PUISI-PUISI AHMAD WAYANG
langlang | Puisi | February 22nd, 2010 | 3 Comments »
DETIK YANG MATI
:wardani
pagi sekali, suara dangdut
dari sudut beranda rumahmu
tergilas rodaroda waktu
yang terus bisu
sesekali lagu yang kau putar
mengusik hatiku
kenangan berterbangan
ingin menggapai rindu
yang masih dalam ikatan matamu
ah, selalu ada tanda tanya
dan akan selalu begitu
saat sepasang mata
melihat tenda merah di latar rumahmu
entah kenapa
keping kenangan kita
berserakan dalam kamar sempit ini
tak terasa malam selimuti jiwaku
begitu pun dengan sepi yang selalu menggantung
nafas ini. gigil tubuh ini tak ada arti
saat bibirku dan bibirmu bertemu kaku
sunyi lantunkan gumam; bahwa alis matamu
akan jadi lengkung esok nanti
seperti yang lainnya kau terlihat riang
dan sesekali berceloteh dengan sang Rama
diiringi wangi melati dan parfum kesukaanmu
inikah kali pertama detik yang mati?
empat belas bayangmu masih menggantung diri
mungkin gerimis januari haturan terahkir
ketika sepuluh butir beningnya
menempel di kaca jendela yang mati rasa
duh gusti, inikah kali pertama detik yang mati?
Kepondoan, 14.01.10 (06.05)
***
HIJRAH CINTA
kutinggalkan semua kenangan
di bangku kecil
rumah dan bunga padi
melepas semua wangi tubuhmu
yang bermekaran dalam jantung batu
senja yang menyembul dari sudut bibirmu
telah kuhapus dengan gerimis
malam itu juga
kutinggalkan jejakmu
yang masih mengikat
biarlah angin selatan yang membawa duka
pada loronglorong cinta
ini hanya hijrah bagi
jiwa nestapa
yang masih menyulut api kesunyian
sebelum menghembuskan tawa yang panjang:
ucapkan selamat tinggal
Kepondoan, 14.01.10
***
WANGI SUBUH
adakah kata di ujung nafasmu
bersemilir angin dari waktu yang berbeda
jingga warnanya
atau hati yang kelabu
luka dan nestapa di tiap lekuk senyummu
ingin kureguk wangi subuh
sampai cahayamu jatuh
menetes di kalbu
masihkah nafasku memburu racunmu
atau perlahan mencuri
wangiwangi yang terselip di ujung matamu
jika begitu, sampaikan mimpi indahku;
tentang rembulan tua
di akhir kepulangan kita
Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010
***
ALAMATMU ADALAH WAKTU
malam masih duka padaku
subuh yang kurindu sapa laut biru
angin kini telah menipu
walau dulu telah manjakanku
karena ini adalah penghabisan waktu
untuk mencari alamatmu
kau mungkin tahu catatanku tempo dulu
secarik alamat menari dalam waktu
ya, menari
hanya menari
Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010
***
Ahmad Wayang, lahir 19 September 1987 di sebuah Kampung kecil Kepondoan, Serang-Kibin. Ia pernah mengikuti TRALIS 3 FLP dan Kelas Menulis angkatan VIII di Rumah Dunia. Juga mengikuti Majelis Puisi di Rumah Dunia. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen sudah menghiasi koran lokal, seperti Fajar Banten dan Radar Banten. Ia juga relawan dan wartawan rumahdunia.com. Email:soby_rin@yahoo.co.id
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.




February 24th, 2010 at 1:06 pm
saya juga udah pernah kirim puisi di tampilin juga dong…..biar sama kayak mas ahmad wayang …puisinya ok -ok banget yah
March 5th, 2010 at 8:18 am
Puisi yang tampil memang musti yang ok-ok banget. lagian yg kirim ternyata sangat banyak, jadi musti antri. Ayo basrah, kirim lagi puisi-puisimu yang ok-ok banget yah.
March 5th, 2010 at 2:30 pm
KOk. Minggu ini Puisi ni g update ya??? Padahal saya menunggu nunggunya…