ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

advert

Oleh Gol A Gong

Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada 18 Juni 1942 duduk di kursi roda dengan penuh haru. Sedangkan Fergie melambaikan tangannya kepada para penyambutnya. Gubernur Banten 2017, yang kini dipegang seorang cendekiawan asal Pandeglang, profesor di bidang ilmu strategi marketing, langsung menyalami mereka. “Selamat datang Sir Paul dan Sir Fergi di tanah sultan ini,” kata Gubernur yang cendekiawan itu. Kedua orang hebat asal Inggris itu tersenyum .

KEHORMATAN

Hari itu Paul dan Fergie memenuhi undangan dari Kesultanan Banten yang sudah direvitalisasi, untuk menerima gelar kehormatan “Tubagus”. Kesultanan Banten kini difungsikan hanya sebagai simbol peradaban masa lalu yang pernah jaya. Jika ingin foto-foto denan mereka dipungut biaya Rp. 100.000,- atau “uang merah” seerti halnya kalau kita berfoto-ria dengan suku Dani di Lembah BEiem, Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Kedatanan Sir Fergie dan Sir Paul adalah upaya Sultan muda, yang bermaksud mempererat tali silaturahim lagi dengan Inggris, yang pernah diproyekkan Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar, yang dikenal sebagai Sultan Haji atau Sultan Muda.

Sultan Muda Kesultanan Banten yang ikut mendampingi Gubernur Banten terpilih pada Pilkadal 2017, mengingatkan khalayak saat press confrence di “Kaibon Room” Bandara Soe-Ta, bahwa agar tidak a-historis, pada Kamis, 10 November 1681, Sultan Haji menjilat pantat orang-orang Inggris dengan mengirimkan rombongan berjumlah 33 orang, yang dikomandanii Ngabei Naya Wipraya dan Ngabei Jaya Sedana. “Jadi, kita harus merevisi kedua orang itu, yang selalu kita sebut duta besar pertama Banten. Mereka adalah para penjilat pantat orang Inggris,” tegas Sultan Muda.

Maka pada 29 April 1682, kapal berisi upeti dari Kesultanan Banten sampai di Inggris dan berlabuh di Sungai Thames dekat Kota Erith. Sultan Haji menyogok Raja Inggris, Karel II, berupa 200 karung lada, satu partai intan berlian, burung merak dari emas yang bertaburkan intan baiduri, serta hadiah-hadiah lainnya, agar kekuasaan ayahnya – Sultan Ageng Tirtayasa, jatuh ke tangannya. Sogokan itu semuanya berjumlah sekitar 12.000 real.

Sir Paul dan Sir Fergie yang duduk di sebelah Sultan Muda dan Gubernur Banten 2017 yang cendekiawan itu. melemparkan senyum ke kanan dan ke kiri. “Ngabei Naya Wipraya dan Ngabei Jaya Sedana diangkat menjadi ‘Knight’ dan dianugerahi gelar kehormatan, Sir Abdul dan Sir Achmet. Maka sudah wajib hukumnya, jika Sir Paul Mc Cartney dan Sir Alex Ferguson mendapat gelar kehormatan pula dari kita. Yaitu ‘Tubagus’,” begitulah akhir pidato Sultan Muda.

Kemudian Sultan Muda membeberkan kenapa dua nama itu yang dipilih. Ternyata unsur subjektivitas lebih mendominasi. Sultan Muda pun manusia biasa. “Saya penggemar lagu-lagu The Beatles dan The Wings. Terutama kalau sudah mendengarkan lagu ‘Yesterday”, “Let It Be’ dan ‘Waterfall’. Sedangkan Sir Fergie, semua pasti sudah mahfum. Dialah pelatih kebanggaan kita semua. Sepanjang hidupnya diberikan untuk MU. Sewaktu mahasiswa, kamar kosan saya penuh dengan pernak-pernik MU! Jadi, karena dedikasi mereka dan sumbangsih mereka terhadap seni dan olahraga, kita wajib hukumnya memberi gelar ‘Tubagus’ kepada mereka! Dengan cara seperti ini, Banten bisa mendunia. Inilah yang disebut spirit Banten untuk dunia. Pada masa kepemimpinan saya sebagai Sultan Muda dan sahabat saya sebagai Gubernur Banten periode 2017 hingga 2022, visi dan misi ini harus terwujud. Begitu juga nanti pengganti kami meneruskannya.”

Gubenur Banten terpilih menambahi, “Weel, sorry, yang muda yang disultankan. Sebetulnya saya lebih menyukai Barcelona, karena huruf depannya ‘B’ seperti halnya ‘B’ di ‘Banten’. Jadi, yang layak mendapat hadiah gelar ‘Tubagus’ adalah ’Pep Guardiola’, karena sudah mengubah lapangan hijau sebagai panggung opera, bukan ring tinju. Tapi, saya masih menghormati Sultan Muda. Jadi, tahun depan saya akan memberi Pep gelar ‘Tubagus’. Syukur-syukur Lionel Messi mau juga. Okey, sekarang no problem. Wellcome home, my brother Sir Tubagus Paul Mc Cartney dan Sir Tubagus Alex Ferguson! Kalian berdua layak mendapatkan gelar ‘Tubagus’! Please!” Saat mengakhiri kalimat itu, Gubernur Banten yang visioner ini memeluk mereka dengan penuh rasa bangga dan haru.

Kilatan blitz berkelebat bagai petir; mengabadikan moment kedatangan dua orang hebat di jagat raya ini ke Banten. Peristiwa ini lebih megah daripada saat  Prof.Dr.Tb. Chasan Shohib mendapatkan gelar Pendekar Pembangunan Provinsi Banten Pemegang Amanah Sultan Banten atau Sultan Banten ke-18 dari sejumlah massa yang tergabung di Yayasan Bina Islam Banten dan LSM Kerabat dan Duriar Sultan (Keris) pada  Kamis 23 Juni 2011 di situs Komplek Istana Kaibon, Banten Lama.

TEROBOSAN

Komplet sudah kepopuleran Banten di Inggris, yang dulu pernah dipimpin ulama dan jawara. Setelah Banten dipimpin cendekiawan bergelar Profesor bernama Muhammad Yusuf pada Pilkadal Banten 2017 – 2022, Banten tidak lagi rendah diri dan jadi ledekan politik orang-orang. Terbukti sudah apa yang dikatakan Jendral TNI (Purn) Soerjadi Soedirdja di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot” (Gong Publishing, Mei 2010), bahwa ”Potensi ulama, jawara dan cendekiawan di Banten harus disatukan, bukan dipertentangkan. Jika Banten ingin maju, semangat ilmu keagamaan ulama, keberanian jawara, dan kepintaran cendekiawan harus ada pada pemimpin Banten masa depan.”

Muchtar Mandala, Pendiri Kampung Nyi Mas Ropoh, Pandeglang mengatakan hal setali tiga uang di buku ”Banten Bangkit #1” itu, ”Banten selama ini dikenal dengan stigma sebagai daerah ulama dan jawara. Sebenarnya Banten juga memiliki potensi cendekia yang cukup besar yang telah menunjukkan kiprahnya pada tingkat nasional maupun internasional. Sudah saatnya kaum cendekia Banten dapat menunjukkan kiprahnya bagi masa depan Banten yang lebih cerdas, cemerlang dan berbudaya, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ulama Banten masa lalu. Banten sudah saatnya dikenal juga dengan peranan kaum cendekianya.”

Rakyat Banten pada Pilkadal 2017 -  2022 tidak salah memilih Muhammad Yusuf sebagai Gubernur Banten periode 2017 – 2022 yang unggul mengusung Program “Banten Bangkit”, menyingkirkan Ratu Atut Chosiyah yang maju untuk ketiga kalinya dengan visi masjid dan misi sajadahnya. Terbukti Program “Banten Bangkit” pada 100 hari pertama mendapat resp[on positif. Muhammad Yusuf mengusulkan reformasi politik digenjot hingga ke nol kilometer di stasiun Anyer, proyek-proyek APBD yang trilyunan rupiah harus ditenderkan kepada siapa saja yang memenuhi kriteria, bukan berasaskan kekeluargaan. Kedua terobosan ini dianggap proporsional. Kalangan pejabat dan pengusaha yang tidak ingin masuk penjara berlomba mengejar karier dengan cara elegan.

Begitu juga terobosan ketiga. Kesultanan Banten direvitalisasi. Kesultanan Banten yang ibarat kain rombeng alias compang-camping dipoles hingga cantik dan seksi. Warga di teluk Banten yang sudah bosan miskin menerima dengan lapang dada. Apalagi solusinya menyenangkan, yaitu para pengemis dikaryakan jadi tenaga honorer di beberapa pemerintah kota dan kabupaten. Dan atas kesepakatan bersama, Sultan Muda generasi kesekian diangkat secara resmi sebagai simbol kejayaan Banten masa lalu dengan tujuan jelas, yaitu menuju pencitraan yang lebih baik. Sultan Muda bersiap sedia jadi patung hidup jika ada yang ingin foto bareng. Pemerintah Provinsi lewat APBD menanggung hajat hidup keluarga Kesultanan Banten era 2017 ini. Tak berapa lama, dampak positifnya sudah terasa. Pariwisata pun meningkat pesat. Para peziarah merasa nyaman selama berada di areal Kesultanan Banten. “Tidak ada lagi preman yang menggebrak-gebrak kencleng. Roda ekonomi pun bergerak cepat di teluk Banten. Seorang investor langsung mengeruk Bandar Karanghantu dan didandani ulang seperti pada abad 16 dilengkapi dengan hotel berbintang. Warga Serang bisa naik kereta, bgersepeda, atau naik delman jika ingin menikmati kuliner Bandeng lumpur di Tapak Bumi milik Prof.Dr. Das Albantani..

Tidak hanya sampai di situ terobosan si gubernur profesor. Awalnya memang ditolak dan sampai keluar fatwa haram dari MUI Banten, yaitu perumusan kembali tentang kepada siapa saja gelar “Tubagus” dan “Ratu” harus diberikan. “Tubagus sudah jadi sejarah. Itu adalah pengharaan yang tinggi dari sultan kepada para pejuang Banten masa lalu. Cukup satu generasi saja. Itu tidak relevan lagi diberikan kepada anak dan cucunya atau cicitnya. Itu lebih tepat diberikan nanti kepada orang-orang yang telah memberikan sumbangsih pemikiran dalam ilmu pengetahuan dan kemasyarakatan di Banten. Misalnya Husein Djayadiningrat dan Bachtiar Rivai layak menyandang gelar ‘Tubagus’. Begitu juga gelar ‘Ratu’. Pelari cepat asal Banten, Martini Kustiah, layak mendapat gelar kehormatan ‘Ratu’. Berkat Martini Kustiyah, dunia atletik Banten dikenal di negeri ini,” suara Gubenur Banten 2017 – 2022 ini jernih dan santun. Pesepakbola Banten, Nasuha, anak petani yang mencuat saat Piala AFF Suzuki 2010, juga layak mendapat gelar “Tubagus” Nasuha.

Akhirnya orang memahami. Atau tepatnya tidak peduli lagi apakah perlu memakai gelar “Tubagus” atau tidak. Banyak yang mencopot dan menanggalkannya dengan sukarela. Mereka mengaku malu ketika gelar ‘Tubagus’ dan ‘Ratu’ adalah apresiasi dari Sultan Banten atas bhakti nenek moyang mereka kepada tatar Banten, yang saat itu sedang berupaya lepas dari Belanda. Para anak generasi kedua, ketiga, keempat hingga kesekian merasa malu dan tidak berhak dengan gelar itu. Mereka merasa belum pernah melakukan apa-apa pada Banten. Tadinya mereka berpikir, bahwa itu adalah gelar kebangsawanan atau memliki trah langsung dari Sultan Banten sekelas Sultan Ageng Tirtayasa. Ternyata hanya pemberian orangtua saja saat lahir. Apalagi ketika mereka mendapatkan informasi, tentang peperangan antar ayah dan anak; Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Akhirnya mereka sepakat, jika sudah melakukan hal terbaik bagi Banten, mereka akan dengan bangga menyertakan “Tubagus” di depan nama mereka. Begitu juga “Ratu”.  Akur sudah. Kloplah. Semua demi kejayaan Banten.

JAWARA

Paling kontroversial adalah terobosan terakhir. Gubernur profesor itu mengusulkan penghapusan penyebutan “jawara”. Katanya, “Jawara sudah berakhir sejak Kesultanan Banten dibumihanguskan Jendral Herman Daendles. Tapi, jika ada yang ingin disebut ‘jawara’ dalam arti mahir bela diri dan tidak mempan dilukai senjata apapun, harus diberlakukan fit and proper test.”

Maka mendaftarlah banyak warga Banten yang ingin disebut “jawara”. Mereka harus melewati fit and proper test. Pertama, duel satu lawan satu layaknya para gladiator zaman Romawi, kemudian ditembak dan dibacok. Ada yang mati tertembak dan cacat dibacok. Tapi terpilih 50 besar. Para calon jawara tulen itu diceburkan di tengah Selat Sunda tanpa alat pengaman. Mereka adu cepat berenang, hingga mengalahkan kapal cepat! Juga ditest sholat lima waktu dan mengaji. Tidak banyak yang lolos, hanya 10 orang saja. Dan yang lolos betul-betul memenuhi kriteria sebagai jawara Banten. Ujian selanjutnya, ini yang berat! Kesepuluh jawara tulen Banten itu harus rela dikubur hingga sebatas kepala di alun-alun barat kota serang. Mereka dipertontonkan kepada warga Banten. Kepada siapa saja dipersilahkan untuk mengeluarkan uneg-uneg mereka. Pada masa sebelumnya banyak rakyat Banten yang tertekan oleh prilaku jawara, yang diidentikan dengan kekerasan. Padahal jawara itu sejatinya mengayomi dan melindungi rakyat. Banyak rakyat Banten yang melempari kesepuluh kepala itu dengan batu. Bahkan ada yang meludahi segala. Kesepuluh calon jawara itu melewati proses katarsis dengan tabah. Akhirnya mereka lulus ujian. Sultan Muda menganugrahi mereka gelar “Tubagus” juga.

Kesepuluh jawara tulen Banten itu kemudian diangkat jadi pengawal khusus gubernur Banten. Pelan-pelan citra jawara yang tadinya identik dengan kekerasan berubah jadi baik dan membanggakan. Semua warga Banten berbalik mencintai jawara Banten. Kini tidak ada lagi dikotomi “jawara putih’ atau “jawara hitam” yang pernah diklaim H. Embay Mulya Syarief, bahwa dirinya adalah dari golongan “jawara putih”. H. Embay mengatakan, “Jawra putih adalah jawra yang sholat dan melindungi rakyat.” Pada Banten 2017 hingga seterusnya, hanya ada “jawara” saja, tanpa embel-embel “hitam” atau “putih”. Haji Embay Mulya Syarief, yang dulu sering menyebut dirinya “jawara sholat”, sangat setuju dengan terobosan gubernur yang professor itu.

KAGUM

Setelah seminggu berkelana di Banten; mulai dari menikmati nasi sum-syum, ujung kulon, melihat badak, hingga suguhan goyang jaipong, Sir Paul dan Sir Fergi yang sudah bau tanah itu mengintip kagum dari balik kaca bus mewah, yang mengantarkan mereka ke Bandara Soe-Ta. Betapa terharu mereka. Sepanjang jalan tol yang masih terus diperbaiki banyak spanduk dengan nama mereka: “So long Sir Tubagus Paul Mc Cartney and Sir Tubagus Alex Ferguson. God bless you!”

“Wow! Rakyat Banten sangat baik. Kami seperti raja saja. Penyambutan ini melebihi ketika saya dan MU menyabet juara kedua piala Champions 2011!” Sir Tubagus Alex Ferguson masih saja berdecak penuh kekaguman. Beberapa kali dia mengarahkan kamera videonya. “Bukankah begitu, Sir Paul?” tanya Fergi.

“Satuju, satuju kule mah, Sir Tyubajus,” Paul menambahi sambil memetik gitar; menyanyikan lagu “Yesterday” dengan sangat khidmat.

Sir Tubagus Fergie tertawa-tawa. (*)

*) Solo 15 Sept 2010 – Ciloang 24 Juni 2011

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010