PELETAKAN BATU PERTAMA GEDUNG DEMOKRAT

SERANG–Aksi unjuk rasa mengkritisi 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis (28/1) yang berlangsung di beberapa daerah dengan tuntutan yang seragam, yakni meminta Presiden dan wakilnya untuk mundur dari jabatannya. Mereka dinilai gagal meminpin negeri ini terkait dalam kasus Bank Century (Koran Tempo, 29/1).

Terkait dengan berita di atas yang masih cukup hangat, partai Demokrat (dimana pembinanya adalah Susilo Bambang Yudhoyono), Sabtu (30/1) pukul 10. 49 WIB, menggelar acara peletakan batu pertama pembuatan Kantor/Gedung sekretariat Demokrat DPD Banten, di Desa Boru kecamatan Curug, Serang, yang dilakukan oleh H. Hadi Utomo, selaku ketua umum partai Demokrat.

Dalam acara itu, hadir H. Taufik Nuriman (Bupati Serang), jajaran umum partai Demokrat, tokoh masyarakat dan segenap masyarakat setempat. Namun, Ibu Gubernur Banten tidak dapat hadir dan hanya diwakilkan oleh stafnya.

Sebelumnya Aeng Haerudin selaku ketua pelaksana pembangunan memberikan sambutan dan menjelaskan sedikit mengenai rencana pembangunan Gedung sekretariat Demokrat DPD Banten. “Gedung ini di bangun di atas tanah 1000 M2, dengan luas bangunan 756 M2, berlantai 2, dan menelan biaya mencapai 3 miliar. Insya Allah, pembangunan ini paling lambat berlangsung selama 2 tahun,” kata Aeng.

Diteruskan dengan sambutan dari ketua umum partai Demokrat, Hadi Utomo. Dalam sambutanya, Hadi meminta agar rencana pembangunan Gedung Sekretariat Demokrat DPD Banten, harus diwujudkan, mengingat partai Demokrat belum mempunyai gedung sekretarian di wilayah Banten. “Saya menargetkan jajaran partai Demokrat harus mempunyai kantor sekretariat.” katanya semangat. Masih menurutnya, kenapa harus memiliki Gedung sekretariat, karena sarana atau insfrastruktur ini sangat diperlukan untuk pengelolaan, selain sebagai tempat merencanakan roda partai Demokrat. “Kantor merupakan penampilan atau tampak dari figur partai tersebut,” terangnya. Untuk itu Hadi Utomo akan membantu dengan memberikan bantuan berupa uang tunai, senilai 1 miliar. Hadi juga meminta agar Gedung ini harus di tambah satu tingkat dan tanahnya diperluas menjadi 2000 M2.

Hadi juga menambahkan, agar pembangunan Gedung ini harus terwujud. “Jangan sampai ini cuma jadi pembukaan saja, seterusnya tidak ada wujudnya. Saya minta Kader Demokrat, bisa bertanggung jawab,” katanya dengan sungguh-sungguh sambil berjanji akan mengunjungi tempat ini sebulan sekali dalam rangka mengawasi pembangunan ini.

Saat ditanya perihal program 100 hari pemerintahan SBY, yang juga sebagai pembina partai Demokrat, usai peletakan batu pertama, Hadi Utomo mengatakan program 100 hari bukan sebagai bentuk tolak ukur. “Presiden, baru 100 hari saja sudah diganggu oleh demonstrasi, dan isu-isu. Tentunya itu harus ada tahapannya,” katanya memberi tanggapan. “Yang jelas partai Demokrat tetap akan bekerja sebaik-baiknya.” kata Hadi yang lekas menaiki mobil, untuk bertolak ke Sepang, Ciracas-Serang. Dan acara itupun diakhiri dengan makan siang di Hotel Le Dian, Kota Serang-Banten. (teks: Wayang, foto: google)

CIPANAS KAMPUNG WISATA DAN SANTRI

CIPANAS, LEBAK – Untuk yang ketiga kali wartawan www.rumahdunia.com  menginjakkan kaki di Cipanas, Lebak, sekitar 38 km ke arah Jasinga Bogor. Hari kunjungan pertama dan kedua adalah Kamis (14/1) dan Kamis (21/1), sedangkan yang ketiga Selasa (26/1). Di kampung ini banyak kisah seperti sejarah air panas, riwayat kampung, keramahan warga, pendidikan pondok pesantren modern, dan menikmati suasana alam yang masih alami, arung jeram di Ciberang, dan yang terakhir sudah pasti yang membuat aku bertekuk lutut kali ketiga adalah pemandian air panas Cipanas.

KAMPUNG DOLLAR

Sudah hukum alam jika suatu kampung dinamai sesuai dengan peristiwa sejarahnya. Seperti kampung Ciwaru di Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, menurut warganya dahulu banyak pohon waru, sedangkan Kampung Tegal Duren alias Tegal Reren yang berarti tempat peristirahatan para jawara.

Seperti halnya kedua kampung itu, sejarahpun berlaku pada kampung Cipanas. “Dahulu kampung ini bernama kampung Dana, Desa Luhur Jaya,” kata Memet Rahmat pengelola pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Karena terdapat sumber air panas maka saat H. Kardan menjabat sebagai lurah, kampung itu diberinama “Cipanas”. Hal itupun dibenarkan oleh H. Acep Soheh (65) sesepuh kampung Cipanas. Menurut Acep, tempat ini tak lepas dari peran ayahnya, H. Kardan dan dibantu rekannya, H. Ukik Sanukri.

Ternyata Cipanas selain memiliki kelebihan air panas, tanahnya juga subur. Hal itu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Hasil alam yang sangat membumi saat itu adalah cengkeh. Bahkan saking banyaknya cengkeh dari kampung Cipanas, pada tahun 1975 berdiri pabrik minyak cengkeh. Dari hasil itulah banyak warganya yang berangkat haji ke tanah suci Mekkah. Maka amat wajar jika mendapatkan julukan Kampung  Haji Cengkeh. Harga jual cengkeh sama dengan harga satu gram emas. “Bahkan ada tetangga kampung yang mengatakan Cipanas merupakan ‘Kampung Dollar’, karena penduduknya kaya-kaya,” ujar H. Dudi, yang pergi haji dari hasil cengkeh.

Namun masa-masa emas itu hilang, ketika pengelola Badan Penyalur Petani Cengkeh (BPPC) dipegang Tommy Soeharto. Akhirnya, petani Cipanas banyak yang mengeluh soal harga jual. “Dari harga Rp 20.000,-/kg turun s/d Rp 4.000,-/kg,” kata Iyar Sumiarsa (55) RW Kampung Cipanas.

PENDIDIKAN

Anugerah air panas dan hasil bumi membuat warga Cipanas tempo dulu mengenal pendidikan sekolah, itu terbukti adanya bangunan Sekolah Rakyat (SR). Namun, karena tempat itu dijadikan markas Kolonial Belanda, akhirnya gedung itu dibakar warga setempat. Kendati begitu, warga Cipanas pernah meraih kejayaan pada kurun waktu 1970-1980-an dimana harga cengkeh saat itu sedang melambung tinggi. Alhasil tak sedikit anak-anak mudanya yang menimba ilmu dari bangku sekolah dan bilik Pesantren.

Semangat belajar warga Cipanas terus membara. Mereka melanjutkan ke Sekolah Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Atas. “Walaupun SMP dan SMA-nya harus ke Jasinga dan Rangkasbitung,” beber Iyar Sumiarsa.  “Bahkan pada tahun 1971 sekitar 20 orang anak sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Bogor, Jakarta, dan Serang,” tambahnya. Hal itu dibenarkan Ketua Rukun Warga Cipanas, Iyar Sumiarsa, “Sekitar 75% sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi, bahkan banyak lulusan kuliah dari luar daerah.”

Kendati masa emas itu sudah terlewat, namun eksistensi warga yang dulu penghasil cengkeh ini, terus meningkatkan taraf hidup lewat bidang pendidikan semakin mengalir deras, apalagi Pemda Lebak bercita-cita ingin menjadikan Rangkas sebagai kota pelajar dan Lebak Kota Pendidikan. Otomatis citra Lebak yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi dengan kabupaten lain yang ada di Banten cepat atau lambat pasti akan berubah.

“Cipanas sendiri bermimpi menjadi Kampung Santeri,” kata Camat Cipanas, H. Sukandi Mangkualam, S. Sos saat ditemui wartawan www.rumahdunia.com di pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Tambahnya, “Di Cipanas sudah ada sekolah-sekolah diantaranya: SDN 1 Cipanas, SDN 3Cipanas, SMPN 1 Cipanas, SMP Lebak Gedong, SMAN 1 Cipanas, SMK 1 Cipanas, Pondok Pesantren modern seperti La Tansa, Nurul Madaany, Al Farhan, Futuhyahman, dan sekitar 82 Pondok Pesantren Salafi.

PEKERJAAN

Boleh saja Cipanas jadi “kota santri” dan banyak yang kuliah di kota lain di luars Rangkas. Tapi tidak serta merta bisa mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Kampung yang berjumlah 150 kepala keluarga ini termasuk kampung yang berkembang secara fisik dan non fisik. Namun sebagian dari mereka ada juga yang jadi guru, bidan, pedagang, sopir, Salesman, dan tak sedikit juga yang pengangguran. Semestinya kampung Cipanas maju bukan hanya dari Sumber Daya Alamnya saja tapi Sumber Daya Manusianya pun harus mapan. Kata Iyar Sumiarsa, “Pada intinya mereka tak mau bekerja keras dulu. Mereka ingin langsung sukses”.

Hal senada pun diutarakan H. Dudi, pemilik rumah makan dan penginapan “Simpang Tiga”. Dia berharap agar kampung Cipanas banyak didatangi penanam modal. “Sehingga bisa menyerap tenaga dari kerja dari sini,” harapnya.

Tak mau ketinggalan H. Acep Soheh selaku sesepuh kampung berujar, Cipanas yang termasuk kaya akan sumber daya alam objek wisata semoga maju dalam segala hal. “Terutama Sumber daya manusia,” katanya.

KHASIAT

Air panas adalah anugerah bagi warga Cipanas. Lokasi yang masih dikelilingi gunung-gunung yang hijau dan lebat, merupakan pemandangan yang eksotik di kala menjelang fajar dan sore hari. Apalagi di kampung ini terdapat objek wisata alam, seperti pemandian air panas, Arung Jeram, dan air terjun Lebak Gedong.

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah tempat pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Konon, khasiatnya banyak menyembuhkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, jerawat, stroke, rheumatik, asam urat, urat saraf, dan lain-lain. “Rasanya agak enakan,”kata Acih (49) asal Bogor, yang menderita rheumatik. Lain hal lagi Depi, guru Olah Raga MI Mahaberang ini berkunjungan ke Tirta Lebak Buana untuk mengajarkan murid-muridnya renang.

Nah, kalau Anda punya penykit seperti di atas, jangan ragu, datang saja ke Cipanas! (Harir Baldan)

LAKON KOLOSAL BAGIMU PERSADA BANTEN

SERANG – Pementasan lakon kolosal “Bagimu Persada Banten” karya DR. Tanty Manurung yang digarap sutradara kawakan Banten, Dadie Ruswandi Natadipura, berlangsung meriah dalam memperingati hari ulang tahun ke-24 Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya Jumat (29/1) di Aula Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulama Hasanudin (IAIN SMH) Banten.

Maya Rani Wulan, yang juga Kabag Kebudayaan Disporasenibud Kota Serang, pendiri Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya sekaligus ketua pelaksana berharap, “Kepada seluruh masyarakat Banten, khususnya bagi para pemuda, agar sama-sama menjaga dan memelihara kebudayaan yang ada di bumi Banten tercinta ini, khususnya kebudayaan seni tari.” katanya, dalam memberikan sambutan.

Hingga sampai ke pemotongan kue secara simbolis yang dilakukan oleh Maya Rani dan dibantu dengan beberapa Kadis Provinsi Banten, para undangan yang terdiri dari komunitas budaya, budayawan, perwakilan pemerintah daerah, para orang tua murid di sanggar tari, mahasiswa dan beberapa pelajar sekolah menengah atas, menikmati acara tersebut.

Pagelaran kolosal pun dibuka dengan tembang Cokek, karya tari berkelompok kolaborasi dengan silat Patingtung, Tari Rageman, tari yang berpijak pada seni Islam Terbang Gede, Tari Bantu Inten, Tari Banten Katuran, Tari Genjring Dalil, Tari Mandane, Nandak Cokek, Rampak Nandak, Dalil Wajhun, Gitek Cokek, Bedug Warnane, Tari Grebeg Terbang Gede, Maler Bedug, Gitek Ganjen, Rentak Rebana, serta Tari Cecepon.

Sanggar Bina Seni Tari yang beralamatkan di Jl. Kenaga No 6, Komp. Bumi Mupti Indah Ciracas-Serang ini selama dalam sejarahnya sudah banyak menoreh prestasi, diantaranya juara 1 dan 2 karya cipta tari kreasi tradis Banten (2002), juara harapan tingkat Prov. Jawa Barat (1993), Festival tari melayu nusantara V di Palembang (2006), serta pernah penatas di Jerman. Sanggar ini mempunyai visi menjadi organisasi sanggar seni yang profesional, berkualitas dan terdepan. Serta menjadi pusat pengkajian seni budaya Banten.

Dalam pagelaran kolosal ini, menurut Maya Rani, melibatkan 148 penari dari orang dewasa, remaja juga anak-anak. “Itu belum dengan kru yang lain. Kurang lebih mencapai 170-an plus pemain musiknya,” katanya, saat ditemui setelah usai acara. Pagelaran kolosal ini juga bekerja sama dengan Teater 110, Musikalisasi puisi Tasbeh, Gesbica serta monolog oleh penyair Banten Toto ST Radik. “Kedepanya bisa lebih baik lagi, sehingga banyak orang yang mencintai budaya Banten, dengan seni tarinya.” Ungkap Maya. [ahmad wayang]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010