GILALOVA PARTY: KEBANGKITAN TRADISI MENULIS DI BANTEN
Gola Gong | Laporan Utama | May 31st, 2010 | 2 Comments »
Oleh Muhamad Tohir – Banten Raya Post, Sabtu 29 Mei 2010 – Serang
Ketika Syaikh Nawawi Al Bantani hidup, ulama yang produktif menulis banyak buku yang asli Banten itu sudah memberi tonggak dunia kepenulisan di Banten. Namun setelah Nawawi wafat, siapa yang akan menggantikannya meneruskan tradisi menulis itu? Setelah ratusan tahun Indonesia dijajah, termasuk Banten, tradisi menulis hampir tidak ada lagi. Dan ratusan tahun setelah itu, tumbuh generasi penerus Nawawi yang akan membangkitkan tradisi menulis di Banten. Mereka adalah para penulis buku Gilalova yang diterbitkan oleh Gong Publishing.
KUMCER LOKAL
“Gilalova adalah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) karya 25 cerpenis Banten. Semua cerita dalam buku tersebut, bercerita tentang tokoh yang menampilkan setting lokasi dan tempat di Banten. Nama Ciceri, Lebak, IAIN Banten, Untirta, dan tempat-tempat lainnya di Banten akan sering ditemukan dalam buku ini,” terang Zee Ahmadi, salah satu penulis buku Gilalova dalam paparannya di acara Gilalova Party di Rumah Dunia, Jumat (28/5).
Gilalova, dikatakan Zee, tidak hanya mengangkat nama-nama tempat di Banten melainkan juga mengangkat tradisi-tradisi yang belum terekspose oleh media bahkan oleh penulis lain.
“Kita kan tidak pernah tahu bahwa ada tradisi “ngatir” di Cipanas, Lebak, misalnya. Tradisi itu diangkat dalam sebuah cerpen oleh Ahmad Wayang yang diberi judul Gadis Berkerudung Merah,” lanjut Zee. Dengan ciri khas mengangkat tradisi dan setting lokal itu, imbuh Zee, cerpen-cerpen dalam buku Gilalova tidak silau dengan setting Jakarta yang sering dijadikan latar cerita.
Yang berkembang selama ini adalah cerita yang melulu mengekspose Jakarta baik dalam sastra maupun dalam film dan sinetron. Dalam bahasa Zee, kumcer Gilalova tidak Jakartasentris.
Sementara itu, Jodhi Yudono, Rekadur Budaya Kompas.com, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut menilai cerpen-cerpen dalam Gilalova adalah kabar gembira bagi orang-orang Banten. “Saya bangga karena saya juga dari Tangerang, Banten,” katanya tersenyum.
PENERUS
Meski demikian, Jodhi merasa masih dapat melihat kekurangan yang ada para cerita-cerita itu. Kekurangan-kekurangan itu memang kerap kali dilakukan oleh para penulis pemula. “Yang harus diperhatikan para penulis, baik penulis cerpen, berita, atau apa pun, adalah bagaimana membuat paragraf pembuka yang memikat. Karena itu, banyak penulis yang lama dalam membuat tulisan karena memikirkan baik-baik paragraf pembuka itu,” katanya.
Dijelaskan Jodhi di paragraf awal itulah pembaca akan memutuskan apakah akan meneruskan membaca tulisan tersebut atau malah menghentikannya.
Endang Rukmana, salah seorang editor Gong Publishing, juga mengatakan ada beberapa kelemahan yang masih dimiliki para penulis Gilalova. Salah satu kelemahan itu adalah bagaimana membangun cerita yang masuk akal. Contoh itu ada dalam sebuah cerpen Gilalova yang menceritakan seorang lelaki yang sedang “nembak” seorang perempuan.
Setelah terdengar suara jangkrik, perempuan itu langsung menerima cinta si lelaki tanpa ada penjelasan apa pun. “Bagaimana mungkin tidak ada penjelasan logis yang menyebabkan si cewek itu jatuh cinta, tiba-tiba saja si cewek menerima cinta si cowok yang hanya diselingi oleh suara jangkrik,” katanya.
Terpisah, Direktur Gong Publishing Gol A Gong mengatakan bahwa ke-25 cerpenis Banten dalam Gilalova adalah penulis penerus Nawawi. “Mereka adalah penulis penerus di Banten yang akan membangkitkan kembali tradisi menulis di Banten,” kata Gong. (*)
Foto-foto swistien K




June 14th, 2010 at 6:20 pm
semangat.. kegiatan yang sangat bagus sekali
October 13th, 2010 at 11:36 am
cerita nya seru banget….