PUISI-PUISI HUSEN ARIFIN
langlang | Puisi | June 20th, 2010 | No Comments »
Ketika Hujan Menulis Usiaku
ketika hujan menulis usiaku
mengecup mimpiku dan memberi lentera
aku tak melihat apa-apa
kecuali bunga merekahkan bau cinta
di antara rintik-rintik yang tak terbaca
aku adalah nama yang terlahir dari ribuan cerita
seperti doa yang diucapkan setiap malam oleh pujangga
sebuah cita-cita di koridor kehidupanku pernah menghilang
hingga aku terjungkal dan bimbang mengasah masa depan
semua yang kusampaikan kepada Tuhan hanya berpucuk di ubun-ubun
sementara kerisauan menoleh ke bayangan milikku
seolah menutup sekat bahagia di sekeliling rumah
memberi garis hitam di ruang-ruang, membonsai dinding keruh
tapi separuh hidup ini telah mengurai usiaku lebih indah
meski aku takkan tahu arah segala sesuatu di balik senandung lagu
bahkan aku menjalani hidup sederhana
tentang keutuhanku menunggu takdir
dan badai sesekali menyelubung ke sudut jendela
Malang, 2010
***
Di Altar Suraumu
di altar suraumu
garis usiaku nampak berbaris
memanjang jadi urutan
menunggu kematian
yang tertuliskan di arsymu
aku minta pulang
dengan cara yang jarang
dibuatkan alif-alif keberkahan
dan jadikan aku malaikatmu
yang mencatat jarak hidup di dunia
untuk sampai ke surga
Malang, 2010
***
Perjalanan yang Indah
kami dekap azan subuh sambil meminum sebotol kopi
dan memerahkan kayu-kayu yang hampir rubuh
kami seduh doa-doa dengan sendok kecil,
selimut kami hanya serpihan daun-daun
kami kuatkan dalam seribu lantun zikir
kami juga berteduh kepada embun-embun
dari ceracau beburung di pepohonan
kami buka mimpi kami dengan nafas yang bergemuruhan
seputih angsa-angsa yang berbaris di taman
kami kekalkan usia kami dengan cinta
bila luka mengikis kami
maka airmata kami membuncah bukan karena kami lemah
tapi kami lelah merendam duka sampai rebah ke altar rumah
dan kami lukis arus hidup kami yang panjang seperti sajadah
lalu kami duduk di samping sungai
melihat ikan-ikan meneruskan perjalanannya yang indah
malang, 2009
***
Kota Seribu Matahari
dari kota keroncong kupahat kolong-kolong langit
menjadi tembang keraton yang mengagungkan keluhuran
di nuansa gemerlapan aku tegaskan
kepada ibu kedamaian tentang musik kehidupan
adalah denting kecapi dan tetabuhan
mendawai bersama gamelan
sebagai pewakil kesunanan budaya
petik-petiklah irama dalam keramaian
dan perempuan bertalu menyanyikan sinden kenangan
sampai malam sanggul rembulan
ke pucuk kesungguhan berdiam di singgasana
dan di tengah-tengah pesonanya pepujaan
para penari senandungkan kata-kata imaji
para pemimpi kota seribu matahari
agar tetamu tetangga sendiri mafhum kekekalan malam ini
malang, 2009
***
Kisah Hujan
yang mengisahkan maut dan kabut adalah hujan
di antara rintik-rintiknya nafasmu dipetik sekejap saja
sedalam-dalamnya tanpa henti
ketika gerimis semakin tipis kau dicium tanpa jeda
lalu dengan jala yang melintang
perahumu dicubitnya berlabuh ke karang
malang, 2009
***
Husen Arifin, lahir di Sumberkerang, Probolinggo 28 Januari 1989. Aktif menulis sejak di MTs Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, bergiat di Komunitas Sastra Parkir Malang Raya. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi puisi Pemenang&Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia “Menolak Lupa” (2010).
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.
***




Leave a Reply