RAMPAK BEDUG MERIAHKAN CHANGE WITH READING
Gola Gong | Panggung | January 14th, 2010 | No Comments »
SERANG – Rampak bedug merupakan kesenian traditional dan spirit Banten, yang kini berkembang di wilayah Banten sebagai bentuk kesenian hiburan serta daya tarik pariwisata. Berawal dari tradisi ngadu bedug yang sering dilakukan masyarakat pada malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan seiring zaman kini rampak bedug dikalaborasikan dengan gerak tari dan silat, serta bunyi-bunyi perkusi khas Banten lainnya yang membawa keceriaan.
Seperti dalam acara pencanangan Cahange With Reading (CwR) yang digelar di Rumah Dunia pada Sabtu (9/1), paguyuban UKM Pandawa dari Kampus Untirta menunjukan kebolehannya memainkan Rampak Bedug di hadapan HM Masduki – Wagub Banten, Kadisdik Banten, Presiden Rumah dan segenap relawan Rumah Dunia, Direktur Penmas Depdiknas, Forum Indonesia Membaca, para peserta CwR dan pengunjung lainnya.
Selama kurang lebih lima menit Pandawa beraksi memainkan rampak Bedug. Kekompakan menabuh bedug, gerak tari, hingga pencak silat dipertunjukan dengan kalaborasi yang apik oleh para mahasiwa Untirta itu. Sebagai penata tari dan musik adalah Rohendi S.pd. Tak heran jika para penonton sangat berantusias menyaksikannya, bahkan banyak yang mengabadikan dengan mefoto atau merekam dengan vidio.
UKM Pandawa berdiri sejak tanggal 21 Juli 2005. konsisten dengan tari tradisi dan kontemporer. ”Ini sebagai wujud penghargaan dan mengembangkan tradisi lokal. Pasalnya jaman sekarang, kalangan muda lebih tertarik pada kesenian modern dan meninggalkan kesenian tradisional.” kata Samsul sebagai ketua UKM Pandawa memberikan alasan kepada Wartawan rumahdunia.com di sela persiapan perform.
Delama seminggu rutin latihan, yaitu pada hari rabuh dan jumat. Menurut Samsul, siapa pun asal mahasiwa Untirta boleh bergabung dan tanpa seleksi. ”yang terpenting bagi kita ada minat dan kemauan, nanti kita didik sampai bisa,” jelasnya lagi. Para pengajar didatangkan dari berbagai sanggar di Banten, sala satunya adalah Bapak Rohendi S.pd dari Pandeglang.
”Untuk saat ini, sebaiknya pertunjukan kesenian traditional harus sering ditampilkan di muka umum. Lagian kalau setiap event hiburanya musik pop, band, atau dangdutan kayanya udah biasa dan gak menarik lagi. Ya kalau seperti ini kan kelihatannya asik dan beda, malah jarang kan kita melihatnya? Kesenian traditional paling lebih sering ditampilakn diacara formal pemerintahan saja,” kata Ninis, seorang pengunjung asal Tangerang yang sengaja datang untuk melihat Rumah Dunia.
Memang sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda harus lebih menghargai dan mengembangkan budaya lokal yang sudah dibangun oleh nenek moyang kita beberapa abad yang lalu. Budaya lokal adalah identitas jati diri sebuah bangsa, merupakan aset besar yang harus terus terjaga dan dikembangkan hingga dikemudian hari. (Rama Rahmat)




Leave a Reply