BANTEN BANGKIT DI LENTERA QOLBU PANDEGLANG

advert

Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”.

Kini “Banten Bangkit” menjadi spirit wong Banten yang menginginkan perubahan. Apalagi ketika rencana pembangunan rumah dinas gubernur Banten sebesar Rp. 126 Milyar, yang akan merobohkan gedung Setda di belakang Gedong Negara, menuai protes dari berbagai kalangan. Tak ada satupun warga Banten yang menginginkan rumah dinas gubernur dibangun sekarang. Skala prioritas harus diberlakukan. Lebih baik gedung sekolah, jalanan, gedung kesenian, dan gedung perpustakaan yang dibagnun. Setelah itu, barulah rumah dinas gubernur. Kepentingan orang banyak harus didahulukan.<p>

Kondisi itu ternyata membuat komunitas baca “Lentera Qolbu” Pandeglang dan Kumandang Banten menyikapinya dengan menggelar bedah buku ”BANTEN BANGKIT #1: SAATNYA OTAK, BUKAN OTOT”, Minggu 8 Agustus 2010, pukul 14.00-16.00 WIB. Tempatnya di Lentera Qolbu, Jl.Raya Labuan KM 2, Ciekek Melati No.2 (depan pertigaan Kadomas) Pandeglang. ”Siapa saja boleh datang,” jelas Fitri Suciawati, yang bergabung menulis di buku ”Banten Bangkit #2: Membangun Peradaban Baru” yang diterbitkan Gong Publishing. ”Jangan lewatkan. Sebelum puasa, kita diskusi dulu. Nara sumbernya mumpuni, yaitu Embay Mulya Syarief, Gandung Ismanto, dan Gol A Gong,” tambah Fitri. (Jang RuDun)

Share

One Response to “BANTEN BANGKIT DI LENTERA QOLBU PANDEGLANG”

  1. abbas-pontang Says:

    ayo bangkit lah!!! banten ber satu!!!

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010