BABI NGEPET BUKU

advert

Cerpen Langlang Randhawa*

Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera menjadi kiblat peradaban dunia.

Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan. Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana, buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!

***

Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah. Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual bernama Ki Cendiki Awan.

“Apa yang kau inginkan, Isah?”
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”
“Apa itu, Ki Cendik?”
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”
“Apa ini?”
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet buku!”
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses. Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”
“Apa itu, Ki?”
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”
“Okeleh kalo begitu.”

***

Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya. Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.

“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”
“Bisa. Soal apa?”
“Ada beberapa pertanyaan.”
“Apa saja?”
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”
“Lalu?”
“Takdir itu apa, Egar?”
“Yang lain?”
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara. Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona supaya kobarannya padam. Ada komentar?”
“Tidak ada.”
“Kenapa, Egar?”
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan benar.”
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”
“Okelah kalo begitu.”

***

Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat. Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru. Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak bisa mencari jawabannya.

Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru. Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi babi yang cute imut namun penuh wibawa.

“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”
“Tidak. Aku hanya minta saran.”
“Saran?”
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”
“Pusing tiga pertanyaan itu?”
“Ya. Kau memang cerdas.”
“Saran saya pulanglah ke Banten.”
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”
“Ibu?”
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa membaca.”
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas mengamati.”
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”
“Tidak usah. Aku percaya.”
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat sialan.
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”
“Apa itu, Biru?”
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk menarik ibumu ke sini.”
“Benarkah?”
“Ya. Kamu mau.”
“Ya. Aku mau.”
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama cahaya putih.
“Ibu!”
“Lha! Egar? Ini di mana?”
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun Rangkasbitung!?”
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”
“Yah!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang. Cape, deh!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong setan.”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Lha kok ditampar lagi?”
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah jauh-jauh!”
“Emang ibu tau?”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Kak ditampar lagi?”
“Itu jawabannya. Sakitkan?”
“Iya.”
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”
“Tidak.”
“Itulah takdir.”
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi. Puas?”
“Okelah kalo begitu.”
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.
“Manteplah kalau begini!”

======
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.

Share

3 Responses to “BABI NGEPET BUKU”

  1. sobyRin Says:

    coba banten kaya dalam cerita itu ya, mungkin kemiskinan dan pengangguran (yang ada dalam cerita Banten sebenarnya-)nggak bakal ada tuh, dan para pejabat serta orang-orang “gede” di Banten, semoga sadar akan pembangunan yang sesungguhnya, bukan cuma omdo (OMONG DOANK!)dalam liflet atau baliho-baloho kosong!

    Semoga Si Gel Egar ada di Banten, ya… kang, salam sama Si Egar…..cerpenya OKlah kalo begitu.

    salam @
    .w

  2. Abu Gesper Says:

    Wah … kalo ada tokoh seperti egar. pasti banten jadi mantep surantep…gak kayak sekarang banten cuma mau dijadiin milik keluarga doank….

    Omong2 cerpenny asyik berat dan Oke..lah kalo begitu

  3. poetry karatan Says:

    Andai semua itu jadi kenyataan! Aduh…..bangga banget jadi warga Banten!
    Suruh pejabat-pejabat di Banten baca ni cerpen!

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010