PUISI-PUISI BAHAUDIN AMYASI
langlang | Puisi | May 8th, 2010 | 2 Comments »
I’TIKAF KABUT
seperti i’tikaf kabut yang hening di helai malam
parau mimpi kita kian bersemayam
pada tiap jengkal kekalutan yang menghunjam
sampai nanti, di sini
kita masih setia melukis lembayung di ujung temaram
tak perlu kita ceritakan pada mereka
tentang selaksa lara yang membias hingga batas cakrawala
lantaran keyakinan yang kita kibarkan
akan menawarkan pahitnya sebuah pengorbanan
tak perlu kita kabarkan pada mereka
tentang pedihnya sebuah kehilangan
hingga pendar kesunyian telah kita luruhkan
pada desau leletih ombak di lautan
yakinlah, tegak jiwa kita mengempaskan badai kegalauan
seperti i’tikaf kabut yang mengembun di pucuk pagi
hingga nanti, di wisma singgih ini
kita masih berjingkrak menggapai matahari
kelak, pada kuburan keterasingan kita
i’tikaf kabut menjelma epitaf yang tak kuasa kita eja
Prigen, 13 April 2008
***
SAJAK SEBATANG CEMARA KERING
Buat karibku Hosriyanto Hobir
sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, kulihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.
sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.
maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.
“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.
Madura, 2005
***
UNTUKMU, AKU DATANG MALAM INI
untukmu, aku datang malam ini. dan seperti biasanya, kucintai malam yang tergerai dari rambutmu yang menderaikan gerimis kerinduan.
maka lihatlah, udara yang menjejali jiwaku menjadi beku. gelap telah jelmakan kita serupa bayang-bayang, menangkap gairah dalam setiap desah rindu yang basah, dan tentu gelisah.
kini, tubuhku telah berganti hujan dengan titik-titik rindu yang mengalirkan keheningan. maka mengertilah, ketika hujan yang memenuhi matamu mulai terhenti, kita pun akan kembali semedi, dalam pertemuan yang azali….
Surabaya, 14 Februari 2010 | 00:30 dini hari
***
NUBUAT RINDU
inilah syahadat rinduku
untukmu, sebiru langit yang kulukis bersama pelangi
sepotong kata-kata yang tak pernah selesai kunikmati
menanti mimpi, bungaku mekar dalam samadi
di teluk imaji, tanpa tepi
hingga sepetak keangkuhan yang kugubah
memenjarakanmu dalam resah, gundah kian basah
lalu kau lumuri selaksa rasa tanpa bahasa
di ujung kata-kata, rindu ini menjelama sebaris epitaf
yang tak pernah lelah kueja
akankah kau tinggalkan munajat batu nisan
pada segumpal sukma di altar keazalian
yang mencumbuimu dalam makrifat keheningan
maka kubasuh luka dengan air mata doa-doa
lantaran hanya kemarau rindu yang tersisa
dalam i’tikaf resah, sujudku gelisah
nubuat rindu, menjelma sajak-sajak pasrah
Surabaya-Pamekasam, 31 Januari 2010
***
Bahauddin Amyasi, lahir di sebuah kampung kecil Brambang, Kalianget Sumenep, 22 tahun yang lalu. Cerpennya “Menanti Gerimis” pernah memenangkan juara III Lomba Menulis Cerpen se-Jawa Timur 2003 yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Sampai saat ini, ia menjadi pengasuh rubrik “Ultra” (Ulasan Sastra) Majalah KOPI PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.
***




May 11th, 2010 at 7:26 am
[...] http://rumahdunia.com/isi/2010/05/08/puisi-puisi-bahaudin-amyasi/ [...]
May 12th, 2010 at 9:32 pm
Alhamdulillah…
Puisiku dimuat juga…
Thanks rumah dunia…