SENJA DI SELAT SUNDA [24]
Gola Gong | Novel | January 4th, 2010 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Jubah-jubah hitam sekarang berkepak-kepak menutupi bumi. Semua orang kini, selain pada Tuhan, menggantungkan hidupnya pada nyala senter.
“Hey, ada tanda jejak nih!” Eri berteriak girang. Senternya menyorot ke semak-semak.
Ada tanda panah dari alang-alang. Tadi kami sudah melewati jalan setapak ini. Aneh. Ah, mungkin saja tadi kami tidak teliti.
Dengan hati-hati kami meniti jalan setapak yang menuju lembah. Lenganku tetap tidak mau lepas mencekal lengan Nana. Aku tidak ingin berjalan sendirian. Kadang kala aku menjerit kalau ada duri-duri pohon membeset kulitku.
Eri berteriak lagi ketika ada tanda bacokan di batang pohon. Kami semakin turun ke bawah. Ada patahan ranting. Aku merasa tanda-tanda itu seperti dibuat oleh ’seseorang’ untuk kami. Inikah pertolongan Tuhan?
“Hey, sini, sini!” Eri berteriak-teriak di bawah sana. “Cepetan!” teriaknya lagi gembira.
“Huma di atas bukit!” Yantojuga berteriak senang.
Ada sebuah gubuk di huma, ladang orang Baduy. Kadang kala orang Baduy suka bermalam di huma, jika pekerjaan ladangnya belum selesai.
Aku langsung menyuruh untuk bermalam saja. Aku tidak meminta persetujuan mereka. Ini seperti perintah yang keluar dari mulut seorang amatir! Untung mereka mengiyakan juga. Eri tampak sudah berhasil membuka pintu gubuk. Kebiasaan orang Baduy memang tidak pernah mengunci rumah seperti kita. Rasa saling percaya tertanam kuat di jiwa mereka.
Beberapa saat aku terlelap kelelahan di pojok ruangan. Aku cuma bangun untuk makan mie rebus saja beberapa suap. Setelah itu aku meringkuk lagi. Angin malam yang dingin menakutkan, menyusup ke dalam gubuk lewat celah-celah dinding. Aku terbius dan terbelenggu.
Tapi itu terasa tidak lama.
Aku menjerit ketika terdengar ribut-ribut. Ada dua orang lelaki mengobrak-abrik ransel kami. Dua orang perampok itu! Mereka dengan rakus dan liar menyantap sisa makanan yang kami punya.
“Jangan coba-coba!” bentak yang wajahnya brewok sambil mengacungkan golok, begitu melihat Eri bergerak mencurigakan.
Aku menangis ketakutan dipeluk Nana.
“Heh, jangan nangis kamu!” yang berkumis mengacungkan golok ke arahku.
Tangisku malah tambah nyaring. Seluruh persendianku terasa copot dan bergetar. Oh, Tuhan, aku merasa celanaku basah. Nana yang menyadari itu hampir saja tertawa. Mulutnya memang terkunci rapat-rapat, tapi sorot matanya menandakan kegelian. Aku cuma bisa pasrah saja.
“Kataku, diem! Cewek cengeng kamu!” lelaki biadab itu berdiri. Dia berjalan ke arahku.
Secara reflek mulut aku rapatkan. Nana terus membantuku agar tenang. Dia berbisik mengembalikan kepercayaan diriku. Pelan-pelan membantuku juga.
“Heh, kamu! Sini!” si Brewok menghardik Yanto. “Ambil tali-tali itu! Iket semuanya!” perintahnya.
Si Kumis membantu Yanto mengikat. Satu-satu kami diikat. Ketika giliran aku, mata si Kumis jelalatan. Wajahku langsung pucat dan aku meronta-ronta, menangis, dan berteriak, ketika perampok bedebah itu menyeretku. Nana memegangi kuat-kuat tubuhku dan Yanto menubruk si Kumis. Yang lain berteriak-teriak. Eri berusaha bangkit, tapi ambruk lagi, karena tangan dan kakinya diikat.
“Heh, minggir, minggir!” si Brewok menendang dan mengancam leher Yanto dengan ujung goloknya.
Aku menangis menjadi-jadi. Aku pikir inilah kisah hidupku yang tragis berawal di sini. Kisah-kisah seorang gadis korban perkosaan, yarig sering aku baca di mass media atau di film-film Amerika, sebentar lagi akan terjadi padaku.
“Apa-apaan kamu!” bentak si Brewok. “Kita nggak punya waktu untuk begituan!”
Si Kumis bersungut-sungut.
Nana memelukku.
“Ayo, ikat lagi mereka!”
Setelah Nana, Yanto mengikatku. Aku tahu dia tidak tega mengikatku kencang-kencang. Lalu Yanto pun diikat oleh mereka.
Kedua perampok itu dengan gerak cepat mengambil beberapa pakaian dari ransel. Mencobai satu per satu, sampai dirasa ada yang cocok. Aku kira yang pas dikenakan mereka adalah pakaian Eri dan Yanto. Tubuh mereka sama tinggi dan besarnya. Lalu mereka mengobrak-abrik peralatan mandi. Di dalam keremangan cahaya senter, mereka mencukur habis jenggot dan kumis!
Aku baru menyadari kalau mereka sedang mengganti penampilan. Mereka menyamar menjadi seperti kami untuk menerobos keamanan. Aku semakin yakin ketika mereka mengambil dompet kami dan memilih-milih mana yang cocok.
“Terima kasih, ya!” kata mereka tertawa puas meninggalkan kami. Dengan ransel di punggung, penampilan mereka jauh dari perkiraan buruk. Mereka kini tak ubahnya seperti para petualang seperti kami.
“Aduh, ranselku masih baru, tuh!” Yanto memaki, karena ranselnya diambil perampok.
“Punyaku juga!” Aris menggerutu.
“Ransel lagi diributin!” Rini berteriak kesal.
“Pikirin nih, gimana ngebuka tali!” teriaknya lagi.
Eri meronta-ronta. “Kenceng amat sih ngiketnya, To!” katanya pada Yanto. “Si Amat aja nggak kenceng-kenceng!” dia mencoba melucu.
“Nggak ada waktu buat ngelucu, tau!” Yayah kini buka suara. “Kapok aku, kapok!” jeritnya.
“Tolong, toloong!”
“Berisik amat, sih!”
“Diem kenapa, sih!”
“Lagian siapa yang ngedenger?”
Aku cuma menggelengkan kepala. Dalam keadaan darurat begini, mereka masih bisa adumulut. Aku kehabisan kata-kata. Aku cuma memejamkan mata, karena sudah terbebas dari hal yang paling buruk tadi.
“Mendingan sekarang tidur ajalah,” Eri mengusulkan. “Besok pagi pasti ada orang Baduy ke sini.”
Aku mengiyakan usul Eri tadi. Aku sentuh tubuh Nana. Aku lihat Nana pun mengangguk. Kami akhirnya mencoba untuk pasrah; tidur meringkuk dengan tangan terikat, menunggu sampai matahari terbit.
Kami semua terjaga begitu suara pintu berderit. Mata kami terpicing, karena cahaya terang dari pintu menyilaukan mata. Seorang lelaki Baduy berdiri memandang kami dengan perasaan heran. Beragam suara pun berlompatan dari mulut kami. Kehidupan mulai membias lagi di wajah kami. [bersambung ke bag. 25]
*) Foto: Gong, Aris Buntarman, Zara Zettira ZR sekitar 1989

![GG-Zara Gong [ki], Aris Buntarman, Zara [ka]](http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/GG-Zara.jpg)



Leave a Reply