PUISI-PUISI AHMAD WAYANG

advert

DETIK YANG MATI

:wardani

pagi sekali, suara dangdut

dari sudut beranda rumahmu

tergilas rodaroda waktu

yang terus bisu

sesekali lagu yang kau putar

mengusik hatiku

kenangan berterbangan

ingin menggapai rindu

yang masih dalam ikatan matamu

ah, selalu ada tanda tanya

dan akan selalu begitu

saat sepasang mata

melihat tenda merah di latar rumahmu

entah kenapa

keping kenangan kita

berserakan dalam kamar sempit ini

tak terasa malam selimuti jiwaku

begitu pun dengan sepi yang selalu menggantung

nafas ini. gigil tubuh ini tak ada arti

saat bibirku dan bibirmu bertemu kaku

sunyi lantunkan gumam; bahwa alis matamu

akan jadi lengkung esok nanti

seperti yang lainnya kau terlihat riang

dan sesekali berceloteh dengan sang Rama

diiringi wangi melati dan parfum kesukaanmu

inikah kali pertama detik yang mati?

empat belas bayangmu masih menggantung diri

mungkin gerimis januari haturan terahkir

ketika sepuluh butir beningnya

menempel di kaca jendela yang mati rasa

duh gusti, inikah  kali pertama detik yang mati?

Kepondoan, 14.01.10 (06.05)

***

HIJRAH CINTA

kutinggalkan semua kenangan

di bangku kecil

rumah dan bunga padi

melepas semua wangi tubuhmu

yang bermekaran dalam jantung batu

senja yang menyembul dari sudut bibirmu

telah kuhapus dengan gerimis

malam itu juga

kutinggalkan jejakmu

yang masih mengikat

biarlah angin selatan yang membawa duka

pada loronglorong cinta

ini hanya hijrah bagi

jiwa nestapa

yang masih menyulut api kesunyian

sebelum menghembuskan tawa yang panjang:

ucapkan selamat tinggal

Kepondoan, 14.01.10

***

WANGI SUBUH

adakah kata di ujung nafasmu

bersemilir angin dari waktu yang berbeda

jingga warnanya

atau hati yang kelabu

luka dan nestapa di tiap lekuk senyummu

ingin kureguk wangi subuh

sampai cahayamu jatuh

menetes di kalbu

masihkah nafasku memburu racunmu

atau perlahan mencuri

wangiwangi yang terselip di ujung matamu

jika begitu, sampaikan mimpi indahku;

tentang rembulan tua

di akhir kepulangan kita

Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010

***

ALAMATMU ADALAH WAKTU

malam masih duka padaku

subuh yang kurindu sapa laut biru

angin kini telah menipu

walau dulu telah manjakanku

karena ini adalah penghabisan waktu

untuk mencari alamatmu

kau mungkin tahu catatanku tempo dulu

secarik alamat menari dalam waktu

ya, menari

hanya menari

Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010

***

Ahmad Wayang, lahir 19 September 1987 di sebuah Kampung kecil Kepondoan, Serang-Kibin. Ia pernah mengikuti TRALIS 3 FLP dan Kelas Menulis angkatan VIII di Rumah Dunia. Juga mengikuti Majelis Puisi di Rumah Dunia. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen sudah menghiasi koran lokal, seperti Fajar Banten dan Radar Banten. Ia juga relawan dan wartawan rumahdunia.com. Email:soby_rin@yahoo.co.id

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

  • Share/Bookmark

3 Responses to “PUISI-PUISI AHMAD WAYANG”

  1. basrah nasution Says:

    saya juga udah pernah kirim puisi di tampilin juga dong…..biar sama kayak mas ahmad wayang …puisinya ok -ok banget yah

  2. Toto ST Radik Says:

    Puisi yang tampil memang musti yang ok-ok banget. lagian yg kirim ternyata sangat banyak, jadi musti antri. Ayo basrah, kirim lagi puisi-puisimu yang ok-ok banget yah.

  3. Abd. Basid Says:

    KOk. Minggu ini Puisi ni g update ya??? Padahal saya menunggu nunggunya…

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat “Rumah Dunia”. Paket Kelas Menulis “Be a Writer” reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku “Be a Writer” karya Gol [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | July 18th, 2010