HUJAN TIBA, CUCI MOTOR GRATIS

Foto (net)

SERANG-  Beberapa hari ini hujan angin disertai angin dan petir melanda Jakarta. Hal serupa juga terjadi di Serang, Banten. Tidak menentuanya cuaca yang terjadi saat ini memang dikeluhkan sebagian pihak.  Terlebih oleh para nelayan yang harus menyandarkan perahunya karena ketinggian ombak yang membahayakan. Sementara itu beberapa petani harus menelan kerugian karena padi mereka kebanjiran dan berpotensi gagal panen.

Namun hal itu tidak terjadi bagi sebagian warga Banjar Agung, Serang, yang memanfaatkan genangan air yang melimpah di jalan untuk mencuci motor pada Minggu (18/7). Ini dilakukan warga selain airnya memang jernih karena limpahan dari sungai yang meluap, mereka juga mengaku tidak harus merogoh kocek seperti jika mereka harus mendatangi pencucian motor yang kian marak di Serang. “Karena motor saya kotor, ya sekalian saja saya cuci di sini,” ujar Tuni warga sekitar. Ketika ditanya soal kebersihan air, Tuni mengaku tidak ada masalah baginya. “Lumayan, bersih dan gratis, kok,” imbuhnya. [Langlang]

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK

I.

“ora et labora”

di pertigaan jalan menuju rumah

beberapa tukang becak menyemadikan nasib

: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha

- memejam di tempat duduk

masingmasing-

II.

“nrimo ing pandum”

kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan

begitu saja kepada puingan matahari dan purnama

mereka mengabadikannya sebagai penanda becak

yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa

lapar dan haus adalah

foto-doa

III.

“kerja adalah ibadah”

di sisi adzan,

kretek yang masih tersimpan di saku, ingin

menyatakan bahwa ia telah membilangkan

bibirbibir kering

pepatah basah

kepada penantian yang bersuarasuara

sepanjang hari

- ia bernubuat pada mereka:

tunggulah dengan ibadah-sabar, penumpang akan kalian dapat -

2010

***

EMPAT PERTANYAAN DAN JAWABAN MENGENAI AIRMATA KAMI

//pertanyaan-pertanyaan//

: 1.

“ke mana arah airmata-jalan pergi menuju tanah rantau?”

: 2.

“siapa yang melahirkan airmata ayah dan ibu-kandung kami?”

: 3.

“bagaimana kami dapat mengeringkan laut airmata kami yang keruh?”

: 4.

“apakah Tuhan tak akan pernah menyesal menciptakan airmata?”

//jawaban-jawaban//

: 1.

sejujurnya, kami masih saja lupa rute di peta

sebab peta telah luntur oleh warna tinta airmata kami

dan dengan segenap cara kami yang tak dapat dibahasakan

jarak mengajarkan kepada kami bahwa menyisakan mimpi

tentang tanah perantauan itu tidak baik. oleh karena mimpi

adalah petunjuk pengganti peta paling mujarab, sehingga

nantinya kami bisa bertemu airmata lain yang tak asing

dari jalanan di tanah rantau.

: 2.

hampir setiap malam hampir setiap anak mendengarkan

lelagu dari gendongan para ibu di desa kami. sedang para ayah

sering kali merapikan nafkah dekat perapian dengan asap kretek

yang ingin berhenti keluar supaya disimpan saja di celengan berbentuk

ayam jantan di samping jendela kamar tempat matahari membenamkan

genangan air dari mata-pengharapan semalam.

- hampir setiap pagi ayah dan ibu-kandung kami berdiskusi

mengenai lagu kokok ayam yang tak akan pernah menceritakan

dari mana muasal segala tangis mereka karena setiap pagi adalah leluhur

airmata itu sendiri -

: 3.

bisa saja berabad-abad lamanya airmata yang menimbun, jelma

menjadi lautan seperti di tanah gaza atau bencana. dan kami tak

pernah tahu kapan awan akan menampung jadi mendung, sebab

kami telah lama percaya bahwa segalanya mampu mengering

segalanya mampu membatu segalanya mampu menjadi hujan.

dan barangkali,

kekeruhan yang terjadi di laut kami bukan karena kesamaan nasib kami

tetapi karena perbedaan cara bagaimana kami kembali merupa

iring-iringan awan kelabu.

: 4.

ya, tak akan pernah. sebab ingatan kami tak dapat mengelupas

tentang sejarah adam-hawa yang terusir dari tanah manusia pertama.

2010

***

LALU ENGKAU DUDUK DI TEPIAN KOLAM SEKETIKA ITU

~LALU seperti apakah engkau menerjemahkan

ikan ikan yang melaju ke permukaan kolam

sementara daun daun teratai yang layu

menamakan dirinya seribu petang

tanpa bayang rembulan

~ENGKAU mengenal riwayat muasal ikan ikan

dari ratusan telur yang tetas di tepian air tenang

di mana engkau juga menyuarakan kelahiran

bagi burung burung pelikan liar, keluar

dari sangkar tubuhmu yang ilalang

~DUDUK merenungi air matamu yang jatuh

dimakan ikan ikan lapar adalah perumpamaan,

tanda bahwasanya di pesakitan yang kini

engkau telah jelma ibu baru bagi

sejarah kanak kanakmu yang masih

merengek rengek minta susu

~DI TEPIAN tanpa waktu engkau telah berpikir

akan tubuhmu yang bukan lagi sarang bagi pelikan

melainkan sebentuk rancangan sebagai petuah

bagaimana memakaikan pakaian pada ikan ikan

yang telanjang, atau bagaimana

mengartikan ketelanjangan waktumu sendiri

~KOLAM barangkali bukanlah tempat untuk beradu

antara engkau dan bekas rahimmu,

karena setiap kepala tundukmu mendiamkan seribu petang telah

mengatasnamakan matamu yang adalah insang bagi ikan ikan

sedang air matamu ialah pelikan pelikan yang tiada

memaknai kelaparannya, lalu mati

~SEKETIKA ITU ikan ikan yang melaju ke permukaan

telah sempurna memiliki sayap sayap supaya mereka dapat

terbang segera menuju tubuhmu untuk engkau inkarnasikan

bukan sebagai ikan ikan petang di kolam tanpa bayang rembulan

dan hikayat zaman mata – air mata tanpa waktu, namun

sebagai kanak kanak burung burung pelikan

yang lapar.

2010

***

A. Ganjar Sudibyo lahir di Semarang, 10 September 1989. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ini aktif mengelola blog puisi pribadinya (penyairpadipecandukata.blogspot.com) dan note facebook, selain bergiat di pergerakan komunitas sosial penanganan anak-anak jalanan dan kaum miskin kota SATOE ATAP di Semarang. Puisinya pernah memenangi sayembara puisi antologi Penghujung Tahun 2009, juga finalis lomba cipta puisi Indosat 2010, serta peringkat V lomba penulisan karya sastra puisi tingkat universitas (PEKSIMIDA) se-Jawa Tengah 2010 dan mengikuti PEKSIMINAS 2010. Beberapa puisinya tersebar di berbagai situs sastra. Sekarang tinggal di Semarang. Alamat email, fb  : rumahkatakata@gmail.com, Ganz Pecandukata.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010