Puisi-Puisi Restu Ashari Putra
rumahdunia | Puisi | April 27th, 2010 | No Comments »
metropolansia
telah habis sekian jalan itu
dari pinggiran sejarah pinggiran kota
depok-jakarta
malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu
membangun kesesakkan di antara rumahrumah burung
dan segumpal awan kecil
masih adakah tuantuan tanah
yang mengambil budak di antara belantara rawa
mall dan plaza
jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan
bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu
rahim yang gagap mencatat bahasa
kota ini menjadi kawanan puisi bagi segerombolan
pujangga yang terpaksa mencatat bandarbandar obat
dan rumahrumah pijat
kejahatan lorong becek yang gelap dan wajah gedung
yang angkuh adalah sajak baru dari masa kecil ketenteraman
alam dan sejarah
pun di antara parkiran mobil depan restoran itu masih ada
seorang anak menulis surat kepada sang ayah tercinta,
“bapak, aku tak bisa belajar puisi di kota ini!”
Depok, 2009
***
tujuhpuluhlima malam sukmidjah
:nenek yang terbaring renta.
di kejauhan, aku tak mendengar lagi lengking terompet dan sorak petasan.
sesekali, hanya derap kaki yang asing melihat kau pergi meninggalkan rupa tahun.
sembunyi di balik goalpara, di balik aroma kebun teh yang wanginya bersujud
di mata perempuan tua.
sukmidjah, kau telah menjadi kamar kesunyianku yang harumnya dua puluh empat
tahun masa silam, di bawah reranting cengkeh dan tanah cikaret yang renta.
kita adalah samasama pejalan, bukan? hanya saja kau lebih dulu menuturkan dongengan
dan aku menarik selimut hingga mata seterang bulan.
sukmidjah, sebaiknya kau jangan lelap terlebih dulu. sebab aku masih ingin
menulis tubuh gigilmu dengan basah air mata, dengan jam hingga detak dua belas malam.
aku ingin mendengar ceritamu lagi tentang lelaki muda bertubuh panjang. dengan seruling tua menggiring tikus hama ke hulu sungai dari sawahsawah petani di bukit landai.
lidahmu tak berucap katakata. sesekali hanya derit pintu dan ringkik ranjang.
pecahan api melesat ke atas malam. tepatnya tujuhpuluhlima malam.
kau adalah kesunyian goalpara.
Sukabumi, Desember 2009- Januari 2010
Cikaret: sebuah kampung di daerah Sukabumi
Goalpara: jalan menuju perkebunan teh Goalpara di kecamatan Sukaraja-Sukabumi
***
neng, sesekali bukanlah tumbuhan yang menjalar
sesekali aku bukanlah tumbuhan yang menjalar dan tumpukan batang yang berair
walau aku serupa kau: tangan yang mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin
makhluk apakah kau yang serupa aku memandangi hamparan batang kangkung
di depan rumah itu. cekikik budak. bebisik mak. dan layangan jatuh di pinggiran petak
lalu aku mendekatimu. waktu hanya lirih air mata dalam bibirmu yang serupa
kupu-kupu, coklat pucat terkadang ungu. neng, kabari aku di mana kau tanam takdirmu.
sesaat sore seperti lebih kejam dari kesedihan apa pun. sebab neng tak bisa lagi menatap mak memanen batang kangkung, batang duka, batang air mata.
mak sudah tak punya lagi air mata. dan neng hanyalah mata yang memandang
gedung kotakota. semacam bulir pasir berputar berpusar mengitari lorong kesunyian.
tertiup angin. senyap. tanah pasir biru seperti tanah kau dan aku. tanah neng yang tak
berdiam lagi di depan rumah itu: mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin.
aduhai neng, di mana lagi kita beratap, bertanam sajak.
Cibiru Hilir, 2009
***
ZALZILA
jerit seorang wanita
adalah darah yang
mengucur dari langit
lalu pada air matanya ia sampaikan salam ketidakberdayaan menadah hujan dan gemuruh.
nasib telah merobek baju tidurnya. hingga kini ia telanjang dengan mata terpejam
sepanjang malam.
tatkala kebencian jatuh di pelupuk matanya. dan air hujan basah menggenangi segenap
mimpinya. di malam itu, kesedihan telah menjadi karang di lautan: abadi dan kekal.
sampai tuhan mencabut kembali segala kehendaknya, kau akan tetap sendirian berjalan
di pinggiran sejarah cahaya: di bawah temaram lampu kota , di antara dua gedung tua.
dengan hujan dan gaun tersingkap, dengan memar dan air liur berbisa.
2009
***
Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung. Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung . Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Majalah Sabili, Tribun Jabar, kompas.com. Komunikasi bisa melalui blog; www.katarestu.wordpress.com .
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.




Leave a Reply