CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU

advert

Wayang

CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU

Di Rumah Dunia, tanggal 09 Januari 2010 nanti, bekerjasama dengan Banten Raya Post, akan ada pencanangan “Change With Reading” (CwR).Kegiatan CwR atau “Ubahlah Dirimu dengan Membaca”, yang akan diselenggarakan secara kolosal.

Sekitar 20 SMA dan Pergurun Tinggi di Banten mengirimkan orang-orang terbaiknya. Tujuannya, selain untuk mengubah pola pikir juga meningkatkan kualitas hidup dengan membaca.

PENJUAL ROTI

Gol A Gong, novelis sekaligus pendiri Rumah Dunia pernah berkata kepada saya, jika saya adalah pelaku CwR. Maka dari itu saya diminta menjadi salah satu pembicara dalam acara CwR nanti. Saya kira itu cuma candaan Gol A Gong. Tapi ternyata saya salah. Jujur, sebenarnya saya masih ragu dan bingung, apa benar saya sudah ada dalam lingkaran CwR? Apa iya? Saya rasa Gol A Gong telah salah menilai saya. Kenapa? Karena saya bukanlah siapa-siapa. Saya terlahir di kampung kecil bernama Kepondoan (saya yakin tidak banyak orang yang tahu dengan kampung ini) dan hidup dalam keluarga yang ‘memaksa’ saya agar jadi buruh pabrik saja, ketimbang terus sekolah.

Saya kecil nyaris tak pernah membaca buku. Baru mengenal buku itu sejak SMP, itu pun dikurangi dengan minat baca yang masih bolong-bolong. Lanjut sampai SMK di Kragilan, minat baca makin turun karena fasilitas buku (baca: perpustakaan) tak ada di sana. Dan lingkungan di sekitar saya, lagi-lagi ‘memaksa’ mendidik saya untuk mau tidak mau harus membudayakan nge-gosip, begadang dan nongkrong di pinggir jalan sambil ngomong ngalor-ngidul, ketimbang menomorsatukan baca. Apa benar, saya sudah mengubah hidup saya dengan membaca? Terlebih selama hampir delapan tahun, saya berjualan roti dan nasi bungkus di pabrik Nikomas sambil sekolah.

PENULIS

Sampai saat menulis esai ini pun saya masih ragu, perihal saya dan CwR itu. Tapi kemudian saya pikirkan perkataan Gol A Gong di atas. Saya merenung sambil tiduran. Lalu otak saya memutar film dimana saat saya pertama kali mengenal Rumah Dunia. Ya, saya dikenalkan Rumah Dunia oleh Gading Tirta (saudara saya), yang tulisan-ulisannya rajin nongol di Banten Raya Post. Entah virus jenis apa yang dijejalkan Gading Tirta ke dalam otak saya, sehingga saya jadi jatuh cinta pada Rumah Dunia dan ingin mengenal lebih jauh tentang Rumah Dunia, yang dengan program-program kegiatan di dalamnya, salah satunya belajar membuat cerpen. Saya makin tertarik ingin menyelam dalam dunia pembuatan cerpen. Gading Tirta terus menularkan ‘virus’ motivasinya. Dia mengajarkan, membimbing saya dan menuntun saya masuk dalam dunia yang penuh warna. Makin ke dalam saya menceburkan diri, makin senang dan enjoy rasanya.

Menggeluti dunia cerpen—dari mulai nol—seakan dunia yang berbeda, namun terasa indah penuh warna. Hingga suatu hari saya berikrar pada diri saya sendiri, jika saya ingin jadi seorang penulis, bukan buruh pabrik. Seperti apa yang diharapkan orang tua, bahwa saya jadi seorang buruh pabrik saja. Hingga 2006 saya mengikuti “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan ke delapan dengan guru pembimbing Gol A Gong, . Saya makin menyelam, perlahan saya mulai mengerti tentang pembuatan cerpen. Saya dituntut harus banyak baca, karena jika ingin menjadi seorang penulis, syaratnya sangat gampang sekali, yaitu; baca, baca, baca, baca dan kemudian menulis.

Waktu, tanpa saya sadari terus berjalan. Perlahan saya makin mengerti dengan dunia cerpen atau tulis menulis. Mimpi saya jadi seorang penulis makin besar, tapi masih terbentur dengan keraguan keluarga yang masih mengiginkan saya jadi buruh pabrik. Hingga suatu malam saya bertanya pada Gading Tirta, “Pekerjaan apa di dunia ini yang enak dan gajinya besar?” Jawaban teman saya itu: penulis. Saya masih bingung dengan jawaban itu. Apa iya penulis itu pekerjaannya enak dan gajinya besar? Jawaban itu terus menghantui saya, dan makin saya memikirkannya, makin yakin jika memang benar penulis adalah pekerjaan yang enak dan bergaji besar. Gol A Gong saja mampu membeli mobil dan mendirikan Rumah Dunia.

RELAWAN

Sejak saya bergabung dngan Rumah Dunia, dan sekarang menjadi relawan di sana sejak Oktober 2009, bisa dibilang kehidupan saya berubah sembilan puluh persen. Sejak tinggal di Rumah Dunia, saya makin akrab dengan buku, juga lingkungan yang mengajak saya selalu harus banyak membaca, membaca, membaca dan membaca hingga selalu ada motivasi untuk saya, terus memupuk mimpi menjadi seorang penulis. Di Rumah Dunia, saya ditunjukkan jalan jadi penulis dan dilatih jadi wartawan. Itu semua secara perlahan menumbuhkan rasa percaya diri saya, yang tadinya sekedar penjual roti di pabrik Nikomas.

Saya yang berasal dari kampung, lulusan sekolah setingkat SLTA, dan penjual roti pula, berawal dari mimpi dan kesungguhan tekad yang besar ingin mengubah (minimal) pola pikir serta hidup saya. Maka dari itu, saya harus hijrah. Bukankah dalam QS Ar Ra’d, ayat 11 Allah telah berfirman: “Saya tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu yang mengubahnya.” Maka, jadilah saya hijrah dari kampung ke kota, yaitu di rumah Dunia. Alhamdulillah, berkat kesabaran dan kerja keras saya dalam berkomitmen ingin memperdalam dunia tulis menulis, beberapa karya saya berupa puisi dan cerpen menghiasi koran Radar Banten.

Saya rasa, Gol A Gong melihat semangat dan tekad saya yang tinggi dalam menggapai mimpi saya jadi seorang penulis. Hingga saya dianggapnya sebagai pelaku CwR. Atau mungkin yang lebih tepatnya, saya contoh kecil dari orang-orang yang ingin mengubah hidupnya dengan membaca. Banyak di antara kita yang sudah benar-benar gemar membaca dan sudah bisa mengubah hidupnya jadi lebih baik.

Saya menghimbau di momentum tanun baru yang akan tiba ini, semoga kita bisa sama-sama mengaplikasikan gerakan ‘Change With Reading’ menjadi mimpi kita di tahun depan, agar Banten kembali jaya seperti pada abad 17. Percayalah, dengan membaca, mengubah hiup kita. Saya sudah membuktikannya. (Ahmad Wayang)

*) Penulis adalah relawan sekaligus wartawan www.rumahdunia.com. Email: soby_rin@yahoo.co.id.

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010