MANUSIA JANGAN KALAH DENGAN MONYET

SERANG – Tidak seperti biasanya, Rumah Dunia kali ini mengadakan acara bedah buku pagi hari sekitar Pukul 08.00  WIB. Jika yang sudah-sudah rumah dunia menyelenggarakan acara diskusi pada Pukul 14.00 WIB. Dan seperti pada kesempatan kali ini Sabtu (20/2), Rumah Dunia menyelenggarakan bedah buku ‘Monyet Aja Bisa cari Duit’ karya Zainal Abidin atau akrab disapa Jay. Meski acara diskusi dihadiri oleh 32 peserta dari kalangan pedagang, home industry, mahasiswa, perpustakaan kota Serang, dan BPAD Prov Banten. Namun acara bedah buku Monyet Aja Bisa Cari Duit, akhirnya berjalan dengan lancar dan suasana diskusi terasa ramai, hingga membuat suasana jadi ‘hidup’. Selain Jay, sang penulis buku, hadir pula Anis Fuad, Dosen Untirta jurusan Fisip ekonomi (pembedah) dan saya sendiri, selaku mantan penjual roti dan wartawan rumah dunia.com.

Membaca judul bukunya saja: ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’, Jay mengemas bukunya dengan gaya bercerita atau mengobrol. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui.

Diskusi Jay

“Di Padang, ada yang namanya sekolah monyet. Monyet-monyet itu diajarkan untuk mengambil buah kelapa. Cukup dengan dilatih selama tiga bulan, monyet itu sudah mahir memetik buah kelapa,dan dari monyet itu bisa menghasilkan uang. Jadi seandainya kita tidak bisa mancari uang, ya… berarti kita kalah dengan monyet,” kata Jay dalam diskusinya. Masih menurutnya, Jay mengaku, memang dengan sengaja dia memilih judul itu untuk menyindir para pengangguran yang ada di Indonesia ini. “Padahal bekerja itu apa saja. Pemulung itu juga pekerjaan. Tinggal dari kita-nya, mau melakuakannya atau tidak. Itu tidak butuh modal, dan jangan salah seorang pemulung di Bantar Gebang, Jakarta dalam sebulan bisa mendapatkan jutaan rupiah dari hasil mulung saja,” kata Jay dengan enerjik.

Sementra Anis Fuad, menceritakan proses suka-dukanya dalam menjalani jualan Bontot. “Sebelum menjual bontot, saya sudah cukup banyak gagal dalam berjualan. Mulai dari berjualan tas, asesoris wanita dan masih banyak lagi. Jual bontot baru sekitar sembilan bulan lalu.” Kata Anis yang mengaku semakin pokus berjualan Bontot. Karena memang dengan pokuslah, kata Anis, kita yang sedang merintis usaha kecil-kecilan inssa Allah akan berhasil. “Saya masih ingat, waktu itu saya masih kuliah sambil jualan. Saya disuruh oleh dosen saya untuk milih kuliah atau jualan. Saya bingung. Tapi, akhirnya saya pilih kuliah dan meninggalkan usaha. Karena tidak pokus usaha saya jadi terbengkalai.” Cerita Anis.

Lebih jauh Jay memberi saran. Untuk memulai usaha harus membuang jauh-jauh yang namanya ‘gengsi’ dalam diri kita . “Sebagaian orang menetapkan gengsi di urutan depan. Ok, jika begitu, terima konsekuensinya. Contoh, banyak orang korupisi, tapi dia tidak mau di penjara. Ini kan lucu? Kalau kita mau berhasil (dalam usaha) taruh gengsi di urutan nomor seribu. Setelah itu kerja keraslah.” Kata Jay yang sudah menghasilkan 94 judul buku, yang kebanyakan komik. Jadi intinya, jika ingin menjadi pengusaha sukses, kuncinya cuma dua: Bisa jualan/berdagang dan bisa mengurus uang/pemasukan maupun pengeluaran. Karena memang dengan dua cara itulah seseorang bisa berhasil jika sungguh-sungguh.

Membaca itu sukses

Tapi, adakah berkaitan persoalan rendahnya minat baca dengan pengangguran? Coba simak tanggapan Jay tentang ini. “Ya, biarkan saja itu terjadi. Orang akan melihat, pentingnya akan membaca. Terima saja keadaan ini. Jadi orang yang tidak suka membaca, pengetahuannya pasti bakal sedikit. Iya, kan? Itu saja.” kata Jay menanggapi dengan santai. Jay sebenarnya merasa prihatin dengan banyaknya pengangguran di negeri ini. Dan dari itu, Jay tetap mempertahankan judul buknya ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’ meski buku itu (sebelum diterbitkan “de britz” miliknya) selalu ditolak oleh 20 penerbit, karena judulnya terlalu serius.

Kenapa Jay milih judul bukunya ‘monyet’? “Karena monyet itu adalah strata paling bawah. Juga untuk mengejek para penganguran.” katanya. Jadi intinya, atau yang ingin dikatakan Jay dalam bukunya? “Monyet aja bisa cari duit! Masa kita sebagai manusai kalah dengan monyet?” tandasnya.

Acara diskusi berakhir Pukul 12.00 WIB dan giliran para pembeli buku Jay, meminta tanda tanganya. Jay pun menyumbangkan hasil penjualan bukunya pada RD dari jumblah 25 buku yangdibwanya disumbangkan untuk Rumah Dunia. [Ahmad Wayang]

DAPAT PINJAMAN MODAL

PINJAMAN MODAL

Oleh: Harir Baldan

Untuk meraih kesuksesan dalam dunia usaha, selain butuh modal tentunya, pengorbanan, dan kerja keras juga harus memperhatikan mutu dari produk tersebut. Dengan begitu kepuasan pelanggan akan tetap terjaga. Hal inilah yang diterapkan oleh H. Oman Rohman (47) pemilik toko ”Aneka Pakasaban” lanjutkan membaca »

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong

Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan dengan proposal.

DIRI SENDIRI

Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA (1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini literasi, siapa ingin maju! Ada yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot ketimbang otak.

Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu, kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.

Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka – meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah: Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel Balada Si Roy, Al Bahri, dan Pada-Mu Aku Bersimpuh. Juga dari beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.

Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya akan hidup ketika block grant datang, lalu hilang  bulan mendatang.

PROMOSI

Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut, kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu lebih dari cukup.

Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.

Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs www.rumhdunia.net. Bertempat di senayan@library, Depdiknas Jakarta, www.rumhdunia.net pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya. Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan di www.rumahdunia.net.

KARAKTER TBM

Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun, pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-

Berkat situs www.rumahdunia.net, akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap. Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan sekeluaga menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.

Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di antara kami dan penerbit.

JEJARING

Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM. Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama block grant, kedua block grant, ketiga juga block grant!

Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama block grant, saya tidak yakin TBM yang kita kelola akan berumur panjang. Menerima block grant sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM perintis (Rp. 15 jt).  Berapa bulankah dana itu sanggup menyambung nafas TBM?

Rumah Dunia juga pernah mendapatkan block grant dari Depdiknas 2 kali, tipe B (Rp. 25 jt) pada 2006 dan 2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana block grant, karena setiap bulan kami harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block grant datang.

Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Harus bersabar. Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a, semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate Social Responsibility)-nya!

Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi (World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana untuk menghidupi TBM. Ada banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt (2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!

Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman, bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak donatur. Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),

MERCHANDISE

Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis, bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi terus kami upayakan.

Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat penerbitan GONG Publishing.  Kami berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan ulang buku-buku karya saya; Balada Si Roy. Dengan system print on demand, diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan disumbangkan ke Rumah Dunia.

Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.

Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp. 50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet, yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini, selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga  - insya Allah – akan memiliki unit usaha yang bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.

Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.

Inilah pengalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja, karena saya yakin di antara para pembaca ada yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat untuk kemajuan Taman Bacaan Masyarakat! Hidup literasi! (*)

*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan Pemipin Umum www.rumahdunia.com dan www.rumahdunia.net , terpilih sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Munas  Temu Konsolidasi Forum TBM, dengan tema “Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca Tulis”,  LPP Hotel, Demangan, Yogyakarta, 22 – 24 Feb 2010

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010