SI PENJUAL GORENGAN JADI WARTAWAN

Catatan Harir Baldan

“Alhamdulillah…” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di Rumah Dunia yang mengusung visi “mencerdaskan dan membentuk generasi baru di Banten” ini. Alhasil, bantuan tersebut juga dirasakan oleh saya sendiri. Saya adalah Miftah Udin alias Harir Baldan, salah satu relawan Rumah Dunia. Saya bergbung di Rumah Dunia tahun 2007. Saat itu saya berjualan gorengan dan sering dating ke Rumah Dunia untuk membaca tabloid “Bola”.

Saya bertemu Gol A Gong dan ditawari bergabung di tabloid “Kaibon” (sekarang almarhum) sebagai office boy. Saya terima. Lalu Mas Gong menyuruh saya ikut KelasMenulis pada 2009. Saya disuruhnya menulis tentang laporan sepakbola. Saya juga ditawri Mas Gong jadi kurir kaset berita ke Banten TV dari relawan Rumah Dunia sejak 2000 – 2010. Sat itu Mas Gong membentuk divisi film Gong Media Cakrawala. Para relawan Rumah Dunia yang tertarik ke jurnalisme TV menjadi VJ (video jurnalis)-nya.

Kemudian saya digembleng Mas Gong sejak awal 2010. Pada Februari 2010, saya diajak menemani Mas Gong terapi di Cipanas, perbatasan Jasinga, Bogor. Mas Gong mengidap penyakit pengapuran di tulang belakang, dari lumbar hingga ke leher. Mas Gong harus terapi berenang air panas. Mas Gong mengontrak sebuah rumah di pertigaan Cipanas, persis di depan pemandian Cipanas. Rumah itu diserahkah ke mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas.

Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya makan dan tidur bareng dengan Mas Gong. Ilmu-ilmu jurnalistiknya saya serap. Saya praktek langsung. Setiap laporan hard news saya langsung dikoreksi Mas Gong. Awalnya saya hendak menyerah, tak kuat dengan cara Mas Gong menggembleng saya. Tapi, Mas Gong terus  membimbing saya, hingga muncul rsa percaya diri saya. Jika mental kita tidak kuat, pasti akna runtuh saat dikritik Mas Gong. Terasa pedas kritikannya, tapi selalu memberi jawabannya. Inilah yang disebut kritik membangun.

Pada April 2010, saya ditinggal sendirian di Cipanas oleh Mas Gong. ”Kamu hijrah, ya!” kata Mas Gong. ”Ini motor inventaris Rumah Dunia dari para donatur dan kamera dari saya. Manfaatkan untuk pekerjaan kamu sebagai wartawan Banten Raya Post. Rawaty, agar para donatur mengalir pahalanya.”

Seperti mimpi. Saya jadi wartawan. Mas Gong memberi amanah kepada saya untuk menulis berita tentang Cipanas di Banten Raya Post. Namanya ”Pojok Cipanas”. Pesan lain dari Mas Gong, saya harus seperti agen minyak. ”Jika kita datang ke gaen minyak, beli minyaknya, pasti ada. Nah, sekarang kamu jadi ’agen perubahan’ di Cipanas. Mka, ktika orang-orang kampung Cipanas datang beli ’perubahan’, kamu harus sediakan.”

Maka terhitung Februari 2010 hingga sekarang, saya menggunakan motor inventaris Rumah Dunia (yang kreditannya didanai oleh para donatur) sebagai sarana untuk mencari berita di Cipanas dan kamera dari Mas Gong. Saya betul-betul dibantu Rumah Dunia. ”Kamu harus mendoakan para donatur Rumah Dunia, karena berkat mrekalah kamu bisa meningkatkan kualitas hidup,” Mas Gong setiap saat selalu mengingatkan itu.

Ya, seperti mimpi. Dari pedagang gorengan menjadi wartawan. Dari nama ”Miftah Udin” ke ”Harir Baldan”. Keberadaan saya di Cipanas, Lebak, Banten adalah buah dari rekomendasi Mas Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia untuk menjadikan saya sebagai agen reportase harian Banten Raya Post (Baraya Post) di wilayah Kecamatan Cipanas. Saya malah disarankan untuk menetap di Cipanas. ”Cari perempuan di Cipanas untuk dijadikan istri,” kata Mas Gong. ”Kamu jangan ke Serang, saingannya terlalu berat!”

Selain itu, saya juga diamanatkan untuk melakukan pendampingan terhadap teman-teman Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC). IKMC sudah mendirikan TBM Kosala Library yang berakronim Komunitas Sastra Lebak di rumah yang Mas Gong kontrak. Taman Bacaan Masyarakat Kosala Library diresmikan oleh Wabup Amir Hamzah pada 27 Februari 2010. Mas Gong yang saat itu terpilih jadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia di Yogya memulai program ’gempa literasi” di Kosala Library. Nama Cipanas mulai menggaung kemana-mana.

Beberapa kegiatan Rumah Dunia juga diadopsi oleh TBM Kosala Library, seperti kelas menulis Gol A Gong, diskusi 2 mingguan IKMC yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, wisata gambar, wisata dongeng, dan wisata baca dan berita seputar Pojok Cipanas di Baraya Post yang hadir setiap Senin, Rabu, dan Jum’at.

Keberadaan kolom Pojok Cipanas di Baraya Post merupakan relasi solid Mas Gong dengan pihak Baraya Post. Mas Gong bermaksud untuk memandirikan rekan-rekan IKMC dalam mencari dana operasional untuk menjalankan program kerjanya. Sebagai barternya IKMC mencari pelanggan untuk koran Baraya Post sebanyak mungkin. Dari sana saya juga dapat insentif sebesar Rp. 300 ribu/bulan. Bulan Juli ini pelanggan Barayapost sebanyak 41 orang.
Dalam sirkulasi atau penyebaran Baraya Post IKMC memperkerjakan jasa loper koran. Upah loper setiap bulannya Rp. 500 ribu. Mengapa upah loper intensifnya besar, lantaran tugas loper setiap hari dan jaraknya pun terbilang cukup jauh, bahkan ada satu pelanggan yang berada di kaki gunung Panggo, Luhur Jaya, Cipanas.

Sejak berita-berita Cipanas menghiasi Koran Baraya Post, yang menjadi loper koran adalah rekan-rekan dari IKMC: Ahmad Nurjani alis Obet dan Cucu Nuryadin. Tapi, mereka hanya bertahan selama dua bulan saja. Alasan mereka berhenti menjadi loper lantaran ingin fokus kuliah. Untuk sementara ini, posisi loper kosong.

Sekarang IKMC sedang mencari pengganti loper baru, yang mau bekerja keras, jujur, dan amanah. Tapi, Mas Gong menyarankan saya agar menggantikan posisi loper itu. Katanya, bila saya yang mengisi posisi itu kemungkinan motor inventaris yang sedang saya pakai, tidak akan ditarik lagi ke Rumah Dunia. Sebab, kata Mas Gong, jika saya menjadi loper, honornya bisa untuk menyicil kreditan motor Rumah Dunia (nopol A 6274 BD) sebesar Rp 450 ribu/bulan berikut cicilan DP Rp 5 juta dan tunggakan 7 bulan sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, kenapa tidak dicoba? Menjadi loper sekaligus mencari berita, kenapa tidak?  Subhanallah, saya punya motor  sendiri? Saya tidak percaya. Ini anugrah terindah!

Saya pun menyangupi tawaran dan tantangan dari Mas Gong ini. Meski biaya pelunasannya mencapai 36 bulan atau 3 tahun. Saya siap mencoba menjalankan dua amanah ini dengan baik. Saya pun akan selalu mengingat pesan dari Mas Gong, yang mengatakan, ”Jangan jadikan kreditan motor dan ngeloper ini menjadi beban kamu. Tapi, jadikan itu sebuah pengalaman untuk peningkatan kemandirian dan tantangan!” Kata Mas Gong lagi, “Yang terpenting tingkatkan kualitas menulismu, karena saya sudah merekomendasikan kamu ke Baraya Post tahun depan.”

Ya, Allah! Andai saya jadi wartawan betulan! Karena sekarang saya masih magang. Saya bersyukur dan senang mendengar ucapan Mas Gong ini. Sekali lagi, terima kasih para donatur Rumah Dunia, insya Allah, rezekinya melimpah-ruah, karena membuat orang lain seperti saya merasakan manfaatnya! Terima kasih Banten Raya Post! Juga Mas Gong serta keluarga besar Rumah Dunia. (*)

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*

Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.

”Baiklah. Aku akan simak.”

Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?

“Insya Allah aku serius.”

Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.

”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”

Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!

”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”

Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.

”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”

Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?

”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”

Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.

”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”

Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?

”Tahu!”

Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?

”Bapakmu!”

Maksudmu apa?

”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”

Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?

”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”

Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!

”Preeet!”

Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?

”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”

Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!

***

Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..

”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”

Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.

”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”

Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..

”Shalat apa?”

Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.

”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”

Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.

”Aneh. Kamu ini… yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”

Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.

”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”

Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.

“Preettt!”

Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.

”Lho nggak wudhu dulu?”

Tayamum di sini saja.

”Lho.. kan ada air di sana.”

Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!

”Preeett!”

Hih! Dasar mulut durhaka!

***

Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!

”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”

Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.

“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”

Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?

“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”

Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.

”Kamu yang membuat aku rugi!!”

Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.

”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”

Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?

”Anak Dajjal!! Puass!!”

Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?

”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”

Lalu aku sama siapa di sini?

”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”

Siapa dia? Di mana?

”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”

Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.

”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”

Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.

”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”

Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.

”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”

Lho, Bapak!?

* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010).

GARIS SANTUNI DHUAFA DAN ANAK YATIM

Ketua Pelaksana Garis, Abdul Rosyid memberi bingkisan pada Pimpinan Ponpes Al-Aqsho KH. Ombik Sobri

LEBAK – Gabungan Remaja Islam Bekasi (Garis) menggelar bakti sosial (baksos) di Ponpes Al Aqsho di Kampung Hamberang, Luhur Jaya, Cipanas, pada Sabtu (31/7). Dalam aksinya, Garis memberikan bantuan berupa sembako, baju layak pakai, alat tulis sekolah, serta santunan kepada sekitar 100 jompo dan 100 anak yatim.  Ketua pelaksana kegiatan Garis Ustad Abdul Rosyid dalam sambutannya menyampaikan, maksud kunjungannya sebagai upaya mempererat tali silaturahmi sekaligus milad atau merayakan hari jadi Garis yang ke-6. “Karena Nabi (Muhammad Saw) mengajarkan kepada kita untuk saling berbagi bahagia,,” ujarnya. Dikatakan, baksos merupakan program tahunan yang biasa diselenggarakan dan selain kegiatan mingguan. “Kami lebih sering ke Bekasi dan juga lebih pernah ke Sukabumi,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Umum Garis Ustad Maulana Alhamdani mengungkapkan, komunitasnya tidak hanya bergerak dibidang sosial, ekonomi, tapi juga Pendidikan. “Selain santunan kami pun memberikan pengobatan ala Nabi atau tibunabawi dan ramuan Herbal,” imbuhnya.
Ia juga berharap semoga baksos ini dapat membuka dan menggugah hati para tokoh masyarakat setempat peduli terhadap sesama. “Mungkin di Desa ini juga ada yang mampu secara ekonomi,” jelas Maulana seraya mengatakan, pihaknya juga memberikan sumbangan untuk pembangunan Ponpes Al Aqsho sebesar Rp. 500 ribu. Pimpinan ponpes Al-Aqsho KH. Ombik Sobri menyampaikan apresiasinya dan ucapan terimakasih atas kepedulian yang dilakukan Garis. “Semoga amal baik rekan-rekan Garis dibalas oleh Allah SWT,” ucap Ombik. [Harir Baldan]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010