GERAKAN JAMBI MEMBACA

JAMBI—Kedatangan Gol A Gong ke Jambi selaku Majelis Penulis FLP adalah sebuah anugerah bagi flpers (FLP) Wilayah Jambi. Mengapa? Sebab melalui perantaran ‘tangan’ orang lain, yakni Bang Firdaus yang menghadirkan Gol A Gong ke Jambi, dan tentunya FLP Jambi ketiban ‘pulung’, ikut dapat jatah satu hari penuh belajar bersama Gol A Gong.

Tepatnya tanggal 24 Oktober 2010, FLP Wilayah Jambi mengadakan Workshop Menulis Novel & Cerpen bersama Gol A Gong fullday dari jam 09.30-17.30 WIB. Gol A Gong penulis 70 buku dengan salah satu buku novel serial yang fenomenanya “Balada Si Roy” mampu menyalurkan energi positifnya ke para peserta workshop penulis muda Jambi.

Sejatinya memang workshop ini adalah program khusus internal FLP, namun kami juga memberi kesempatan kepada personal lain yang bersedia ikut dalam kelas ini. Ada seorang penulis cilik yang kini berdomisili di kota Jambi, Yola namanya. Murid kelas 6 SDI Alfalah Jambi ini, adalah satu-satunya peserta terkecil yang antusias mengikuti setiap sesi materi yang diberi GG. Bahkan sepertinya yang paling heboh dan antusias justru bundanya Yola.

Yola sendiri bakal mengeluarkan buku yang akan diterbitkan oleh Mizan Pustaka dengan tema Kecil-kecil Punya Karya (saya lupa judulnya), insya Allah bulan depan (cover buku Yola diperlihatkan ke kami saat di kelas). Yola hamper sama seperti Bella, nama lain Nabila putri sulung GG yang juga menghasilkan banyak karya di usia dini.

Program workshop menulis ini disamakan dengan program Be A Writer, yang sudah lama digagasa oleh Gol A Gong. Kami rasakan, p[rogram ini adalah program perubahan mindset kembali (re-charge) tentang dunia kepenulisan yang selama ini justru tidak disadari baik oleh kami yang sudah menulis (bahkan sudah ada yang menembus media lokal dan nasional ataupun pemula). Ini menjadikan pembelajaran yang bagus untuk pengembangan seorang penulis kedepan. Upgrading kepenulisan penting bagi kami penulis lokal yang berusaha mengangkat budaya melayu Jambi ke tingkat nasional melalui dunia literasi & kepenulisan.

Di Be A Writers kami mendapat asupan tambahan yang setidaknya menambah kekayaan wacana dan wawasan bagi penulis untuk selalu up to date terhadap pola pikir sebagai seorang penulis yang menginginkan karyanya bisa tembus ke media bahkan nantinya ke bentuk buku.

Ada wacana serius yang digelontorkan kepada rekan-rekan yang ikut kelas menulis ini, adalah keinginan yang kuat untuk mengumpulkan naskah yang bercerita seputar Jambi baik budaya melayunya, adat istiadat dan masyarakat Jambi dengan sungai Batanghari yang cukup dikenal masyarakat di daerah lain.

Buku 25 cerpenis keren Banten yang sudah diterbitkan oleh Gong Publishing tersebut memacu diri Flpers Jambi untuk bisa membuktikan karya terbaiknya bisa di terbitkan menjadi buku juga, yang tentunya dengan kualitas yang bagus dan marketable.

Selama di Jambi dari tanggal 23-27 Oktober 2010, Gol A Gong selain memberikan ilmu dan wawasan menulisnya kepada FLP, juga mengisi di berbagai tempat dalam hal dunia literasi, pembuatan film dan pelatihan cerpen & novel yakni di komunitas Tebo Art Center, kota Tebo dan SMA Attaufiq Jambi.

Menariknya, Gol A Gong pendiri Rumah Dunia Serang, Banten tersebut juga mendapat amanah sebagai ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia. Hal ini semakin memperkuat peran seorang penulis sebagus Gol A Gong untuk bergerak di tingkat bawah yang mungkin belum terjangkau oleh dinas terkait dan pemerintah dalam menginisiasi masyarakat Indonesia gemar membaca.

Misinya untuk menjadikan Indonesia Membaca juga digaungkan dan disosialisasikan ke kami, FLP Jambi, tentang inisiasi dini gerakan membaca di tingkat masyarakat. Pribadi Gol A Gong yang bisa masuk kebanyak kantong-kantong komunitas, lembaga dan pribadi merupakan langkah dan keputusan positif yang harus didukung. Sebab justru hal inilah yang perlu dilakukan agar gerakan ini bukan hanya sebagai ‘basa-basi’ program pemerintah saja.

Kami justeru salut ketika GG meresmikan Biro Taman Bacaan Masyarakat di Kaltim (kalau tidak salah menurutnya) setelah usai acara bukannya pulang ke Jakarta namun justeru melakukan konsolidasi ke kantong-kantong baca di berbagai pelosok di Kaltim. Padahal ini belum dilakukan oleh pendahulunya. Sudah sepatutnya yang terjun dan bergerak dalam inisasi ini adalah orang-orang yang mengerti di dunianya (GG dengan rumah bacanya 10 tahun cukup punya pengalaman) bukan diserahkan kepada birokrat yang kaku dalam hal pelaksanaan program di masyarakatnya.

Pentingnya Gerakan Indonesia Membaca salah satunya adalah agar kita tidak mudah dilecehkan negara tetangga ( Malaysia ), ungkapnya berseloroh. Namun dari pesan tersirat itu adalah bahwa gerakan membaca ini betul-betul penting untuk membangun generasi Indonesia yang berkarakter. Sehingga implikasinya adalah kembali kepada kualitas individu itu yang akan berhimpun menjadi kualitas masyarakat yang ‘melek’ terhadap permasalahan sosial masyarakatnya yang majemuk.

FLP Wilayah Jambi sebagai salah satu komunitas penulis sudah barang tentu tidak terlepas dengan individu yang pembaca (bahkan kalau perlu “Gila Baca” ala Muhamad Faudzil Adhim) perlu mengambil peran yang intens dan berkesinambungan sehingga gerakan ini betul-betul dijaga dan dapat berkembang dengan baik, bukan hanya sebagai wacana saja namun aplikasinya jelas.

Hingga apa yang diharapkan Gol A Gong (dan kita semua masyarakat Jambi) bakal tercipta “Gerakan Jambi Membaca Menuju Generasi Berkarakter” betul-betul terwujud. One man one book (satu orang satu buku) bisa diupayakan dengan berbagai cara agar masyarakat terstimulus untuk ikut menyumbang ke kantong-kantong baca masyarakat di berbagai tempat.

Gol A Gong mengusulkan dan mengajak kepada pegiat dunia literasi untuk ‘menghadang’ potensi penyumbang buku bekas layak pakai agar bisa menempatkan ‘tong sampah’ yang akan diisi buku oleh para penyumbang yang datang ke mal atau supermarket dan tempat-tempat umum lainnya.

Stimulus ini penting agar masyarakat ikut andil dalam gerakan cinta buku dan cinta baca (syukur-syukur cinta menulis) yang dihimpun dari kekuatan masyarakat. Ditengah mahalnya harga kertas dan buku, setiap orang sebenarnya bisa dirangsang kepeduliannya hingga memiliki kemampuan sebagi donatur bagi bangkitnya generasi berkarakter menuju Jambi yang berkualitas. Semoga. (Berlian Santosa, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jambi)

RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA (RB3) RUMAH DUNIA DIRESMIKAN

kelas menulis Rumah Dunia gunakan gedung RB3Rumah Dunia yang memang lahir dengan semangat mengubah dan membentuk generasi baru di Banten lewat budaya literasi alhamdulillah hingga hari ini tetap ada. Kami percaya bahwa niat baik selalu menemukan jalan terbaik. Hingga tahun ini, meski ada atau pun tidak ada dana kami akan tetap berusaha berkegiatan dengan mengandalkan anugrah kreatifitas yang diberikan Allah Swt, karena dengan berkegiatanlah Rumah Dunia akan tetap bergerak menuju cita-cita yang didambakan. Tentunya kami sadar bahwa tidak mungkin rumah dunia bisa bergerak sendiri tanpa bantuan rekan-rekan di swasta atau pun instansi pemerintah. Semuanya yang didapat oleh Rumah Dunia adalah kerja keras seluruh warga Banten, besar kecil, tua muda, kaya miskin, semuanya berperan dalam memajukan Rumah Dunia khususnya umumnya Banten tercinta.

Selanjutnya, pada 2010 ini Rumah Dunia diamanahi menerima dana bantuan sosial Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) dari Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional yang mempercayakan dana block grant sebesar Rp.200 juta kepada Rumah Dunia. Sekedar info, Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) ini merupakan kegiatan yang sifatnyta revitalisasi lembaga yang selama ini menggelar program-program pembangunan masyarakat yang  memberdayakan. Baik itu secara terpadu dan lintas sektor untuk kepentingan dan melayani kebutuhan belajar segenap lapisan masyarakat. Ada pun tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup.

Bertempat di taman budaya Rumah Dunia, gedung penunjang fasilitas Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) yang berkonsep pedesaan karena menggunakan alang-alang sebagai atapnya, diresmikan Kabid PNFI Dinas Pendidikan Kota Serang Nursalim pada Sabtu (16/10). Dalam sambutannya, Nursalim berharap Rumah Dunia menjadi model taman bacaan dan pusat kegiatan belajar masyarakat yang harus juga dicontoh oleh yang lain. “Program ini untuk masyarakat. Semua bisa mengakses gedung ini,” katanya. Salim menambahkan kenapa program RB3 ini diberikan pada Rumah Dunia, karena Rumah Dunia salah satu TBM yang masih konsen dan bisa dipercaya dalam membina Masyarakat. “Untuk itu saya harap Rumah Dunia semoga bisa kembali mendapatkan bantuan dana dari Dinas Pendidikan pusat, sebagai pengembangan dari programa ini meningat ini kan baru rintisan,” kata Nursalim. Pada kesempatan itu juga turut hadir Ibu Ida selaku perwakilan dari Dinas Pendidikan Nasional. Acara yang dimeriahkan dengan aksi marawis pesantren At-Thobroniyah, Rampak Bedug Ciwasiat, dan pembacaan puisi pemenang lomba baca puisi wong cilik Amaliah cukuplah semarak meski digelar pada saat matahari tengah memanas. Setelah ritual potong pita dan panandatanganan sketsa lukisan gedung balai belajar bersama oleh Nursalim, para tamu undangan pun diperkenankan memasuki gedung berkapasitas 50 orang tersebut. Selain itu, di areal balai tersebut juga sudah diisi dengan kafe baca sebagai wujud program aksara kewirasuahaan, serta panggung utama yang akan dipakai untuk diskusi-diskusi sebagai salah satu program pengembangan karakter dan budaya.

Sekali lagi ini adalah sebuah amanah yang cukup berat. Meski demikian dengan niat baik kami terus melakukan perbaikan-perbaikan di sana-sini terutama sekali dalam hal administrasi laporan dan lain-lain karena selama ini Rumah Dunia hidup dari sedekah dan zakat orang-orang seluruh Indonesia. Terima kasih kepada pemerintah Banten dan pemerintah pusat atas niat baik kalian. Semoga kita semua amanah dalam menjalankannya![JangRuDun]

TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

Oleh Aji Setiakarya

Minggu (22/8) malam,  beberapa seniman dari lintas komunitas di Banten,  antara lain Teater Studio Indonesia (Nandang Aradea), Rumah Dunia (Gola Gong),  Toto St Radik (Budayawan),  Indra Kusuma (Perupa Banten), Sulaeman Djaya (Kumah Budaya), hadir juga Abah Dadi (Pejabat Disbudpar Provinsi Banten yang juga aktor) dan beberapa seniman lainnya. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang juga melibatkan banyak seniman.  Tema utama diskusi tersebut adalah persoalan pembangunan Taman Budaya Banten (TBB).  Mereka “gundah” atas berbagai isu tentang  pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi  Banten.

Nandang  Aradea,  sutradara yang komunitasnya baru saja  pentas di  Polandia mengatakan bahwa TBB , yang akan didirikan nantinya  jangan hanya menjadi miniatur  kesenian Banten, namun juga menjadi tempat yang menarik bagi masyarakat luas.  Dia juga menyarankan agar Pemerintah Banten  tidak  mencontoh  taman budaya yang sudah ada di  beberapa daerah di Indonesia.  Agar  tidak mubadzir, Nandang menekankan pentingnya taman budaya Banten menjadi tempat seluas-luasnya  bagi para  seniman, tidak hanya tempat pentas saja. “Harus ada studio film, harus ada  tempat pementasan, ada cafe, dll.” Seide dengan Nandang Aradea,  Toto St Radik dan Gola Gong,   sepakat  agar   draft  atau desain yang menurut  Dadi RSN telah ada, dirombak kembali dan memulainya  agar uang masyarakat yang digunakan itu tidak sia-sia.

Industri Kreatif

Dari rekaman obrolan para seniman tersebut, saya memaknainya sebagai  gerakan industri kreatif.  Kesenian adalah bagian  Industri Kreatif yang bisa mendorong lajunya perekonomian masyarakat.  Selain sebagai tempat untuk mengapresiasi segala macam pagelaran seni, Taman Budaya juga akan merangsang munculnya beragam komunitas kreatif. Akan lahir komunitas film, komunitas rupa, komunitas kartun, fesyen, komunitas musik dan lain sebagainya. Dan mereka bisa  memamerkan karyanya di taman budaya ini. Dengan pertunjukan dan pagelaran akan menarik para pengunjung sehingga akan  tercipta sebuah ekonomi yang  berbasis kreativitas, atau banyak ahli ekonomi menyebutnya dengan ekonomi kreatif.  Saya memabayangkan kelak, Banten bisa menggelar  Festival Budaya Internasional yang bisa menarik wisatawan manca negara maupun wisatawan dalan negari. Di dalamnya bisa menampilkan beragam kesenian Banten dan ratusan karya kreatif anak-anak Banten, dari mulai film, teater, musik, fesyen dan lain sebagainya yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Peluang

Posisi  strategis Banten merupakan peluang bagi  kita untuk bisa menjadi magnet dalam industri kreatif.  Kondisi Jakarta yang sudah macet, sumpek memungkinkan Banten menjadi peralihan dari  berbagai kegiatan seni di Indonesia.  Seperti  yang diimpikan para seniman Banten, dalam  obrolan tempo hari, Taman Budaya itu kelak bisa menjadi pusat kesenian di Indonesia. Al-Faris, salah satu penggiat seni dari Kubah Budaya  menyebutnya dengan culture center. Hal itu tidak berlebihan, dengan keberagaman karya seni dan sumber daya alam yang tak kalah  dengan daerah lainnya, tidaklah sulit bagi Banten untuk  menjadi wilayah  yang menjadi pusat wisata dan pusat budaya di Indonesia. Pada Kamis (26/8), puluhan seniman  hadir dalam audiensi bersama Gubernur Banten untuk membahas realisasi pembangunan Taman Budaya Banten (Radar Banten, Edisi Jum’at 27 Agustus). Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah melalui Dinas Perairan dan Pemukiman ternyata sudah  menyiapkan dana 17 Miliar untuk pembangunan TBB. Tentu saja informasi yang menggembirakan, sebuah  niat yang penuh harapan. Namun ada beberapa hal perlu dipikirkan lebih lanjut, pertama adalah mengenai arsitektur TBB itu sendiri. Pemerintah Provinsi Banten harus mau melibatkan stakeholder, seniman, para ahli arsitektur yang betul-betul memahami dan menguasai dalam hal penataan TBB ini. Seperti saran Nandang Aradea dalam sebuah obrolan, tidak ada salahnya draft desain yang telah ada itu dirombak kembali dengan mendengarkan banyak masukan dari komunitas seniman di Banten. Jangan sampai pembangunan TBB ini adalah upaya untuk mencari proyek dari beberapa kelompok untuk meraup keuntungan.  Kedua adalah sumber daya manusia (SDM). Sejak dini harus dipikirkan tentang pengelolaan TBB ini. Bangunan itu tidak akan ada artinya jika tidak dikelola oleh tangan yang kreatif dan minat yang tinggi dalam pembangunan budaya dan kreativitas di Banten. Pemerintah harus berani keluar dari mainstream, menunjuk orang-orang yang betul -betul ahli agar TBB ini fungsional dan harapan seniman agar TBB ini menjadi pusat budaya terwujud. Jika tidak, TBB akan  menjadi  sarang “penyamun” yang mengganggu masyarakat dan seniman  itu sendiri.

Aji  Setiakarya

Direktur Sultan Film,  Pecinta Seni, dan Relawan Rumah Dunia.

?

CURHAT KUNANG-KUNANG BETINA

Judul Buku     : Kunang-Kunang dalam Pelukan
Penulis           : Alina E.Rossel dkk
Penerbit         : Gong Publishing

Cetakan         : Pertama, Oktober 2010
Tebal              : 154 Halaman

Ukuran            : 13×20 cm

Siapa tidak mengenal kunang-kunang? Makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang sangat inspiratif. Kunang-kunang memiliki stereotif angker karena dimitoskan sebagai jelmaan dari kuku orang mati. Padahal sebenarnya kunang-kunang adalah serangga eksotis kelompok kumbang (Coleoptera-Lampyridae). Kunang-kunang dapat bersinar di malam hari. Bukan sembarang sinar, sebab ini adalah sinyal untuk menarik perhatian lawan jenisnya.

Seperti pada beberapa hewan lain, kunang-kunang juga kerap memiliki arti penting dalam beberapa legenda dan kebudayaan. Dalam mitologi bangsa Maya misalnya, kunang-kunang sering dikait-kaitkan dengan bintang, seuatu yang bersinar. Kunang-kunang juga dianggap mewakili utusan dalam kuil-kuil Dewa Maya.

Orang-orang Cina kuno sering memasukkan kunang-kunang dalam sebuah kotak transparan untuk kemudian digunakan sebagai lentera (penerang). Sementara dalam kebudayaan dan cerita rakyat Jepang, kunang-kunang memiliki arti yang sama besarnya dengan bunga Sakura yang sangat terkenal itu.

Intinya, kunang-kunang begitu eksotis dan menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang memandangnya. Sebagaimana kunang-kunang, perempuan juga makhluk Tuhan yang sangat inspiratif. Perempuan memiliki stereotif lemah. Padahal sebenarnya perempuan dengan segala beban yang ditanggungnya adalah sosok yang sangat tangguh. Perempuan dapat memancarkan sinar yang dapat menginspirasi dan memberi energi kepada orang-orang yang dicintainya.

Sama halnya ketika membaca Sekumpulan Cerpen Inspiratif 18 Perempuan Banten `Kunang-Kunang dalam Pelukan` atau disingkat KKdP, kita seakan mendapatkan pendar-pendar cahaya bintang yang mengirimkan sinyal-sinyal inspiratif atas keberadaan perempuan Banten lewat cerita yang dilahirkannya.

Mereka (18 perempuan Banten) cukup tahu bagaimana memancarkan cahaya cerita yang memukau pembacanya, sehingga curahan hati kedelapan belas perempuan Banten ini mampu menarik perhatian orang banyak.

Cerpen unik `Kunang-Kunang dalam Pelukan` milik Fitri Suciwati Zein ini misalnya cukup menggambarkan perempuan yang mendamba balasan sinyal dari lawan jenisnya persis laiknya kunang-kunang betina. Selain kisah perjuangan karir seorang perempuan yang digambarkan penulisnya, wawasan mengenai kunang-kunang cukup menarik untuk disimak, sebab Fitri mengungkapkannya dalam bahasa yang ringan dan mengandung humor sense melalui tebak-tebakan sunda yang dibuatnya.

Cerpen berjudul `Hunaina: kematian Tiga Generasi` milik Anna Faiza juga memberikan gambaran kebersyukuran wanita yang jelas-jelas menginspirasi kaumnya untuk lebih banyak berbuat dan bersyukur atas kemampuan melahirkan seorang anak. Kita diajak pandai tersenyum dan mensyukuri kehidupan.

Begitupun cerpen pembuka `Sebatas Cakrawala` milik Alina E. Rossel. Dengan tampilan layaknya catatan buku harian, kita diajak membaca perjalanan wanita menemukan cita dan cintanya. Tampilan serupa juga dapat ditemukan pada cerpen `Terlahir Menjadi Pejuang` (Erna Yuliawati) yang mengantarkan kita (pembaca) pada pengembaraan wanita sampai ke negeri sebrang, Riyadh. Begitu pun `Buku Harian Ibu : Kembang Cinta` Karya Ratu Nizma Salma. Kita diajak bernapak tilas ke jaman Agresi Militer Belanda II. Penuh perjuangan dan kental drama cinta.

Berbeda dengan cerpen `Jenny Masuk Koran`, pengarangnya Jenny Ervina dianggap berhasil menonjolkan tokoh utama (dirinya) sehingga menjadikannya terpusat, besar dan berani. Kita menyaksikan semangat warga berbondong-bondong ingin mendengar kabar langsung dari tokoh masyarakat (guru) mengenai warganya yang masuk koran, Jenny seorang gadis kampung yang sukses mencapai cita-cita dan menginspirasi warga lainnya agar lebih maju dan menjadi jenny-jenny berikutnya.

Ada juga `Sepenggal Asa Wati` cerpen milik Ayu Pangestu ini berisi kenyataan hidup tentang dunia pendidikan kita yang carut marut lengkap dengan realita dunia kehidupan pembantu. Membaca cerpen Ayu membangkitkan harapan (asa) kita, meski jauh panggang dari api. Setidaknya kita tersentuh dengan perjalanan kisah gadis lugu bernama Wati yang berhasil mengaduk emosi.

Cerpen lainnya yang juga berpendar cahaya inspiratif dan membawa suatu perubahan dapat kita telisik pada Mimpi di Ujung Kota (Grandis Silvania), Rindu Nyanyian Hujan (Hanun Anindya), Mentari Redup di Sawarna (Ina Inong), dan cerpen-cerpen lainnya. Secara keseluruhan 18 cerpen inspiratif ini telah menunjukan aksi kebangkitan kaum perempuan, dan pastinya curahan hati mereka adalah sinyal ketangguhan kaumnya yang dipendarkan dari sudut pandang perempuan Banten.[Alika Jolie; Penyiar yang hobi membaca berbagai jenis buku.]

PENGURUS PGRI RANTING 2 GIRI DILANTIK

CIPANAS—Puluhan guru dari 7 sekolah yakni SDN 1 Jayapura, SDN 2 Jayapura, SDN 1 Giri Harja, SDN 1 Pasir Haur, SDN 2 Pasir Haur, dan SDN 1 Girilaya, Sabtu (9/10), menggunakan hak suaranya untuk memilih ketua PGRI ranting 2 Giri masa bakti 2010-2015. Proses pelaksanaan yang digelar di SDN 1 Giri Harja itu berjalan demokratis dan kondusif. Hadir pula pada kesempatan itu, pengurus PGRI Cabang Cipanas.

Setelah melewati proses panjang akhirnya terpilih sebagai ketua PGRI ranting 2 Giri Ahmad Sutedi, yang diwakili oleh Indra Suhada, Saefudin menjabat sekretaris, dan selaku bendahara Nurhaeti. “Ahmad Sutedi meraih 22 suara dari 62 pemilih,” kata Abdul Waseh Hasas Ketua PGRI Cabang Cipanas.

Adapun anggota pengurus lainnya seperti pengurus 1 dipercayakan pada Aceh Hamzah, pengurus 2 diamanatkan pada Bahrul Ulum, dan Tutik Prihatini mengemban sebagai pengurus 3. “Kami ucapkan selamat kepada pengurus ranting 2 Giri yang terpilih dan berharap organisasi PGRI ditiap ranting pun tetap solid dan mampu menjabarkan program-program PGRI cabang dan Pusat,” ujar Waseh.

Sementara itu, Ahmad Sutedi ketua ranting 2 Giri terpilih mengaku bersyukur dan mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT. Karena telah diberi amanat dan kepercayaan oleh rekan-rekan anggota PGRI ranting 2 Giri. “Saya dalam waktu dekat ini akan menggulirkan program dibidang ke olah raga. Sebab, yang saya tahu di ranting 2 Giri bidang itu cukup berpotensi,” kata Sutedi. (Harir Baldan)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010