CIPANAS KAMPUNG WISATA DAN SANTRI
rumahdunia | Laporan Utama | January 30th, 2010 | 4 Comments »
CIPANAS, LEBAK – Untuk yang ketiga kali wartawan www.rumahdunia.com menginjakkan kaki di Cipanas, Lebak, sekitar 38 km ke arah Jasinga Bogor. Hari kunjungan pertama dan kedua adalah Kamis (14/1) dan Kamis (21/1), sedangkan yang ketiga Selasa (26/1). Di kampung ini banyak kisah seperti sejarah air panas, riwayat kampung, keramahan warga, pendidikan pondok pesantren modern, dan menikmati suasana alam yang masih alami, arung jeram di Ciberang, dan yang terakhir sudah pasti yang membuat aku bertekuk lutut kali ketiga adalah pemandian air panas Cipanas.
KAMPUNG DOLLAR
Sudah hukum alam jika suatu kampung dinamai sesuai dengan peristiwa sejarahnya. Seperti kampung Ciwaru di Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, menurut warganya dahulu banyak pohon waru, sedangkan Kampung Tegal Duren alias Tegal Reren yang berarti tempat peristirahatan para jawara.
Seperti halnya kedua kampung itu, sejarahpun berlaku pada kampung Cipanas. “Dahulu kampung ini bernama kampung Dana, Desa Luhur Jaya,” kata Memet Rahmat pengelola pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Karena terdapat sumber air panas maka saat H. Kardan menjabat sebagai lurah, kampung itu diberinama “Cipanas”. Hal itupun dibenarkan oleh H. Acep Soheh (65) sesepuh kampung Cipanas. Menurut Acep, tempat ini tak lepas dari peran ayahnya, H. Kardan dan dibantu rekannya, H. Ukik Sanukri.
Ternyata Cipanas selain memiliki kelebihan air panas, tanahnya juga subur. Hal itu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Hasil alam yang sangat membumi saat itu adalah cengkeh. Bahkan saking banyaknya cengkeh dari kampung Cipanas, pada tahun 1975 berdiri pabrik minyak cengkeh. Dari hasil itulah banyak warganya yang berangkat haji ke tanah suci Mekkah. Maka amat wajar jika mendapatkan julukan Kampung Haji Cengkeh. Harga jual cengkeh sama dengan harga satu gram emas. “Bahkan ada tetangga kampung yang mengatakan Cipanas merupakan ‘Kampung Dollar’, karena penduduknya kaya-kaya,” ujar H. Dudi, yang pergi haji dari hasil cengkeh.
Namun masa-masa emas itu hilang, ketika pengelola Badan Penyalur Petani Cengkeh (BPPC) dipegang Tommy Soeharto. Akhirnya, petani Cipanas banyak yang mengeluh soal harga jual. “Dari harga Rp 20.000,-/kg turun s/d Rp 4.000,-/kg,” kata Iyar Sumiarsa (55) RW Kampung Cipanas.
PENDIDIKAN
Anugerah air panas dan hasil bumi membuat warga Cipanas tempo dulu mengenal pendidikan sekolah, itu terbukti adanya bangunan Sekolah Rakyat (SR). Namun, karena tempat itu dijadikan markas Kolonial Belanda, akhirnya gedung itu dibakar warga setempat. Kendati begitu, warga Cipanas pernah meraih kejayaan pada kurun waktu 1970-1980-an dimana harga cengkeh saat itu sedang melambung tinggi. Alhasil tak sedikit anak-anak mudanya yang menimba ilmu dari bangku sekolah dan bilik Pesantren.
Semangat belajar warga Cipanas terus membara. Mereka melanjutkan ke Sekolah Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Atas. “Walaupun SMP dan SMA-nya harus ke Jasinga dan Rangkasbitung,” beber Iyar Sumiarsa. “Bahkan pada tahun 1971 sekitar 20 orang anak sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Bogor, Jakarta, dan Serang,” tambahnya. Hal itu dibenarkan Ketua Rukun Warga Cipanas, Iyar Sumiarsa, “Sekitar 75% sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi, bahkan banyak lulusan kuliah dari luar daerah.”
Kendati masa emas itu sudah terlewat, namun eksistensi warga yang dulu penghasil cengkeh ini, terus meningkatkan taraf hidup lewat bidang pendidikan semakin mengalir deras, apalagi Pemda Lebak bercita-cita ingin menjadikan Rangkas sebagai kota pelajar dan Lebak Kota Pendidikan. Otomatis citra Lebak yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi dengan kabupaten lain yang ada di Banten cepat atau lambat pasti akan berubah.
“Cipanas sendiri bermimpi menjadi Kampung Santeri,” kata Camat Cipanas, H. Sukandi Mangkualam, S. Sos saat ditemui wartawan www.rumahdunia.com di pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Tambahnya, “Di Cipanas sudah ada sekolah-sekolah diantaranya: SDN 1 Cipanas, SDN 3Cipanas, SMPN 1 Cipanas, SMP Lebak Gedong, SMAN 1 Cipanas, SMK 1 Cipanas, Pondok Pesantren modern seperti La Tansa, Nurul Madaany, Al Farhan, Futuhyahman, dan sekitar 82 Pondok Pesantren Salafi.
PEKERJAAN
Boleh saja Cipanas jadi “kota santri” dan banyak yang kuliah di kota lain di luars Rangkas. Tapi tidak serta merta bisa mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Kampung yang berjumlah 150 kepala keluarga ini termasuk kampung yang berkembang secara fisik dan non fisik. Namun sebagian dari mereka ada juga yang jadi guru, bidan, pedagang, sopir, Salesman, dan tak sedikit juga yang pengangguran. Semestinya kampung Cipanas maju bukan hanya dari Sumber Daya Alamnya saja tapi Sumber Daya Manusianya pun harus mapan. Kata Iyar Sumiarsa, “Pada intinya mereka tak mau bekerja keras dulu. Mereka ingin langsung sukses”.
Hal senada pun diutarakan H. Dudi, pemilik rumah makan dan penginapan “Simpang Tiga”. Dia berharap agar kampung Cipanas banyak didatangi penanam modal. “Sehingga bisa menyerap tenaga dari kerja dari sini,” harapnya.
Tak mau ketinggalan H. Acep Soheh selaku sesepuh kampung berujar, Cipanas yang termasuk kaya akan sumber daya alam objek wisata semoga maju dalam segala hal. “Terutama Sumber daya manusia,” katanya.
Air panas adalah anugerah bagi warga Cipanas. Lokasi yang masih dikelilingi gunung-gunung yang hijau dan lebat, merupakan pemandangan yang eksotik di kala menjelang fajar dan sore hari. Apalagi di kampung ini terdapat objek wisata alam, seperti pemandian air panas, Arung Jeram, dan air terjun Lebak Gedong.
Salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah tempat pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Konon, khasiatnya banyak menyembuhkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, jerawat, stroke, rheumatik, asam urat, urat saraf, dan lain-lain. “Rasanya agak enakan,”kata Acih (49) asal Bogor, yang menderita rheumatik. Lain hal lagi Depi, guru Olah Raga MI Mahaberang ini berkunjungan ke Tirta Lebak Buana untuk mengajarkan murid-muridnya renang.
Nah, kalau Anda punya penykit seperti di atas, jangan ragu, datang saja ke Cipanas! (Harir Baldan)





February 7th, 2010 at 12:15 pm
mencoba pertamaxx…
February 7th, 2010 at 12:16 pm
salam kenal mas,,
dikunjunga pertama ini…
February 7th, 2010 at 3:37 pm
Makasih atas informasinya.
February 11th, 2010 at 3:21 pm
Kang Harir, ntar giliran Pit ya yg ngeliput. hehehe….