Puisi-Puisi Restu Ashari Putra

advert

metropolansia

telah habis sekian jalan itu

dari pinggiran sejarah pinggiran kota

depok-jakarta

malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu

membangun kesesakkan di antara rumahrumah burung

dan segumpal awan kecil

masih adakah tuantuan tanah

yang mengambil budak di antara belantara rawa

mall dan plaza

jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan

bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu

rahim yang gagap mencatat bahasa

kota ini menjadi kawanan puisi bagi segerombolan

pujangga yang terpaksa mencatat bandarbandar obat

dan rumahrumah pijat

kejahatan lorong becek yang gelap dan wajah gedung

yang angkuh adalah sajak baru dari masa kecil ketenteraman

alam dan sejarah

pun di antara parkiran mobil depan restoran itu masih ada

seorang anak menulis surat kepada sang ayah tercinta,

“bapak, aku tak bisa belajar puisi di kota ini!”

Depok, 2009

***

tujuhpuluhlima malam sukmidjah

:nenek yang terbaring renta.

di kejauhan, aku tak mendengar lagi lengking terompet dan sorak petasan.

sesekali, hanya derap kaki yang asing melihat kau pergi meninggalkan rupa tahun.

sembunyi di balik goalpara, di balik aroma kebun teh yang wanginya bersujud

di mata perempuan tua.

sukmidjah, kau telah menjadi kamar kesunyianku yang harumnya dua puluh empat

tahun masa silam, di bawah reranting cengkeh dan tanah cikaret yang renta.

kita adalah samasama pejalan, bukan? hanya saja kau lebih dulu menuturkan dongengan

dan aku menarik selimut hingga mata seterang bulan.

sukmidjah, sebaiknya kau jangan lelap terlebih dulu. sebab aku masih ingin

menulis tubuh gigilmu dengan basah air mata, dengan jam hingga detak dua belas malam.

aku ingin mendengar ceritamu lagi tentang lelaki muda bertubuh panjang. dengan seruling tua menggiring tikus hama ke hulu sungai dari sawahsawah petani di bukit landai.

lidahmu tak berucap katakata. sesekali hanya derit pintu dan ringkik ranjang.

pecahan api melesat ke atas malam. tepatnya tujuhpuluhlima malam.

kau adalah kesunyian goalpara.

Sukabumi, Desember 2009- Januari 2010

Cikaret: sebuah kampung di daerah Sukabumi

Goalpara:  jalan menuju perkebunan teh Goalpara di kecamatan Sukaraja-Sukabumi

***

neng,  sesekali bukanlah tumbuhan yang menjalar

sesekali aku bukanlah tumbuhan yang menjalar dan tumpukan batang yang berair

walau aku serupa kau: tangan yang mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin

makhluk apakah kau yang serupa aku memandangi hamparan batang kangkung

di depan rumah itu. cekikik budak. bebisik mak. dan layangan jatuh di pinggiran petak

lalu aku mendekatimu. waktu hanya lirih air mata dalam bibirmu yang serupa

kupu-kupu, coklat pucat terkadang ungu. neng, kabari aku di mana kau tanam takdirmu.

sesaat sore seperti lebih kejam dari kesedihan apa pun. sebab neng tak bisa lagi menatap mak memanen batang kangkung, batang duka, batang air mata.

mak sudah tak punya lagi air mata. dan neng hanyalah mata yang memandang

gedung kotakota. semacam bulir pasir berputar berpusar mengitari lorong kesunyian.

tertiup angin. senyap. tanah pasir biru seperti tanah kau dan aku. tanah neng yang tak

berdiam lagi di depan rumah itu: mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin.

aduhai neng, di mana lagi kita beratap, bertanam sajak.

Cibiru Hilir,  2009

***

ZALZILA

jerit seorang wanita

adalah darah yang

mengucur dari langit

lalu pada air matanya ia sampaikan salam ketidakberdayaan menadah hujan dan gemuruh.

nasib telah merobek baju tidurnya. hingga kini ia telanjang dengan mata terpejam

sepanjang malam.

tatkala kebencian jatuh di pelupuk matanya. dan air hujan basah menggenangi segenap

mimpinya. di malam itu, kesedihan telah menjadi karang di lautan: abadi dan kekal.

sampai tuhan mencabut kembali segala kehendaknya, kau akan tetap sendirian berjalan

di pinggiran sejarah cahaya: di bawah temaram lampu kota , di antara dua gedung tua.

dengan hujan dan gaun tersingkap, dengan memar dan air liur berbisa.

2009

***

Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung. Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung . Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Majalah Sabili, Tribun Jabar, kompas.com. Komunikasi bisa melalui blog; www.katarestu.wordpress.com .

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010