CHANGE WITH READING, DARI PENJUAL GORENGAN KE WARTAWAN
Gola Gong | Warta Banten | January 6th, 2010 | 1 Comment »
Namaku Miftahudin, tapi teman-teman biasa memanggilku Udin. Aku dilahirkan dari pasangan Ruhaedi dan Maftuha sekira 26 tahun lalu, di sebuah kampung bernama Ciloang, yang jarak ke kota Serang hanya membutuhkan waktu 5-15 menit jika berjalan kaki. Alhamdulillah, meski anaknya setengah lusin, ibu-bapak mampu menyekolahkanku hingga lulus SMK Pasundan 2 Serang tahun 2001-2002.
KE JAKARTA
Setelah lulus dari SMK aku harus mencari kerja dan tidak mau menganggur. Itu janji hati kecilku dan juga pesan guruku. Sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolah ke tingkat perguruan tinggi, tapi karena keadaan keluarga dan kelima adikku yang masih sekolah, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja.
Aku mendapatkan pekerjaan [2002] di sebuah percetakan di dekat makam pahlawan, stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Kota Serang. Tawaran itu datang ketika aku berkunjung ke kantor sahabatku, Maman. Gajinya seratus lima puluh ribu rupiah. Hatiku senang, karena sudah punya pengahsilan sendiri dan bisa membantu keluarga. Namun iu tidak lama. Aku harus kembali menganggur.
Aku sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di konveksi selama 2 Minggu. Lalu pindah kerja lagi di gudang besi dan bertahan hingga dua tahun. Mencoba peruntungan sebagai cleaning service di Puri Mall, Cengkareng selama tiga bulan. Kembali lagi bekerja sebagai kuli angkut puing (bongkahan bangunan) yang hanya tahan sebulan. Kerja di bengkel bubut PT Karya Cipta Surya Sejahtera (KCSS) Daan Mogot, Tangerang selama setahun. Pindah kerja lagi di Rawa Bokor, Tangerang di PT Trimindo selama sebulan.
Dengan memiliki keahlian bubut aku sempat melamar di bengkel bubut Legok, Serang. Di test bikin drat baut, sempat interview pengalaman, status, dan gaji namun tak ada panggilan. Lalu dari sana aku sempat melamar lagi di bengkel bubut Kepandean, Kebon Jahe dan Ciruas. Lelah menunggu surat balasan, akhirnya aku menjadi penjual gorengan. Awalnya sempat malu, selain ibuku juga jualan, di kampungku hanya aku yan ualan gorengan. Malu juga seorang bujangan seperti aku jualan gorengan. Tapi itu tak membuat mentalku jatuh. Bahkan ada orang bijak mengatakan, musuh terbesarmu dalam menggapai suatu impian adalah dirimu sendiri. Selama setahun aku menggeluti usaha gorengan ini.
RUMAH DUNIA
Jarak rumahku dengan Rumah Dunia yang hanya sekitar lima menit berjalan kaki, tak membuatku mengenal lebih banyak tentang kegunaan perpustakaan. Saat aku mengenal Rumah Dunia, yang aku tahu Rumah Dunia adalah sebuah perpustakaan dengan seabreg buku. Walaupun terlambat menenal Rumah Dunia, sambil berdagang gorengan aku mendaftar jadi peserta Kelas Menulis di Rumah Dunia pada tahun 2005. Status pedagang gorengan sempat membuatku minder. Namun berkat dukungan teman-teman, akhirnya aku mengikuti kelas menulis angkatan ke-11.
Sekarang aku bergabung di Rumah Dunia dengan status relawan dan juga wartawan www.rumahdunia.com terhitung sejak 1 November 2009. Beberapa tulisan beritaku sudah dipublikasikan. Nama penaku “Harir baldan”; artinya orang yang berpanas-panasan. Wartawan kan bekerja mencari berita di hari yang panas. Aku ditugaskan mengisi rubrik wisata kuliner dan wisata Banten. Tugas pertamaku adalah meliput jalan rusak. Dari kampung ke kampung dan hasilnya tiga belas kampung di dua Kecamatan Serang dan Cipocok Jaya, Kota Serang sudah aku kunjungi dan jalannya rusak parah.
Liputan hari kedua sangat berkesan. Aku “disergap” empat polisi di pos gerbang tol Serang Timur. Ketika itu aku sedang memotret kendaraan yang keluar-masuk gerbang tol. Aku bilang foto ini akan aku koleksi bukan untuk dipublikasikan. Namun, mereka tak percaya, bahkan melarangku memotret penumpang bus yang sedang menunggu di depan gerbang tol. Kata Gol A Gong, “Orang baik ada di mana-mana.” Dan hal itu pun aku alami, ketika ketiga polisi sibuk mengintrogasiku, salah seorang polisi ternyata mengenal Rumah Dunia dan Gol A Gong. Polisi itu berhasil menetralkan suasana dan mengizinkanku pulang.
KE ITALIA
“Uthlubul Ilma Walau Bishshiin” atau jika ditafsirkan dalam bahasa Indonesia “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Nabi memerintahkan kepada ummatnya untuk menuntut ilmu meski harus ke negeri orang. Dan harapanku bisa menulis adalah ingin menjadi wartawan olah raga, khususnya sepak bola.
Meliput pertandingan Inter Milan versus AC Milan di Kota Milan, Italia, adalah impian terbesarku. Tapi untuk merealisasikannya butuh pengorbanan dan perjuangan yang lebih. Bagaimana caranya agar aku bisa terbang ke sana? Orang bijak mengatakan: banyak cara menuju Roma. Artinya, kita bisa meraih sukses dengan berbagai cara. Sebagai salah satu persyaratan adalah mampu berbahasa Inggris. Dengan bisa berbahasa Inggris yang baik jalan menuju ke Milan tinggal selangkah. Kenapa harus bisa berbahasa Inggris? Karena bahasa ini dijadikan sebagai bahasa internasional. Menurut Ibnu Adam Aviciena relawan Rumah Dunia yang pernah kuliah di negeri Kincir Angin Belanda. “Belajar bahasa Inggris itu mudah dan enak. Karena kalau sudah bisa, contohnya seperti saya, kuliah tidak mengeluarkan biaya sepeser pun,” kata Ibnu.
Senada dengan Ibnu, Gol A Gong pun mengatakan belajar bahasa Inggris itu sangat penting. “Kenapa dulu saya gagal tes di koran Kompas, karena bahasa Inggris saya kurang baik,” ujar Gong. Dan separuhnya adalah harus mematangkan ilmu menulisku segera mungkin.
Aku berharap, Rumah Dunia bisa menuntunku mewujudkan impianku. Aku semakin yakin, ini semua gara-gara aku membaca buku-buku yang berjejr di rak-rak di Rumah dunia. Ya, change with reading! Aku berharap semua warga Banten bisa terlibat dalam gerakan “Change with Reading” yang akan dicanangkan Rumah Dunia bersama Banten Raya Post pada Sabtu, 9 Januari 2010 ini. Aku sudah merasakan manfaatnya! (Harir Baldan)
*) Miftahudin adalah nama asli Harir Baldan. Kini relawan dan wartawan www.rumahdunia.com




January 8th, 2010 at 3:00 pm
keep spirit mas harir…
‘Orang Baik ada dimana-mana’ kayaknya bisa jadi slogan untuk memacu-diri selalu berpositif thinking dan ‘LoA’ akan bekerja untuk kita…
note: LoA = Law of Attraction, buat yang gak ngeh…