CARA PALING MUDAH PUNYA BUKU
rumahdunia | Warta Banten | June 29th, 2010 | No Comments »
CILEGON-Mungkin banyak orang yang ingin membuat sebuah tulisan dan dibukukan. Lebih jauh dari itu, penulis berharap buku yang sudah diterbitkan itu bisa menjadi buku yang laris manis. Atau bahasa populer sekarang adalah buku best seller. Namun bisakah semua orang melakukannya?
Keinginan memiliki buku seperti itu juga diungkapkan oleh Eli Awaliah, salah satu peserta acara Be A Writer, Writing Class with Gol A Gong yang berlangsung Sabtu (26/6) lalu di Hotel Sari Kuring Indah. Acara bertajuk Be A Writer, Writing Class with Gol A Gong, atau bisa disebut dengan kelas menulis bersama Gol A Gong, seorang penulis nasional yang sudah menerbitkan puluhan buku.
Eli mengatakan, sudah beberapa kali menulis tetapi tidak pernah diterbitkan dalam bentuk buku. Dengan mengikuti Be A Writer, Eli berkesempatan membukukan cerita pendeknya dalam sebuah antologi yang akan diterbitkan pada 4 Agustus nanti. “Senang sekali saya bisa mengikuti acara ini. Banyak ilmu tentang mengarang yang saya dapatkan, selain apa yang pernah dulu saya pelajari,” ujar guru sebuah SD di Cilegon ini, Sabtu (26/6).
Hal yang sama juga dikatakan Dety Anggraini Sumarsono, yang menjadi peserta Be A Writer. “Niat saya ikut acara ini memang pengen bisa nulis. Saya juga pengen punya novel sendiri,” ujarnya sumringah.
Dikatakan Gol A Gong, acara Be A Writer ini adalah salah satu cara mudah memiliki buku. Dengan mengikuti Be A Writer, maka mereka yang sudah bisa menulis dan memilki karya akan segera dipublikasikan oleh Gong Publishing. Dan bagi yang belum bisa, maka Gol A Gong bersedia membimbingnya sampai cerpen layak muat dan dibukukan.
Gong Publisihing adalah penerbit lokal Banten, yang bertekad akan memberikan kesempatan bagi warga Banten yang suka menulis dan menginginkan karyanya menjadi buku, serta dipasarkan di toko buku terkenal seperti Gramedia dan Tisera.
Bagi masyarakat Banten, lahirnya penerbit Gong Publishing di bumi Banten menjadi semacam angin segar bagi mereka yang mengalami banyak kendala dalam menerbitkan sebuah karya ke dalam buku, apalagi untuk sampai tembus ke pasar nasional. Hanya beberapa orang saja yang sudah melakukannya.
Gol A Gong menyatakan, dengan banyaknya buku yang terbit, maka tradisi menulis di Banten yang pernah dilakukan pada masa Syaikh Nawawi akan bangkit kembali. Sehingga Banten yang dikenal dengan pelet dan jawaranya akan berubah menjadi Banten yang sarat dengan budaya literasi.
Gol A Gong, yang juga merupakan sebagai Direktur Gong Publishing, mengatakan sejumlah buku yang sudah diterbitkan Gong Publishing adalah Buku ”Melihat Tanpa Mata [Penghargaan Pada Inspirasi]” karya Abdul Latief, ”Membaca Banten, Membaca Indonesia” karya Iwan K. Hamdan, “Gilalova [Segila-gilanya Cinta] karya 25 penulis FLP Banten, “Tamasya ke Mesjid [catatan buruh migrant di Dubai] karya Jaya Komarudin Cholik, dan “Gadis Bukan Perawan” karya Jenny Ervina.
Khusus dua buku terakhir, ada sejumlah catatan penting. “Menurut Jaya Komarudin, sang penulis, peluncuran buku yang ditulis oleh TKI atau buruh migran, adalah yang pertama sepanjang Republik Indonesia mengekspor TKI ke Timur Tengah. Selama ini, peristiwa-peristiwa yang terungkap dari Timur Tengah adalah kisah pilu para TKI, yang ditindas majikannya,” ujar Gol A Gong.
Ia juga mengatakan hal serupa juga terjadi di Hsinchu, Taiwan, tempat Jenny Ervina, buruh migran asal Petir, Serang, bekerja. Buku “Gadis Bukan Perawan” menjadi perbincangan di Taiwan. Bahkan, buku “Gadis Bukan Perawan” akan diterbitkan penerbit setempat. Melalui chatting, Jenny menulis, ”Ini juga yang pertama di Taiwan, TKW seperti Jenny menulis buku. Bahkan Jenny ditawari jadi wartawan koran Indoswara di Taiwan!”
Jenny, seperti diungkapkan Gol A Gong, kini dipaksa menjadi ambassador Rumah Dunia di Taiwan. Tugas-tugasnya adalah menyebarkan virus literasi di kalangan buruh migran asal Indonesia di Taiwan.[Tohir]







