SENJA DI SELAT SUNDA [22]
Gola Gong | Novel | January 2nd, 2010 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Persis tengah hari kami sampai di Cikeusik. Yang paling menarik, sebelum memasuki tangtu, di setiap utara kampung selalu ada leuit. Pada tiang-tiangnya dibuat lempengan papan seperti piring. Gunanya untuk mencegah tikus nakal naik ke lumbung.
Aku terperangah, begitu memasuki kampung tangtu pertama ini. Rumah-rumah berdinding anyaman bambu ini masih serba baru dan ada sisa-sisa bekas kebakaran. “Agustus 1993 lalu, kampung ini kebakaran,” Yanto menerangkan.
“Semua rumah musnah dilumat api!” sambung Eri.
“Kecuali rumah puun,” Nana menunjuk ke titik selatan dan agak terpencil.
“Rumah puun memang kebal!” seseorang berdecak kagum.
“Puun ‘kan orang sakti!” tambah yang lain lagi.
Aku mencoba berpikir rasional. Rumah puun letaknya di selatan, kondisi tanahnya lebih tinggi, dan cukup jauh dengan rumah penduduk. Maka wajar kalau tidak terjilat api. Kalau memang ada faktor-faktor di luar logika, entahlah itu. Tapi aku harus percaya pada kenyataan sejarah yang ada, bahwa orang-orang natural; yang menganggap “alam sebagai bagian hidup”, selalu punya kekuatan gaib.
Nana menyambung bahwa mereka punya filosofi hidup, “Bumi haruslah dipelihara. Jangan disakiti.” Itulah sebabnya rumah-rumah mereka tidak menggunakan paku. Antara tiang-tiangnya cuma diikat dengan akar-akar pohon dan atapnya bukan dari genteng, yang bahan bakunya diambil dari bumi, tapi dari daun kelapa. Serta dindingnya dari bilik, anyaman bambu. Air sungai pun tidak boleh dicemari oleh limbah kimia. Mandi memakai sabun, atau mencuci dengan deterjen dilarang keras!
“Karena tidak boleh ‘menyakiti’ bumilah, semua Baduy Dalam memasak di dalam rumah panggung mereka. Tanpa alas yang representatif. Maka tidak heran kalau ada perkampungan Baduy Dalam sering kebakaran!” Nana menjelaskan lagi tradisi turun-temurun itu.
“Ya, pantesan!” aku menggelengkan kepala.
“Kenapa tradisi ini nggak ditinggalin aja, sih?”
“Menurut mereka, kebakaran sudah hukum alam. Nggak bisa ditawar-tawar lagi,” Eri mencoba memuaskan rasa ingin tahuku. Tambahnya, orang tangtu tidak pernah menyalahkan tradisi. Tapi semata-mata kecerobohan mereka saja. “Kalau tradisi yang disalahkan, kata mereka, Baduy Dalam nggak bakalan pernah ada!” Eri tertawa.
Benakku langsung merekam pola kampung tangtu ini. Jika diibaratkan sebuah kotak, pusatnya adalah alun-alun. Di titik selatan pada tanah yang agak tinggi, itulah rumah puun. Ini disengaja, agar penguasa adat bisa mengawasi wilayahnya. Di sisi timur-barat alun-alun, rumah penduduk berderet, mengikuti kondisi tanah yang berbukit. Di antara rumah dengan rumah ada kamalir, saluran kecil tempat mengalirkan air hujan dari atap rumah. Mereka tidak mengenal pagar, karena itu artinya mengaku tanah sebagai milik pribadi. Untuk sekadar batas wilayah, mereka cuma mengenal kayu wayang, berupa sebatang pohon atau batu.
“Perbedaannya dengan kampung panamping cuma dalam tanahnya saja,” Eri menerangkan padaku. Dia menambahkan, kalau di tangtu, mereka tidak boleh merusak tekstur tanah. Jadi konstruksi bangunanlah yang menyesuaikan dengan kondisi tanah. Kebalikannya di panamping, mereka sesuka hati membangun rumah. Jika tanahnya tinggi, mereka akan meratakannya. Kalau terlalu rendah, tentu akan ditinggikan.
Ketika melihat aku berjalan menuju rumah puun, Yanto yang berada di dekatku, menyetop. Menurutnya, orang “luar” seperti kami dilarang mendekati rumah puun dalam batas tertentu.Aku kini yakin kenapa kita tidak boleh masuk ke Kanekes lewat jalan lolongok (pintu selatan), karena selain dikhawatirkan “menginjak” tanah yang disucikan, juga “halaman puun” ini.
Kami duduk di bale kapuunan, di titik utara, tempat pertemuan resmi atau untuk menerima tamu. Di sebelah kanan bale pertemuan, ada saung lesung, tempat penduduk menumbuk padi. Setiap menjelang sore akan kita lihat wanita-wanita Baduy ngobrol sambil menumbuk padi di sini.
Dua pria tangtu, yang meronda, menghampiri kami. Memakai aros, sarung dari benang kasar berwarna putih, yang dililitkan menyentuh batas lutut. Lebih menyerupai rok wanita. Bajunya warna putih yang sudah kecoklat-coklatan. Tanpa kancing dan kutung-seperti kaos. Juga telekung, ikat kepala berwama putih. Kalau telekung itu dibuka, jangan kaget melihat rambut mereka yang panjang seperti penyanyi rock!
Eri mengajak mereka hercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Orang Baduy ini tidak banyak bertanya dan kesannya seperti menunggu saja. Jika ada pertanyaan, mereka menjawab dengan singkat saja.
“Kita disarankan untuk melanjutkan perjalanan ke Cibeo,” kata Eri.
“Kenapa?”
“Soal perampok itu.”
Aku menarik napas. Sebetulnya aku ingin sekali bermalam di sini. Selain untuk menyegarkan badan, juga ingin melihat isi rumah Baduy Dalam. Mereka membaca keinginanku itu, tapi tidak bisa berhuat apa-apa.
Satu tangtu lagi, Cikartawana, kami lewati. Sudah sore. Dari tangtu kedua ini cuma memakan waktu sekitar sepuluh menit menuju tangtu terakhir, Ciheo. Lagi-lagi kami disarankan untuk meneruskan perjalanan, karena keadaan sedang darurat. Orang Kanekes kalau berbicara sangatlah polos dan tidak ada basa-basi. Setiap omongannya mengandung kebenaran dan tidak bisa ditentang. “Rencana nggak selamanya mulus, ya!” Eri tertawa kecut padaku.
Aku minta break. Kepada mereka aku bilang bahwa punggungku sudah tidak kuat lagi membawa ransel. [Bersambung ke ba. 23]




Leave a Reply