TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA
langlang | Kampong | January 12th, 2010 | 2 Comments »
TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA
SERANG – Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. Apa benar itu? Yuk kita berkunjung ke kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan kita korek keterangannya.
TEGAL REREN
Dahulu nama kampung Tegal Duren ini adalah Tegal Reren. Karena kebiasaan warga yang suka latah maka namanya berubah menjadi Tegal Duren. Tegal Duren bukan sebuah kampung pada umumnya yang banyak dihuni rumah padat panduduk. Tapi sebuah tegal lebat dan bersawah yang selalu dijadikan tempat peristirahatan para jawara. “Jawara dari mana-mana kumpul di sini,” ujar Ahmad Fatoni (47) warga Tegal Duren. Hal itu pun dibenarkan Ustadz Enting Ali Abdul Karim (40), menantu almarhum Haji Asmani, salah seorang Jawara Tegal Duren. “Sejarahnya Tegal Duren adalah tempat kumpul para jawara main judi, sabung ayam, dan minuman keras,” terang Enting.
Menurut Enting, kondisi inilah yang membuat hati Almarhum Kiyai H. Hasbullah, sesepuh kampung Selaur, tergerak untuk menyelamatkan Tegal Reren. Maka dia beserta warga Selaur lainnya- yang jaraknya sekira 200 meter dari Tegal Reren- segera hijrah ke Tegal Reren dan bermukim di sana. Namun ide Hasbullah tak direstui Kiai Dik Sudin, teman seperjuan Hasbullah. Bahkan Sudin menolak untuk pindah ke Tegal Reren dengan alasan tempat itu adalah gudang maksiat. Tapi, Hasbullah dan warga tetap teguh pada pilihannya.
Setelah kepindahan warga, Kiai Dik Sudin tetap tinggal di Selaur. Konon meninggalnya pun tak ada yang tahu. Menurut Enting, dulu di Selaur ada pohon Ambon. Pohon itu membesar dan bahkan tak mampu dipegang empat orang. “Seiring dengan kehilangan Kiai Dik Sudin pohon itu pun hilang begitu saja,” papar Enting yang kini pemilik Ponpes Al-Islam.
Salah satu upaya Hasbullah untuk mengubah Tegal Duren dibuktikan dengan mengirimkan pemuda-pemuda ke pondok pesantren. Dengan harapan agar bisa mendirikan pondok pesantren di Tegal Duren. Namun harapan itu tidak berhasil, sampai Kiai H. Hasbullah meninggal dunia.
PONDOK PESANTREN
Cita-cita Almarhum diteruskan oleh H. Asmani dan teman seperjuangan, H. Ahmad, dengan memugar masjid yang sebelumnya berukuran 4×6 m2. “Pada tahun 80-an Masjid Al-Mubarokah direhab dan diperbesar,” kata Enting.
Lalu pada tahun 1999 mimpi membangun pondok pesantren pun terealisasi dan mengusung nama Al-Islam. Sejak itulah pemuda-pemudi warga Tegal Duren sudah banyak yang memahami arti pentingnya belajar. “Pola pikirnya sudah berubah tidak lagi tradisional. Hal itu dampak dari pergeseran pemahaman,” terang Enting yang kini berusia 40 tahun.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 50 orang anak yang melanjutkan kependidikan dan pesantren. Dari data ini, 17 orang anak Tegal Duren menetap di Pondok Pesantren Al-Islam, pesantren yang berada di kampung Tegal Duren. Sedangkan sisanya lebih banyak di luar seperti di Gontor Surabaya, Tangerang, dan di kampung-kampung lainnya.
Menurut Sobari (45) RT 01/03 kampung Tegal Duren, ia amat bersyukur dengan adanya Pesantren Al-Islam. “Adanya pesantren ini sangat membantu warga. Apalagi di sini banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu,” terang lelaki yang kini berusia 45 tahun ini. Masih dikatakannya, semoga bertambahnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan dapat mengubah taraf hidup mereka. Pasalnya, sebagian besar warga yang berjumlah 85 kepala keluarga ini, penghasilannya didapat dari ngojek, kuli di pabrik, kuli di pasar lama dan Jakarta.
JALAN DAN PENDIDIKAN
Masih menurut Sobari, jumlah kepala keluarga kampung Tegal Duren 85, tapi semangat dan kerja sama antar warga sangat kompak. Itu ditandai ketika mengajukan perbaikan jalan. Hal ini dibenarkan oleh Enting saat hendak melakukan pengajuan pengaspalan jalan dari warga melalui pemkot Serang ke Provinsi Banten. Kini infrastruktur jalan di kampung yang sebelahan dengan Sumur Putat ini, termasuk berkembang. Tapi ketika wartawan www.rumahdunia.com memantau, ada yang aneh di jalan tersebut. Pengaspalannya hanya separuh. Saat dikonfirmasi, Sobari mengatakan, jatah setiap kelurahan atau kecamatan hanya 930 meter persegi. “Rencananya 2010 proyek ini akan diteruskan,” ujar RT yang berprofesi tukang tambal ban ini. Selain itu, semoga pemerintah setempat membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Karena pendidikan adalah cermin utama sebuah bangsa yang maju. Jika pendidikannya bagus maka SDM yang tercipta pun berkualitas. Wah, kalau begitu harus segera dibantu, nih. [Harir Baldan]




January 12th, 2010 at 5:17 pm
Setelah baca jangan takut berkunjung ke sana, ya? itu soal masa lalunya. kini, kampung ber-KK 85, ini sangat ramah. Apalagi yang berkunjung pejabat pasti disambut antusias.
January 22nd, 2010 at 11:04 am
kpung tegal duren…hm…kampungnya para mujahid tuh..insyAllah.. ^_^