PENGHARGAAN ITU…
Gola Gong | Gonjlengan | February 1st, 2010 | 3 Comments »
Oleh Gol A Gong
Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD yang mendistribusikannya kepada Organisasi Kepemudaan yang hanya tergabung di KNPI saja, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Aku sengaja memprovokasi KNPI Banten, agar muncul sebuah wacana atau bahan diskusi. Aku ingin para pengurus dan anggota KNPI Banten inovatif, kreatif, tidak sekedar dijadikan jalan yang memudahkan mereka masuk ke kancah politik. Sudah jadi rahasia umum, kalau KNPI adalah underbouw penguasa dan selalu memuluskan mereka yang ingin jadi penguasa. Setelah aku jelaskan, bahwa aku menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada aku.
ATLET BADMINTON
Bagi aku, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Aku muda (1980 – 1990) adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, aku terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.
Di cabang badminton, aku mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Aku harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun kota, ke luar kota, bahkan saat kuliah di Bandung, aku terbiasa lari dari bukit Dago ke Maribaya. Prestasi yang aku peroleh lumayan juga. Di Serang, aku adalah atlet badminton berlengan satu dan mampu berada di ntim elit kabupaten sejajar dengan yang berlengan dua. Prestasi aku tidak main-main untuk atlet berlengan satu. Aku pernah juara kedua tingkat yunior di Serang, masuk 16 besar se-Jawa Barat, tim kampus UNPAD dan single pertama. Untuk sesama atlet berlengan satu, di level Indonesia, aku jawaranya untuk tunggal, beregu, dan double. Di level Asia Pasific juga.
Bapaklah yang menggembleng tubuhku dari seorang anak kecil berlengan satu yang sedang berada di puncak keputusasaan, hingga menjadi seorang atlet badminton berlengan satu yang penuh rasa percaya diri. Sedangkan Emak yang mengasah hati dan jiwaku, agar tetap berendah hati, tidak menyepelekan dan selalu menghargai lawan-lawanku.
Waktu berdetak. Zaman berubah. Bapak dan Emak memfasilitasi aku dengan bacaan; mulai dari Koran, majalah, hingga buku-buku novel berkelas. Akhirnya aku yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah aku ke dunia tulis-menulis. Apalagi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, karena di era orde baru, perlakuan pemerintah sangat diskriminatif terhadap orang cacat.
Aku menyakinkan Bapak dan Emak, tentu diawali dengan konflik pendapat, bahwa profesi menulis bagiku sangat menjanjikan dan tidak menuntut persyaratan apakah dia cacat atau bukan, bergelar sarjana atau tidak. Persyaratannya hanya satu, bisa menulis. Itu saja. Aku memang tidak bergelar sarjana, hanya lulusan SMA dan pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung hingga semester V. Aku memiliki keinginan kuat untuk jadi penulis, wawasan, dan ide-ide menumpuk di kepala. Bagiku itu modal awal untuk jadi penulis.
Bapak awalnya menentang, karena menulis belum memberikan harapan untuk dijadikan sandaran hidup. Bapak menyaratkan kepadaku, menulis boleh saja digeluti asalkan memiliki pekerjaan tetap, sebagai apapun, bahkan walaupun gajinya kecil. “Yang penting punya penghasilan tetap!” Bapak menegaskan.
Tapi Emak memberikan toleransi. Emak memberiku peluang. Diberinya aku kesempatan untuk merantau ke Jakarta. Diberinya aku restu. Bapak tidak bisa berkata apa-apa, selain memberiku ijin pergi menaklukan Jakarta. Bismillah…, pada 1987 aku menuju Jakarta.
Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan hidupku. Keinginanku menjadi penulis terbentang di depan mata. Karya pertamaku; serial Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI (1988). Bahkan Allah mengabulkan doaku, agar keinginan Bapak terpenuhi. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis berita (wartawan) di Gramedia Majalah pada 1990. Awalnya ditawari di majalah HAI, tapi Arswendo Atmowiloto membutuhkan aku di Tabloid Wartawa Pramuka. Gaji kotorku Rp. 500.000,- Tentu saja Bapak dan Emak senang. Gajiku melebihi gaji saudara-saudaraku yang sarjana. Kemudian aku pindah bekerja jadi penulis scenario TV (script writer) di Indosiar (1995) dan RCTI dari 1997 hingga 2008 dengan gaji berlipat-lipat. Kegiatan menulis tetap aku lakukan. Hingga kini sudah sekitar 65-an novel lahir dari buah pikiranku.
Aku bahkan masih sempat membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia. Ini karena kecintaan aku terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Aku tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban aku sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hanya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.
Aku sering menemukan para tamu yang datang ke Rumah Dunia, bukan hanya untuk bertemu denganku, tapi ingin berkenalan dengan Bapak dan Emak. Memurut mereka, apa-apa yang aku lakukan di Rjmah Dunia, pasti tidak akan bisa terlepas dari peranan Bapak dan Emak. Ya, itu betul. Emak dan Bapak juga pernah melakukan hal sama ketika aku kecil. Ada sekitar 1 lemari buku-buku (novel dan komik) dan majalah mereka keluarkan di teras rumah untuk dibaca orang-orang. Hal itu tersimpan di pikiran dan hatiku. Rumah Bapak dan Emak setiap seusai sholat Isya terbuka untuk siapa saja. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, tikar-tikar digelar dari ruang tengah hingga ke teras. Televisi hitam-putih pun dinyalakan. Para tetangga berdatangan menonton film-film seri yang ditayangkan TVRI.
Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah aku dihadapkan pada dilema pemberian hadiah. Pertama, aku ditawari olleh KNPI Banten. Aku tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 memberi aku penghargaan sebagai budayawan. Sulit aku tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju dan dikenal banyak orang.
“Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. “Sebagai pemimpin, aku harus kompromi. Kamu harus memikirkan segala keputusan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan kamu.”
Tias Tatanka, istrikku tercinta, memberi kebebasan sepenuhnya kepadaku; apakah aku menolak atau menerima. Akhirnya aku terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Banten, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mjlai melirik. Apalagi ketika di acarfa “Keranda Merah Putih” (2007), Gubernur Banten terpilih periode 2007 – 2012, Rt. Atut Chosiyah. SE meresmikan acara dan brdialog dengan para seniman Banten, Rumah Dunia semakin dikenal kalangan pejabat di Banten sebagai komunitas yang netral.
Yang paling menyenangkan hatiku, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada aku, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 juta (dari BNI Plus) dan buku-buku senilai Rp. 10 juta (dari Gramedia) pula. Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika aku sakit, memberi aku penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Aku menolak. Aku mengajukan nama almarhum Dauzan Faaruk sebagai orang yang layak menerima penghargaan itu. Tapi menurut paniita, Dauzan Faaruk sudah menerima itu tahun 2006. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Tidak ada pilihan lain. Kata Bapak dan Emak, “Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik.”
Kompromi lagi-lagi aku lakukan.
Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada aku,. Jujur saja, saat itu aku berpikir, “Aku sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang berhasil aku kalahkan?”
Menyusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, memberi penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, Mei 2007. Kala itu Jusuf Kalla yang menyalami aku. JK tersenyum sambil berpikir, “Siapa, sih, Gola Gong?” Udah gondrong, tangan satu lagi! Ada uang kadeudeuh sebesar Rp. 5 jt. Semua aku terima, dengan pertimbangan Rumah Dunia semakin dikenal orang. Biasanya pada saat resepsi, aku bersama Tias menyebarkan brosur Rumah Dunia kepada orang-orang yang hadir. Dan tentu, saat diwawancara, Rumah Dunia adalah topic utama.
Masih ada lagi, yaitu penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi Indonesia, pada hari Buku Internasional, 3 April 2008 lalu. Ada hadiah uang sebesar Rp. 10 jt dari panitia World Book Day (Forum Indonesia Membaca, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq), yang diperuntukan untuk membantu biaya pengobatan aku selama 2 bulan di RS Holistik, Purwakarta. Aku dirawat dari Maret – Mei 2008. hadiah itu sangat membantuku.
Paling gress, radio Elshinta menghubungiku. Tuti yang menelepon di Senin (25/1/2010) yang cerah. “Gol A Gong kami usulkan mendapatkan penhargaan dari Elshinta yang berulangtahun ke-42 dan ulang tahun program News and Talk yang ke-10 Penganugrahannya pada 17 Februari 2010 di Planet Hollywood,” begitu Tuti menjelaskan kepadaku. Aku tentu senang mendengarnya. Ini baik untuk Rumah Dunia. Aku katakana kepada Tuti, anggap saja ini penghargaan untuk para relawan Rumah Dunia yang sudah jungkirbalik menggerakkan Rumah Dunia dan aku mewakili mereka menerima hadiah itu! Aku mencandai Tuti, “Hadiahnya mobil pintar, ya! Supaya program perpustakaan keliling Rumah Dunia berjalan lagi!”
Sekarang, mari kita bahu membahu menuju Indonesia Membaca! Dan itu kita mulai dari rumah!
*) Penulis sekarang bekerja di rumah dan mengelola www.rmahdunia.com ***








February 19th, 2010 at 3:32 pm
Aku sangat kagum dengan apa yang antum lakukan, Hebat, Luar Biasa dan aku senang…….
Aku dulunya juga atlit badminton, persis sama di tahun 1990 an, cuma, waktu itu aku di PB. Djarum Surabaya dan Pemula B….
Dengan Historis yg sama ,…aku berharap bisa menjadi “orang” yang sama kelak seperti antum Lakukan…BERPRESTASI & BERMANFAAT…amin, doakan aku ya Bang,…
February 20th, 2010 at 9:29 pm
Ada penghargaan atau tidak, saya yakin garis hidup anda adalah memberi mamfaat pada semua. Terus terang anda adalah seorang yang sangat menginspirasi saya, bukan hanya karya2 tulis tapi juga sikap hidup anda. Semoga tetap selalu begitu, dan salam saya untuk emak dan bapak yang telah melahirkan anak seperti anda. Semoga menjadi contoh bagi ortu2 yang lain…amien
February 22nd, 2010 at 8:30 am
subhanallah.termakasih.ketika jasfi atlet,sy mendapatkan ilm pantang menyerah