SENJA DI SELAT SUNDA [25]
Gola Gong | Novel | January 7th, 2010 | No Comments »
Aku mengucap syukur dalam hati. Pertolongan pun akhirnya datang. Lelaki Baduy ini seperti sudah paham apa yang terjadi. Dia menyuruh kami untuk berkemas. Kami mengikutinya menuruni bukit dan menyeberangi sungai kecil. Beberapa kali kami naik-turun bukit, lalu sampai ke panamping Kadu Keter. Kampung ini adalah pos terakhir jika kita masuk lewat pintu utara.
Beberapa petugas keamanan dari Rangkasbitung menginterogasi kami. Ketika kami menceritakan tentang kejadian semalam, para petugas itu tersentak. Mereka memang sudah mendengar rombongan kami lewat handy talky, yang sudah menangkap salah seorang dari ketiga perampok itu di wilayah selatan.
“Semalam dua orang dari kalian sudah keluar dari sini,” seorang petugas mengabarkan. “Mungkin mereka sedang menuju Rangkas sekarang.”
“Mereka bilang terpisah dari rombongan,” kata petugas yang lain. “Malam tadi kami sedang ada di lapangan. Orang Baduy ‘kan nggak bisa membaca surat keterangan mereka,” tambahnya.
“Aduh!” Eri memaki.
“Mereka perampok-perampok itu, Pak!” seru kami.
Para petugas itu memang sudah terkecoh. Mereka langsung mengirim kabar lewat hatong ke Ciboleger. Mereka masih yakin, bahwa di Rangkas kedua perampok itu akan dibekuk.
Tapi perjalanan buatku belum selesai. Masih satu jam perjalanan lagi untuk keluar dari wilayah Kanekes. Masih banyak tanjakan yang harus aku daki sebelum sampai di Ciboleger.
Tengah hari kami tiba juga di base camp. Kami terpaksa bermalam di sini, karena kendaraan ke Rangkas cuma di pagi hari saja. Kami bermalam di rumah Pak Askari, seorang penduduk yang sudah biasa menampung wisatawan nusantara yang akan pergi ke Kanekes. Bahkan bapak berputra lima ini suka jadi guide amatir.
Tak ada yang kami kerjakan selain bermalas-malasan. Aku lebih suka duduk menyendiri. Kadang kala kejadian semalam membayangi terus. Memberati pikiranku. Kalau sedang begini, aku jadi ingat rumah; Papa, Mama, dan Robby.
“Ngeganggu?” Nana duduk di sebelahku.
Aku mencoba tersenyum.
“Sudah rindu Yogya?” Nana menyebutkan tanggal kepulanganku, yang tinggal empat hari lagi.
Aku mengangguk. “Kamu ikut pulang dengan aku ‘kan?” aku berharap.
“Eri mengajakku melihat senja di Selat Sunda,” suaranya perlahan.
“Untuk apa?” aku keberatan, karena akan pulang sendirian.
“Eri memintaku untuk yang terakhir kali.”
“Nanti malah menjadi beban kamu.”
“Aku belum selesai ngomong.”
“Pokoknya aku nggak mau pulang sendirian.”
“Aku bilang tadi, Eri mengajakku. Aku ‘kan nggak ngomong, bahwa aku mau diajak Eri.”
“Berarti kita pulang sama-sama ‘kan!”
Nana mengangguk.
“Kamu sudah siap kehilangan dia sekarang?”
“Sejak dia pergi meninggalkan aku, sejak dia nggak pernah ngirim surat lagi, aku sudah siap untuk kehilangan dia.”
“Terus, Eri jadi kerja sama Uzi di Jakarta?”
“Akhirnya antara anak dan ayah ada kesepakatan. Eri dikirim ayahnya sekolah musik di Eropa.”
“Wow! Dia bakalan kecantol cewek bule di sana!”
“Mungkin sekarang aku harus memilih salah satu cowok di kampus, ya!”
Aku menatapnya tidak percaya, “Betul, Na?”
Lalu aku ajukan Alfred, si Menado yang doyan rally, Boyke, ketua senat yang juga hobi naik gunung, atau Mulyadi, jagoan karate kampus.
Nana cuma mengangguk-angguk. “Pokoknya kamu jadi penasihatku, ya!” dia gembira sekali saat ini.
Lalu Nana menatapku dengan lucu. Aku tahu kalau dia bermaksud mengingatkan aku tentang kejadian semalam, ketika aku ketakutan sampai-sampai buang air kecil di celana.
Aku tersipu-sipu, “Aku betul-betul takut waktu itu.”
Nana tertawa keras.
Aku mencubitnya.
Nana kini menjerit. “Ini bisa jadi gosip murahan di kampus!” teriaknya masih tertawa.
Aku terus mencubitnya.
“Hey, hey,” Nana memegangi kedua lenganku.
“Awas, kalau sampai bocor di kampus!”
Nana menggeleng. “Ada pesen dari temen-temen,” katanya mencoba menahan tawa. “Sore ini ada pelantikan. Kamu mendapat ‘bintang kehormatan’ dari kami.”
“Apaan, tuh ?” aku tertarik.
“Mereka sangat terkesan, karena kamu berhasil menjelajahi Kanekes.”
Aku manggut-manggut.
Setelah aku membeli tas koja khas Baduy, yang dianyam dari akar pohon, serta selendang untuk suvenir di rumah, menjelang senja ada upacara kecil-kecilan di halaman. Yanto memberi wejangan alakadarnya. Terutama mengucapkan syukur, karena sudah lolos dari bahaya yang mengancam. Beberapa kali dia menyebut aku, yang tetap dengan semangat tinggi melintasi Kanekes.
Lalu mataku ditutup. Aku disuruh maju, karena akan dikalungi ‘tanda kehormatan’. Eri maju dan mengalungi aku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Beberapa saat tidak ada suara. Aku buka selendang yang menutup mataku. Tak ada siapa-siapa di halaman.
Aku dengar suara orang tertawa riuh di dalam rumah Pak Askari. Aku berteriak ketika tahu apa bandul kalung ‘tanda kehormatan’ itu. Kerak nasi itu! Aku betul-betul marah. Bukankah kerak sialan ini sudah aku buang? Rupanya Eri memungutnya lagi. Anak ini memang tukang iseng!
Tapi aku tersenyum juga. Mungkin kalau sudah sampai di rumah nanti, aku akan minta diajari memasak pada Mama. Rasanya tidak komplet menjadi seorang wanita kalau tidak tahu urusan dapur. Ternyata liburanku kali ini membawa banyak kenangan buatku.
Tak akan pernah aku lupakan. Tak akan pernah aku sesali sudah berlibur di sini.
Nana, memang, sudah mengajari aku banyak hal lewat liburan ini. [TAMAT]
***





Leave a Reply