PUISI-PUISI BAHAUDIN AMYASI

advert

I’TIKAF KABUT

seperti i’tikaf kabut yang hening di helai malam
parau mimpi kita kian bersemayam
pada tiap jengkal kekalutan yang menghunjam
sampai nanti, di sini
kita masih setia melukis lembayung di ujung temaram

tak perlu kita ceritakan pada mereka
tentang selaksa lara yang membias hingga batas cakrawala
lantaran keyakinan yang kita kibarkan
akan menawarkan pahitnya sebuah pengorbanan

tak perlu kita kabarkan pada mereka
tentang pedihnya sebuah kehilangan
hingga pendar kesunyian telah kita luruhkan
pada desau leletih ombak di lautan
yakinlah, tegak jiwa kita mengempaskan badai kegalauan

seperti i’tikaf kabut yang mengembun di pucuk pagi
hingga nanti, di wisma singgih ini
kita masih berjingkrak menggapai matahari
kelak, pada kuburan keterasingan kita
i’tikaf kabut menjelma epitaf yang tak kuasa kita eja

Prigen, 13 April 2008

***

SAJAK SEBATANG CEMARA KERING

Buat karibku Hosriyanto Hobir

sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, kulihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.

sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.

maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.

“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.

Madura, 2005

***

UNTUKMU, AKU DATANG MALAM INI

untukmu, aku datang malam ini. dan seperti biasanya, kucintai malam yang tergerai dari rambutmu yang menderaikan gerimis kerinduan.

maka lihatlah, udara yang menjejali jiwaku menjadi beku. gelap telah jelmakan kita serupa bayang-bayang, menangkap gairah dalam setiap desah rindu yang basah, dan tentu gelisah.

kini, tubuhku telah berganti hujan dengan titik-titik rindu yang mengalirkan keheningan. maka mengertilah, ketika hujan yang memenuhi matamu mulai terhenti, kita pun akan kembali semedi, dalam pertemuan yang azali….

Surabaya, 14 Februari 2010 | 00:30 dini hari

***

NUBUAT RINDU

inilah syahadat rinduku
untukmu, sebiru langit yang kulukis bersama pelangi
sepotong kata-kata yang tak pernah selesai kunikmati
menanti mimpi, bungaku mekar dalam samadi
di teluk imaji, tanpa tepi

hingga sepetak keangkuhan yang kugubah
memenjarakanmu dalam resah, gundah kian basah
lalu kau lumuri selaksa rasa tanpa bahasa
di ujung kata-kata, rindu ini menjelama sebaris epitaf
yang tak pernah lelah kueja

akankah kau tinggalkan munajat batu nisan
pada segumpal sukma di altar keazalian
yang mencumbuimu dalam makrifat keheningan

maka kubasuh luka dengan air mata doa-doa
lantaran hanya kemarau rindu yang tersisa
dalam i’tikaf resah, sujudku gelisah
nubuat rindu, menjelma sajak-sajak pasrah

Surabaya-Pamekasam, 31 Januari 2010

***

Bahauddin Amyasi, lahir di sebuah kampung kecil Brambang, Kalianget Sumenep, 22 tahun yang lalu. Cerpennya “Menanti Gerimis” pernah memenangkan juara III Lomba Menulis Cerpen se-Jawa Timur 2003 yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Sampai saat ini, ia menjadi pengasuh rubrik “Ultra” (Ulasan Sastra) Majalah KOPI PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

Share

2 Responses to “PUISI-PUISI BAHAUDIN AMYASI”

  1. Puisi-puisi Bahauddin Amyasi « Sema Tarbiyah Says:

    [...] http://rumahdunia.com/isi/2010/05/08/puisi-puisi-bahaudin-amyasi/ [...]

  2. bahauddin Says:

    Alhamdulillah…
    Puisiku dimuat juga…
    Thanks rumah dunia…

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010