REFLEKSI KOMUNITAS SASTRA 2010

advert

detik 1RUMAH DUNIA — Disaat sebagaian umat manusia sibuk mempersiapkan diri berkonvoi dengan teman, sahabat atau bersama keluarga merayakan tahun baru 2010; di pantai (yang lumrah biasa kita lihat dalam berita di tivi, keesokan harinya), hotel, atau sekedar berkumpul di dalam rumah saja, tapi komunitas Literasi Rumah Dunia  menggelar acara diskusi tahunan “Detik Awal 2009 Detik Ahir 2010” bertemakan “Refleksi Komunitas Sastra di Banten”, Kamis (31/12) Pukul 20.00 – 24.00 WIB di panggung Rumah Dunia.

TURIS NYASAR

Dalam diskusi itu, Rumah Dunia (RD) menghadirkan 3 pembicara; Toto ST Radik selaku penasehat RD mengusung “Posisi Rumah Dunia sebagai Komunitas di Banten”,  dan Sulaiman Djaya, penasehat Kubah Budaya dengan catatannya “Quo Vadis, Komunitas Sastra di Banten”. Acara ini juga sekaligus mengenang pendiri Kubah Budaya, Moh. Wan Anwar, yang tutup usia pada 23 September 2009 lalu. Sedangkan pembicara, dari Fajar Banten, Indra Kusumah, yang akan membicarakan seberapa penting halaman koran untuk rubrik budaya, berhalangan tidak bisa hadir dalam acara diskusi ini.

detik 4Diskusi yang dihadiri sekitar 40an peserta dari berbagai lapisan; mulai dari Untirta, Kubah Budaya, Stikom Wangsa Jaya, Kantor Perpustakaan Kota Serang, beberapa pelajar dari Waringin Kurung, 3 tamu dari Bandung (Fani, Aris, dan Dinar), bahkan dihadiri oleh Matthew Woolgar- tris nyasar dari Inggris. Cerita Matthew ini lucu. Firman Venayaksa selaku Presiden RD saat memberi sambutan bercerita, “Matt ini jauh-jauh datang dari Inggris hanya ingin melihat rumah Multatuli, tapi kecewa karena rumahnya sdudah tidak ada. Saya berkenalan dengannya saat makan di sebuah warung mie, lalu saya mengajak Matt ke RD.”

Matt sagnat senang berada di lingkungan RD. Dia adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. “Saya sedang liburan,” katnya menikmati minuman bandrek hangat plus ubi rebus. Bahkan nasi goreng pun dilahapnya.

detik 6KOTA BUDAYA

Selain diskusi, juga ada menu tambahan pembacaan puisi dari Oji Sahroji pemenang lomba baca puisi Wong cilik 2007 dari Waringin Kurung,. Irwan Sofwan dari Kubah Budaya, Rahmat Heldy HS, Dedi Setiawan, musikalisasi puisi Firman, dan cerita dari Herwan FR dalam rangka mengenang Wan Anwar. Acara diskusi kali ini juga sekaligus mengenang Wan Anwar. “Karena Wan Anwar telah memberikan nyawanya untuk kemajuan sastra di Banten ini,” kata Gol A Gong selaku pendiri RD.

Menurut Sulaiman, dalam diskusinya, komunitas sebagai institusi kebudayaan menjadi sangat penting sebagai penyelenggara dan penjaga nafas kebudayaan karena kreativitas estetik dan intelektual membutuhkan infastruktur sekaligus khasanah yang mampu memacunya. Ia juga mengatakan, bahwa Banten, terutama Serang, belum bisa disebut sebagai kota budaya dalam pengertian yang ideal dan diharapkan. “Di Serang saya belum menemukan tempat-tempat untuk lesehan sekedar berbincang-bincang dengan teman-teman seputar filsafat dan sastra, sembari menyeruput kopi,” katanya.

SEJARAH KOMUNITAS

Sementara Toto ST Radik lebih pada mengemukakan perjalanan sastra atau pertama kali adanya komunitas sastra di Banten, khususnya pada pertengahan tahun 1980-an, saat ia masih menjadi siswa SMA N Serang. “Saya belum pernah mendengar ada komunitas sastra di Serang. Juga tidak pernah mendengar atau mengetahui ada sastrawan, penyair, cerpenis, novelis atau esai krittikus sastra,” kata penyair Serang ini. Meski ia mengaku di Serang, komunitas teater sudah ada yang sesekali mangggung saja.  Beliau juga menerangkan sekelumit sejarah tentang RD dan jatuh bangun yang RD di dalamnya, khususnya mengenai sastra dan komunitas literasinya.

“Saya, almarhum Rys Revolta, dan Gol A Gong memulai membuat komunitas sastra pada 1990,” kenang Toto. Lantas seiring perkembangannya, komunitas-komunitas sastra mulai bermunculan. Sastrawan lahir, tumbuh, hilang atau eksis, seiring dengan lahir, tumbuh, hilang atau eksisnya komunitas-komunitas sastra. “Pertannyaannya, bagaimana kita, para sastrawan sendiri, termasuk juga komunitasnya, bisa memberikan peran dan sumbangan yang lebih besar bagi perkembangan sastra di Indonesia,” katanya dengan semangat namun santai.

Toto juga menyadari adanya kecemburuan, konflik kepentingan, friksi dan lain-lain di dalam komunitas itu sendiri maupun antarkomunitas. Toto juga mengutip peribahas, jika kita harus seperti padi yang tumbuh sehat mekar berisi dan bersyukur dengan cara merundukan diri. Sebaba hanya padi yang pongah mendongaklah yang sesungguhnya gabug alis kopong, kosong tak berisi.

Acara diskusi makin malam, makin meriah. Meski jarum jam baru menunjukan Pukul 10.09 tapi, suara letusan petasan dari berbagai arah mulai terdengar. Diskusi makin meriah, saat dibuka sesi tanya jawab. Dan makin lengkap dengan menu wedang Bandrek plus panganan tradisional Banten (kelepon, ketimus, getuk dan jagung rebus) dihidangkan secara gratis. Hingga acara tepat ditutup saat pergantian tahun baru 2010. Sebelum pulang peserta ditraktir makan nasi goreng oleh RD.

Selamat tahun baru. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari tahun yang lalu. Happy New Year! [Ahmad Wayang]

  • Share/Bookmark

4 Responses to “REFLEKSI KOMUNITAS SASTRA 2010”

  1. Riyanto el harist Says:

    Assallamu allaikum, saudara2ku di RD, semoga selalu semangat dan dalam lindungan Allah…
    menyimak sekian banyak program dan kegiatan dari RD dalam memajukan dunia sastra dan budaya Banten, saya memberikan apresiasi yangtinggi pada para pelaku yang tak pernah lelah berjuang, khususnya Kang Gol A Gong dan rekan2… teruskan berjuang,Kang. Kapan2 kalo ada hajat besar satra seperti menutup tahun baru tersebut, iklanin di FB yaa… biar kami bisa ikut sowan dan bergabung…
    Terima kasih atas kesempatan ber-komen-nya… maju dan sukses terus RD di tahun 2010….
    Wassallam…

  2. Gola Gong Says:

    Rekan Riyanti, mungkin kelewat. Sebetulnya sudah ada di http://www.rumahdunia.net dan rumahhdunia.com. di FB juga sudah disebar. Nnti 9 Januari 2010 ada kegiatan besar, CHANGE WITH READING! Datang aja.

  3. Riyanto el harist Says:

    Alhamdulillah… berarti tgl 9 saya bisa sowan yaa Kang… (eh tapi ngomong2, nama saya belum ganti Kang, tetep Riyanto bukan Riyanti, hehehe…) oke, sukses terus ya Kang, insya Allah saya bergabung dan merapat ke RD tanggal 9, oya jamnya belum tertera Kang…

  4. arip Says:

    assalamualaikum.. kang golagong saya sangat mengapresiasi acara ini.
    maaf, saya pulang duluan, insya alloh saya ingin ikut juga kelas menulis disana,
    tetaplah ber evolusi kawan!!

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat “Rumah Dunia”. Paket Kelas Menulis “Be a Writer” reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku “Be a Writer” karya Gol [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | July 18th, 2010