MEMET RAHMAT SANG PETUALANG
langlang | Jawara | February 1st, 2010 | 1 Comment »

SANG PETUALANG
Menjadi petualang bukan hal yang mudah untuk ditempuh. Selain mental, kerja keras, ulet, tekun, modal, sabar, dukungan, juga harus cinta terhadap dunia petualangan saja. Sebab seorang petualang harus siap menghadapi segala rintangan dan tantangan. Hal ini juga pernah dirasakan Memet Rahmat (63), warga Cipanas, Lebak, Banten. Hujan panas, perih getir, dan segela kondisi medan di lapangan harus ia hadapi. Baginya, itu adalah sebuah konsekuensi. Soal resiko sudah siap ditanggung tentunya.
PRESTASI
Rahmat, biasa dia disapa. Lelaki yang lahir pada 24 September 1948 ini adalah asli warga Cipanas, Lebak, Banten. Kedua orangtuanya asli Banten. Setelah lulus bangku SLTP pada tahun 1963, dia melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun karena faktor ekonomi, pendidikan Rahmat berhenti di tengah jalan pada 1966. Kendati demikian, tak membuat Rahmat yang kini beranak tiga ini putus harapan. Dengan modal semangat dan keyakinan, Rahmat melakukan petualangan ke negeri orang. Mulai dari Sumatera Selatan sebagai karyawan PT. Isapati, Jambi. Rahmat bekerja di bidang pengeboran sejak tahun 1972 sampai 1980. Pengorbanan dan kerja kerasnya tak sia-sia, atas prestasinya di perusahaan tersebut, membuat perusahaan memberikan tugas ke luar negeri. Negara-negera yang pernah disinggahi kakek dari empat cucu adalah Warsawa (Polandia), Hawaii (USA), Thailand, dan Singapura. “Selama 2 bulan saya di luar negeri dan ini adalah penghargaan pribadi saya, karena prestasi kerja saya dinilai perusahaan sangat membanggakan,” akunya.
Lahir dari ayah seorang mantan Pejuang, Abdul Muis dan ibu seorang pensiunan guru, Hj. Dedeh Hamzah, jiwa petualang Rahmat sudah terlihat sejak duduk di bangku SLTP kelas 1 tahun 1960. Hal ini dimulai dengan menjadi anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Rupanya petualangan Rahmat pun terus merambah ke dunia politik. Selain mengelola pemandian Titra Lebak Buana di Cipanas, Lebak, Banten, Ayah tiga anak ini pun sempat menjadi anggota kongres partai. Ia bergabung menjadi anggota organisasi beberapa partai; Pemuda Marhaenis, Partai Nasional Indonesia, Partai Demokrasi Indonesia, dan terakhir adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Di partai berlambang banteng moncong putih ini, Rahmat dilantik sebagai wakil ketua Dewan Pimpinan Cabang untuk Kecamatan Cipanas. Jabatan ini tentu menambah kesibukan dan rutinitas Rahmat. Undangan seminar partai ke beberapa daerah seperti di Sange, Tanah Lot (Bali), Kalimantan, Pare-pare (Sulawesi Selatan), Ambarawa (Semarang, Jawa Tengah). Kiprahnya di bidang politik terhenti pada tahun 2005. “Karena sudah tak sejalan lagi, maka saya memutuskan mundur,” tuturnya.






February 3rd, 2010 at 9:45 pm
Jika teman-teman berwisata ke pemandian Cipanas, Lebak, Banten. Maka, solusi yang terbaik adalah temuilah beliau. Dijamin dapat diskon 10% pembayaran karcis masuk, belum lagi si “Guide” dapat tips langsung dari kantongnya. masih katanya, yang datang minimal satu bus 3/4 atau bus gede.So, silahkan datang ke Cipanas…