KETAN BINTUL COCOK UNTUK SARAPAN
Gola Gong | Banten Kuliner | January 2nd, 2010 | No Comments »

Ketan bintul Bu Ones di pasar tumpah Taman Sari, Royal, Serang
Apa menu sarapan kamu pagi ini? Nasi uduk, bubur ayam, atau lontong sayur? Kalau kamu bosan dengan itu semua, kamu bisa sarapan ketan bintul. Lho, emang ada? Bukannya ketan bintul ada di bulan Ramadhan aja? Umumnya memang pada bulan puasa, tapi sekarang tidak lagi. Jika penasaran, kamu bisa mengunjungi wisata kuliner di pasar tumpah Taman Sari Royal, Pasar Lama dan Pasar Induk Rau di Serang. Kamu bakalan menemukan panganan yang terbuat asli dari ketan itu.
RIWAYAT
Tak ada yang tau pasti kapan ketan bintul dikenal masyarakat. Namun, seperti ditulis Harian Umum Pelita pada 31 Desember 2009, ketan bintul sudah akrab di warga Banten sejak abad ke-15. Konon, panganan ini digemari Sultan Maulana Hasanuddin, pangeran panutan kerajaan Banten pada waktu itu.
Luar biasa! Padahal makanan yang terbuat dari beras ketan ini adalah panganan rakyat jelata. Tapi Sultan Maulana Hasanuddin menyukai panganan ini, terutama saat berbuka puasa. Akhirnya menjadi tradisi bila seseorang berbuka puasa dengan ketan bintul, karena itu menghargai dan menghormati Sultan. Dan ada kebanggaan tersendiri saat menikmatinya. Hal itu dibenarkan Abdul Salam (17 th). Menurut warga Waringinkurung itu, “Buka puasa tanpa ketan bintul rasanya kurang pas.”
WARGA SUKA
Ternyata ketan bintul digemari warga Banten tidak hanya saat puasa. Meski animo pembeli tak seramai di bulan Ramadhan, tapi ketan bintul Ones (47) tetap laris manis. ”Sehari saya bikin 10 liter, alhamdulillah habis,” ujar Ones, pedagang dari kampung Cikeusal. Kebanyakan pembelinya dari warga Serang.
Untuk mencicipi legitnya ketan bintul, kamu cukup merogoh kocek Rp 500,00-/iris yang sudah dibungkus daun. Murah’ kan?! “Enak, apalagi makannya ditemani kopi atau teh,” kata Agung (19) warga Cimuncang Sukasari yang memborong ketan bintul sebanyak 14 biji. Lain halnya Nawiyah (47), wanita asal Cipare, Serang, ini sudah sering berlangganan. “Saya beli 15 biji untuk dijual lagi,” tutur Nawiyah.
TARIK WISATAWAN
Menilik database Disporasenibud Kota Serang tahun 2009, ketan bintul termasuk salah satu dari tiga puluh tujuh panganan khas Banten. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya, Baini S.pd. “Ketan Bintul dan Nasi sumsum juga termasuk panganan khas Banten,” ujar Baini. Kondisi panganan tersebut hingga saat ini terus hidup dan berkembang lanjut Baini,“Tetap dilestarikan aja,” ujarnya singkat.
Namun apa yang dituturkan Baini tak sepadan dengan pengakuan Teguh (45). Staf Pusat Bahasa Indonesia itu mengatakan baru mencicipi ketan bintul di Rumah Dunia saat menggelar “Bengkel Sastra” pada 3 – 4 Desember 2009. “Ketan bintul ini saya baru nyoba,” akunya.
Bagaimana ini promosinya? Bahkan untuk promosinya, Baini sudah mengusulkan ke Pemkot Kota Serang. “Sudah diusulkan pada 2010, database sudah dimasukkan. Tapi belum mampu untuk membuatnya,” tambah Baini lagi. Oh, pantas saja turis nusantara seperti Teguh baru nyoba. Lha wong usulannya aja baru 2010. (Harir Baldan)




Leave a Reply