DONGENG KANAK-KANAK DAN KEKUATAN CINTA
Gola Gong | Resensi | January 2nd, 2010 | No Comments »
Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, 2009
Tebal : 444 halaman
Tidak ada yang lebih dahsyat dibanding memori masa kecil dan kekuatan sebuah cinta. Demikian kisah yang bisa ditemukan di buku terbaru Dewi Lestari berjudul Perahu Kertas. Buku setebal 444 halaman ini mengajak kita tertawa, menangis, dan menikmati romantisme kisah cinta yang indah namun tak picisan.
Saat kecil, Kugy (tokoh utama wanita) sangat terobsesi dengan dongeng Dewa Neptunus. Ia menganggap dirinya sebagai agen Dewa Neptunus yang diutus ke bumi untuk melaporkan setiap kejadian melalui perahu kertas yang dihanyutkan di sungai atau selokan. Melalui perahu ini pula, Kugy menyampaikan keluhan dan keinginannya. Pun obsesinya sebagai penulis dongeng, yang kemudian dipupus sementara karena dianggap tidak relevan dan tidak prospektif.
Kugy yang unik dan eksntrik itu kemudian sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra, perguruan tinggi Bandung. Di kampus inilah Kugy bertemu Keenan, yang menurutnya juga agen Dewa Neptunus.
ROMANTISME CINTA
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.
Keenan, adalah seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.
Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda.
Lika-liku cinta membuat keduanya mengalami banyak hambatan. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan. Kelak, kisah ini menginspirasi lukisan-lukisan Keenan.
Singkat cerita, Keenan pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan. Pak Wayan diketahui sebagai mantan kekasih ibu Keenan. Di sana Keenan bertemu Luhde, seorang wanita yang juga terobsesi dongeng seperti Kugy. Sedangkan Kugy, terlibat cinta dengan Remi, atasan Kugy di perusahaan advertising.
Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.
BUKU YANG MENGANDUNG CANDU
Dibandingkan novel Dewi Lestari atau Dee sebelumnya seperti Supernova, Perahu Kertas jauh lebih ringan. Tapi lebih berbobot dibandingkan chicklit. Gaya bertutur yang santai dengan gaya penceritaan memakai bahasa populer, khas gaya tutur anak muda perkotaan, terutama nampak dalam dialog-dialog di dalamnya, membuat pembaca terhanyut hingga halaman terakhir. Pembaca pun diajak tidak beranjak untuk terus menekuni kata demi kata, demi mendapatkan lanjutan kisah Keenan dan Kugy.
Jika disimpulkan, ada tiga hal yang ingin disampaikan Dee, tentang Cinta, Impian dan Kejujuran. Buku ini tidak melulu membicarakan cinta Keenan dan Kugy yang saling mengangumi satu sama lain. Namun juga bercerita tentang bagaimana mewujudkan sebuah impian. Kugy, yang ngebet jadi juru dongeng dan Keenan yang menjadi pelukis.
Saat jalan menuju perwujudan impian tak mulus, mereka tetap gigih. Kugy harus melewati hidup dengan realistis menjadi seorang copy writer, sementara Keenan malah harus berbalik arah cukup drastis, bekerja mengurusi perusahaan trading milik ayahnya. Namun, mereka selalu yakin dengan mimpinya. Tak ada yang lebih indah selain keduanya saling mendukung. Dan, begitulah Dee meramu ceritanya dengan apik di dalamnya. Seolah berkata “Jangan Takut Bermimpi”
Di akhir cerita, Dee meraciknya menjadi cerita yang mengharu biru. Keduanya (Kugy dan Keenan) sempat berpisah sekian lama. Kugy, sudah punya kekasih bernama Remi, bos di kantornya. Sementara, Keenan juga sudah punya kekasih gadis Bali, Luhde namanya. Cerita begitu rumit. Namun, akhirnya Remi sadar bahwa hati Kugy hanya untuk Keenan, sementara Luhde juga sama, walau rasa cinta itu ada, hati Keenan hanya untuk Kugy. Ini kejujuran pertama. Kejujuran kedua, ketika Kugy dan Keenan jujur membuka hati, melepas ego masing-masing, jujur keduanya saling mencintai.
Kisah yang dipenuhi gelak tawa, kekonyolan, ke-egoan, persahabatan dan tangis ini sungguh begitu manusiawi. Dan, siapapun pasti tersentuh ketika membacanya. Wajar, Dee memang tak main-main menggarap novel ini, butuh sekira 11 tahun mewujudkannya, dan yang pasti ia menulis dengan hati. Hasilnya tentu akan sampai ke hati pula. (*)
*Hilal Ahmad, Ketua Forum Lingkar Pena Serang.




Leave a Reply