CARA PALING MUDAH PUNYA BUKU

CILEGON-Mungkin banyak orang yang ingin membuat sebuah tulisan dan dibukukan. Lebih jauh dari itu, penulis berharap buku yang sudah diterbitkan itu bisa menjadi buku yang laris manis. Atau bahasa populer sekarang adalah buku best seller. Namun bisakah semua orang melakukannya?

Keinginan memiliki buku seperti itu juga diungkapkan oleh Eli Awaliah, salah satu peserta acara Be A Writer, Writing Class with Gol A Gong yang berlangsung Sabtu (26/6) lalu di Hotel Sari Kuring Indah. Acara bertajuk Be A Writer, Writing Class with Gol A Gong, atau bisa disebut dengan kelas menulis bersama Gol A Gong, seorang penulis nasional yang sudah menerbitkan puluhan buku.

Eli mengatakan, sudah beberapa kali menulis tetapi tidak pernah diterbitkan dalam bentuk buku. Dengan mengikuti Be A Writer, Eli berkesempatan membukukan cerita pendeknya dalam sebuah antologi yang akan diterbitkan pada 4 Agustus nanti. “Senang sekali saya bisa mengikuti acara ini. Banyak ilmu tentang mengarang yang saya dapatkan, selain apa yang pernah dulu saya pelajari,” ujar guru sebuah SD di Cilegon ini, Sabtu (26/6).

Hal yang sama juga dikatakan Dety Anggraini Sumarsono, yang menjadi peserta Be A Writer. “Niat saya ikut acara ini memang pengen bisa nulis. Saya juga pengen punya novel sendiri,” ujarnya sumringah.

Dikatakan Gol A Gong, acara Be A Writer ini adalah salah satu cara mudah memiliki buku. Dengan mengikuti Be A Writer, maka mereka yang sudah bisa menulis dan memilki karya akan segera dipublikasikan oleh Gong Publishing. Dan bagi yang belum bisa, maka Gol A Gong bersedia membimbingnya sampai cerpen layak muat dan dibukukan.

Gong Publisihing adalah penerbit lokal Banten, yang bertekad akan memberikan kesempatan bagi warga Banten yang suka menulis dan menginginkan karyanya menjadi buku, serta dipasarkan di toko buku terkenal seperti Gramedia dan Tisera.

Bagi masyarakat Banten, lahirnya penerbit Gong Publishing di bumi Banten menjadi semacam angin segar bagi mereka yang mengalami banyak kendala dalam menerbitkan sebuah karya ke dalam buku, apalagi untuk sampai tembus ke pasar nasional. Hanya beberapa orang saja yang sudah melakukannya.

Gol A Gong menyatakan, dengan banyaknya buku yang terbit, maka tradisi menulis di Banten yang pernah dilakukan pada masa Syaikh Nawawi akan bangkit kembali. Sehingga Banten yang dikenal dengan pelet dan jawaranya akan berubah menjadi Banten yang sarat dengan budaya literasi.

Gol A Gong, yang juga merupakan sebagai Direktur Gong Publishing, mengatakan sejumlah buku yang sudah diterbitkan Gong Publishing adalah Buku ”Melihat Tanpa Mata [Penghargaan Pada Inspirasi]” karya Abdul Latief, ”Membaca Banten, Membaca Indonesia” karya Iwan K. Hamdan, “Gilalova [Segila-gilanya Cinta] karya 25 penulis FLP Banten, “Tamasya ke Mesjid [catatan buruh migrant di Dubai] karya Jaya Komarudin Cholik, dan “Gadis Bukan Perawan” karya Jenny Ervina.

Khusus dua buku terakhir, ada sejumlah catatan penting. “Menurut Jaya Komarudin, sang penulis, peluncuran buku yang ditulis oleh TKI atau buruh migran, adalah yang pertama sepanjang Republik Indonesia mengekspor TKI ke Timur Tengah. Selama ini, peristiwa-peristiwa yang terungkap dari Timur Tengah adalah kisah pilu para TKI, yang ditindas majikannya,” ujar Gol A Gong.

Ia juga mengatakan hal serupa juga terjadi di Hsinchu, Taiwan, tempat Jenny Ervina, buruh migran asal Petir, Serang, bekerja. Buku “Gadis Bukan Perawan” menjadi perbincangan di Taiwan. Bahkan, buku “Gadis Bukan Perawan” akan diterbitkan penerbit setempat. Melalui chatting, Jenny menulis, ”Ini juga yang pertama di Taiwan, TKW seperti Jenny menulis buku. Bahkan Jenny ditawari jadi wartawan koran Indoswara di Taiwan!”

Jenny, seperti diungkapkan Gol A Gong, kini dipaksa menjadi ambassador Rumah Dunia di Taiwan. Tugas-tugasnya adalah menyebarkan virus literasi di kalangan buruh migran asal Indonesia di Taiwan.[Tohir]

BERKUNJUNG SAMBIL SUMBANG BUKU

SERANG-Sebayak 25 orang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai PLN, sampai ibu rumah tangga yang tergabung dalam Komunitas Blogger Benteng Cisadane (KBBC) Tanggerang, Minggu (27/6) pagi tadi, berkunjung sambil sumbang buku sebanyak dua dus ke Rumah Dunia. Dalam kunjungan KBBC, mereka tidak akan mengajarkan bagaimana cara membuat blog atau memberikan donor darah gratis seperti halnya kegiatan sosial yang biasa dilakukan bloger KBBC setiap tiga bulan sekali, melainkan mencari pengetahuan untuk memperluas  wawasan. “Tujuan kami ingin memperluas wawasan, sekaligus menimba pengalaman dari Rumah Dunia.” kata Moh. Arif Hidayanto sesepuh KBBC.

Muhzen Den, salah satu relawan Rumah Dunia menyambut kedatangan KBBC, sekaligus memperkenalkan sejarah Rumah Dunia. Bersama relawan yang lain: Gading Tirta, Harir Baldan, Alun Senja, Abdul Salam serta saya sendiri, saling berkenalan dengan Komunitas Tanggerang ini, lalu berbincang-bincang ringan. Tias Tatanka juga ikut memperkenalkan diri. “Selamat datang di Rumah Dunia.” Sambut Tias istri dari Gol A Gong pada KBBC. Kami juga saling tanya jawab. Santai saja, memang. Tak lama kemudian Gol A Gong pun datang dan memperkenalkan diri.

KBBC yang dibentuk Maret 2008 dan baru diresmikan pada Mei 2008 ini mempunyai visi ingin memberikan kontribusi pada masyarakat Tanggerang khususnya Banten dengan cara menulis atau lewat tulisan. Begitu kata ketua bloger, Ahmad Faisal Hadi (23). “Komunitas KBBC ini anggotanya ada 128 orang. Tapi yang aktif haya sekitar 25 sampai 30 orang saja.” Kata Ahmad Faisal Hadi, atau Paijo, begitu panggilan akrab dalam komunitas blogernya.

Saat ditanya wartawan www.rumahdunia.com, mengenai apakah setiap anggota yang bergabung dalam KBBC hanya khusus bagi warga Tanggerang saja? Paijo lalu tersenyum  penuh arti menaggapi pertanyaan ini. “Dalam KBBC ini anggotanya boleh siapa saja. Saya memasang pengumuman di blog saya, begini, bagi siapa saja warga Tanggerang, atau pernah tingal di Tanggerang, pernah lewat, atau punya saudara di Tanggerang, pernah jalan-jalan di Tanggrang, tahu tentang Tangerang, pernah membaca peta Tangerang, boleh gabung dengan komunitas Bloger Benteng Tanggerang ini.” Paparnya. “Jadi intinya sipa saja, silahkan. Boleh gabung.” Kata Paijo yang masih kuliah di ITB Tanggerang. “Kalau mau gabung tinggal daftar saja di blogerbenteng.com.” ajak Paijo pada semua.

Sebentar saja KBBC berkunjung ke Rumah Dunia. “Rencannya, kami juga mau lihat-lihat Banten Lama, Mas Gong.” Kata Paijo sambil pamit pada semua relawan. RG Kedung Kaban, salah satu relan Rumah Dunia, siap mengantarkan KBBC keliling Banten Lama sambil mencicipi makanan khas Banten, seperti nasi sum-sum atau sate bandeng.

Tak lupa, Gol A Gong selaku pendiri Rumah Dunia serta relawan mengucapkan terimakasih atas sumbanguan buku yang diberikan KBBC. “Weh… dasyat Boy, bukunya bagus-bagus.” Kata Abdul Salam usai membongkar sumbangan buku dari KBBC.[Ahmad Wayang/Roy Goozly]

BE A WRITER NASIONAL DIISI PENULIS HANDAL

CILEGON-Gong Publishing, sebuah lini usaha yang bergerak di bidang penerbitan milik Rumah Dunia, menggelar pelatihan menulis tingkat nasional Be a Writer, Sabtu (26/6),  di Hotel Sari Kuring Indah Cilegon. Pelatihan menulis nasional langsung didampingi para penulis handal, khususnya di Banten, antara lain Gol A Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka, dan Bella. Acara yang diikuti oleh 20 peserta itu berlangsung selama satu hari penuh.

Di awal pembukaan, peserta terlebih dahulu disuguhkan pemutaran film Mimpi Sauni yang diproduksi 2004. Film yang diperankan oleh Sonya Mekarila, Vannesa Prisilia dan Michael Sukma itu diangkat dari sebuah novel karya Gol A Gong dan Tias Tatanka. Kemudian para peserta ditanya mengenai tujuan menulis tersebut serta diminta mencari nama pena.

Menurut Gol A Gong, tujuan menulis harus ada dan itu sangat penting. “Kalau saya tujuannya untuk ibadah, dengan menulis saya juga bisa beribadah.” papar Gong. Tujuan menulis, lanjut Gong, memang bebas-bebas saja. “Setiap orang pasti beda-beda. Ada yang mau terkenal, mencari rizki, atau hanya sekedar hobi.” kata Gong, yang juga Direktur Gong Publishing. Namun ketika dimintai nama pena, beberapa peserta masih ada yang bingung mencari nama pena yang cocok dan bagus.

Dari mencari nama pena, lanjut ke materi inti, yaitu menggali ide. “Pertama, temukan dulu ide awalnya. Misal, seorang ibu penjual bakul. Terus kita bikin sinopsisnya. Konfliknya bagaimana. Buat alurnya, maju atau mundur. Karakter tokohnya baik atau jahat, tentu harus ada karakter. Latar tempat dan waktu, kita tentukan di mana.” Papar Gong panjang lebar. “Dalam tulisan kita jug harus ada pesan yang ingin disampaikan.” Sambungnya. Lebih lanjut, Gong mengatakan mencari ide juga bisa degan menggunakan metode jurnalistik yaitu, 5W + 1H (What, Who, Where, When, Why, dan How). “Banyak-banyaklah kita bertanya pada orang di sebelah kita, saat berada di Bus atau angkot. Siapa tahu orang di sebelah kita itu adalah orang yang luar bisa.” Begitu saran Gong.

Memilih diksai dalam fiksi

Sesi berikutnya, giliran Toto ST Radik, yang memberikan seminar. Toto lebih pada menerangkan diksi dalam fiksi. “Karangan fiksi itu terbagi dua, yakini puisi dan prosa.” Kata Toto yang sudah menulis puluhan buku puisi ini. Masih katanya, karangan puisi mengutamakan pemilihan kata dan pemakaian kata yang secermat-cermatnya dan sehemat-hematanya dengan pengungkapan yang “tersembunyi” dan memperhatikan irama serta persamaan bunyi. Sebaliknya, prosa tidak begitu memperdulikan banyaknya kata, panjang pendeknya kalimat apalagi irama dan persamaan bunyi. “Prosa relatif lebih bebas dan dalam pengungkapaannya lebih sering mengungkapkan bahasa sehari-hari.” Kata Toto dengan gaya santai. “Diksi atau pepilihan kata merupakan hal yang sangat perlu sekali dalam penulisan prosa. “Dengan diksi yang baik, sesungguhnya akan dapat menghasilkan nada atau gaya bahasa yang kuat.” Sambung Toto. “Jika pelukis dengan garis, penari dengan gerak, maka penulis dengan kata.” Imbuh Toto.

Pukul 17.00 WIB, pelatihan pun berakir. Kelanjutan dari pelatihan ini adalah mewujudkan impian peserta dengan membukukan karya mereka menjadi satu kumpulan cerpen dan satu novel terbaik. Namun dalam hal ini, karena ada peserta anak-anak, buku yang diterbitkan tetap ada dua, satu kumpulan cerita peserta dewasa dan buku kumcer anak-anak. “Dua buku itu, rencanannya akan dilaunching 4 Agustus 2010 mendatang. Untuk tema, kita sepakati mengusung lokalitas Banten.” Kata Gong.

Ya, mari menulis. Begitu kiranya ajakan Gong Publishing lewat Pelatihan ini. Sesuai dengan tema yang diusung Gong Publishing: Anda Jadi Pengarang, Kami Senang. (Ahmad Wayang/Roy Goozly)

GEMPA LITERASI HINGGA KE TIMUR TENGAH

Oleh Jang RuDun

“Indonesia adalah salah satu dari tiga negara terbesar yang mengrimkan tenaga kerja wanita ke timur tengah untuk pangsa pasar ‘unskilled labour’ sekelas Eritrea dan Sudan!” Ujar Pak Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk persatuan Emirat Arab pada saat memberikan pengantar “Peluncuran Buku Tamasya ke Masjid” yang ditulis oleh Jaya Komarudin Cholik, yang berprofesi sebagai pekerja migran di Abu Dhabi.

UBAH PARADIGMA
Ungkapan Pak Wahid, mantan Konjen Melbourne di depan para warga Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Muslim Indonesia (KMMI) Abu Dhabi, ini memang terasa pahit. Bagi bangsa besar di Asia Tenggara dengan sumber daya interlektual manusianya yang tidak dapat dianggap remeh tetapi justru lewat kebijakan yang tidak populer dan memperburuk wajah bangsa, Indonesia menjadi tidak lebih dari negara pengekspor pembantu!. Padahal di negara yang mendapat julukan ‘Negara Duta Para Bangsa’ karena merekrut tenaga kerja lebih dari 130 warga negara. Bisa dibilang buruh Skandinavia hingga tentara bayaran yang dipungut dari pegunungan Himalaya ada di Persatuan Emirat Arab (PEA).

“Gerakannya gesit dan lincah alias kecil-kecil cabe rawit!” Begitu warga Indonesia di Abu Dhabi menyebut Dubesnya. Pak Wahid memang tidak main-main dan bertekad mengubah paradigma serta citra bangsa lewat lobi dan terobosannya dari berbagai aspek. Mulai dari meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, yang sebelumnya hanya bernilai 200 ribu US$ saja. “Itu pun ketika dicek hanya berupa ruko di Jakarta,” ungkap Pak Wahid. Kini usaha Pak Wahid dalam kurun 2 tahun saja sudah terbang ke angka jutaan dolar. “Indonesia negara besar di Asia tenggara tetapi dari segi kerjasama ekonomi masih jauh dari Malaysia dan Thailand. Saat semua negara membukukan nilai kerjasama ekonomi jutaan dollar dengan ‘kembangnya’ Timur Tengah, kita masih saja disibukkan dengan jasa pelayanan konsuler!’ Ungkap pak Wahid miris.

Maka peluncuran buku ”Tamasya ke Masjid” (Gong Publishing) pada 25 Juni, pukul 20-23:00, di aula serba guna kedubes RI untuk PEA dengan dihadiri lebih dari 30 orang, disambut dengan sukacita karena buku ini juga milik semua warga Indonesia di PEA. Setelah para pekerja migran di Hongkong yang tergabung di Forum Lingkar Pena melahirkan para penulis kemudian disusul Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang yangmenuils kumcer ”Gadis Bukan Perawan” (Gong Publishing, Mei 2010) maka Timur Tengah akhirnya menyusul. Peluncuran buku yang di PEA ini semoga menjadi awal perubahan paradigma baru seiring dengan bertambahnya jumlah para ‘skilled labour’ dan menggantikan porsi pekerja ‘unskilled labour’ yang menurut data sementara massih ada dikisaran 40 persen.

TAMASYA KE MASJID DAN GEMPA LITERASI
Buku Tamasya ke Masjid yang ditulis oleh Jaya Komarudin Cholik ini memang didukung penuh oleh dua komunitas warga Indonesia di PEA, yaitu KMMI-Abu Dhabi dan Indo-Emirat, sebuah komunitas warga Indonesia di Ruwais. Misi yang dibawa memang bukan sekedar menyajikan sebuah buku tetapi juga lebih pada menularkan budaya literasi, membaca dan menulis. Kedua komunitas tersebut menyambut baik peluncuran buku ini dan berharap ke depannya akan hadir forum pecinta literasi.

Tamasya ke Masjid yang menurut Joko Priatmoko, wakil ketua KMMI sebagai buku yang bukan hanya sekedar memoar belaka tetapi lebih dari itu menghadirkan sebuah wajah baru bagi setiap pembaca dalam memandang masjid. Masjid bukan hanya sebuah rangkaian bentuk fisik belaka tetapi di dalamnya menyimpan sebuah kekuatan dari setiap indivisu-individu yang berinteraksi di dalamnya. Sementara Pak Wahid justru mengomentari gaya bahasanya. Pengalaman beliau sudah 3 kali memberikan endorsement, dua diterbitkan sebelumnya di Australia. Menurut beliau, gaya penulis yang menghadirkan bahasa mengalir, sederhana, dan mudah dimengerti serta sarat informasi dan referensi mengingatkannya pada jargon koran Tempo “Enak dibaca dan Perlu”. Memoar ini bukan hanya sekedar berisi pengalaman pribadi tetapi justru memberikan pelajaran bahwa menulis memoar pun harus menggali dari berbagai sumber.” Pesan yang disampaikan pun tidak menggurui walaupun sepertinya tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan secara tegas”, ujar Bambang-pengusaha resto Sari Rasa yang ikut hadir dan sudah membaca buku TKM. Namun beliau masih penasaran dengan kisah ‘Cinta dari Bilik Mihrab’ yang ada di bagian buku ini. “Kisah ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan para remaja sekarang”, ujarnya.

Rencananya setelah di Abu Dhabi, TKM akan diluncurkan di Ruwais, kota para ‘skilled labour’ untuk oil dan gas, kemudian di Jakarta pada saat Pesta Buku Jakarta dan selanjutnya di kota Serang Banten, sebagai bagian dari gerakan Banten Bangkit dengan ‘tag line’: “saatnya Otak, bukan Otot!” yang digaungkan oleh Gong Publishing. TKM sendiri buku ke-7 yang diproduksi Gong Publishing yang mewadahi para penulis di bumi para Jawara ini. Gempa literasi yang dihentakkan oleh Gol A Gong memang membawa semangat lokal pada perubahan kultur rakyat Banten. Dan Jaya Komarudi Cholic, penulis TKM yang kini bekerja di PEA ini dahulu juga relawan di Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia, produk lokal Banten yang bekerja di salah satu pabrik Petrokimia di Cilegon.

Tanya jawab mengalir dengan hangat dan harapan dari peluncuran buku TKM ini adalah hadirnya komunitas menulis dan baca bagi semua kalangan di PEA agar ke depan akan lahir kembali buku-buku yang akan menambah dahsyat gempa literasi yang sudah terasa hingga ke timur tengah ini.

SILAHTURAHMI, PEMERATAAN GELAR, DAN IMIKI

SERANG-Beberapa warna almamater bersatu dalam ruangan. Suasana tenang namun akrab yang terpancar di setiap wajah. Pertemuan itu merupakan dalam rangka temu akrab atau silahturahmi bagi himpunan mahasiswa komunikasi (Himakom) se-Banten, Selasa (22/6) di Gedung C Univeritas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Ketua Himakom Untirta periode 2010-2011 Ninis Chairunnisa memaparkan, acara ini dihelat agar bisa saling kenal, sharring dan punya jaringan luas antar ormawa (organisasi mahasiwa –red), khususnya di Banten. “Kegiatan ini kali pertama digelar yang digagas oleh Departemen Hubungan Organisasi Himakom Untirta, dan di Banten.” jelas Ninis.

Himakom sebanten yang hadir dalam kesempatan itu yakni dari Universitas Mathla’ul Anwar (Unma) Banten, Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (IAIN SMH) Banten, Universitas Serang Raya (Unsera), dan STIKOM Wangsa Jaya Banten. “Sayang, Himakom dari Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis) dan Universitas Pelita Harapan (UPH) tidak bisa hadir karena berhalangan.” ucap Ninis menambahkan.

Tak hanya pertemuan himakom sebanten yang dilakukan, diskusi mengenai gelar sarjana pun sampat dibincangkan, dan perkenalan Ikatan Mahsiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI). Pada sesi diskusi, terjadi ada perselisihan atara setuju tidak setuju atas pemerataan gelar sarjana. Namun setelah didiskusikan lebih lanjut, akhirnya masing-masing dari perguruan tinggi yang hadir dalam silahturahmi himakom sebanten tersebut bersedia menandatangani, menyetujui perubahan gelar sajarana S.Sos menjadi S.IKom.

Menurut mahasiswa Unma Banten Trya pemerataan gelar sarjana S.IKom memang dibutuhkan. “Sarjana ilmu komunikasi (S.IKom –red) itu sesuai dengan basic atau kemampuan seseorang, dengan begitu orang akan tahu ini lho sarjana komunikasi. Kalau sarjana sosial (S.Sos –red) biarlah pada posisinya, adminitrasi negara.” kata Trya, yang mengaku mahasiswa jurusan adminitrasi Negara Unma Banten.

Setelah penandatanganan persetujuan perubahaan gelar sarjana S.IKom, diselingi dengan pembentukan koordinasi sementara Ikatan Mahsiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) untuk cabang Banten. Bendahara Umum IMIKI Assiddah Fil-Haq mengucapkan rasa syukur atas pemebentukan koordinasi sementara IMIKI cabang Banten. “Alhamdulilah, sudah terbentuk koordinasi sementara IMIKI cabang Banten, rapat presidium pendeklarasian IMIKI akan segera dilakukan setelah berkas (persetujuan) ini diserhakan dan dapat rekomendasi dari pusat.” ucapnya. Perguruan tinggi yang sudah tergabung dalam IMIKI antara lain Untirta dan STIKOM. Pembentukan sementara IMIKI cabang Banten.

Ketua pelaksana silahturahmi himakom sebanten Huril I’in Jannah meluapkan kegembiraanya atas kegiatan ini. ”Saya bangga sekali bisa mengundang teman himakom sebanten, walaupun tidak semua bisa hadir. Semoga tidak berhenti di sini dan Untirta sebagai penyelenggara utama bisa menjembatani bagi kampus lainnya.” tukas Huril dengan senyum penuh bangga.[Teks: Roy Goozly, Photo: istimewa]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010