REFLEKSI KOMUNITAS SASTRA 2010
Gola Gong | Laporan Utama | January 2nd, 2010 | 4 Comments »
RUMAH DUNIA — Disaat sebagaian umat manusia sibuk mempersiapkan diri berkonvoi dengan teman, sahabat atau bersama keluarga merayakan tahun baru 2010; di pantai (yang lumrah biasa kita lihat dalam berita di tivi, keesokan harinya), hotel, atau sekedar berkumpul di dalam rumah saja, tapi komunitas Literasi Rumah Dunia menggelar acara diskusi tahunan “Detik Awal 2009 Detik Ahir 2010” bertemakan “Refleksi Komunitas Sastra di Banten”, Kamis (31/12) Pukul 20.00 – 24.00 WIB di panggung Rumah Dunia.
TURIS NYASAR
Dalam diskusi itu, Rumah Dunia (RD) menghadirkan 3 pembicara; Toto ST Radik selaku penasehat RD mengusung “Posisi Rumah Dunia sebagai Komunitas di Banten”, dan Sulaiman Djaya, penasehat Kubah Budaya dengan catatannya “Quo Vadis, Komunitas Sastra di Banten”. Acara ini juga sekaligus mengenang pendiri Kubah Budaya, Moh. Wan Anwar, yang tutup usia pada 23 September 2009 lalu. Sedangkan pembicara, dari Fajar Banten, Indra Kusumah, yang akan membicarakan seberapa penting halaman koran untuk rubrik budaya, berhalangan tidak bisa hadir dalam acara diskusi ini.
Diskusi yang dihadiri sekitar 40an peserta dari berbagai lapisan; mulai dari Untirta, Kubah Budaya, Stikom Wangsa Jaya, Kantor Perpustakaan Kota Serang, beberapa pelajar dari Waringin Kurung, 3 tamu dari Bandung (Fani, Aris, dan Dinar), bahkan dihadiri oleh Matthew Woolgar- tris nyasar dari Inggris. Cerita Matthew ini lucu. Firman Venayaksa selaku Presiden RD saat memberi sambutan bercerita, “Matt ini jauh-jauh datang dari Inggris hanya ingin melihat rumah Multatuli, tapi kecewa karena rumahnya sdudah tidak ada. Saya berkenalan dengannya saat makan di sebuah warung mie, lalu saya mengajak Matt ke RD.”
Matt sagnat senang berada di lingkungan RD. Dia adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. “Saya sedang liburan,” katnya menikmati minuman bandrek hangat plus ubi rebus. Bahkan nasi goreng pun dilahapnya.
KOTA BUDAYA
Selain diskusi, juga ada menu tambahan pembacaan puisi dari Oji Sahroji pemenang lomba baca puisi Wong cilik 2007 dari Waringin Kurung,. Irwan Sofwan dari Kubah Budaya, Rahmat Heldy HS, Dedi Setiawan, musikalisasi puisi Firman, dan cerita dari Herwan FR dalam rangka mengenang Wan Anwar. Acara diskusi kali ini juga sekaligus mengenang Wan Anwar. “Karena Wan Anwar telah memberikan nyawanya untuk kemajuan sastra di Banten ini,” kata Gol A Gong selaku pendiri RD.
Menurut Sulaiman, dalam diskusinya, komunitas sebagai institusi kebudayaan menjadi sangat penting sebagai penyelenggara dan penjaga nafas kebudayaan karena kreativitas estetik dan intelektual membutuhkan infastruktur sekaligus khasanah yang mampu memacunya. Ia juga mengatakan, bahwa Banten, terutama Serang, belum bisa disebut sebagai kota budaya dalam pengertian yang ideal dan diharapkan. “Di Serang saya belum menemukan tempat-tempat untuk lesehan sekedar berbincang-bincang dengan teman-teman seputar filsafat dan sastra, sembari menyeruput kopi,” katanya.
SEJARAH KOMUNITAS
Sementara Toto ST Radik lebih pada mengemukakan perjalanan sastra atau pertama kali adanya komunitas sastra di Banten, khususnya pada pertengahan tahun 1980-an, saat ia masih menjadi siswa SMA N Serang. “Saya belum pernah mendengar ada komunitas sastra di Serang. Juga tidak pernah mendengar atau mengetahui ada sastrawan, penyair, cerpenis, novelis atau esai krittikus sastra,” kata penyair Serang ini. Meski ia mengaku di Serang, komunitas teater sudah ada yang sesekali mangggung saja. Beliau juga menerangkan sekelumit sejarah tentang RD dan jatuh bangun yang RD di dalamnya, khususnya mengenai sastra dan komunitas literasinya.
“Saya, almarhum Rys Revolta, dan Gol A Gong memulai membuat komunitas sastra pada 1990,” kenang Toto. Lantas seiring perkembangannya, komunitas-komunitas sastra mulai bermunculan. Sastrawan lahir, tumbuh, hilang atau eksis, seiring dengan lahir, tumbuh, hilang atau eksisnya komunitas-komunitas sastra. “Pertannyaannya, bagaimana kita, para sastrawan sendiri, termasuk juga komunitasnya, bisa memberikan peran dan sumbangan yang lebih besar bagi perkembangan sastra di Indonesia,” katanya dengan semangat namun santai.
Toto juga menyadari adanya kecemburuan, konflik kepentingan, friksi dan lain-lain di dalam komunitas itu sendiri maupun antarkomunitas. Toto juga mengutip peribahas, jika kita harus seperti padi yang tumbuh sehat mekar berisi dan bersyukur dengan cara merundukan diri. Sebaba hanya padi yang pongah mendongaklah yang sesungguhnya gabug alis kopong, kosong tak berisi.
Acara diskusi makin malam, makin meriah. Meski jarum jam baru menunjukan Pukul 10.09 tapi, suara letusan petasan dari berbagai arah mulai terdengar. Diskusi makin meriah, saat dibuka sesi tanya jawab. Dan makin lengkap dengan menu wedang Bandrek plus panganan tradisional Banten (kelepon, ketimus, getuk dan jagung rebus) dihidangkan secara gratis. Hingga acara tepat ditutup saat pergantian tahun baru 2010. Sebelum pulang peserta ditraktir makan nasi goreng oleh RD.
Selamat tahun baru. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari tahun yang lalu. Happy New Year! [Ahmad Wayang]




January 2nd, 2010 at 11:25 am
Assallamu allaikum, saudara2ku di RD, semoga selalu semangat dan dalam lindungan Allah…
menyimak sekian banyak program dan kegiatan dari RD dalam memajukan dunia sastra dan budaya Banten, saya memberikan apresiasi yangtinggi pada para pelaku yang tak pernah lelah berjuang, khususnya Kang Gol A Gong dan rekan2… teruskan berjuang,Kang. Kapan2 kalo ada hajat besar satra seperti menutup tahun baru tersebut, iklanin di FB yaa… biar kami bisa ikut sowan dan bergabung…
Terima kasih atas kesempatan ber-komen-nya… maju dan sukses terus RD di tahun 2010….
Wassallam…
January 2nd, 2010 at 11:49 am
Rekan Riyanti, mungkin kelewat. Sebetulnya sudah ada di http://www.rumahdunia.net dan rumahhdunia.com. di FB juga sudah disebar. Nnti 9 Januari 2010 ada kegiatan besar, CHANGE WITH READING! Datang aja.
January 2nd, 2010 at 12:19 pm
Alhamdulillah… berarti tgl 9 saya bisa sowan yaa Kang… (eh tapi ngomong2, nama saya belum ganti Kang, tetep Riyanto bukan Riyanti, hehehe…) oke, sukses terus ya Kang, insya Allah saya bergabung dan merapat ke RD tanggal 9, oya jamnya belum tertera Kang…
January 4th, 2010 at 8:37 am
assalamualaikum.. kang golagong saya sangat mengapresiasi acara ini.
maaf, saya pulang duluan, insya alloh saya ingin ikut juga kelas menulis disana,
tetaplah ber evolusi kawan!!