SENJA DI SELAT SUNDA [23]
Gola Gong | Novel | January 3rd, 2010 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Eri dan Yanto langsung membongkar ranselnya. Barang-barang mereka disebar pada ransel yang lain. Lalu ranselku dijejalkan ke ransel Eri. Aku berharap nanti bisa melanjutkan perjalanan lagi dengan lenggang kangkung.
“Aku kepengen ngerasain tidur di rumah Baduy,” kataku kecewa. “percuma aku jauh-jauh ke sini! Cuma capek doang!” keluhku lagi.
“Moga-moga kita bisa tidur di panamping,” Nana memberiku semangat.
“Apa kita nggak bakalan kemalaman ?”
“Kita lewat jalan potong!” Eri menegaskan.
“Kamu pernah lewat sana ‘kan, Ri?”
Eri mengangguk cepat. “Yuk!” dia begegas.
Setelah menyeberangi sungai dan menaiki bukit kecil, Eri membelok memasuki hutan. Kami menyusuri jalan setapak yang tidak pernah dilalui orang, kecuali orang Kanekes yang mencari kayu bakar. Jalan setapaknya tertutup daun-daun kering yang basah dan akar-akar pohon.
Kami ternyata berjalan di atas Gunung Paniga yang melingkar. Lagi-lagi aku merasa was-was, karena di wilayah tangtu Cibeo ini ada hutan larangan yang lain, Sasaka Domas, yang menjadi tanggung jawab puun Cibeo. Jangan-jangan kami “menginjak”nya.
“Setelah bukit itu pasti ada pancuran alam!” Eri berteriak.
Aku memandang Nana.
Ada sebuah pohon besar tumbang. Batangnya melintang menghalangi jalan. Kami memanjat ketika menyeberangi pohon itu. Yanto membantuku naik.
Eri tampak berdiri di batang pohon itu. Dia agak pendiam dan banyak berpikir sekarang. Mungkin sedang mengingat-ingat ke arah mana yang betul, karena banyak cabang yang membingungkan.
Eri melompat dan berjalan lagi. Belum begitu jauh ada pohon lain yang tumbang. Lebih besar dari yang pertama. Pohon yang ini tampaknya belum begitu lama roboh. Dahan-dahannya belum dipotong semua. Eri kini kalang kabut.
“Salah jalan, Ri?” Nana menegur.
“Kita balik lagi ke pohon tumbang yang pertama!” Eri langsung membalik dan bergegas.
Aku merasa kepalaku kosong dan membesar.
“Tenang, Tina, tenang,” Nana juga gelisah.
Beberapa orang meneriakkan kekecewaan yang sama. Bahkan menyarankan untuk kembali ke jalan simpang pertama.
“Ngapain balik lagi? Tanggung! Malah lebih deket dari sini ke Ciboleger!” Eri menyebut kampung base camp di pintu gerbang utara itu.
“Tapi mana jalannya?!”
“Sudah jam lima, nih!”
“Kalau kemalaman di sini, waduh, gawat, Broer!”
“Heh, jangan ribut kayak gini dong!”
Eri tidak menggubris. Dia turun ke sisi kiri ketika ada jalan getapak. Semakin ke bawah, malah tidak jelas arahnya. Ternyata cuma jejak pencari kayu bakar. Terpaksa kami naik lagi, kembali ke pohon pertama yang tumbang.
Kami mengikuti lagi ke mana Eri. Terbentur ke lembah yang lain. Malah sekali waktu kami cuma berputar-putar saja. Aku betul-betul panik dan kehabisan napas. Nana memapahku.
“Kasih aku waktu!” Eri gelisah. “Kalian tunggu di sini!” Eri bergegas. Dia mundur beberapa meter dari tempat kami berdiri. Dan hilang di balik semak-semak.
Yanto menyuruh Ato dan Aris untuk mencari kemungkinan jalan lain. Mereka mengambil arah yang berlawanan. Menerobos semak-semak. Sepuluh menit kemudian mereka kembali dengan wajah tegang. Bahkan kening Eri tampak berdarah.
“Hati-hati, Ri,” Nana langsung memberinya obat merah.
Eri tampak serba salah diberi perhatian lebih oleh Nana. “Aku tahu jalannya ke arah sana!” Eri menunjuk ke seberang lembah. “Tapi, kenapa nggak pernah nyampe?!” Eri berteriak kesal. Tangannya seperti menyibak-nyibakkan ‘kabut’ di depannya.
Matahari semakin menggelincir.
Kegelapan sebentar lagi akan merengkuh kami.
“Ini pasti ada yang ‘menghalangi’ pandangan kita!” sungut Eri sambil membanting tubuhnya ke tanah. Dia duduk bersender pada batang pohon. Wajahnya berkeringat dan penuh rasa bersalah. “Aneh.Aku nggak ngerti,” matanya menerawang jauh, seperti mencoba menembus ‘kabut’ itu.
“Kena ‘kualat’ ‘ngkali!” ada yang nyeletuk.
“Huss, jangan ngomong sembarangan!”
“Ya, kita sering ngelanggar aturan!”
“Buktinya kita mandi di sungai pakai sabun!”
“Itu sih Eri, Ato, sama Maman!”
“Enak aja, kok nuduh aku! Tuh, Yayah sama Rini malah keramas pakai shampo!”
“Sudab, sudah!”
Eri tampak terpukul sekali.
“Kita coba lagi, Ri,” Yanto menariknya untuk berdiri.
Eri berdiri. Dia merogoh senter dari ranselnya.
“Sebaiknya kita berdoa dulu,” Nana menyarankan. “Dalam situasi begini, kita harus tetep kompak. Jangan saling menyalahkan. Juga jangan merasa yang paling bersalah,” Nana menyuruh semua orang untuk memejamkan mata.
Eri menatap Nana dengan perasaan yang sulit ditebak. Kami berdo’a dalam hening. Minta petunjuk pada Tuhan. Minta pikiran dijernihkan dari hal-hal buruk yang membelenggu. Dan aku menangis, karena takut pada segalanya. Pada perampok yang setiap saat mengancam, kualat karena “menginjak” tanah larangan, dan pada kegelapan hutan. [Bersambung ke bag. 24]




Leave a Reply