ada aliran listrik dan sarana air bersih, sehingga pengelola TBM Kosala Library harus memperbaiki dan mengadakan pemasangan listrik dan air bersih. lanjutkan membaca »

HARGA SEMBAKO BELUM STABIL

CIPANAS–Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga  gula pasir Rp 11 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 10 ribu, ayam potong Rp 30 ribu, ayam merah Rp 38 ribu, daging sapi dan kerbau masih bertahan di nominal Rp 70 ribu.

Sementara itu, harga sayuran seperti tomat per kilogram Rp 4 ribu, cabe rawit Rp 6 ribu per kilogram, cabe kriting Rp 12 ribu per kilogramnya, kentang Rp 8 ribu per kilogram, bawah merah per kilogram Rp 10.

H Muhyi, pedagang daging kerbau mengatakan, belum stabilnya harga daging karena kebutuhan warga terhadap daging masih cukup tinggi dan pasokan daging terbatas. “Setelah lebaran ini banyak warga yang sedang hajat nikahan atau khitanan sehingga peminatnya masih tinggi,” ujarnya, Senin (5/9)

Senada dikatakan Rudi. Menurutnya, harga beras makin tinggi karena para petani belum bisa menanam padi di musim kemarau. “Selain itu, pasokan dari pusat atau agen juga lagi terbatas. Wajar kalau harganya belum turun sepenuhnya,” kata Rudi. (HB).

SAMPAH DI PASAR GAJRUG MENUMPUK

CIPANAS–Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran air.

Nanang, pedagang di pasar tersebut memperkirakan tumpukan sampah itu sudah ada sejak sebelum Idul Fitri 1432 H, dan hingga H+5 ini tak kunjung diangkut oleh petugas pasar setempat. “Ya jelas sangat tidak nyaman. Ini kan mengganggu kesehatan dan juga bisa berpengaruh kepada masyarakat yang akan belanja karena baunya menyengat,” ujar Nanang. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010