TIDAK LAGI SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG

advert

Ketika saya diberi tahu pencanangan “Change with Reading’ pada Sabtu, 9 Januari 2010 di Rumah Dunia, saya jadi ingat kampung sendiri, yang bernama Bojong Sukadalem, Waringinkurung, yang kini telah rusak oleh tebasan buldozer dan limbah kompleks. Ketika masih kecil, kampung saya sangatlah eksotis. Tak ada deru kendaran yang meraung-raung mengganggu gendang telinga, tak ada penggusuran tanah, tak ada limbah yang menyebabkan badan gatal-gatal ketika mandi di sungai. Bahkan dulu ibuk pernah bercerita setiap hari sehabis ngangon kambing kalau pulang merasa haus, saya tinggal mencengkukkan kedua telapak tangan ke dalam air. Air sungai masih jernih sampai-sampai bisa langsung diminum.

KAMPUNG GUSUR

Tapi, sekitar tahun 1998 ketika Suharto runtuh dari jabatanya sebagai Presiden RI kedua, kampung saya jadi amburadul. Ladang, sawah, kebun semuanya hilang ditebas buldozer. Cerita dari ayah pada masa itu, masa ketika tanah, sawah, kebun ditebas buldozer gara-gara penguasa yang memaksa menyuruh menjual ladang, sawah, kebun milik masyarakat kampung Bojong. Waktu itu penjualan tanah tidak dengan harga yang semestinya diterima pemilik tanah. Sawah, ladang, kebun dibeli dengan harga yang cukup murah.

Bapak adalah salah satu orang yang tidak mau menjual ladang, sawahnya. Tapi, keadaan yang dihadapi Bapak memang dilematis. Kalau tak dijual tanah Bapak akan tergusur oleh penggusuran atau tanah di sekeliling tanah Bapak akan dikeruk dan tanah Bapak menjadi moncir (tinggi) sehinga lama-lama akan habis, longsor. Akhirnya, Bapak menjualnya dengan harga yang cukup murah meriah!

Dari situ, kampung yang eksotis dengan air sungai jernih  dan sawah ladang yang membentang, kini menjadi kompleks perumahan. Sungai, kini menjadi hitam bertabur sampah non organik mengambang dipermukaanya. Air sungai yang tadinya bisa langsung diminum, kini malah menimbulkan bencana penyakit gatal-gatal, kudis, dan koreng. Selamat tinggal kampung halaman. Kampung yang menampung kelahiran dan masa kanak-kana saya. Saya teringat sebuah sajak  penyair Toto ST Radik yang berjudul “Elegi Serang” (Ode Kampung, 1994); selamat pagi, cintaku/tanah sebelah mana lagikah/bakal kautanam pabrikpabrik/dan mimpi buruk?

SANTRI

Lulus dari sekolah dasar (SD) tahun 2004, saya mondok di pesantern Al-Irsyad, Waringinkurung. Waktu itu, resmilah saya menjadi seorang santri. Setip hari saya sekolah di SMP Al-Irsayd. Pulang sekolah, istrirahat sebentar lalu mengaji. Setelah mengaji sekitar setengah atau satu jam, berangkat lagi mengikuti ekskul di sekolah dari pukul  2 siang sampai 5 sore. Setelah eskul langsung beres-beres, mandi, makan dan berangkat lagi ke mushola; mengaji, sholawatan sambil menunggu beduk azan magrib. Setelah magrib, mengaji lagi. Santri-santri junior dibebaskan memilih tutor (kakak santri) yang sudah disepakati. Kegiatan malam, selain mengaji, juga belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, kaligrafi, berceramah, dan fiqih. Setiap malam, kegiatan belajar seperti ini tak pernah libur. Dan santri yang tak mengikuti kegiatan belajar malam akan dihukum. Sangsinya beragam, mulai dari menghafal Juz Amma, membersihkan halaman, mencuci kamar mandi, dll.

Selama menjadi santri (tiga tahun) di Al-Irsyad, banyak kemajuan yang saya alami, salah satunya kulit saya agak menguning. Padahal, kata ibuku dan tetangga di rumah, dulu kulit saya hitam mirip silit kekenceng alias pantat wajan karena setiap hari ngangon kambing. Hal yang tak kalah penting – masih menurut ibu – saya sudah tak rajin menarik-narik kutang ibu lagi untuk meminta uang. Hanya tiga tahun saya mondok. Padahal ada yang bilang kalau mondok tiga tahun belum bisa dikatakan mondok. Syarat mondok itu harus enam tahun. Wih suwe amat!

Sayangnya, di tempat saya mondok tidak ada perpustakaan buku umum; novel misalnya. Atau buku-buku filsafat, sosiologi, sejarah, dan diiplin ilmu lainnya, sehingga saya kurang wawasan.

RUMAH DUNIA

Selesai Ujian Nasional, Bapak mengusulkan untuk pindah sekolah. Terus berdiam di satu tempat tak akan berkembang, baik pengalaman dan wawasan. Itu seperti katak dalam tempurung. Kakak saya, Rahmat Heldy membawa saya ke Rumah Dunia. Dia dulu pernah di Rumah Dunia.

Alhamdulillah saya dipertemukan langsung dengan pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong. Obrolan kecil terjadi antara kakakku dengan Gol A Gong. Setelah Gol A Gong mengobrol dengan kakakku, Gol A Gong bertanya ini-itu. Pertanyaan yang diajukan seputar profilku. Obrolan pun terputus saat tamu dari majalah Annida datang. Mungkinkah Gol A Gong mengizinkan?

Ketika Gol A Gong pergi, kakaku mengobrol dengan Relawan Rumah Dunia; Roy Goozly, yang waktu itu masih pelajar di SMA PGRI 2 Serang. Kakakku menyakan kualitas SMA PGRI 2. Roy mnyarankan saya masuk ke SMA PGRI 1 saja. Kata Roy, kualitas dan disiplin SMA PGRI 1 lebih baik dari PGRI 2. Akhirnya, saya mendaftar di SMA PGRI 1.

Satu minggu kemudian, saya dan kakakku datang lagi ke Rumah Dunia. “Setelah saya sepakati dengan kawan-kawan yang ada disini, adikmu boleh tinggal di sini,” kata Gol A Gong. “Karena mengingat relawan disini juga sudah pada bekerja, seperti Aji Setiakarya, Langlang Randahawa, Rimba Alang-alang, dan Ibnu Adam Aviciena. Tapi, jangan malas karena disini selalu ada kegiatan setiap harinya,” lanjut Gong.

Saya seperti berada di sorga. Inilah mungkin yang dinamakan “Change with Reading”. Setiap hari saya berkubang dengan buku, diskusi, latihan pidato, menonton pertunjukkan puisi, berorganisasi, bertemu dengan pengarang-pengarang terkenal seperti Habiburahman El-shiraz, Asma Nadia, pejbat-pejbat pnting di Banten, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang saya lihast.

Sudah satu tahun enam bulan saya bergabung di Rumah Dunia. Alhamdulillah sudah banyak ilmu yang saya dapat baik ilmu berbicara, ilmu menulis, ilmu menerima tamu, dll. Saya yang tadinya minder menghadapi perempuan, kini gara-gar buku, tidak lagi. Saya bahkan sudah pandai mnulis puisi dan cerpen. Tulisan saya sudah dimuat di Radar Banten, www.kompas.com, dan www.rumhdunia.com. Bahkan saya dipercaya jdi wartawan di www.rumahdunia.com. Begitulah buku, sudah mngubah hidupku, yangn tadinya seperti katak dalam tempurung, kini tidak lagi. (*)

*) Abdul Salam HS, Pelajar SMA kelas dua di PGRI 1 Kota Serang.

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010