GERAKAN JAMBI MEMBACA
rumahdunia | Warta Banten | October 31st, 2010 | No Comments »
JAMBI—Kedatangan Gol A Gong ke Jambi selaku Majelis Penulis FLP adalah sebuah anugerah bagi flpers (FLP) Wilayah Jambi. Mengapa? Sebab melalui perantaran ‘tangan’ orang lain, yakni Bang Firdaus yang menghadirkan Gol A Gong ke Jambi, dan tentunya FLP Jambi ketiban ‘pulung’, ikut dapat jatah satu hari penuh belajar bersama Gol A Gong.
Tepatnya tanggal 24 Oktober 2010, FLP Wilayah Jambi mengadakan Workshop Menulis Novel & Cerpen bersama Gol A Gong fullday dari jam 09.30-17.30 WIB. Gol A Gong penulis 70 buku dengan salah satu buku novel serial yang fenomenanya “Balada Si Roy” mampu menyalurkan energi positifnya ke para peserta workshop penulis muda Jambi.
Sejatinya memang workshop ini adalah program khusus internal FLP, namun kami juga memberi kesempatan kepada personal lain yang bersedia ikut dalam kelas ini. Ada seorang penulis cilik yang kini berdomisili di kota Jambi, Yola namanya. Murid kelas 6 SDI Alfalah Jambi ini, adalah satu-satunya peserta terkecil yang antusias mengikuti setiap sesi materi yang diberi GG. Bahkan sepertinya yang paling heboh dan antusias justru bundanya Yola.
Yola sendiri bakal mengeluarkan buku yang akan diterbitkan oleh Mizan Pustaka dengan tema Kecil-kecil Punya Karya (saya lupa judulnya), insya Allah bulan depan (cover buku Yola diperlihatkan ke kami saat di kelas). Yola hamper sama seperti Bella, nama lain Nabila putri sulung GG yang juga menghasilkan banyak karya di usia dini.
Program workshop menulis ini disamakan dengan program Be A Writer, yang sudah lama digagasa oleh Gol A Gong. Kami rasakan, p[rogram ini adalah program perubahan mindset kembali (re-charge) tentang dunia kepenulisan yang selama ini justru tidak disadari baik oleh kami yang sudah menulis (bahkan sudah ada yang menembus media lokal dan nasional ataupun pemula). Ini menjadikan pembelajaran yang bagus untuk pengembangan seorang penulis kedepan. Upgrading kepenulisan penting bagi kami penulis lokal yang berusaha mengangkat budaya melayu Jambi ke tingkat nasional melalui dunia literasi & kepenulisan.
Di Be A Writers kami mendapat asupan tambahan yang setidaknya menambah kekayaan wacana dan wawasan bagi penulis untuk selalu up to date terhadap pola pikir sebagai seorang penulis yang menginginkan karyanya bisa tembus ke media bahkan nantinya ke bentuk buku.
Ada wacana serius yang digelontorkan kepada rekan-rekan yang ikut kelas menulis ini, adalah keinginan yang kuat untuk mengumpulkan naskah yang bercerita seputar Jambi baik budaya melayunya, adat istiadat dan masyarakat Jambi dengan sungai Batanghari yang cukup dikenal masyarakat di daerah lain.
Buku 25 cerpenis keren Banten yang sudah diterbitkan oleh Gong Publishing tersebut memacu diri Flpers Jambi untuk bisa membuktikan karya terbaiknya bisa di terbitkan menjadi buku juga, yang tentunya dengan kualitas yang bagus dan marketable.
Selama di Jambi dari tanggal 23-27 Oktober 2010, Gol A Gong selain memberikan ilmu dan wawasan menulisnya kepada FLP, juga mengisi di berbagai tempat dalam hal dunia literasi, pembuatan film dan pelatihan cerpen & novel yakni di komunitas Tebo Art Center, kota Tebo dan SMA Attaufiq Jambi.
Menariknya, Gol A Gong pendiri Rumah Dunia Serang, Banten tersebut juga mendapat amanah sebagai ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia. Hal ini semakin memperkuat peran seorang penulis sebagus Gol A Gong untuk bergerak di tingkat bawah yang mungkin belum terjangkau oleh dinas terkait dan pemerintah dalam menginisiasi masyarakat Indonesia gemar membaca.
Misinya untuk menjadikan Indonesia Membaca juga digaungkan dan disosialisasikan ke kami, FLP Jambi, tentang inisiasi dini gerakan membaca di tingkat masyarakat. Pribadi Gol A Gong yang bisa masuk kebanyak kantong-kantong komunitas, lembaga dan pribadi merupakan langkah dan keputusan positif yang harus didukung. Sebab justru hal inilah yang perlu dilakukan agar gerakan ini bukan hanya sebagai ‘basa-basi’ program pemerintah saja.
Kami justeru salut ketika GG meresmikan Biro Taman Bacaan Masyarakat di Kaltim (kalau tidak salah menurutnya) setelah usai acara bukannya pulang ke Jakarta namun justeru melakukan konsolidasi ke kantong-kantong baca di berbagai pelosok di Kaltim. Padahal ini belum dilakukan oleh pendahulunya. Sudah sepatutnya yang terjun dan bergerak dalam inisasi ini adalah orang-orang yang mengerti di dunianya (GG dengan rumah bacanya 10 tahun cukup punya pengalaman) bukan diserahkan kepada birokrat yang kaku dalam hal pelaksanaan program di masyarakatnya.
Pentingnya Gerakan Indonesia Membaca salah satunya adalah agar kita tidak mudah dilecehkan negara tetangga ( Malaysia ), ungkapnya berseloroh. Namun dari pesan tersirat itu adalah bahwa gerakan membaca ini betul-betul penting untuk membangun generasi Indonesia yang berkarakter. Sehingga implikasinya adalah kembali kepada kualitas individu itu yang akan berhimpun menjadi kualitas masyarakat yang ‘melek’ terhadap permasalahan sosial masyarakatnya yang majemuk.
FLP Wilayah Jambi sebagai salah satu komunitas penulis sudah barang tentu tidak terlepas dengan individu yang pembaca (bahkan kalau perlu “Gila Baca” ala Muhamad Faudzil Adhim) perlu mengambil peran yang intens dan berkesinambungan sehingga gerakan ini betul-betul dijaga dan dapat berkembang dengan baik, bukan hanya sebagai wacana saja namun aplikasinya jelas.
Hingga apa yang diharapkan Gol A Gong (dan kita semua masyarakat Jambi) bakal tercipta “Gerakan Jambi Membaca Menuju Generasi Berkarakter” betul-betul terwujud. One man one book (satu orang satu buku) bisa diupayakan dengan berbagai cara agar masyarakat terstimulus untuk ikut menyumbang ke kantong-kantong baca masyarakat di berbagai tempat.
Gol A Gong mengusulkan dan mengajak kepada pegiat dunia literasi untuk ‘menghadang’ potensi penyumbang buku bekas layak pakai agar bisa menempatkan ‘tong sampah’ yang akan diisi buku oleh para penyumbang yang datang ke mal atau supermarket dan tempat-tempat umum lainnya.
Stimulus ini penting agar masyarakat ikut andil dalam gerakan cinta buku dan cinta baca (syukur-syukur cinta menulis) yang dihimpun dari kekuatan masyarakat. Ditengah mahalnya harga kertas dan buku, setiap orang sebenarnya bisa dirangsang kepeduliannya hingga memiliki kemampuan sebagi donatur bagi bangkitnya generasi berkarakter menuju Jambi yang berkualitas. Semoga. (Berlian Santosa, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jambi)








