ANTARA RABEG BANTEN DAN ARAB SAUDI

advert

RABEG BANTEN DAN ARAB

Oleh Harir Baldan

Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon  di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan Rabeg di jalan Mayor Syafe’I No.30, kampung Magersari, Serang. “Tepatnya antara Mekkah dan Madinah ada satu kota bernama Rabeg,” kata H. Naswi mantap. Menurut ceritanya lagi, di kota itu tersedia makanan khas dari daging kambing. Namun dikenalnya bukan Rabeg. Sedangkan di kota Serang Rabeg merupakan salah satu panganan khas Banten. “Mungkin nama Rabeg sebagai makanan khas Banten itu diambil dari sana (Kota Rabeg-red),” ujarnya lagi. Rabeg hanya bisa ditemukan di Kota Serang, salah satunya Rabeg H. Naswi.

SEJAK MASA SULTAN

Bicara sejerah Rebeg sendiri di Banten. Konon, menurut H. Naswi Rabeg sudah ada sejak jaman pemerintahan Sultan Hasanudin Banten. Hingga saat ini makanan yang terbuat dari daging kambing itu masih dipertahankan. Bahkan setiap kali ada acara pernikahan, khitanan, dan acara lainnya selalu dijadikan menu utamanya.

Karena sudah jadi tradisi warga Serang, maka kakek dan orangtua H. Naswi pun berjualan Rabeg. Saat itu, panganan khas ini dijual kala ada acara tontonan tradsional warga seperti: Ubrug, wayang, dan jaipongan. “Dahulu jualannya di Tegal Lembau yang kini jadi Komplek Titan Arum, Legok, Serang,” terang suami Hj. Sumiati ini.

Kata orang bijak, mewariskan harta kepada anak-cucu lama-lama akan habis juga, apalagi jika tak mampu menjalankannya. Tapi jika anak-cucunya diwariskan ilmu dan pengalaman maka sampai tujuh turunan pun tak akan habis. Hal itu pun dialami H. Naswi dengan ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari orangtuanya yang kemudian dipraktekkan sendiri dengan membuka usaha Rabeg. “Tahun 1975 saya sudah fokus jualan sendiri,” akunya. Saat itu perputaran roda usaha H. Naswi masih dalam tahap penjajakan. Untuk memasarkannya dia mesti berpindah-pindah tempat; di Kota Cilegon dari tahun 1975-1976, lalu pindah ke Pasar Lama 1977-1982, Pasar Induk Rau 1982-1997, Kantin di Pengadilan Negeri Serang pada 1997-2006 dan di Jalan Mayor Safe’I, Margersari, Serang dari tahun 2006 sampai sekarang. Kendati penjual rabeg banyak ditemukan di Kota Serang, Lelaki bercucu empat ini tak takut dengan persaingan tersebut. Menurutnya, setiap olahan punya cita rasa khas masing-masing. Dia pun tak ragu-ragu memberitahukan soal resep bahan dan cara pembuatannya. Adapun bahan-bahan Rabeg khas H. Naswi adalah daging kambing, merica, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kayu manis, pala, kecap, garam, minyak sayur, dan cuka. Cara pembuatannya sendiri tidak terlalu rumit. Daging kambing direbus sekitar 30 menit, diangkat lalu ditiriskan.  Iris-iris daging kambing seukuran dadu. Lalu tumis semua bahan bumbu, kecuali garam, merica, kecap, dan cuka, yang sudah disisir. Setelah itu masukkan daging yang sudah diiris tadi. Tuangkan air sisa rebusan. Lalu diberi kecap, merica, cuka, garam secukupnya sampai daging benar-benar empuk.

DIKUNJUNGI ARTIS

Warung makan Rabeg H. Naswi buka dari pukul 08.00 s/d 21.00 WIB. Buat Anda yang belum sarapan, atau makan siang bisa mampir ke tempatnya. Cukup mengeluarkan uang Rp 13.ribu maka Anda sudah bisa menikmati seporsi Nasi Rabeg. Namun jika kamu ingin makan Rabegnya saja tanpa nasi, justru lebih murah hanya merogoh kocek Rp 10 ribu. Aroma khasnya juga lebih berasa.

Selain Rabeg, di sini juga juga tersedia nasi uduk, nasi putih, empal, sate kambing dan sapi, sop kambing dan sapi, soto kambing dan sapi, dan ayam bakar. untuk menambah kenikmatan tersaji juga jus alpukat, jus jeruk, air mineral, dan soft drink sprite, coca cola, dan fanta, yang bisa menyegarkan tenggorokan.

Menurut H. Naswi sehari warung Rabegnya bisa menghabiskan sepuluh kilogram daging. Soalnya pengunjungnya aja dari beragam kalangan. “Selain masyarakat biasa, rumah makan saya juga pernah dikunjungi artis seperti, William Wongso, Didin Bagito, Beno Bolue, Dorce Gamalama, dan Pak Hutama (Cinta Fitri),” ujarnya.

Menurut pengakuan salah satu pengunjung, Rabeg H. Naswi ini beda dengan yang lain. “Rasanya enak, sih. Rasanya beda apalagi kuahnya,” kata Eris, pegawai Kanwil Kota Serang, yang sering berkunjung ke warung nasi Rabeg. Saking enaknya jadi sering mampir lagi. Kebanyakan tempat-tempat makan atau restoran tetap buka dihari libur namun rumah makan Rabeg, H. Naswi malah tutup. “Karena tiga karyawan saya masih muda-muda jadi saya liburkan saja. Biar menikmati hiburan,” jelasnya.

MALAYSIA

Tidak stabilnya harga sembako dan daging menjadi kendala dan keluhan para pedagang, terutama pedagang kecil. Dampak ini sudah pasti berpengaruh pada mutu dan kualitas makanan tersebut. Apalagi untuk saat ini harga kambing Rp 45.ribu perkilogram. “Kalau harga beli naik, jual pun kami naikkan,” tutur bapak dari Aulia ini. Selain khas Serang, katanya lagi, tetap tak mengurangi bahan sedikitpun. Karena jika sampai dikurangi maka rasa dan aroma khasnya akan sedikit hilang. Karena olahannya memberikan rasa yang istimewa, H. Naswi pernah ditawari rekannya untuk buka cabang di Tangerang, Bandung, Malaysia, Singapura. Namun, dia menolak karena alasan usia. Luar biasa. Ternyata Rabeg Serang dilamar untuk buka cabang di Malaysia dan Singapura juga. Tapi awas, nanti diklaim lagi. Salam.

Share

3 Responses to “ANTARA RABEG BANTEN DAN ARAB SAUDI”

  1. Harir Baldan Says:

    Informasi kuliner: Bagi peminat yang punya pantangan santan. Makanan khas ini tak mengandung perasan kelapa. Jadi, anda tidak usah kuatir. Silahkan mencoba. Terima Kasih.

  2. samsul Says:

    pak gmna rasa rabeg serang klw tanpa cabe rawit
    yang saya tau rabeg serang semua rasa nya puedes.

  3. samsul Says:

    pak pa benar semua rasa rabeg serang itu rasa nya pedes ?

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010