LEBAK MEMBARA DI RUMAH DUNIA
langlang | Laporan Utama | January 17th, 2010 | No Comments »
Berbicara Lebak di Banten adalah berbicara sejarah Indonesia dan juga dunia. Sejarah mencatat bahwa ada kisah-kisah heroik dan fenomenal di Lebak. Termasyhur adalah sosok Multatuli dan roman cinta Saija dan Adinda yang juga melegenda tak hanya di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Perdebatan isi buku fiksi yang ditulis Multatuli; Max Havelaar, pun tak kalah sengit hingga hari ini. Ibarat arena pertinjuan, di sudut merah, Multatuli dianggap pahlawan oleh sebagian masyarakat cerdik pandai karena telah menuliskan bahwa telah terjadi penindasan pribumi yang dilakukan Adipati Kertanegara pada masa penjajahan Belanda. Sementara di sudut biru, tetap saja Multatuli adalah penjajah yang telah menyengsarakan masyarakat Indonesia. Lebih sempit adalah masyarakat Lebak.
Selain hal itu, adalah sebuah fakta kebanggaan sejarah, manakala presiden RI pertama, Soekarno, pernah menginjakkan kakinya di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Belum lagi persoalan Jawara yang tentunya tetap menjadi ciri khas Banten juga tercatat dalam sejarah Lebak masa lalu. Lebak kian membara, kian juga mempesona.
Lalu sekitar tahun 1996, ban-ban kendaraan motor di Lebak masih harus dililit dengan rantai. Hal itu menampakkan bara semangat bekerja masyarakat Lebak tetap membara meski jalanan saat itu masihlah bertanah dan siap menggelincirkan pengguna jalan jika musim hujan tiba. Anak-anak kampung lebih tertarik menjadi kuli cangkul di sawah dengan bayaran Rp. 1500 perhari dari pada melanjutkan sekolah. Sementara segelintir mahasiswa harus bergelantungan di atas gerbong kereta api untuk menjemput cita-citanya sebagai satu-satunya akses yang paling murah dan tercepat demi cita-cita. Bagaimanakah kabar Lebak saat ini?
BEDAH BUKU
Rumah Dunia mencoba menghadirkan semangat sejarah itu kembali dengan cara membedah sebuah buku berjudul Bara menjadi Daya dalam diskusi bertajuk Lebak Membara pada Sabtu (16/1) di Plaza Rumah Dunia. Buku yang di-editori oleh Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan ini sejatinya adalah kado ulang tahun bagi pemerintah Kabupaten Lebak yang ke-181. Di dalamnya terdapat kumpulan tulisan warga Lebak, dan warga luar Lebak tetapi peduli pada Lebak, dari berbagai lapisan masyarakat mulai mahasiwa, aktivis, guru, ulama, dan juga pejabat, yang membicarakan dengan sudut pandangnya masing-masing.
Sebagaimana yang dikatakan oleh sang Editor Fitron, buku ini mencoba menyuguhkan kejujuran masyarakat Lebak. Jujur dalam menyingkap keburukan dan jujur dalam mengakui kemajuan Lebak saat ini. “Kami selaku editor merasa berat ketika diamanahi menggawangi buku ini. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana caranya persoalan data pembangunan bisa disulap menjadi buku yang enak dibaca,” ujar Fitron. “Meski demikian, kami berusaha agar buku ini hadir dengan objektiv sebagai wujud masyarakat Lebak yang merasa memiliki bukan sekedar menikmati,” imbuh alumni IAIN Banten ini.
Hadir dalam kesempatan itu pemuda Lebak Aminudin Hidayat, ketua Kubah Budaya Agus Iryana, penyair Banten Rahmat Heldy, HS., dan salah satu editor Fitron Nur Ikhsan. Selain itu juga, sebagai “Bintang Tamu” Rumah Dunia menghadirkan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah selaku pengambil kebijakan pemerintah Kabupaten Lebak.
Sebagai pembicara paling muda, Agus Iryana diberi kesempatan lebih dulu menyampaikan curhat dan gagasannya terhadap Lebak yang juga merupakan kota kelahirannya. Bagi Agus, Lebak saat ini sudah mulai berbenah dan bersolek. Jalan-jalan sebagian licin oleh aspal, meski belum mereta hingga ke peloksok. Agus juga mengomentari persoalan sikap terbukanya pemerintah Lebak terhadap para Investor. “Saya hanya berharap kepada pemkab Lebak, saat pemerintah melakukan investasi pembangunan infrastruktur maka ada dua hal perlu diperhatikan,” ujar alumni Diksatrasia Untitra ini. “Pertama kondisi masyarakat dan kondisi lingkungan. Masyarakat harus cerdas dulu dan lingkungan pun mendukung. Jangan sampai penduduk sekitar hanya jadi penonton. Pendidikan itu yang lebih penting,” imbuh Agus.
Senada dengan apa yang dikatakan Agus, Rahmat Heldy yang saat ini merupakan guru di Kecamatan Waringin Kurung, Serang, memfokuskan pemaparannya juga pada wilayah pendidikan di Lebak. Hasil dari analisisnya dari sekian banyak tulisan yang ada di buku itu, Rehel, begitu ia akrab disapa, menyimpulan kegelisahan para penulis akan masalah pendidikan. “Jika saya cermati maka, 75% ketertinggalan Lebak ada pada masalah pendidikan,” ujarnya. “Hal ini sebenarnya ironis, mengingat Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Banten berada di Lebak,” imbuhnya mantap.
Lebih tajam hal itu dipaparkan lebih detail oleh pemuda lebak Aminudin Hidayat yang sukses sebagai penguasaha di Jakarta. “Kita harus bergembira karena Lebak sudah memperhatikan infrastruktur, dan kalau bicara infrastruktur maka dibutuhkan orang yang bisa merawatnya. Untuk bisa merawat, maka dibutuhkan SDM unggul. Maka pendidikan menjadi sangat penting dalam hal ini,” ujar Amin yang mengaku pernah menjadi kondektor bus di Jakarta ini.
KOTA PENDIDIKAN
Mengutip perkataan ‘Umar ibn Khattab, hidup itu harus terencana. Jika hidup tak punya rencana, maka kita harus malu kepada Allah Swt. Selanjutnya jika kita sudah berencana kemudian gagal, maka kita bangga kepada Allah Swt. Pemerintah yang mempunyai visi ke depan. Pemerintah yang mempunyai rencana-rencana yang tak dipikirkan rakyat, itulah yang sedang dilakukan oleh pemkab Lebak. Berencana dan dilaksanakan. Hal itulah diungkapkan oleh Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah. Diakui Amir, kesejahteraan di Lebak memang belum merata. Meski demikian, pemerintah Lebak terus melakukan inovasi dan terobosan-terobosan guna Lebak yang lebih sejahtera. “Saat ini Pemkab Lebak sudah melakukan investasi kondusif berbasis pedesaan dengan cara memberdayakan SDM dan membangun infrastruktur masyarakat di pedesaan,” ujarnya. “Hal ini adalah pandangan ke depan Pemkab Lebak, jika masyarakat desa maju, maka kota pun akan ikut maju,” imbuhnya.
Terkait dengan masalah pendidikan yang disorot para pembicara lainnya, Amir Hamzah menjelaskan bahwa Lebak saat ini ingin menjadikan Lebak sebagai Kota Pendidikan dengan Rangkasbitung sebagai Kota Pelajar. “Jika kita cermat memperhatikan pendidikan di Lebak, terutama dalam pendidikan pesantren, sebenarnya Lebak sudah banyak dikunjungi sebagai daerah tujuan pendidikan oleh masyarakat luar,” jelasnya lagi. Amir menambahkan, hal ini diindikasikan menjamurnya pesantren-pesantren dan kampus modern di Lebak; La Tansa Mashiro, Manahijus Sa’adat, Al-Mizan, dan lain-lain.
Sementara itu, menyikapi wacana banyak warga Lebak yang sukses tetapi enggan pulang dan membangun Lebak, Amir tidak sepenuhnya sepakat. Ia mengatakan, ada manusia yang kapasitasnya hanya mampu memimpin di daerah ada juga yang harus berada di pusat. “Yang tidak bolah itu melupakan Lebak. Masak iya, orang sekredibel Pak Taufiqurrahman Ruqi harus jadi Camat,” ujarnya sambil diiring tawa peserta yang mayorita dari kalangan aktivis. [Langlang]








Leave a Reply