NASI SUMSUM PURI KIAN DIGEMARI

advert

sumCuaca di Kota Serang akhir-akhir ini sangat dingin. Hembusan angin kencang disertai hawa dingin membuat pengemudi kendaraan harus extra hati-hati. Kenapa? Karena cuaca seperti ini tidak baik untuk kesehatan. Apalagi si pengendara dalam keadaan perut kosong kroncong. Wah, bahaya itu! Tapi “don’t worry be happy”. Ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan perut kosong kalian. Obat?  Yang pasti ini sangat sepesial. Bahkan bisa ketagihan!

TURUN TEMURUN

Ayo,  saya ajak kalian ke tempat yang sangat akrab di telinga warga ibu kota Banten ini, yaitu Pasar Lama Kota Serang. Di pasar ini banyak tenda jajanan khas dari berbagai daerah dan salah satunya yakni nasi Sumsum Puri yang terkenal di Serang.

Nasi Sumsum Puri sudah ada di Serang, Banten, sejak tahun 1941. Konon, makanan ini adalah warisan turun temurun. Saya pun berbicang-bincang dengan pemilik warung Nasi Sumsum, Pak Arie Kusuarahadi. Menurut pengakuannya, dia sudah lama berjualan di sana. “Saya adalah generasi ketiga. Dan saya sudah 10 tahun berjualan,” ujar Arie. Dulu namanya Sumsum Mang Puri lanjut Arie, “Lalu karena semakin besar saya ganti Puri.”

sum3

TETAP ALAMI

Kendati banyak alat-alat modern semisal blender, Arie tetap masih menggunakan alat tumbuk tradisional untuk mengolah bumbunya. Alasannya sederhana, supaya bumbu yang menyatu dalam nasi dan sumsum terasa alami. “Pokoknya tetap alami dan rasa tetap tidak berubah,” terang lelaki berusia 31 tahun ini.  Tradisi kealamiahan ini pun bukan hanya dari alat saja, tapi dari lokasi warungnya yang masih mengusung tenda agar terlihat khas yang sudah turun-temurun.

Alhasil, berkat keuletan dan ketekunananya, Nasi Sumsum Puri yang beralamat di Jalan Tb. Buang ini, pernah diundang dalam acara HUT ke-482 Kabupaten Serang. Menurut Arie beberapa pejabat Pemerintahan Kabupaten dan tamu undangan yang turut merasakan kenikmatan Nasi Sumsum diantaranya Bupati Kabupaten Serang, H. Taufik Nuriman, Wakil Bupati Andi Sujadi, Kapolda Banten Rumiah Kartoredjo, Ketua DPRD Kabupaten Serang Hasan Maksudi, Dirut PDAM Akhmad Rohendi, Dirut PT. Serang Berkah Mandiri Setiawan Arif Widodo dan lain-lain. Bahkan pembawa acara wisata kuliner Bondan Winarno dan Benou Boulu pun pernah singgah di tenda Sumsum Puri milik Arie ini.

Pada hari libur pengunjung yang datang bukan hanya dari lokal Banten saja. “Enam puluh persen pengunjung dari luar kota, Seperti dari Jakarta, Bandung, bahkan ada yang dari Demak dan Medan,” jelas lelaki beranak tiga ini. Keadaan ini sudah pasti  mempengaruhi jumlah sumsum yang disediakan. “Jika lagi rame bisa menghabiskan 2000 biji nasi sumsum.

Untuk memuaskan para pelanggannya Arie pun membuka cabang di jalan Jenderal Ahmad Yani, tepatnya samping Permata Bank. Kok, buka cabangnya di Kota Serang, aja? Kata Arie ketika ditemui di kediamannya di Perumahan Bumi Agung 1 Blok I, selain tingginya peminat Nasi Sumsum di Banten masih banyak, juga ingin mempertahankan kekhasan panganan Banten.

Ucapan Arie ternyata tak isapan jempol belaka. Contohnya Akbar (18) siswa SMAN 3 Cilegon, ini harus jauh-jauh datang ke Serang hanya untuk mencicipi gurihnya nasi sumsum Puri.”Murah, enak, pas dikantong lagi,” papar Akbar warga Cilegon.

Masih kata pelajar yang berprofesi sebagai Disk Jockey (DJ) ini, rasanya enak di sini ketimbang di Cilegon. Sudah tidak rahasia lagi jika makanan yang terbuat dari sumsum kerbau dan sapi ini banyak digemari warga. Bahkan media lokal atau pun stasiun televisi nasional semisal Trans 7, Trans TV, SCTV, RCTI, Indosiar, dan Global TV  pun pernah mengekspose. Kuliner ini juga pernah meyabet dua kali sertifikat Bango Cita Rasa Nusantara 2007 dan 2009.

sum2

HARAPAN

Selain Nasi Sumsum, di warung tenda milik Arie ini juga menyediakan Sate Lidah Kerbau, dan Otak-otak. Harganya cukup murah meriah, hanya cukup membayar Rp 10.000,00-/porsi Nasi Sumsum yang berisi tiga biji dihiasi ketimun dan sisiran tomat. Supaya menambah selera makan biar lebih nikmat, maka enaknya Nasi Sumsum ditemani sate lidah kerbau atau otak-otak. Hmmm…pasti mantap!

Dihitung-hitung usia keberadaan Nasi Sumsum sudah enam puluh sembilan tahun. Umur yang terbilang sudah sangat dewasa untuk seorang manusia. Pengorbanan dan kerja keras Arie, orang tua dan kakeknya demi mengangkat citra Banten melalui kuliner sungguh sangat luar biasa. Dua kali penghargaan Kecap Bango 2007 dan 2009 bukan itu cita-cita mereka sesungguhnya.

Tapi bagaimana agar makanan khas ini tetap dijaga kelestariannya. “Supaya bertahan saja. Karena kita tahu Nasi Sumsum adalah masakan kuliner khas Banten yang seharusnya dikenal di seluruh Dunia,” harap Arie. Banyaknya wisatawan nusantara kuliner yang datang ke Serang, semestinya dijadikan sebagai peluang bagi pejabat yang mempunyai visi jelas dalam bidang wisata.

Jika saja makanan khas Banten direlokasi dan mempunyai tempat strategis, maka turis atau pelancong pun bakalan tidak lagi kebingungan mencari makanan khas. Jangan kan pelancong mancanegara, kita sendiri sebagai warga Banten kerap masih bingung di mana mencari makanan khas Banten? (Harir Baldan)

Share

2 Responses to “NASI SUMSUM PURI KIAN DIGEMARI”

  1. Harir Baldan Says:

    O ya, Nasi Sumsum Puri juga menerima pesanan, lho? Gimana kalau dari luar daerah apa tidak basi? kata Pak Arie, dulu pernah ada salah seorang ibu memesan Nasi Sumsum yang minta garansi jika pesanannya tak dua hari. Eh, ternyata malah bisa bertahan sampai satu minggu. caranya gimana? masih kata dia, agar lebih awet maka simpan saja di lemari es. untuk pemesan dari luar daerah, dulu juga pernah ada. bahkan tidak tanggung-tanggung 400 Nasi Sumsum. Wah, dasyat! Nah, sekarang giliran anda untuk mencoba kenikmatannya. silihakan…

  2. idham Says:

    wah kalo boleh tau lokasi persisnya sebelah mana ya ?

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010