PUISI-PUISI TUBAGUS AR-RAYYAAN

advert

Puisi-puisi Tubagus Ar-Rayyaan

KOTAKU

Sudah lama kunang-kunang tak lagi bagian malammu

tuhan terpaksa mengubah kerlipnya menjadi lampu-lampu hias

mengganti sayapnya dengan papan-papan kaligrafi

dan memaksa deriknya berganti desing lalulalang kendaraan.

Mereka pergi entah kemana

aku rindu, seperti tanah rindukan hentakan kaki bocah

berlari-larian bermain bebentengan

juga pepohonan, melambai-lambai menyapa perkakas penduduk

kala gotong royong di halaman rumahmu.

Aku ingin berbaring, tiduran di tajug sebelah rumahmu

membelah malam dengan tawa tajam para remaja

saat bermain mulmulan dan dasdasan

meramaikan riuh jangkrik di sepertiga malam

lalu berkeliling kampung menabuh kokol

membangunkan lelapnya malam dengan tarhim.

Aku ingin tidur, merebah di teras rumahmu

mimpikan masa kecil bersama kunang-kunang

menghabiskan malam di antara jerit gemerlapmu

namun kini hanyalah aspal jejalan

teman akrabku.

Serang, Januari 2010

***

TANAH PENYAIR

Sekian lama merantau ke tanah penyair

ku kembali pulang membawa sebekal sajak

kita santap bersama di depan pembesar

menyumpal mulutnya dengan sisa-sisa kata.

Sekian lama rindu akan tanah kelahiran

ku kembali datang dengan tangan mengepal

kita terpejam dan menutup wajah malu

dengan selembar suratkabar berita kematian.

Serang, Januari 2010

***

MALAM BARU SAJA USAI

Malam baru saja usai, kulipat segala mimpi

kumasukkan dalam lemari resah

persiapkan masa pertanyaan :

adakah kau terima bingkisan hatiku?

Fajar pun hadir ke tengah kamar

membawa bertetes embun

di sucinya raga yang memagut

menimang-nimang rangkaian do’a

dalam tafakkur pagi.

Esok, malam semakin terang

dan segera kudengar tembang

tentang rinduku pada hujan.

Serang, April 2009

***

Tubagus Ar-Rayyaan adalah nama pena dari Tubagus Mohammad Sholeh. Lahir di Serang, 10 Desember 1982. Kini mengajar di SMPIT Bina Insani Waringinkurung Kab. Serang. Puisi-puisinya termaktub dalam antologi puisi “Candu Rindu” (2009). Tinggal di Waringinkurung dan tergabung dalam komunitas KUBAH BUDAYA Banten. HP : 085213375445.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010